
Wardah yang merupakan sahabat Anisa memang sudah tak canggung lagi jika berkecimpung dengan keluarga besar Anisa. Bahkan dengan mertuanya sekali pun. Itulah mengapa Wardah dan Eza juga memanggil mereka sama seperti anak-anak mereka yang lain.
Sajian makanan sudah siap begitupun dengan sarapan si kecil. Saat menyantap sarapan mereka. Wardah membantu Anisa menyuapi si kecil. Anggap saja ini Latihan sebelum nanti dirinya merawat si kecil yang sudah menunggu di rumah.
Tidak hanya itu Wardah juga mengikuti dan membantu Anisa memandikan, hingga bermain dengan si kecil sebelum berangkat ke bandara. Wardah benar-benar bahagia saat ini. Ia merasa benar-benar siap merawat Si kecil di rumah nanti.
***
Perjalanan pulang kali ini cukup menyusahkan untuk Wardah dan Eza. Bagaimana tidak, mereka berdua diberikan beberapa bingkisan oleh keluarga Anisa. Mau tak mau Wardah dan Eza membawanya meski sedikit kesusahan. Mereka ke bandara diantarkan oleh supir di kediaman Anisa. Sahabatnya itu harus ke kampus untuk mengajar pagi ini. Jadi tak bisa mengantarkan Wardah ke bandara. Di bandara, Eza di bantu oleh supir mereka menaikkan barang di troli untuk memudahkan pembawaan.
“Capek Mas?” Tanya Wardah saat mereka berjalan menyusuri koridor mencari loket chek in.
“Capek, tapi seneng soalnya sama kamu,” jawab Eza dengan cengirannya.
Memang hobi Eza menggombal. Menggombal yang benar-benar dari hatinya. Perjalanan dari Jombang ke Jakarta membutuhkan wantu satu jam setengah. Tak terlalu lama, tapi cukuplah untuk beristirahat sejenak. Mennyender di Pundak Wardak merupakan kenyamanan yang hakiki. Sepanjang perjalanan Eza tertidur lelap. Wardah sampai tak enak hati hendak membangunkan. Meski sebenarnya pundaknya sudah mati rasa.
Wardah tahu benar beberapa hari ini suaminya tidak tidur dengan nyenyak. Sangat sibuk dengan kasus ayahnya dan juga proses adopsi anak. Dielusnya lembut rambut Eza. Begitu teduh wajah ini kala tidur. Sering kali Wardah masih tak percara jika diberikan sosok pendamping yang luar biasa seperti ini. Sepanjang perjalanan Wardah tak bosan hanya dengan memandangi suaminya tidur.
“Mas, udah sampai,” ujar Wardah lembut membangunkan Eza.
“Nggak Mas, kan Cuma nyender,” jawab Wardah.
Turun dari pesawat Eza mengajak Wardah lewat jalan khusus. Bukan apa-apa, untuk meminimalisir jika ada orang-orang mengenali mereka. Eza tak mau mengambil resiko seperti di rumah sakit tempo lalu. Sampai di Jakarta Wardah dan Eza di jemput oleh Faiz.
“Udah kayak pindahan aja nih bawa barang kak,” celetuk Faiz saat membantu Eza memindahkan barang ke bagasi mobil.
“Iya emang pindahan, kakak kamu yang bantuin beres-beres tadi. Sampai bingung gimana bawanya, sampai dua troli lho,” jawab Eza.
“Udah biasa, dulu waktu aku di pondok juga bawain barangnya banyak banget,” sambung Faiz.
Sampai di rumah sudah berkumpul seluruh keluarga menyambut kedatangan Wardah dan Eza. Dengan girangnya dua bocil yang awalnya duduk manis di sofa sontak berlarian memeluk Wardah. Rutinitas yang dirindukan Wardah. Ia juga melihat Mama yang menggendong anak laki-laki berumus kurang lebih satu setengah tahun. Cucu dari Om Bagas. Terlihat jelas anak itu tersenyum riang kea rah Wardah yang menghampirinya.
“Makasih ya Ma, udah dibantuin jaga Si Dedek,” ujar Wardah sembari mencium punggung tangan mertuanya itu.
“Sama-sama, Mama dibantu Bunda sama Mbak Winda juga kok saying, jadi nggak repot,” jawab Mama mencium kening Wardah yang berjongkok dihadapannya.
...Bersambung...