
Eza langsung meminta kepada pemilik perahu untuk melanjutkan perjalanan ke pulau penginapan. Membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai di pulau itu. Wardah masih setia mengelus tangan Eza. Untuk menghangatkan maksudnya. Meski sebenarnya tak mempan, dan dirinya sendiri juga masih kedinginan. Eza gemas sendiri melihat istrinya.
"Ay, aku punya cara biar angetnya cepet," bisik Eza.
"Apa?" tanya Wardah dengan antusias.
"Dipeluk sama dici*m kamu," bisik Eza lagi.
"Dasar gombal," dipukulnya lengan Eza geram.
Eza merangkul pundak Wardah agar menyender pada dirinya. Sadar dengan kamera yang dipegang oleh Fiona, Eza bergaya semakin mengeratkan pelukannya pada Wardah.
"Nggak usah nyolong foto, ngomong aja gak dosa kok Fi," celetuk Eza.
Fiona yang mendengar itu panik seketika. Meringis-lah andalannya. Sudah ketangkap basah menjadi paparazi, dengan terang-terangan Fiona meminta foto mereka berdua. Ingin menjadi admin akun fans garis keras Eza dan Wardah katanya. Eza tertawa mendengar pernyataan Mahasiswi itu. Tapi juga tak melarangnya.
Hingga akhirnya sampailah mereka di pulau yang dituju. Wardah membantu Arumi berjalan menuju kamarnya yang baru saja dipesan Eza. Arumi sengaja diletakkan sekamar dengan Fiona, agar jika ada sesuatu hal Fiona bisa membantunya. Jarak kurang lebih lima kamar, barulah disitu kamar Eza dan Wardah. Tentunya dengan view yang lebih bagus. Sengaja, karena tujuan mereka juga untuk liburan plus Hanymoon kesekian kalinya. hahaha.
Eza juga membantu membawakan barang-barang dua wanita sekamar itu. Setelah meletakkan di pinggir tempat tidur, Eza menunggu Wardah di depan.
"Terima kasih Mbak Wardah, sampaikan ucapan terima kasih saya juga pada Mas Eza," ujar Arumi melepaskan tangan Wardah yang menuntunnya.
"Sama-sama, silahkan istirahat terlebih dahulu Mbak," jawab Wardah yang keluar diantar Fiona.
"Kak, perasaan aku nggak enak sama keikutsertaan Bu Arumi sampai sini," lirih Fiona.
"Hussh! Jangan aneh-aneh, kamu jagain Mbak Arumi ya... Kakak ke kamar dulu," pamit Wardah.
Wardah mengusap lembut pundak Eza yang kini tengah duduk di kursi depan kamar Fiona. Mengajaknya untuk kembali ke kamar. Mereka belum mengganti bajunya sama sekali. Beruntung cuaca sedang cerah, sehingga tak terlalu dingin saat angin menyapa tubuh.
"Bagus banget Mas," lirih Wardah.
"Ini salah satu kamar premium di pulau ini Ay... Sengaja udah Mas siapin jauh-jauh hari," jawab Eza sembari memeluk Wardah dari belakang yang masih kagum akan kamar mereka.
"Ya udah, aku siapin air panas buat mandi dulu," celetuk Wardah melepaskan pelukan suaminya.
Masuk ke kamar mandi, dirinya kembali berdecak kagum melihat kamar mandi ini. Begitu estetik menurutnya. Apalagi disuguhi oleh pemandangan laut dari dinding kaca sisi depannya.
"Ini tembus pandang nggak ya?" gumam Wardah sembari menyiapkan air hangat.
Grepp!
Wardah tersentak saat Eza tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Kaget tahu! Belum penuh airnya Mas," ujar Wardah.
"Mandi bareng yuk! Bagus view-nya," ajak Eza.
Hendak menolak pun percuma, cepat atau lambat akhirnya pasti menuruti Eza. Jadilah sore ini mereka memadu kasih bersama. Menikmati pemandangan nan cantik itu.
Dua jam mereka menghabiskan waktu di kamar mandi. Setelah sholat asar Eza mengajak Wardah istirahat di tempat tidur mereka. Mereka sama sekali belum beristirahat dari tadi. Kamar mereka yang juga menghadap ke arah laut menambah kesan romantis untuk mereka yang saling berpelukan.
**"
...Bersambung...