Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Ngebo


Acara khataman yang hingga larut malam ternyata cukup menyita tenaga. Wardah belum pulang, ia masih menunggu Kak Yusuf menjemputnya dan Bunda. Kini ia tengah berbaring di sofa dengan berbantalkan paha Bunda. Rasa kantuknya tak terelakkan lagi ternyata.


Bunda masih asik mengobrol dengan Bunda Farhan dan Umi Anisa ternyata. Sedangkan Anisa sudah pamit ke kamarnya sejak tadi.


"Wardahnya kok tidur di sini?" Tanya Bu Nyai yang ternyata belum pulang. Beliau ikut nimbrung bersama ibu-ibu lainnya.


"Kecapaian kayaknya Mi, hahaha. Dari pagi sibuk di sini. Masih nunggu kakaknya Wardah jemput," Jawab Bunda sembari mengelus kepala Wardah yang berbalut jilbab.


"Biar diantar Hasan saja kalau begitu," Tawar Bunyai.


"Terima kasih Umi, ndak usah," Tolak Bunda sopan.


"Mohon maaf... Umi, Abah sudah siap mau pamit," Gus Hasan menghampiri Uminya.


"Oalah, kamu antar Wardah sama Bundanya pulang dulu Le!" Perintah Bunyai.


"Mboten sah Mi, sebentar lagi kakaknya Wardah sampai," Ujar Bunda.


Umi masih kekeh ingin mengantarkan Bunda dan Wardah. Hingga akhirnya kak Yusuf datang.


"Lha! Ini Yusufnya sudah datang," Celetuk Umi Anisa.


"Sayang, bangun nak... Ayo kita pulang," Bunda mencoba membangunkan Wardah.


"Biar Yusuf gendong Bun, dedek kalau udah tidur suka ngebo," Celetuk Kak Yusuf mulai membopong adiknya.


"Kalau ngomong disaring!" Geram Bunda. Bisa-bisanya mengejek adiknya di tempat umum.


"Bercanda Bun," Jawab Kak Yusuf. Bunda berpamitan dengan ibu-ibu di sana dan mulai mengikuti anak laki-lakinya keluar.


"Lho! Wardahnya kenapa?" Tanya Abah Kyai panik melihat Wardah di gendong Kak Yusuf.


"Ketiduran Bah, kasihan mau bangunin," Jawab Kak Yusuf.


"Oalah, kirain pingsan anaknya,"


Barulah Kak Yusuf membawa Wardah ke mobil. Bunda mengikuti dari belakang. Bunda tadi memang sempat pulang, tapi setelah maghrib kembali kemari lagi menggunakan ojek online.


"Kamu ini! Ada Umi kok jelekin adek kamu!" Protes Bunda setelah Kak Yusuf mengemudikan mobilnya.


"Bunda lihat, Hasan itu sepertinya suka sama adik kamu," Jawab Bunda dengan pandangan menelisik ke depan.


Kak Yusuf memutar bola matanya jengah. Selalu saja begitu.


"Dedek lusa sudah berangkat ke Jakarta Bun, jangan bebani dengan dugaan-dugaan Bunda," Jawab Kak Yusuf.


"Iya-iya!" Jawab Bunda sewot.


.


.


.


Wardah sama sekali tak terusik selama di perjalanan. Hingga saat ini Kak Yusuf menggendongnya ke dalam rumah. Untung saja Wardah tak berat, Kak Yusuf juga masih muda. Hahaha.


"Kak Wardah kok digendong?" Tanya Inayah heran, melihat Aunty-nya digendong Ayahnya.


"Kakak mu tidur pules banget sayang, nggak mau bangun," Jawab Bunda memberi peringatan pada cucunya.


Kak Ina geleng-geleng kepala sendiri melihat tingkah adik iparnya. Bagaimana jika sudah di Jakarta? Siapa yang akan sabar membangunkannya.


"Capek Mas?" Tanya Kak Ina pada suaminya.


"Ngangkat anak itu nggak kerasa Yang, hahaha," Jawab Kak Yusuf.


"Kalau ngangkat aku kerasa?" Tuding Kak Ina merajuk.


"Mari kita buktikan!" Balas Kak Yusuf.


Tanpa aba-aba langsung menggendong istrinya ke kamar mereka. Untung saja Inayah memilih tidur bersama Omanya. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk kedua pasutri itu.


Bunda mengajak cucunya ke kamar. Sudah seminggu ini Bunda tidak tidur bersama Wardah. Ingin membiasakan katanya. Karena sebentar lagi Wardah akan pergi ke Jakarta.


...Bersambung.... ...