
"Shaka sayang, kita ikut Ayah lagi ya," ujar Wardah yang langsung hendak menggendong Sakha.
Belum sempat terangkat, tiba-tiba Eza sudah ada di sampingnya mengambil alih Shaka ke gendongannya.
"Jangan terlalu sering gendong Sakha, dia udah mulai berisi. Ntar capek gimana?" ujar Eza mengelus lembut pundak Wardah.
Ia pun hanya diam mengangguk patuh menanggapi suaminya. Bukannya langsung pergi, Eza justru menyapa Cak Ibil dan mengajaknya berbincang. Wardah benar-benar merasakan ke-awkward-an di sini. Wardah memilih untuk pamit undur diri membiarkan Eza berbincang dengan Cak Ibil. Ia tak betah jika harus diam membisu tak tahu ikut mencoba akrab bagaimana.
Sakha digandengnya untuk duduk di dekat saung/ pendopo yang berhadapan langsung dengan kolam ikan. Sekalian Sakha biar bermain di sini. Awalnya Wardah memang hanya berdua bersama Sakha, tiba-tiba Ning Salma dan Gus Hasan ikut bergabung. Betapa terkejutnya saat Ning Salma memberitahukan jika ia akan bertunangan dengan Gus-nya.
Wah! Wah! Wah! Benar-benar kabar yang sangat menggembirakan. Meski dulu Gus Hasan pernah menaruh hati pada Wardah, tapi beliau benar-benar sudah berjanji untuk tidak membuat Wardah canggung saat bertemu. Sehingga Wardah bisa enjoy saat berbincang dengan beliau pun. Dan Wardah dapat melihat kilatan rasa cinta dari mata Gus-nya itu untuk Ning Salma. Berbeda dengan Cak Ibil, Wardah belum melihat rasa itu hilang, itu mengapa dirinya masih belum mau jika bertemu dengannya.
"Assalamu'alaikum," sapa seorang perempuan menghampiri mereka.
Tak diduga, perempuan itu adalah wanita yang tadi dibicarakan Tina. Yang katanya istri Cak Ibil. Tapi dari tadi ia menunggu Eza berbincang, kenapa Cak Ibil tak menyinggung mengenai pernikahannya? Ntahlah, itu bukan ranah Wardah.
Gus Hasan menyapa perempuan itu. Mereka saling kenal ternyata. Sempat menjadi santri di sana juga. Itu berarti ia adik kelas Wardah setelah lulus dan keluar dari pengabdian. Karena jika kakak kelas tak mungkin rasanya.
Perempuan itu menyapa Ning Salma dan Gus Hasan. Kemudian meminta izin untuk berbicara berdua dengan Wardah. Ning Salma menawarkan diri untuk menemani Sakha saat Wardah tinggal.
“Silahkan Mbak, silahkan utarakan apapun yang menjadi beban njenengan. Saya siap mendengarkan jika Mbaknya berkenan,” ujar Wardah dengan lembut sembari mengelus lembut punggung tangan Wanita itu yang menelungkup di atas pangkuannya.
“Saya sebenarnya ndak tahu apa alasan Mbak Wardah dan Mas Ibil bercerai dulu. Saya sendiri pun nggak berani untuk menanyakan hal itu pada beliau. Saya melihat Mbak Wardah saat ini ikut Bahagia saat Mbak sudah Bahagia dengan keluarga baru. Tapi saat saya melihat Mas Ibil, kenapa dia masih belum move on dari masa lalunya? Beberapa kali saya memergoki beliau tengah scroll sosial medianya Mbak Wardah. Bahkan saya sampai meniru gaya Mbak Wardah agar bisa mendapat perhatian dari Beliau,” Ujar Humaira dengan lirih dan menunduk tak berani menatap Wardah.
“Mbak Mai kapan menikah sama Cak Ibil?” tanya Wardah, yang memutuskan untuk memanggilnya Mai.
Ternyata mereka baru saja menikah. Pernikahan yang baru saja dimulai satu bulan yang lalu, tapi terasa seperti sudah bertahun-tahun sebab tak ada bumbu-bumbu kasih sayang dari pihak yang satu. Benar saja, pernikahan mereka dilaksanakan atas perjodohan dari orang tua mereka. Mai sendiri menyetujui perjodohan ini karena sudah terpikat dengan paras dan kepribadian Cak Ibil. Tapi ia tak tahu jika lakinya belum menuntaskan masa lalunya. Lagi-lagi korban perjodohan. Tidak semua perjodohan akan berjalan mulus jika kedua belah pihak tidak saling berusaha semaksimal mungkin untuk menyukseskannya. Ini tak bisa dibiarkan. Benar kata Ning Vida, pengalaman buruknya dulu bisa dijadikan pelajaran.
Humaira harus berusaha memikat hati Cak Ibil. Wardah mencoba memberikan masukan pada juniornya ini. Ia tak perlu menjadi orang lain untuk memikat hati kekasihnya. Akan sangat menyakitkan jika kekasih kita menyukai kita dengan kepribadian orang lain. Cukup jadilah diri sendiri dan perbaiki diri sendiri. Biarlah kekasih kita menyukai kita apa adanya. Sehingga kita bisa enjoy berekpresi tanpa beban harus seperti orang lain. Semoga saja Eza juga memberikan wejangan untuk Cak Ibil. Jangan sampai Mai mengalami perpisahan yang sama seperti dirinya dulu.
“Terima kasih ya Mbak, maaf kalau sebelumnya saya membuat Mbak Wardah nggak nyaman saat saya lihati tadi,” ujar Humaira.
“It’s Okay, saya doakan semoga pernikahan kalian langgeng. Sakinah maddah warahmah sebentar lagi. Semangat!” jawab Wardah dengan senyum merekahnya.
Mereka kembali ke saung berdua dengan perbincangan ringan dan candaan garing agar tak terlalu sepi. Sampai di sana, ternyata Eza sudah bersama Sakha. Itu berarti sudah selesai berbincang dengan Cak Ibil. Humaira izin bergabung dengan temannya yang tadi.
...Bersambung ...