Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Ngeledek


Selepas menyelesaikan makan siang menjelang sore, Eza dan Wardah berencana untuk kembali ke resort. Cukup melelahkan ternyata menghabiskan waktu di universitas ini.


"Kakak nggak pengen jalan-jalan dulu gitu?" tanya Fiona yang masih menemani Wardah dan Eza. Kini mereka tengah berada di perpustakaan pusat universitas ini.


Baru saja Fiona mengajak sepasang pasutri berjalan-jalan melihat perpustakaan yang baru saja siap diresmikan. Bukan hanya mereka bertiga, ada Arumi yang mengikuti mereka.


"Jangan sekarang, besok aja kamu jadi tutor kami," jawab Eza.


"Serius? Wau! Mau-mau!" jawab Diolah cepat.


"Saya nggak diajak nih Mas?" tanya Arumi tiba-tiba.


Eza tampak melihat ke arah Wardah meminta persetujuan. Sedangkan yang diajak diskusi malah mengendikkan bahunya dan melengos.


"Silahkan kalau mau ikut," jawab Eza akhirnya. Ia tak enak hati jika menolak. Anggap saja sebagai teman Fiona agar tak sendiri. Karena dapat dipastikan jika Eza dan Wardah akan berduaan.


***


"Saya nggak diajak nih Mas? Silahkan kalau mau ikut," ledek Wardah.


"Saya nggak diajak nih Mas? Silahkan kalau mau ikut," ledek Wardah lagi.


"Apa sih Ay?" tanya Eza yang risih mendengar Wardah sedari tadi memparodikan ujarannya dengan Arumi.


Kini mereka berdua sudah berada di dalam mobil menuju ke resort. Sudah kesekian kalinya Wardah meledeknya.


"Saya nggak diajak nih Mas? Silahkan kalau mau ikut," ledek Wardah lagi.


Cup!


Diciumnya bibir Wardah karena gemas. Kalau cemburu meresahkan istrinya itu. Tentu saja Wardah terdiam seketika. Bagaimana tidak? Di depan ada Bapak supir yang sepertinya melihat adegan ciuman itu.


Tak ada jawaban dari Wardah. Wardah justru membuang muka melihat pemandangan di sampingnya.


"Nggak ada yang bisa menggantikan posisi kamu di hati Mas Ay.... Cuma kamu seorang, Mas nggak enak mau nolak Mbak Arumi, masak iya kita ajak Fiona tapi nolak yang satunya? Padahal mereka sama-sama orang lain. Biar Fiona ada temen jonesnya, kita bisa berduaan tanpa khawatir kesasar," ujar Eza panjang lebar.


"Jones?" tanya Wardah.


"Jomblo ngenes, " jawab Eza.


"Tahu dari mana kalau Mbak Arumi jomblo?" tanya Wardah menahan tawanya.


"Nebak aja," jawab Eza asal.


Sontak Wardah tertawa mendengarnya. Eza merangkul pundak Wardah agar menyandar di dadanya.


***


Sore-sore yang tak terlalu terik seperti ini akan asik jika digunakan untuk berenang menikmati air panas. Mata air yang ada di daerah tempat mereka singgah tergolong sangat dingin, pihak penginapan tentu saja menyiapkan kolam air hangat di sini. Eza sudah menceburkan dirinya di kolam renang khusus yang ada di kamarnya. Sembari menikmati pemandangan pegunungan.


Wardah sudah membawakan seduhan teh hijau di nampan yang ia letakkan di sisi tepian kolam renang. Sedangkan dirinya duduk di tepian menceburkan kakinya ke air. Ternyata benar-benar hangat. Dengan isengnya Eza menarik tangan Wardah hingga ikut tercebur ke dalam air. Beruntung Eza langsung memeluknya erat, jika tidak ia akan meminum air kolam itu mentah-mentah.


"Iseng banget sih! Kan akunya kaget," gerutu Wardah memukul pundak Eza yang terekspos dengan indahnya.


Eza terkikik melihat wajah kesal Sang Istri. kolam renang yang ada di kamar mereka merupakan privat, tak perlu khawatir akan akan ada orang lain di sini. Dengan begitu, Wardah tak perlu repot-repot mengenakan jilbab.


Menikmati pemandangan sore dengan pelukan hangat dari belakang dari suaminya merupakan hal terindah. Jangan lupakan dengan kehangatan air dan juga seduhan teh hijau untuk menemani mereka.


...Bersambung ...