Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Menyibukkan Diri


Pagi ini Wardah tengah disibukkan dengan berbagai macam bahan masakan yang sudah tertata di meja makan. Tentu saja tak sendiri, ia dibantu oleh Kak Ina.


Bunda memerintahkan Wardah agar membuat makanan ringan saja. Pastinya sang anak hanya menurut. Wardah mulai mencampurkan bahan-bahan menggunakan mixer. Kak Ina yang bagian memasukkan bahan kemudian memanggang jika perlu. Kak Ina jugalah yang bertugas masalah goreng-menggoreng kali ini. Menu gorengan yang dipilih Kak Ina yaitu cireng.


Wardah kini tengah menghias beberapa roti yang telah dipanggang. Tak lupa ia juga menambahkan nutrijell yang dipadukan dengan potongan buah segar yang telah dibuat Kak Ina.




Setelah menu disert selesai, Wardah kembali disibukkan dengan beberapa lembar kulit lumpia yang tadi pagi sempat dibelinya. Oke! Menu dimsum kali ini menjadi pilihan Wardah. Setidaknya ia harus memberikan pelayanan yang baik untuk tamu Bundanya.



Akhirnya berkecimpung di dapur membutuhkan waktu yang amat sangat panjang. Kedua kakak beradik itu bahkan melanjutkan acara memasaknya setelah salat zuhur. Hingga kini menjelang asar, selesai sudah. Makanan telah tersaji rapi nan menggiurkan di meja makan. Tinggal menunggu tamu datang kemudian disajikan.


Bunda baru saja turun dari lantai atas, sepertinya selesai mandi. Semenjak Wardah pulang, Bunda memang selalu tidur bersama anak gadisnya itu. Bahkan pakaian Bunda juga dipindahkan di kamar atas. Berbeda dengan beberapa hari kemarin saat Anisa menginap disini.


Sore ini Bunda akan mengadakan arisan para ibu-ibu yang bergilir antar satu rumah ke rumah lainnya. Sebenarnya ini arisan para ibu-ibu istri dosen ataupun dosen perempuan teman Ayah dulu, tapi Bunda masih aktif bergaul dengan mereka.


"Mandi dulu Dek, bajunya udah Bunda siapkan." Ujar Bunda kepada Wardah sembari mencomot cireng gorengan sang menantu.


"Kak Ina juga siap-siap ya, temani Wardah nanti," Sambung Bunda.


"Siap Bun!" Jawab Kak Ina.


.


.


.



""Kok gak dipakai sih bajunya sih kanak?" Tanya Bunda.


"Wardah gak ikut ke depan, dedek bagian ngeluarin makanan aja nanti," Jawab Wardah.


"Ya udah, terserah kamu.". Jawab Bunda mengalah.


"Kakak disini sama kamu aja dek, kalau sama ibi-ibu biasanya rempong," Celetuk Kak Ina duduk di meja makan.


"Hahaha, jangan lupa Kakak juga udah jadi ibu-ibu," Jawab Wardah.


"Ibu muda ini,"


"Eaakkk! Iya kakak cantik," Goda Wardah.


"Rencana ke depannya mau gimana dek?" Tanya Kak Ina pelan-pelan.


"Sama Bunda disuruh bantuin di butik Kak, tapi Dedek tuh gak sukaa... Dedek pengen kuliah lagi, atau kalau nggak dedek pengen kerja sesuai dengan keinginan dedek dulu. Kalau mau kembali ke pesantren, dedek belum siap ketemu Cak Ibil


Dedek malu dengan Umi dan Abah Kyai. Malu dengan santri-santri, dan asatidz di pesantren. Dedek takut kalau banyak yang ghibahin. Pokoknya sekarang dedek mau menyibukkan diri agar lebih tenang hatiya," Jawab Wardah lirih dengan menunduk.


"Perihal cerai itu bukan aib sayang, cerai itu tidak semuanya buruk. Kamu gak salah disini sayang, gak ada yang hina. Adik kakak pantas menjemput kebahagiaannya. Jangan dengarkan gonggongan di luar sana. Mereka gak tahu keadaan yang sebenarnya, makanya mereka dengan tanpa beban menggunjing sesuka hati. Mereka tidak mempedulikan fakta. Toh kalau mereka ghibah, yang dapat pahala kamu sayang," Jelas Kak Ina menenangkan adik iparnya.


"Ingat, dedek masih gadis, dedek gak usah minder nantinya. Jangan trauma dengan laki-laki, tapi juga harus hati-hati untuk memilih nantinya,". Sambung Kak Ina.


"Kakak mah... Baru kemarin dicerai udah bahas pilih memilih lagi sih,"


...Bersambung... ...


Mohon Maaf atas keterlambatan up Lhu-Lhu....