Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Ocehan Dinda


Selesai menyelesaikan makan siangnya, Wardah membereskan sisa dan bekas makanan mereka dibantu oleh Fiona dan Arumi. Sedangkan Eza memilih untuk menunggu Wardah sembari duduk di atas pasir membiarkan kakinya tersapu oleh ombak yang dengan damainya menyentuh kakinya.


Arumi yang melihat Eza duduk sendiri sontak meletakkan sampah bekas makan mereka di dekat tikar. Ia langsung menghampiri Eza. Basa-basi dirinya mondar mandir seolah menikmati keindahan pantai hingga,


"Mas Eza? Saya ikut duduk di sini ya?" tanyanya yang kini sudah duduk di samping Eza.


Eza yang hendak menolak pun tak enak hati sebab wanita itu sudah duduk. Mau tak mau Eza mengangguk menyetujui.


"Mas Eza kira-kira masih lama nggak di Padangnya?" tanya Arumi.


"Rencananya Minggu depan sudah di Jakarta Mbak, kasihan kantor kalau ditinggal lama-lama," jawab Eza.


Arumi mengangguk mengerti. Eza tampak berulang kali menoleh ke arah Wardah. Berharap istrinya itu segera menyelesaikan pekerjaannya. Eza merasa canggung hanya berduaan dengan Arumi.


"Kak! Kakak ke Pak Eza aja deh! Biar ini Fiona yang beresin. Dari tadi Pak Eza nengok'in ke sini terus, mana ada Bu Arumi di sana bukannya bantuin kita," celetuk Fiona.


Wardah mengikuti arah pandang Fiona. Benar saja ternyata wanita gatel itu tengah duduk di samping suaminya tanpa rasa bersalah. Akhirnya Wardah meminta maaf pada Fiona jika dirinya harus membantai bibit pelakor itu.


"Mas Eza?" panggil Wardah.


"Iya sayangnya aku, sini," jawab Eza.


Lega rasanya Wardah sudah menghampirinya. Eza meminta kepada Wadah agar duduk di sampingnya. jangan lewatkan dengan jemari tangan Eza yang dengan setianya selalu menggenggam jemari Wardah. Sesekali ia mencium punggung tangan Wardah.


"Jangan gitu ih, malu tahu sama Mbak Arumi," ujar Wardah tak enak hati pada Arumi. Tapi sebenarnya dalam hatinya bersorak kegirangan.


"Mbak Arumi maklum Ay, iyakan Mbak? hahaha," jawab Eza dengan tawanya.


Arumi hanya tertawa kecil mendengar tuturan Eza. Eza yang berada di tengah-tengah perempuan merasa tak nyaman. Ia ingin bersama Wardah saja, tapi bagaimana caranya untuk meminta Arumi agar pergi? Wardah mengangkat gawainya untuk mengambil gambar mereka. Tentu saja tanpa Arumi. Tengah asik mengambil gambar dengan berbagai gaya, tiba-tiba gawai Wardah berdering. Nama Mama mertua tertera di sana.


"Assalamu'alaikum Ma," sapa Wardah dengan sumringah.


"Wa'alaikumsalam sayang, gimana kabarnya? Eza nggak jahat sama kamu kan?" tanya Mama Eza. Mereka tengah video call ternyata.


"Jahat Ma! Mas Eza biarin aku beres-beres sendiri," adu Wardah bercanda.


"Sayang! Ngaduan kamu yaa," bela Eza mengambil alih hp yang dibawa Wardah.


"Awas kamu buat anak Mama kecapekan! Gimana liburannya? Sekarang lagi dimana kalian?" ancam Mama dengan sederet pertanyaannya.


"Udah nggak gadis gara-gara Mas Eza!" sambung Wardah yang kini menyender di dada bidang suaminya, berusaha untuk satu frame agar Mama bisa melihatnya pula.


Jadilah kini posisi Eza memeluk dengan Wardah yang sudah duduk di pangkuannya. Bahkan mereka melupakan keberadaan mereka di tempat umum. Bukan hanya itu, masih ada Arumi yang duduk di samping Eza dengan sedikit jarak.


"Hahaha! Bisa aja kamu, enakin liburannya sebelum balik ke kantor lagi. Ini ni, Inayah sama Dinda pengen ngomong sama Aunty-nya," ujar Mama memberikan hpnya kepada dua bocil di sampingnya. Pantas saja sedari tadi ada suara grusak-grusuk, ternyata dua bocil itu yang ngecipris.


"Auntyyy!!!" teriakan langsung menggema. Spontan Eza menjauhkan hp di tangannya.


"Et dah! Buset, semangat bener punya ponakan," celetuk Eza.


"Iyaa sayangnya Aunty.... Udah pulang sekolah ya?" tanya Wardah dengan sisa tawanya setelah mendengar celetukan ponakan dan suaminya.


"Udah Aunty!!! Aunty! yang di samping Om Eja siapa?" tanya Dinda yang melihat ada pergerakan seseorang tertangkap kamera di samping Eza.


"Ooh, ada temennya Aunty sama Om Eja di sini sayang," jawab Wardah melihat ke arah Arumi yang diam melihat interaksi Wardah dan Eza.


"Aunty cepetan puaang!!! Dinda mau diantelin Aunty kalau cekulah! Dinda cama Kak Naya tanen tahuu!" celoteh Dinda yang didukung dengan anggukan Inayah. Tampak dua anak itu berebut ingin menunjukkan wajah masing-masing pada Wardah dan Eza.


"Emangnya kalian nggak kangen apa sama Om Eja? Kok dari tadi yang diajak ngobrol Aunty terus sih?" protes Eza.


"Ndak! Dinda tanennya cama Aunty aja! Om Eja pelit!" balas Dinda dengan gemasnya.


"Naya kangen kok sama Om Eja, Naya mau ikut jalan-jalan juga sama Om Eja," sambung Inayah.


"Sip mantap! Kita temenan Nay! Om Eja musuhan sama Dinda!" jawab Eza dengan pura-pura marah.


"Bialin! Dinda puna Aunty, wleekk!" balas Dinda tak mau kalah.


Panjang lebar mereka berdua menelepon Dinda dan Inayah. Hingga tanpa mereka sadari, sudah ada Fiona yang bergabung dengan mereka duduk di samping Arumi. Tampak mereka tengah mengobrol bersama. Sesekali terkikik melihat obrolan bocil yang diajak mereka berdua berbincang.


"Udah dulu ya dek, Aunty sama Om mau istirahat dulu... Iya, insyallah besok pulang," ujar Eza.


"Dada, Waalaikumsalam," jawab Eza dan Wardah bersamaan menutup telepon.


...Bersambung ...