Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Terkejoed


Alhamdulillah acara akad nikah berjalan dengan lancar. Dan esok hari akan dilanjutkan dengan prosesi resepsi. Saat ini kedua mempelai tengah beristirahat. Makan malam perdana berdua. Jemari mereka terus bertautan tak mau melepas sama sekali.


Wardah yang sedang mengambil makanan di prasmanan saja tangan Eza masih bertengger dengan nyamannya di lengan Wardah. Bayangkan sendiri bagaimana Wardah mengambil lauk sembari lengannya terbelenggu dengan Eza.


"Takut Mbak Wardah-nya kabur apa Mas?" tanya ibu-ibu penjaga prasmanan.


"Hahaha, mumpung udah halal buk, iyakan Ay?" jawab Eza.


"Terserah Mas aja wes," jawab Wardah.


Mereka makan di salah satu meja untuk tamu undangan. Sepiring berdua tentunya. Sepiring dan sesendok berdua lebih tepatnya.


"Suapan perdana dari istri tercinta. Bismillahirahmanirahim." ujar Eza menerima suapan dari sang istri. Bahkan Eza memamerkannya di akun instagram miliknya.


"Nemu anak baru gaess," jawab Wardah menimpali.


"Makin enak disuapin kamu Ay," celetuk Eza.


"Basi gombalannya. Nggak boleh ngomong kalau lagi ngunyah," jawab Wardah.


"Emm, em em emmm," ntah ngomong apa itu Eza menimpali Wardah dengan mulut tertutup.


"Masyaallah, lagi pacaran ternyata," ujar Abah Fadhoil menghampiri Wardah dan Eza.


Sontak gawai yang dipegang Eza terjatuh. Terciduk sudah dua makhluk ini.


"Abah, ngapunten... Monggo dahar," ujar Eza gelagapan.


...(Abah, mohon maaf... Silahkan makan) kira-kira begitulah artinya....


"Hahaha, iya-iya. Lihat Za, pipi Wardah bersemu merah," ujar Abah Fadhoil.


Jelas saja bersemu, Wardah terlanjur malu dibuat Eza. Tak berselang lama giliran kameraman tv dan host yang menghampiri mereka setelah Abah Fadhoil pergi. Oke! Dengan senang hati Eza memamerkannya kepada publik.


"Asli! Kocak bener! Bisa-bisanya keciduk sama Abah Kyai, hahaha." ujar Caca yang kini sudah bergabung dengan Eza dan Wardah.


"Padahal udah mojok dan tersembunyi tempatnya, masih aja keciduk," jawab Wardah.


"Nampak banget muka paniknya Eza, hahaha," tawa Caca tak berhenti juga.


"Yakin deh netizen bakalan terhibur," sambung Hito.


"Iya bener, banyak dm masuk bahas soal itu," jawab Eza.


Wardah dan Eza melanjutkan makannya, baru kemudian sholat maghrib. Acara sudah selesai, tapi masih saja banyak tamu yang berdatangan. Biarlah para tetua yang meladeni. Eza dan Wardah kembali ke kamar mereka. Eaakkk! Sekarang satu kamar.


Wardah terus memeluk lengan Eza. Hingga kini mereka di dalam lift masih saja memeluk.


"Mas, hp aku kok belum dibalikin sama Papa ya?" tanya Wardah.


"Biar nggak ada yang ganggu kita malam pertama," bisik Eza.


Sukses membuat gelenyar rasa merinding untuk Wardah. Karena Eza memang membisikkannya tepat di telinga Wardah. Sontak Eza menggendong Wardah ala bridal style. Jantung Wardah berdetak lebih kencang. Terkaget-kaget ia dibuatnya.


"Aaaa! Mas! Kaget astaghfirullah!" pekik Wardah melingkarkan tangannya di leher Eza.


Eza membopong Wardah memasuki kamarnya. Lilin-lilin tertata dengan indahnya. Jangan lupakan dengan taburan kelopak bunga mawar di seluruh kamar dan kelopak bunga mawar berbentuk hati di atas tempat tidur mereka.



Eza mendudukkan Wardah di depan meja rias. Kemudian membuka gorden kamar mereka. Menyajikan pemandangan kota Bandung yang sangat indah.


"Kok nggak dinyalain sih ini lampu. Jaman purba apa yak kok pakai lilin," celetuk Eza mencari sakelar kemudian menyalakan lampu.


Sejujurnya Eza kali ini menahan gemuruh di dadanya. Jantungnya berpacu lebih cepat melihat tatanan kamar yang romantis ini. Wardah hanya terkikik dibuatnya. Barulah Eza membantunya melepaskan siger yang bertengger dengan indahnya di kepala Wardah.


"Ay, kamu cocok banget lho pakai baju ala-ala sunda gini," ujar Eza.


"Aku mah pakai apa aja cocok Mas, hahaha," jawab Wardah.


Eza kembali melanjutkan aktivitasnya melepas pernak-pernik di kepala Wardah. Tersisa jilbabnya Eza meminta izin terlebih dahulu.


"Boleh Mas melihat rambut Ayang?" tanya Eza.


Wardah mengangguk menyetujui. Laki-laki pertama yang yang melihat rambut indahnya setelah sang kakak dan ayahanda tercinta. Perlahan Eza menurunkan jilbab itu hingga merosot ke pundak Wardah. Eza membuka gelungan rambut Wardah hingga tergerai dengan indahnya. Percayalah, saat ini tangan Eza rasanya gemetar.


Eza mencium lembut ubun-ubun Wardah. Menyesap aroma wangi dari rambut Wardah. Memegang pipi Wardah menghadapkannya ke atas. Kemudian mencium kening dan hidung Wardah setelahnya.


"Mas mandi dulu gih, habis itu sholat... Kan kita ke aula lagi nanti," ujar Wardah mengelus lembut jemari Eza yang masih setia di pipinya.


"Ayangkan sholat juga, mendingan kita sholat dulu," jawab Eza.


Wardah memutar duduknya menghadap ke arah Eza.


Jderrrrr!!! Seolah tersambar petir di waktu maghrib. Eza mematung tiba-tiba di tempat tak berkutik. Hilang sudah ekspektasinya. Wardah berdiri dan memeluk Eza. Mengalungkan tangannya di leher Eza.


"Maaf Mas," lirihnya.


Perlahan tangan Eza membalas pelukan Wardah. Mengelus lembut punggung Wardah.


"Iya nggak papa Ay. Hukum alam itu, kita bisa apa," jawab Eza.


"Ya udah, Mas mandi dulu." sambungnya.


Cup! Eza mengecup kening Wardah kemudian berlalu ke kamar mandi. Setelah ditutup kamar mandi itu, Eza mencak-mencak sendiri tak karuan. Kenapa bulan itu datang di saat yang tidak tepat? Eza melirik ke bathub yang tertabur bunga mawar nan indah.


"Percuma aja kalian ngedekor kamar mandi sedemikian rupa. Nggak bakalan ada adegan eksotis di sini," gumam Eza.


Ia memilih untuk segera mengguyur tubuhnya menggunakan shower. Waktu maghrib yang menang sangat singkat menjadi alasannya tak berendam.


Sedangkan Wardah tengah menyiapkan baju koko dengan sarung untuk Eza. Tak lupa dengan sajadah. Wardah tampak bingung dimana arah kiblat. Hendak menggunakan gawainya pun tak bisa, karena belum diberikan kepadanya.


Tok! Tok! Tok!


"Mas, Mas Eza," panggil Wardah.


"Iya Ay! Sebentar, mau wudhu!" teriak Eza dari dalam.


"Mau minjem hp buat lihat arah kiblat," jawab Wardah.


"Iya, buka ajah! Sandinya wajah Ayang," ujar Eza.


Wardah sempat bingung dibuatnya. Bagaimana bisa sandinya menggunakan Wajah Wardah? Wardah mencobanya dan ternyata benar. Langsung terdeteksi. Wardah tampak bingung mencari aplikasi tujuannya. Hingga akhirnya ketemu juga. NU Online, itulah yang dicari Wardah. Sudah pasti Eza memiliki aplikasi itu, karena memang kebanyakan santri akan mengetahui aplikasi itu.


Diarahkanya gawai Eza untuk mencari arah kiblat. Barulah Wardah membentangkan sajadahnya ke arah itu. Tak berselang lama keluarlah Eza dengan jubah mandinya. Rambut basah Eza selalu saja mampu menghipnotis dirinya.


Kenapa bisa terlihat sangat tampan dan cool.


"Ay? Ay?" panggil Eza dengan mengibaskan tangannya di depan wajah Wardah.


"Astaghfirullah!" kaget Wardah saat Eza menepuk pelan pundak Wardah.


Wardah langsung berlari masuk ke kamar mandi. Malu rasanya ketahuan mendambakan dengan terang-terangan seperti itu. Eza tersenyum tertahan melihat tingkah Wardah. Comel sekali wajah malunya itu. Eza melihat pantulan dirinya di kaca.


"Tenang Za, elu memang tampan kok! Kalah itu cacak-cacak yang hanya berstatus mantan itu," monolognya dengan bangga.


"Awas aja kalau berani ganggu bini gua! Untung saja Papa dan Bunda masih mengambil alih gawai Wardah," gumamnya lagi.


Tatapan Eza tertuju pada meja yang ada di samping tempat tidur. Baju koko, peci, sarung, dan perintilannya sudah tertata rapi di sana. Tentunya dengan pilihan warna yang sangat cocok dan serasi.



Eza tersenyum malu sendiri. Hatinya seolah tergelitik dan terbang ntah kemana rasanya. Senang sekali rasanya. Eza segera mengenakan pakaian itu mengingat waktu maghrib yang singkat.


Sedangkan Wardah tampak jingkrak-jingkrak sendiri di kamar mandi. Ia merutuki ekspresinya beberapa waktu lalu. Maluuu! Benar-benar malu. Wardah melihat wajahnya di cermin, merah merekah karena malu. Diusapnya kasar untuk menghilangkan kegugupannya. Tapi malah bayangan Eza dengan rambut basahnya yang tercetak dipikirannya.


"Tenang Wardah, tenang, kamu belum pernah melihat Mas Eza yang mengenakan handuk tok lhoo. Jangan sampai kamu memasang wajah bodoh seperti tadi," gumamnya.


Ia segera melepas kebayanya dan melanjutkan mandinya. Lagi-lagi Wardah lupa tak membawa pembalut. Hmmm, kebiasaan yang buruk. Wardah mengenakan jubah handuknya kemudian membungkus rambutnya dengan handuk karena memang baru saja keramas. Wardah melongokkan kepalanya di pintu mencari keberadaan Eza. Ternyata dirinya masih wiridan di sajadahnya. Eza yang merasa dipantau langsung menyadari.


"Kenapa Ay? Dari tadi nungguin Mas?" tanya Eza menghampiri Wardah.


"Ndak, baru aja kok... Mas," Wardah mengisyaratkan kepada Eza untuk mendekatinya.


"Lupa nggak bawa pembalut," lirih Wardah.


"Hahaha, kenapa nggak keluar aja? Malu sama Mas?" tanya Eza.


"Bukan gitu, takut bocor di kamar nanti," jawab Wardah.


"Bentar-bentar, Mas minta ke Mama dulu," ujar Eza.


Cukup lama Eza keluar, membuat Wardah kesal sendiri. Dengan melasnya Wardah menunggu dengan duduk di atas kloset. Hingga akhirnya datang juga orangnya.


"Maaf lama Ay, nggak ketemu nyari Mama, Bunda, atau yang lain. Jadinya Mas beli tadi," ujar Eza.


Mata Wardah membulat seketika. Bisa-bisanya Eza membeli pembalut. Hilang sudah nanti citra ketampanannya. Hahaha.


"Yakin Mas beli? Nggak malu?" tanya Wardah.


"Jalan pintas itu, Aslinya mah gak paham gituan. Jadinya minta bantuan Mbak-mbak petugasnya," jawab Eza.


...Bersambung ...