
Selepas makan malam, Eza membicarakan mengenai rencananya memulangkan Fiona dan Arumi terlebih dahulu. Fiona memang tak salah apapun, tapi akan lebih baik mereka dipulangkan terlebih dahulu menurut Eza. Wardah pun hanya bisa menyetujui rencana Eza. Juga tak mungkin menyisakan satu orang saja di sini. Kesannya seperti mengucilkan.
Eza masih ingin liburan dengan tenang bersama Wardah tanpa ada gangguan. Malam ini Wardah dan Eza tengah berjalan-jalan di sekitar pantai. Pulau ini yang merupakan salah satu tempat singgah wisatawan, menjadikan di sekitar pantai ini terang benderang dengan beberapa penerangan. Saat ini tak begitu ramai, mungkin karena bukan hari weekend.
"Mas, kita biarin mereka pulang bareng kita aja deh... Aku nggak enakan sama mereka. Apalagi Fiona, dia nggak tahu apa-apa," ujar Wardah.
"Kamu yakin?" tanya Eza memastikan.
Wardah mengangguk mengiyakan. Wardah meyakinkan suaminya agar memikirkan kembali rencananya. Eza yang melihat istrinya memohon tentu saja luluh. Ia harus memastikan bahwa Arumi tak melakukan hal diluar batas lagi. Ia harus lebih hati-hati.
"Mamaa," panggil bocah cilik menghampiri Wardah dan Eza.
Wajah mungil yang lebih dominan gembul itu merenggangkan kedua tangannya meminta untuk digendong Wardah. Wardah dan Eza sempat speechless melihat batita itu.
"Hay sayang... Anak cantik, Mamanya di mana sayang?" ujar Wardah menyambut gendongan anak itu.
Sedangkan sang bocil hanya tertawa setelah digendong oleh Wardah. Eza celingak-celinguk mencari sosok ibu atau ayah dari anak itu. Tapi nihil, tak ada tanda-tanda orang tua yang panik anaknya hilang. Wardah dan Eza memilih untuk mengajak anak itu ke pusat informasi untuk memberitahu adanya anak hilang bersamanya.
Sembari menunggu konfirmasi Wardah bermain dengan anak itu. Tawa manis kedua wanita berbeda usia itu sukses menyentuh relung hati Eza ataupun petugas keamanan yang ada di sana. Pasalnya anak itu tanpa takut atau sedih bermain dengan Wardah. Seolah itu memang orang tuanya. Orang yang tak tahu pasti mengira itu adalah ibu dan anak kandung.
Eza sampai terharu melihatnya. Akankah ia melihat momen seperti itu nantinya? Dengan anak mereka?
"Mbak itu pacarnya Mas ya?" tanya petugas keamanan yang menemani Eza dan Wardah.
"Iya Mas, istri rasa pacar," canda Eza.
"Oalah sudah jadi pasangan halal ternyata to? Hehehe, saya kira belum menikah lho! Mbaknya sabar banget, telaten ngurus anak kecil," jawab petugas keamanan itu .Eza tersenyum menimpali.
Eza menghampiri Wardah yang tengah asik bermain dengan anak kecil itu. Bergabung dengan mereka, bercanda bersama. Benar-benar cosplay menjadi orang tua asuh. Satu jam sudah mereka menunggu kedatangan orang tua anak ini. Tapi sama sekali tak ada tanda-tanda.
Akhirnya manager resort setempat meminta tolong pada Wardah dan Eza untuk mengurus batita itu sementara. Dengan senang hati Wardah menyetujui. Tentu saja ia juga membujuk suami tercintanya untuk menyetujui. Eza yang melihat istrinya memohon tentu saja tak tega untuk menolak.
"Comel banget dedeknyaa! Nggak rewel juga," celetuk Fiona yang masih setia berada di kamar Wardah bermain dengan anak kecil itu. Ocehan anak itu membuat candu bagi mereka yang mendengarnya.
Eza hanya berbaring di samping Wardah yang juga tengah bermain sembari berusaha menidurkan bayi itu. Tak ada Arumi, setelah diperingatkan Eza, wanita itu memang jarang menampakkan batang hidungnya.
"Udah mulai ngantuk kayaknya Fi, coba Kakak tidurin deh!" ujar Wardah berangsur turun dari ranjang dan mulai menimang-nimang.
Benar saja, tak berselang lama tidurlah bayi itu di gendongan Wardah. Wardah sempat meringis karena tangannya keram. Dengan siaga Eza mengambil alih dan menidurkan di tengah-tengah ranjang. Fiona mau tak mau kembali ke kamarnya setelah Eza mengusirnya. Padahal Fiona menghindari Bu Arumi, makanya ia berlama-lama di kamar Wardah dan Eza.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dan belum ada tanda-tanda orang tua batita yang tertidur pulas itu menjemputnya.
"Ay... Mas kok punya pikiran buat adopsi anak ya?" lirih Eza yang kini memangku Eza di sofa kamar mereka sembari menonton televisi. Tak lupa mengawasi batita yang tidur pulas itu. Entahlah sofa selebar itu, tapi mereka lebih memilih untuk pangku-pangkuan bersama.
"Sama Mas, aku juga... Gimana kalau aku coba ngobrol sama Mama?" jawab Wardah.
"Boleh Ay... Kita ngomong bareng-bareng ya?" sambung Eza.
Tengah asik pillow talk, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar mereka. Dengan sedikit malas Kayla memakai jilbabnya dan membuka pintu kamar. Ternyata petugas keamanan dengan manager resort di sana. Bersama bapak dan ibu paruh baya. Jika benar tebakan Wardah, mereka adalah orang tua baby yang bersamanya.
Benar saja! Wardah sempat mencerca mereka dengan berbagai pertanyaan dan meminta bukti untuk memastikan jika mereka benar-benar orang tua baby gemoy itu.
"Udah Ay... Pasti Bapak manager juga sudah memastikan dengan teliti," ujar Eza.
"Silahkan Pak, Bu, Dedeknya sudah tertidur," sambungnya.
Ternyata mereka tadi tak sadar jika anak mereka tertinggal. Mereka kira baby mereka bersama sang kakak. Sampai ditengah perjalanan mereka baru sadar jika sang kakak hanya membawa tubuhnya sendiri. Dengan panik mereka kembali ke resort yang membutuhkan waktu tidak sebentar.
Dengan deraian air mata ibunda baby itu meminta maaf dan berterima kasih kepada Eza dan Wardah karena telah membantu menjaga anaknya. Tentu saja Wardah ikut melow. Dengan sayang Wardah mengecup baby itu yang sudah digendong Bundanya sebagai salam perpisahan. Sepertinya simulasi menjadi orang tua sudah berakhir.
...Bersambung ...