Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Baby Z


Wardah mengikuti Eza menyalami setiap anggota keluarganya. Barulah ia mengambil alih bayi yang dipangku Mama. Justru tertawa saat diangkat Wardah. Betapa manisnya anak ini. Mama meminta Wardah dan Eza untuk beristirahat, tapi mereka justru tak mau. Lebih memilih untuk membahas acara syukuran kedatangan atau bergabungnya anggota keluarga baru. Oh iya, nama anak ini sebenarnya adalah Rain. Tapi Wardah dan Eza sepakat untuk mengganti nama anak ini menjadi ‘Muhammad Sakha Zayyan’. Seperti nama yang diberikan oleh Kyai Eza tempo hari. Beruntung Om Bagas juga sudah menyetujuinya. Apapun yang berkaitan dengan Zayyan, Om Bagas akan menyetujuinya.


“Pokoknya semua biar Mama, Bunda, sama Mbak-mu yang urus, oke!” ujar Mama.


Wardah mengangguk mengerti. Semua akan ia serahkan pada wanita-wanita hebat di keluarganya. Melihat hari semakin sore Bunda mengajak Wardah untuk memandikan si kecil. Perlengkapan si kecil sudah tersedia semua di rumah, Wardah dan Eza tak perlu susah-susah lagi mencari. Hanya beberapa barang susulan saja yang belum ada.


“Memandikan anak di umur segini pasti kamu udah bisa kan sayang?” tanya Bunda saat sampai di kamar Wardah.


“Insyaallah bisa Bun, tapi Bunda tetep lihatin aku ya, takut kalau ada yang salah,” jawab Wardah mewanti-wanti.


Bunda mengangguk mengerti. Seperti permintaan Wardah, Bunda tetap stay menemaninya dan melihat Wardah memandikan si kecil. Baby Z termasuk baby yang senang bermain air. Hal itu tentu mempermudah Wardah dalam memandikannya karena tak rewel. Baby Z justru bermain air saat di dalam bak mandinya. Sampai-sampai Wardah basah kuyup dibuatnya. Bunda yang melihat hal itu tentu saja tertawa terpingkal-pingkal melihat anaknya basah.


Eza yang baru saja masuk ke kamarnya dibuat penassaran sendiri. Ada apa gerangan dengan mertuanya sampai tertawa Bahagia seperti itu.


“Kok kamu ikutan mandi sih Ay?” tanya Eza saat melihat istrinya basah.


“Ikutan mandi gimana sih Mas? Anak kamu nih yang mainan air sampai aku basah gini,” jawab Wardah yang kini sudah berdiri baru saja selesai memandikan Baby Z.


“Sama Abi-nya aja deh, Omma mau keluar dulu,” ujar Bunda memberikan handuk yang ia pegang pada Eza.


Bunda keluar bahkan masih sesekali tertawa. Benar-benar Bahagia melihat anaknya basah-basahan. Raut wajah Wardah tak dapat dikondisikan. Terlihat jelas dirinya tak percaya pada Eza. Ia khawatir dirinya dan Eza sama-sama tak bisa mengurus si kecil. Mengingat ini ada pertama kalinya mereka merawat.


“Tenang Ay, jangan ngeremehin aku dong! Gini-gini aku udah belajar dari mbah You*ube cara merawat baby tahu,” ujar Eza dengan sombongnya.


Dengan perlahan Eza membalutkan handuk pada Baby Z yang ada digendongan Wardah. Meski sedikit was-was tapi Eza tak mau memperlihatkan kegugupannya di depan Sang Istri. Wardah yang sudah basah tentu memberikan Baby Z pada suaminya. Ia harus mengganti baju. Tak munngkin ia harus basah-basahan sampai nanti.


“Dek, ddedek bayi, sebenarnya Abi, eh kok Abi? Apa Papa aja kamu manggil akunya? Apa Papy? Deddy? Au ah! Pusing, nanti aja kita omongin sama Mama, Umi, Mommy, atau apalah itu nanti,” monolog Eza saat keluar dari kamar mandi.


“Sebenernya aku tuh masih takut gendong kamu, hehehe, jangan bilang-bilang dia yang ada di kamar mandi ya,” ujar Eza lagi saat Baby Z sudah ia letakkan di atas tempat tidur. Yang diajak berbicara pun tertawa seolah mengerti ucapan Eza.


...Bersambung...