Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Pindah Hak Asuh?


“Om nggak punya bukti yang menjurus pada Pak Dodi, tapi Om tetap akan mengungkit masalah orang itu dipengadilan nantinya. Om memohon bantuan kepada kalian untuk menyelesaikan kasus ini hingga akarnya. Om nggak rela jika orang itu masih bebas dan berfoya-foya dengan enaknya,” jawab Om Bagas.


“Om sungguh minta tolong rawat dan jaga cucu Om,” lirih Pak Bagas tiba-tiba berlutut dihadapan Wardah.


Wardah dan Eza tercengang mendengar penuturan Om Bagas. Mereka sontak mencegah hal itu. Tak sopan orang tua harus berlutut-lutut seperti itu.


“Jaga dan rawat cucu Om nak, selama Om dipenjara atau bahkan selamanya… Om rasa, hukuman Om bisa berjalan seumur hidup. Tolong rawat cucu Im seperti anak kalian sendiri,” sambung Om Bagas lagi dengan ketulusan hatinya.


Wardah memandangi Eza untuk mendengar tanggapan suaminya. Apa iya mereka harus merawat cucu Om Bagas?


“Kami berdua tidak bisa langsung memutuskan hal ini Om, tolong beri kami waktu untuk mendiskusikannya,” ujar Eza menengahi.


Om Bagas mengangguk mengerti. Ia tahu benar mengambil keputusan mengenai hal ini cukup sulit. Apalagi ia adalah tersangka pembunuhan Ayah Wardah. Tentu saja hal itu merupakan luka terbesar seorang wanita ayu dihadapannya. Seorang pengasuh datang dengan membawa bayi laki-laki itu yang tengah menangis. Om Bagasa bergegas mengambil cucunya dan menenangkannya. Tapi sama sekali tak berhasil. Justru tangisnya semakin menjadi.


“Sayang, kita bantu Om Bagas nenangin cucunya ya?” ujar Eza mengelus jemari Wardah.


Wardah sempat ragu sesaat. Tapi akhirnya mengangguk menyetujui. Eza meminta bayi itu untuk digendong dan ditenangkan oleh Wardah. Awalnya Wardah masih kaku, mungkin karena belum nyaman menggendong bayi itu. Dibuangnya jauh-jauh rasa aneh dari dalam dirinya, dan mulailah Wardah mendekatkan diri, menenangkan bayi itu. Wardah mengajak bayi itu berbincang untuk mengalihkan perhatiannya. Hingga akhirnya bayi itu bisa tenang digendongan Wardah dibantu oleh Eza pula.


Hingga seorang waiters membawakannya susu khusus bayi kepada Wardah dan Eza. Dengan pelan-pelan Wardah menyuapinya. Tak ada dot karena memang tak ada persiapan. Om Bagas juga tak membawa peralatan bayi. Mungkin ini adalah kali pertamanya membawa Sang Cucu keluar rumah dengan jarak tak dekat.


Setelah tenang Wardah memberikannya kepada Eza untuk ia kembalikan kepada Om Bagas. Melihat anak itu Wardah terenyuh merasa kasihan pada anak itu yang mendapatkan imbas dari kesalahan keluarganya sendiri. Apa mungkin dirinya sanggup merawat anak ini seperti anaknya sendiri? Sedangkan Ketika melihat anak itu, masih terbesir rasa sakit di hatinya.


Baru sekejap digendongan Opa-nya anak itu sontak berontak ingin kembali digendongan Wardah. Ia terus mengayunkan tangannya minta digendong kembali. Hal itu semakin membuat hati Wardah sakit. Melihat kondisi Wardah yang tak kondusif, Eza langsung meminta maaf kepada Om Bagas untuk pamit pulang. Ia akan menginformasikan keputusan mereka nantinya. Tak lupa Eza juga tetap memberikan penjagaan kepada Om Bagas untuk menghindari bahaya dari pihak tergugat nantinya.


Selama perjalanan Wardah terus diam dengan menyenderkan kepalanya di lengan Eza sembari merangkulnya. Ia masih berkecaamuk dengan pipirannya sendiri. Keputusan apa yang akan ia ambil nantinya? Kenapa anak sekecil itu harus ikut menjadi korban?


“Sayang, kita bisa meminta pendapat dari Bunda, Mama dan Papa, nggak harus murni kamu yang memutuskannya… ada aku juga yang siap membantu kamu sayang, kamu nggak sendiri di sini,” ujar Eza.


“Iya Mas, aku lagi pengen ngelamun aja sekarang,” celetuk Wardah.


Eza geleng-geleng kepala dibuatnya. Bisa-bisanya Wardah ingin melamun. Meski Eza tahu istrinya tak melamun dengan pikiran kosong, melainkan dengan argument-argumen dan pertimbangan pribadi miliknya.


...Bersambung ...