
Setelah disibukan dengan acara ulang tahun perusahaan, kini dua pasutri gemoy itu sudah kembali ke rutinitas awal mereka. Selepas pulang dari kantor, Wardah membereskan peralatan yang akan ia bawa dengan Eza ke luar kota. Wardah pulang terlebih dahulu karena pekerjaannya memang sudah selesai. Sedangkan Eza masih di kantor bersama Faiz yang kini baru memulai pekerjaan sebagai pegawai mamagang.
"Lho! Sayang, jadi besok berangkatnya?" tanya Mama yang tiba-tiba sudah masuk ke kamar anak dan menantunya itu. Karena kamar Wardah memang tidak ditutup.
"Eh Mama, iyaa Ma... Besok siang agak sorean berangkat katanya Mas Eza" jawab Wardah.
Mama duduk di depan Wardah yang masih sibuk memasukkan satu demi satu pakaiannya dan Eza ke dalam koper.
"Mama jangan ikutan duduk di lantai, dingin lhoo Maa" ujar Wardah membantu Mama berdiri agar duduk di ranjangnya.
"Mama-kan pengen bantuin kamu packing," jawab Mama tersenyum.
"Nggak usah, Wardah udah seneng kok ditemenin Mama di sini" ujar Wardah membalas senyuman mertuanya kemudian kembali menata barangnya.
Yang awalnya Wardah hanya ditemani aluna sholawat yang ia putar, kini ia ditemani dengan obrolan ringan dari Sang Mama. Mama menemani Wardah hingga selesai berbenah. Wardah duduk di samping Mama setelah selesai.
"Maa, Mama happy kan?" tanya Wardah tiba-tiba.
"Happy dong! Kan di rumah kita ramai sekarang," jawab Mama.
"Alhamdulillah," lirih Wardah dengan senyumnya yang manis.
"Kenapa? Ada yang mengganggu pikiran Dedek?" tanya Mama.
"Aku belum bisa kasih Mama cucu," ujar Wardah.
Berbagai ujaran dari orang-orang saat pesta kemarin yang paling mengganggu pikirannya adalah perihal anak. Wardah benar-benar ingin segera mengandung. Tapi memang belum diberi kesempatan oleh yang maha kuasa. Beberapa kali Wardah dan Eza juga sudah memeriksakan perihal kesuburan mereka, hasilnya juga bagus, tapi memang belum dikaruniai.
Beruntung juga Wardah hadir di tengah-tengah keluarga baru yang sangat pengertian. Bahkan mereka juga menerima Bunda dan Inayah dalam keluarga ini.
***
Siang ini Wardah dan Eza sudah siap dengan setelan casualnya. Mereka diantar Pak Supir menuju bandara.
"Bismillah, liburannya membuahkan hasil ya," bisik Mama sebelum mereka berangkat.
"Aammiin, do'ain Eza dan Wardah terus ya Ma... Tapi jangan terlalu berharap dulu. Takut Mama kecewa nantinya," jawab Eza.
Eza benar-benar tak memaksakan kehendak. Ia tahu benar perasaan Sang Istri yang tertekan dengan tuntutan kehamilan dari para netizen. Jika diberi momongan di waktu dekat ini ya Alhamdulillah, jika belum, ia juga menerimanya. Toh dirinya sebenarnya masih ingin berdua tanpa pengganggu dengan Sang Istri. hahaha.
"Segala sesuatu itu ada prosesnya Za... Selain usaha kita juga butuh do'a. Mama nggak nuntut Wardah untuk cepat hamil. Mama sayang Wardah seperti anak kandung Mama sendiri," ujar Mama.
Eza benar-benar kagum dengan Mamanya. Dulu saat pertama kali dirinya menceritakan perihal pertemuannya dengan Wardah, Mama sangat menghargainya. Meski dulu Wardah masih menjadi istri Cak Ibil.
"Kalau jodoh pasti disatukan, kalau bukan yaa cari yang lan Za," ujar Mama kala itu.
Dan akhirnya kini ia benar-benar disatukan oleh Allah dengan Wardah. Eza juga kagum saat Mama menerima Wardah meski sudah menjadi janda. Hal itu membuahkan hasil yang sangat membahagiakan untuknya saat tahu ternyata Wardah masih virgin.
...Bersambung ...