
Semenjak tahu jika Wardah hamil, seluruh aktivitasnya serba terbatas. Wardah sama sekali tak diperbolehkan melakukan pekerjaan. Biasanya ia akan membantu memasak untuk makan pagi- malam, kali ini sama sekali tak diperbolehkan. Selama tiga hari di Bandung pun tak banyak yang dapat dilakukan oleh Wardah.
Eza hanya mengajak Wardah untuk aktivitas kecil saja. Bahkan ia sampai menyiapkan kursi roda jika aktivitas berjalan mereka cukup panjang. Seperti hari ini, mereka berencana untuk camping di sebuah savana yang menyajikan danau yang teramat sangat indah dengan beberapa pepohonan rindang di pinggirannya. Sangat pas untuk lokasi bersantai ria dengan menyantap hidangan-hodangan yang sudah keluarga itu siapkan. Perjalanan yang mereka lalui tak terlalu terjal dan masih aman jika dilalui mobil, jadi mereka tak perlu kelelahan berjalan beberapa mill kembali.
Keluar dari mobil mereka disambut dengan udara khass kota Bandung yang sangat sejuk. Anak-anak langsung berlarian di padang rumput itu. Sepertinya belum banyak yang tahu lokasi ini, sebab masih sedikit pengunjung yang ada. Mengingat tempat ini juga baru saja diperbaiki, dan belum dibuka untuk umum. Beruntung salah satu pekerja yang menjaga villa ada yang mengenal pemilik lahan ini, mereka jadi memiliki kesempatan bermain ria seolah seperti milik sendiri. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahui tempat ini.
Terdapat beberapa meja Panjang yang tersebar di area savana. Rata-rata ada di bawah pohon. Memang disengaja untuk tempat berkumpul tiap keluarga yang berkunjung. Mama, Bunda dan Kak Aisyah menyiapkan makanan untuk sarapan di meja itu. Sedangkan Wardah, dam Kak Winda menyiapkan tikar untuk duduk lesehan di bawah pohon pinggiran danau. Sedangkan para bapack-bapack bertugas mengawasi anak-anak yang tengah bermain. Mereka tadi memang berangkat tanpa sarapan. Tentu saja untuk menikmati makan bersama di tempat langka ini.
Hampir satu minggu mereka menghabiskan waktu di tempat berlibur. Esok hari saatnya mereka kembali ke padatnya kota metropolitan.
“Yuk sarapan dulu yuk!” seru Mama memanggil anggotanya.
Berbondong-bondong yang berjeuhan segera menuju kea rah meja makan. Tampak Eza masih kewalahan mengajak Sakha ke sana. anak itu dengan girangnya berlarian tak mau berhenti. Mau tak mau Wardah harus turun tangan membantu suaminya membujuk Sakha. Setelah memakan waktu, akhirnya si kecil Lelah juga berlarian. Memang harus dilelahkan terlebih dahulu baru mau berhenti.
“Tuit tuit! Tuit!” ujar Sakha menirukan kicauan burung.
Makan bersama-sama di alam terbuka seperti ini menciptakan suasana baru yang cukup mengasikkan. Keluarga besar itu tampak lebih menikmati makanan mereka sembari bercengkrama. Membahas sesuatu yang ada di sekitar mereka hingga hal-hal yang tak terlihat saat ini pula. Ya Ya Ya, meski ada beberapa percakapan gosip di sini. hahaha.
Selesai makan mereka sudah mencar kembali. Anak-anak tampaknya sedang asik-asiknya bermain air di pinggiran danau. Danau ini tampak bersih terawat. Mereka yang ingin berenang tentu saja menjadi tak khawatir jika berenang.
Kehendak hati ingin ikut berenang, tapi Eza tak mengizinkan istrinya itu. Jadilah Wardah hanya duduk di pinggiran danau dengan memainkan kaki di dalamnya. Di bagian sebrang danau memang terdapat hutan. Bukan hutan belantara, tapi hutan yang dikelola untuk pariwisata. Seperti hutan lindung. Jika tak berbadan, dua ingin sekali rasanya menyusuri hutan sembari bermalam dengan tenda dan api unggun bersama Eza.
Tenang, itu bukan bagian dari nyidamnya bumil. Hanya keinginan semata. hahaha.
...Bersambung ...