Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Packing


...๐ŸŒพ...


...Mohon maaf Lhu-Lhu baru up lagi. Ntah kenapa imun Lhu-Lhu sedang menurun. Jadinya nggereges deh beberapa hari ini.... Maaf yaaa...


...๐ŸŒพ...


Baru saja malam kemarin Eza dan Wardah mengagendakan untuk liburan bersama. Siang ini selepas liputan, kini mereka sudah berada di pusat perbelanjaan. Untuk membeli perlengkapan mendaki tentunya. Apalagi Wardah tak pernah sekalipun mendaki, tentu saja agenda berbelanja mereka juga sangat banyak.


"Kita bermalam di gunung nanti Mas?" tanya Wardah yang melihat Eza tengah memilih tenda.


"Iya dong Ay," jawab Eza dengan semangatnya.


"Takut nanti ada binatang buas," lirih Wardah.


"Tenang Ay, Ayang perginya sama senior berprofesional. Dijamin aman," jawab Eza dengan bangganya.


Mulai dari tas, jaket, sepatu, dan lain sebagainya Eza pilihkan untuk sang istri. Wardah yang tak tahu harus memilih yang mana, mau tak mau mengikuti pilihan Eza. Siap dengan perlengkapan Wardah, barulah Eza mengajak Wardah memilih untuk tenda dan perabotan yang diperlukan lainnya.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Sampai di mansion, Eza dan Wardah langsung prepare untuk bawaan mereka liburan. Eza memastikan barang bawaan untuk mendaki lengkap. Sedangkan Wardah, yang menyiapkan barang bawaan mereka selama liburan di tempat lain. Ya!Mereka rencananya tak hanya mendaki, tapi juga ke tempat lain juga.


Tok! Tok! Tok!


"Mama, Bunda," ujar Wardah membukakan pintu.


"Jadi berangkat besok ta Za?" tanya Bunda menghampiri Eza yang menata tas gunungnya.


"Jadi Bun, mau jalan-jalan ke tempat yang di dekat pendakian dulu nanti. Dedek-kan masih uzur," jawab Eza.


"Ikut Mama yuk sayang!" ajak Mama pada Wardah.


"Biar Bunda yang bantuin Eza," sambung Bunda. Seolah tahu dengan apa yang dipikirkan anaknya.


Mama mengajak Wardah ke kamar beliau. Perasaan tadi Wardah melihat Papa tengah membaca koran di ruang keluarga. Tapi sekarang sudah tak ada. Hari ini memang weekend, waktunya untuk bersantai ria.


Wardah terkagum-kagum melihat kamar mertuanya. Karena ini memang kali pertama ia masuk ke dalam. Kamar yang tak kalah luasnya dengan kamarnya bersama Eza. Hanya saja, ornamen yang dipilih Mama dan Papa memang lebih dominan dengan warna gold. Mungkin karena selera Mama. Lihatlah meja rias Mama! Ternyata penuh dengan skincare pula. Sama seperti Wardah. Pantas saja wajah Mama masih terlihat cantik tanpa kerutan.


Mama tampak sibuk mencari sesuatu di lemarinya. Wardah memilih untuk duduk di pinggiran tempat tidur menunggu Mama.


"Sayang, kapan selesai haidnya?" tanya Mama.


"Aslinya hari ini udah selesai Ma. Tapi, mau ngasih kejutan ke Mas Eza besok," jawab Wardah dengan malunya.


"Hahaha, Mama suka cara kamu," celetuk Mama.


"Mama lupa menaruhnya di mana," gumam Mama yang masih sibuk menelusuri lemarinya.


"Mama nyari apa? Biar Wardah bantuin," ujar Wardah.


"Jangan-jangan! Kamu duduk di sana aja ya sayang... Mama yakin kok naruhnya di sekitar sini," jawab Mama.


Wardah memilih untuk melihat taman belakang dari jendela kamar Mama. Ternyata Papa tengah memangkas tanamannya bersama Mang Ujang.


"Nah ini dia!" ujar Mama menghampiri Wardah. Mama mengajak Wardah untuk duduk di sofa yang ada di dekat jendela.


"Winda Winda menitipkan ini untuk Dedek... Pakai ini waktu di hotel sebagai kejutan untuk Eza, oke!" ujar Mama memberikan bingkisan untuk Wardah.


"Ini apa Ma?" tanya Wardah.


"Bukanya kalau udah sampai di tempat liburan aja," jawab Mama.


Wardah merinding sendiri melihat senyuman Mama. Tampak menghawatirkan. Senyum devil menurut Wardah.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


"Apa itu Ay?" tanya Eza saat Wardah memasuki kamar dengan membawa sebuah kotak yang masih tersegel.


"Rahasia!" jawab Mama dari arah belakang Wardah.


Eza menanggapi acuh jawaban Mama. Memilih untuk menyimpan dua koper dan dua tas gunungnya di pinggir dinding.


"Yakin Wardah disuruh bawa tas sepenuh itu?" tanya Mama syok.


"Nggaklah Ma... Eza nyewa orang juga untuk jadi tour guide," jawab Eza.


Ketika Eza sholat jamaah di masjid, di sini saatnya Wardah melaksanakan rencananya. Wardah sengaja akan mensucikan dirinya diam-diam. Esok hari saat sudah di tempat rekomendasian Eza, barulah ia melancarkan aksinya yang kedua. Aksi yang telah ia susun matang-matang dengan bantuan dari Anisa.


Tak dapat dipungkiri. Bahkan rasa dag dig dugnya sudah terasa sejak sekarang. Wardah menyelesaikan ritual mandinya, kemudian segera sholat asar. Eza selama Wardah berhalangan untuk ibadah, selalu pergi ke masjid bersama Papa.


Kedatangan Eza menggunakan sepeda motornya dengan Papa menghentikan aktifitas Wardah. Wardah berlari pontang panting masuk ke kamar mengembalikan mukenanya. Mengenakan jilbab favoritnya yakni bergo.


Kembali membuka Al-Qur'an di atas tempat tidur sembari menunggu Eza masuk ke kamar.


"Assalamu'alaikum cantiknya akuu," sapa Eza memasuki kamar.


"Wa'alaikumussalam gantengnya akooh," jawab Wardah meletakkan Al-Qur'an dan menghampiri Eza.


Eza menyambut uluran salam Wardah kemudian mencium keningnya. Nyaman sekali rasanya memeluk dan menghirup aroma tubuh Pak Suami.


"Ay, udah sucian ya?" tanya Eza yang tak sengaja terpegang rambut Wardah yang masih basah.


Deg! Wardah blank seketika. Tak tahu hendak berbuat apa. Masak iya, rencananya langsung gagal total.


"Kalau lagi uzur gak ada larangan buat keramas kok," jawab Wardah.


"Iya juga sih! Hahaha. Sini Mas keringin," ujar Eza menuntun Wardah ke meja riasnya.


Eza mulai menyalakan hairdryer dan memilah-milah rambut Wardah. Siap dengan rambut Wardah, Eza mengajak Wardah berjalan-jalan ke taman di komplek sekitar mansion.


Cukup ramai orang-orang di sini ternyata. Mansion orang tua Eza memang berada di sisi tengah-tengan sebuah perumahan. Selain untuk menjaga keamaan, hal ini dilakukan agar dapat berbaur dengan masyarakat umum.


Wardah dan Eza tak hanya berdua. Melainkan bersama dua krucil Dinda dan Inayah. Kak Yusuf dan Kak Ina sudah kembali ke Jombang beberapa hari kemarin. Inayah masih ingin melanjutkan sekolahnya di Jakarta. Jadilah Kak Ina mengurus butik Bunda, sedangkan Bunda menemani Inayah di Jakarta.


"Ounty! Boleh main itu?" tanya Inayah menunjuk timezone yang ada cafe pusat perumahan.


"Tanya Om Eja dong," jawab Wardah.


Tampak Inayah dan Dinda memainkan pupil matanya gemas menghadap ke arah Eza. Eza yang melihat reaksi itupun tertawa dan mengiyakan keinginan mereka. Cafe ini sungguh nyaman. Dengan taman yang mengelilingi cafe dan timezone yang memang disediakan di lantai dua cafe. Membuat para orang tua lebih nyaman menjaga anak-anaknya sembari bersantai.


Eza meminta perlindungan ekstra untuk kedua ponakannya dari petugas di playzone. Biarkan ia dan Wardah bermesraan ria menikmati kopi dengan pemandangan yang tak kalah cantiknya.


"Mas Eza? Baru diajak keluar nih bininya?" celetuk salah satu warga.


"Hahaha, iya buk. Baru sempet," jawab Eza sembari menggandeng tangan Wardah ke meja mereka.


"Mari buk," pamit Wardah.


Suaminya main gandeng-gandeng aja tanpa permisi. Eza memilih duduk di balkon agar dapat menghirup udara segar.


"Om Eja kenapa pegangin tangan Aunty teros?" celetuk Inayah yang tiba-tiba sudah ada di samping Eza bersama Dinda dan petugas yang Eza sewa tadi.


"Lho! Udah mainnya? Tangannya Aunty dingin. Makanya minta dipegang terus biar hangat," jawab Eza gelagapan. Sedangkan Wardah hanya memutar bola matanya jengah.


"Kalian pengen makan apa?" tanya Eza setelah mendudukkan dua krucil di kursi.


Wardah memberikan buku menu untuk mereka. Merekomendasikan beberapa makanan kesukaan anak-anak biarlah mereka memilih sendiri nantinya.


๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ


Pagi-pagi buta dua sejoli pengantin baru ini masih bermalas-malasan di tempat tidur mereka. Setelah murajaah, Wardah mengikuti Eza yang berbaring di tempat tidur sambil menonton tv. Padahal pagi ini merupakan jadwal mereka berangkat. Wardah masih setia merebahkan dirinya di dada Eza sembari memeluk dan bermain gawai.


"Adek mau bantuin Mama masak deh!" ujar Wardah hendak beranjak.


"Nanti dulu Ay," sanggah Eza menahan pundak Wardah.


"Mass... Nggak bisa gitu dong," geram Wardah melepaskan pelukan Eza.


"Mendingan Mas temenin Papa di taman, kalau nggak di depan tv," ujar Wardah selesai memakai jilbabnya kemudian keluar.


Eza memutar bola matanya jengah. Jika berdekatan dengan Papa, pasti diajak membahas mengenai kasus yang ditangani beliau. Eza memang bukan pengacara, tapi sedikit banyak ia paham karena Sang Papa sering mengajarinya.


Dari pada sendirian menonton, lebih baik mengikuti saran Wardah. Jadilah Eza ikut turun ke bawah. Eza tampak menyapa suasana dapur terlebih dahulu. Ada Mama, Wardah, dan Mbok Atun di sana. Menyicipi tempe mendoan satu lebih baik deh. Barulah ia pergi mencari Sang Papa.


...๐ŸŒพ๐ŸŒพ๐ŸŒพ...


...Bersambung ...