Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Api


Jika biasanya seorang Wardah dan Eza tak pernah tidur setelah subuh, Berbeda dengan hari ini. Setelah semalam begadang dengan aktifitas pribadi mereka, setelah subuh Wardah kembali mendapatkan serangan fajar dari Eza. Jadilah mereka kembali tidur setelah melakukannya.


Secercah cahaya matahari tampak mengganggu tidur nyenyak Eza. Sedangkan Wardah tak merasa terusik sama sekali karena memang berlindung di dalam dekapan Eza. Eza meraih gawainya yang ada di meja samping sisi Wardah tidur. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Dua jam lagi acara seminar dimulai. Eza memutar otak memikirkan bagaimana caranya membangunkan Sang Istri yang notabenenya susah untuk dibangunkan.


Cup! Cup! Cup!


Eza mencium pelipis Wardah beberapa kali. mengelus lembut pipinya. Tapi yang diganggu malah semakin nyaman. Wardah semakin mendusel di pelukan Eza. Sudah sepuluh menit Eza membangunkan Wardah tapi tak berhasil.


"Ay ... Ayaang,.... Siap-siap ke seminar yuk," ujar Eza mslemundurkan tubuhnya dan mengusap pipi Wardah yang tanpa cela.


Sayup-sayup matanya terbuka. Eza tersenyum manis meyambut pandangan pertama Wardah di pagi hari ini. Wardah tersenyum sontak meregangkan tangannya memeluk leher Eza.


"Mas mau dikasih jatah lagi?" tanya Eza yang kini terkikik.


Bagaimana tidak, Wardah sedari tadi belum mengenakan pakaiannya. Ya! Ia langsung tidur setelah aktifitas pribadi mereka dalam pelukan Eza. Wardah yang baru saja sadar sontak menarik selimut untuk membalut tubuhnya dan berlari ke kamar mandi. Beruntung Eza sudah mengenakan boxernya.


Eza memilih untuk menyiapkan sarapan pagi untuknya dan Wardah. Menu sandwich yang ia pilih untuk sarapan kali ini. Sengaja, karena jam persiapan mereka yang mepet. Akan membutuhkan waktu lama jika menyiapkan makanan yang bermacam-macam.


"Ay, jangan lama-lama, nanti kita telat," ujar Eza.


"Iyaa!!! Ini udah selesai," jawab Wardah dengan berteriak pula.


Setelah menunggu sedikit lebih lama, akhirnya muncul juga Wardah dari balik pintu kamar mandi. Kini giliran Eza yang membersihkan tubuhnya.


Cup! Eza mencium gemas leher jenjang Wardah yang bertaburan tato-tato alami karya Eza.


"Dasar! Hobinya ngabisin foundation aku aja!" gerutu Wardah.


Eza merapikan rambutnya sedangkan Wardah membantunya memasang dasi. Dilanjutkan dengan Wardah memakaikan Jam tangan untuk suaminya. Ia rasa baru kali ini mereka terburu-buru. Lebih tepatnya Wardah yang terburu-buru, Eza malah satuy.


"Ini sandwich-nya, dimakan di mobil aja ya! Takut telat ih! Oh iya, air minum!" panik Wardah yang terkesan rempong.


"Tenang Ay... Nggak akan telat, pasti di sana nanti juga molor waktunya," ujar Eza menenangkan.


Eza mengambil tasnya dan menggandeng Wardah menuju lobi. Jemputan mereka sudah terparkir di sana.


"Jangan sampai mereka kecewa gara-gara kita telat Mas... nanti image Mas yang tercoreng," Ujar Wardah memberikan sandwich kepada Eza.


"Iyaa, makasih sayang," jawab Eza.


Selama perjalanan, Eza tampak berbincang dengan Bapak Supir, dengan Wardah yang sesekali menimpali. Tapi sering diam menikmati pemandangan di samping dirinya.


Lima belas menit kemudian, sampailah mereka di salah satu universitas di Kota Padang. Mereka disambut oleh Bapak Rektor dan para jajarannya. Benar kata Eza, acara seminar memang molor. Bahkan mereka diajak ke ruang khusus tamu undangan terlebih dahulu.


"Salam kenal Pak Eza! Sudah lama saya menantikan acara ini agar bisa bertemu Bapak! Perkenalkan, saya Arumi salah satu Pembicara di acara seminar ini juga," sapa seorang wanita mengulurkan tangannya kepada Eza.


Wardah tampak speechless sejenak melihat pemandangan itu. Ia pikir Eza tak akan menerima uluran tangan itu, ternyata ia menerimanya. Melihat tampilan perempuan itu yang mengenakan rok pendek dengan blazer senada dan rambut yang terurai.


"Salam kenal juga, perkenalkan ini istri tercinta saya," jawab Eza memperkenalkan Wardah yang ia gandeng sedari tadi.


Wardah yang awalnya panas terbakar api, dingin seketika mendengar tuturan kata "tercinta" dari suaminya. Wardah mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Arumi. Jangan lupakan senyum manis Wardah.


...Bersambung ...