Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Piknik


Setelah sekian lama menyusuri hutan mangrove dan kini mereka telah berada di tengah-tengah laut menuju pulau pertama tujuan mereka.



Akhirnya perahu mereka menepi di pulau pertama. Pasir putih bersih menyapa mereka saat turun dari perahu. Jangan lupakan ombak kecil yang menyapu kaki mereka dengan damainya. Wardah menyambut uluran tangan Eza untuk membantunya turun.


"Saran saya, kita di pulau ini jangan terlalu lama Pak, kita masih ada empat pulau lagi dan pulau yang ke-tiga tempat menginap nanti malam," ujar pemilik perahu kepada Eza.


Eza melihat jam di tangannya, telah menunjukkan tengah hari, tepatnya jam setengah sebelas siang. Sedang terik-teriknya. Tapi tertolong oleh sapuan angin yang berhembus lumayan kencang, sehingga tak terlalu membakar kulit.


"Kita di sini sampai setelah Zuhur aja Pak, setelah itu ke pulau selanjutnya, terus sorean habis Asar kita ke pulau penginapan," jawab Eza.


"Siap Pak!" sambung Bapak itu.


Eza membawa koper kecilnya dengan Wardah. Mereka memang hanya membawa satu koper dan satu ransel untuk perlengkapannya. Bahkan Wardah yang biasanya membawa tas selempang, kini memilih tak membawanya, ia memilih untuk menitipkan di ransel suaminya.


"Kopernya kalau ditinggal di perahu amankan Pak?" tanya Eza. Ia berniat hanya membawa ransel dan tas makanan saja.


"Aman Pak! Tenang saja," jawab pemilik perahu.


Dengan tenang Eza meninggalkan kopernya di perahu. Tangan kanannya membawa makanan, sedangkan tangan kirinya merangkul pundak Wardah berjalan beriringan mencari tempat lesehan yang tepat. Fiona telah menyewa karpet untuk piknik mereka yang diletakkan di bawah pohon pantai.


"Mau langsung makan siang sekarang atau mau main dulu Mas?" tanya Wardah sembari menata makanan di atas lembaran tikar.


"Sekarang aja Ay, habis itu kita keliling pantai ini," jawab Eza.


Wardah mengangguk mengiyakan. Diambilkannya dua piring nasi dengan beberapa lauk untuk diberikannya kepada dua pemilik perahu yang mengantarkannya. Tak lupa dengan beberapa cemilan untuk menemani mereka sembari menunggu penumpangnya.


Wardah dibantu Eza membawakan makanan itu ke pinggiran pantai tempat perahu mereka diparkirkan. Ternyata bukan hanya 2 orang tadi, masih ada pemandu perahu yang lainnya. Wardah sempat tak enak hati hanya memberikan makan siang untuk pemilik penyewa perahunya. Akhirnya Eza meminta kepada supir perahu yang lain untuk memesan makanan di pantai ini.


"Terima kasih ya Mas, Mbak, sudah repot-repot membelikan makanan untuk kami," ujar mereka.


"Ay... Uang kamu kepakai lagi," ujar Eza saat berjalan menuju tempat berteduh mereka.


"Apaan sih? Ya nggak papalah Mas. Kayak sama orang lain aja sih!" protes Wardah dengan cemberut setelah mendengar tuturan Eza.


Cup!


" Sayang aku nggak bakal luntur buat kamu," ujar Eza mengecup pelipis Wardah.


***


"Makan yang banyak Fiona, Mbak Arumi, tadi saya nggak sempat masak banyak, jadi ada sebagian lauk yang beli," ujar Wardah.


"Masakan Kak Wardah yang mana?" tanya Fiona penasaran.


"Ini, capcay sama semur ayam," jawab Wardah.


"Mas Eza mau makan lauk apa?" tanya Wardah.


"Mau capcay sama jengkol yang dicampur ama semur itu Ay," jawab Eza.


Wardah mengambil sepiring nasi dengan beberapa lauk yang diinginkan suaminya. Semalam Eza memang berpesan pada Wardah agar memasakkan semur jengkol. Ntah tiba-tiba dirinya ingin. Wardah yang berpikir jika tidak semuanya suka jengkol, tentu saja memilih untuk mencampuri dengan ayam. Beruntung aroma atau perisa jengkolnya tak mengkontaminasi ayam yang dicampur. hahaha. Wardah dan Eza memang sering menggunakan piring yang sama. Sepiring berdua maksudnya. Agar tak membuat piring kotor terlalu banyak.


"Kamu mau jengkol apa nggak Fi?" tanya Wardah.


"Mau dong! Makanan terthe best itu Kak, haha" jawab Fiona.


"Setuju Fi!" balas Eza.


...Bersambung...