
Pagi-pagi buta Eza sudah terbangun. Bahkan azan subuh belum berkumandang saat ini. Dilihatnya sang istri masih tertidur pulas di pelukannya. Diciumnya kening Wardah dengan gemas. Ntahlah, Eza tak henti-hentinya gemas dengan istrinya sendiri. Wardah yang notabenya ***** pun tak merasa terganggu sama sekali.
Eza bergegas menuju kamar mandi untuk bersiap sholat subuh. Kalau menurut waktu di gawainya, lima belas menit lagi azan berkumandang. Setelah selesai dengan dirinya, kini giliran Eza membangunkan sang istri. Baru saja dirinya keluar kamar mandi, ternyata Wardah sudah terbangun. Tampak ia tengah mengumpulkan nyawanya. Wardah tengah duduk bersila dengan tatapan yang masih kosong. Masih mengantuk sepertinya.
Wardah mau tak mau bangun, setelah menyadari jika Eza tak ada memeluknya lagi.
"Masih ngantuk?" tanya Eza.
Wardah hanya mengangguk lemas menimpali Eza. Tapi ia tetap beranjak ke kamar mandi. Eza terkekeh melihat tingkah Istrinya. Sembari menunggu Wardah, Eza menyiapkan perlengkapan sholat.
Selesai sholat, tanpa basa-basi Eza melepaskan mukena yang Wardah pakai dan menggendongnya ke tempat tidur. Menagih hutang Wardah yang semalam tentunya. Pintu kamar mereka pun sudah terkunci aman.
"Kok suami aku mesum banget sih?" ledek Wardah.
"Mesumnya sama istri sendiri Ay, nggak papa dong," jawab Eza.
Serangan fajar Eza berakhir dengan cukup lama. Bahkan mereka melewatkan sarapan bersama. Gedoran di pintu sama sekali tak digubris. Bukan ulah Wardah itu, tentu saja perangai Eza. Hingga menjelang siang, barulah Eza terbangun. Diciumnya sang istri yang masih tertidur dalam pelukannya. Ia harus menjemput Farhan dan Anisa ke bandara.
Sesekali Eza juga mengelus lembut pipi Wardah agar terbangun. Setelah sekian lama, barulah Wardah menggeliat. Dilihatnya senyuman manis Eza tepat dihadapannya sembari menetralkan cahaya sekitar dengan pandangannya.
"Morning sayang," sapa Eza.
"Aku rasa, ini sudah bukan pagi lagi," jawab Wardah dengan senyumnya. Eza terkikik mendengar jawaban Wardah. Benar juga. Ini sudah hampir siang.
"Terima kasih sayangku... Tapi, kitakan harus jemput sahabat kamu ke bandara Ay," ujar Eza.
"Astaghfirullah! Iya Mas, kok bisa lupa sih," jawab Wardah terkaget.
Wardah bergegas melilitkan selimut ke tubuhnya. Ia harus segera bersiap. Kasihan Si Kembar jika harus menunggu. Eza menyekal lengan Wardah, menangkan istrinya agar tak panik.
"Tenang, jangan buru-buru. Kita masih punya banyak waktu Ay..." ujar Eza menunjuk ke arah jam dinding.
Wardah menghela napasnya, tenang sudah dirinya. Dilihatnya Eza masih bertelanjang dada dengan celana boxernya. Bahkan lantai di sekitar tempat tidur mereka masih berserakan pakaian mereka. Hingga tatapannya dengan Eza bertemu. Meringislah lawan bicara Wardah.
"Tenang Ay, Mas yang bakalan beresin," celetuk Eza.
"Setuju!" jawab Wardah dengan senyuman yang mengembang.
Wardah beranjak dengan selimut yang melilit di tubuhnya.
Cupp! Satu kecupan mendarat di pipi kanan dan kiri Eza.
Sontak Eza mengikuti Wardah ke dalam kamar mandi.
"Eiits! Beresin dulu kamarnya." cegah Wardah.
"Tapi jangan dikunci kamar mandinya!" jawab Eza.
"Siapa sih yang desain kamar mandi? Perasaan memang nggak ada kuncinya," ujar Wardah kemudian hilang di balik pintu kaca buram itu.
Benar juga kata Wardah. Kamar mandi mereka yang awalnya ada kuncinya, kini telah terganti dengan kamar mandi tanpa kunci. Bahkan terganti dengan kaca. Ulah siapa kalau bukan Eza? Eza yang merubah, ia sendiri yang lupa.
Eza bergegas membersihkan baju-baju mereka, hingga mengganti seprai tempat tidur mereka. Setelah dirasa beres, Eza bergegas melaksanakan sunah Rasul yang kesekian kalinya. Dilihatnya Wardah masih berendam dengan nyamannya sembari memainkan gawai. Sepertinya sedang membalas pesan.
"Udah selesai Mas?" tanya Wardah.
"Iya udah, mandi yuk!" jawab Eza yang kini ikut bergabung bersama Wardah.
🌼🌼🌼