
Puas beristirahat dan beres-beres merapikan barang bawaan, Wardah dan Eza ikut bergabung dengan yang lain. Ternyata semuanya sudah berkumpul di meja makan.
Siap mengisi stamina, Eza mengajak Wardah untuk jalan-jalan mengitari kebun teh. Mumpung Sakha masih asik bermain di halaman yang amat luas dengan kakak-kakaknya. Dengan pengawasan Mama dan Papa di sana.
Wardah memeluk lengan tangan Eza sebagai tumpuan. Jalanan yang dilewati cukup terjal dan licin. Mereka harus sedikit lebih berhati-hati agar tak terpeleset.
Beberapa kali Wardah memotret pemandangan dan juga selvy-nya bersama dengan Eza. Tak jauh berbeda dengan Wardah, Eza juga begitu. Tapi ia lebih suka mengambil foto Istrinya diam-diam. Jika terlihat semakin menggemaskan menurutnya. Tak lupa tag-tag an di sosial mereka masing-masing.
Sekitar dua jam berjalan-jalan, Wardah dan Eza kembali ke villa. Rencananya sore ini mereka akan mengunjungi sebuah tempat pemandian air panas dan juga sebuah telaga.
“Aku kok capek banget ya Mas,” lirih Wardah yang masih setia merangkul lengan Eza.
“Capek ya, sini Mas gendong aja kalau gitu,” jawab Eza.
Wardah tampak ragu, tapi ia merasa tak sanggup lagi untuk berjalan. Eza sudah memasang posisi berjongkok di hadapan istri tercintanya. Beruntung perjalanan pulang tak menanjak, sehingga mengurangi beban Eza.
“Apa sebaiknya kita nggak usah ikut ke telaga Ay?” tanya Eza.
“Hmm? Ikut dong Mas, aku juga pengen tahu telaga yang dibilang kak Winda itu. Katanya cantik banget,” jawab Wardah.
Nyaman sekali rasanya menyender di Pundak Sang Suami seperti ini. Bahkan mereka berdua sama sekali tak perduli jika orang-orang di sana menatap iri pada keduanya. Sampai di penginapan Mama langsung panik melihat menantunya pulang dengan digendong.
“Nggak papa Ma, Wardah Cuma pengen digendong aja kok,” jawab Eza.
Jika mengatakan Wardah kecapaian, pasti nanti tak diperbolehkan ikut jalan-jalan. Eza mengajak Wardah untuk istirahat sebentar sebelum bersiap untuk berangkat nantinya. Hendak memejamkan mata pun rasanya tak mengantuk. Jadilah dua sejoli itu hanya merebahkan diri di tempat tidur sembari berbincang ringan. Wardah merebahkan kepalanya di dada bidang Eza dengan gabutnya jari mungilnya itu membuat gambaran abstrak di permukaan perut Eza yang terhalang baju.
Eza memijit santai lengan Wardah yang dapat ia jangkau. Sontak ia merubah posisi mereka seketika. Posisi rawan jika seperti ini. Eza meminta Wardah untuk bersandar pada tempat tidur. Mulai memijit kaki adalah tujuannya. Mempersiapkan agar nanti diperjalanan tak kelelahan. Katanya memang perlu berjalan beberapa waktu untuk sampai di lokasi nanti.
“Kebalik deh Mas, harusnya aku yang pijitin Mas Eza,” ujar Wardah.
“Ngak! Mas pengennya pijitin kamu,” jawab Eza.
Wardah tersenyum simpul mendapatkan perlakuan manis ini. Suaminya benar-benar diluar dugaan.
Tepat setelah sholat asar, rombongan keluarga besar cemara itu sudah siap untuk pergi. Hanya memakan waktu kurang lebih 10 menit untuk sampai di tempat parkir dan lima menit lagi untuk berjalan menuju tempat lokasi. Eza menggendong Sakha dan menggenggam jemari Wardah menyusuri jalan setapak yang diapit pepohonan rimbun. Tak begitu seram karena sinar matahari masih sanggup menembus pepohonan ini.
“Nanti kalau Lelah bilang langsung ke Mas ya? kita bisa pulang duluan nanti,” ujar Eza sebelum mereka berangkat tadi.
“Iya Mas, tenang aja, aku udah aman kok sekarang,” jawab Wardah menenangkan suaminya.
Wardah juga sudah menyiapkan berbagai macam cemilan untuk menemani perjalanan mereka. Sampai di lokasi mereka terkagum-kagum melihat keindahan alam negeri ini. Ternyata di negara sendiri memang masih banyak menyediakan tempat yang amat sangat amazing. Papa mengajak Sakha untuk langsung menikmati sumber air panas yang tersedia. Wardah dan Eza menyiapkan tikar dan cemilan untuk siapa saja nanti yang berkehendak untuk duduk santai di pinggiran telaga.
Tak berselang lama Kak Winda dan Kak Rio datang. Ternyata suami kakaknya tengah lapar. Biarlah mereka berduaan menyambung keretakan yang tercipta, pikir Wardah. Ia mengajak Eza untuk menikmati telaga di hadapannya. Ternyata di dalam telaga ini terdapat gerombolan ikan yang sangat cantik. Beruntung Eza dapat menyewa tempat ini secara keseluruhan. Sehingga tak perlu berebut dengan pengunjung yang lain.
“Happy nggak?” tanya Eza tiba-tiba.
“Happy dong Mas, Happy bangeett,” jawab Wardah spontan memeluk Eza dan mengucapkan terima kasih.
Puas bermain di telaga, mereka hendak menyusul anak-anak di telaga. Ternyata Kak Rio dan Kak Winda sudah ke sana juga dengan barang camping mereka tadi. Tiba-tiba Wardah yang melihat ada penyewaan perahu, menarik dengan gemasnya lengan Eza. Mengajaknya untuk menaikinya.
“Oke, Oke, kita naik perahu itu ya,” jawab Eza yang tahan dengan permintaan Wardah.
Ntahlah, ia selalu ingin mewujudkan apapun yang diinginkan Sang Istri. Selagi itu tak berbahaya, ia pasti akan menurutinya. Ala-ala di film perahu kertas mereka kembali mengabadikan momen berdua.
Setelah mengelilingi telaga barulah mereka menemui anggota keluarga yang lain. Ternyata hendak menuju ke tempat pemandian air panas, mereka harus menanjak terlebih dahulu. Berulang kali Eza posesif, berkali-kali ia menanyakan apakah Wardah Lelah? Tapi yang ditanya tampak enjoy-enjoy saja. Wardah happy-happy saja selama perjalanan.
“BUNNAAA!!!” Teriak Sakha saat melihat Buna-nya datang dengan Ayahnya.
Gemas sekali melihat Sakha. Anak itu tengah asik bermain air dengan Opa-nya. sedangkan para ibu-ibu tengah menikmati makanan yang tersedia. Wardah ikut nyemplung sebentar menghampiri anak-anak itu.
“Sakha main sama Opa yaa,” sapa Wardah.
“Buna! Buna! Kak Ais tadi ndelep!” seru sakha.
Wardah awalnya bingung mendengar ujaran Sakha. Ternyata maksud ia, Faiz tadi berenang dengan menyelam. Anak-anak terlihat sangat happy saat bermain. Wardah memilih untuk ikut duduk bersama Mama, Bunda, Kak Aisyah, dan Kak Winda. Wardah butuh asupan mineral dan beberapa cemilan. Mereka menghabiskan waktu cukup lama. Sebelum hari semakin gelap, mereka bersama-sama turun menuju parkiran untuk kembali ke villa.
“Sayang, kamu nggak papa kan? kok kayaknya pucet gitu sih wajah kamu?” tanya Bunda yang melihat anaknya seperti kurang sehat.
“Nggak papa kok Bunda,” jawab Wardah dengan senyumnya yang mengembang.
Eza yang tengah menggandeng Wardah langsung mode waspada. Tadi saat menuju ke tempat kedua istrinya masih tampak aman-aman saja. Di perjalanan pulang, Eza baru sadar jika istrinya pucat. Benar saja, genggaman di tangan Eza tampak semakin erat seolah menahan sesuatu.
“Mas! Perut aku kok tiba-tiba keram ya?” lirih Wardah.
“Iz, Faiz, minta tolong gendong Sakha ya,” ujar Eza dengan sigapnya.
Faiz menyetujuinya. Benar saja! Tiba-tiba Wardah lemas. Tak sanggup menompang tubuhnya dan tumbang. Beruntung Eza dengan sigap langsung membopong Wardah sebelum jatuh ke tanah.
“Papa tolong telepon dokter David! Kita sampai di villa, dia harus sudah di sana!” tegas Eza yang langsung membopong Wardah menuju mobil. Dengan panik Papa langsung menelepon dokter David yang kebetulan tengah bertugas di Bandung. Mereka berbondong-bondong mengikuti Eza yang tengah berlari menuju tempat parkir.
...Bersambung...