
Siang hari ini merupakan siding pertama untuk Kak Winda dan Rio. Seperti biasa, Wardah tak ikut ke pengadilan. Ia harus mengurus anak-anak. Ia bahkan sudah dua hari ini izin dari kantor. Jadilah presenter bagiannya digantikan dengan yang lain. Seperti saat ini, setelah menjemput Sakha ia harus bersiap untuk menjemput Dinda. Jarang antara kelas Sakha dan Dinda hanya berjarak dua jam, terlalu jauh jika harus pulang dahulu. Jadilah Wardah dan Sakha kini sudah standby di play ground area sekolah Dinda dan Inayah. Barulah setelah menjemput Dinda, mereka pulang dahulu. Karena kelas Inayah setelah zuhur baru selesai.
Sakha asik berlarian bermain dari satu permainan ke permainan yang lain. Wardah hanya duduk sembari mengawasinya saja. Semakin bertambah usia kandungannya, ia semakin cepat lelah.
“Aunty!” panggil Dinda dari seberang kelasnya.
“Hey! Gimana sekolahnya? Happy?” tanya Wardah yang menghampiri Dinda.
“Happy, aku mau mainan sama Sakha dulu ya sebelum pulang,” jawab Dinda.
Sakha semakin senang diajak bermain dengan kakaknya. Jelas saja dua anak itu menjadi semakin betah bermain. Setelah dua anak itu puas, barulah mereka pulang.
“Aunty, aku mau ikut Mama ke pengadilan,” ujar Dinda.
Tentu saja Wardah bingung. Ia harus menuruti Dinda atau tidak? Sedangkan ia sendiri juga belum tahu kondisi di lokasi seperti apa. Ia takut jika waktunya tak tepat mengajak Dinda ke sana.
“Kita pulang dulu ya? Aunty coba tanya Om Eja dulu, anak-anak boleh ikut ke sana apa nggak,” jawab Wardah.
Dinda mengangguk penuh harap. Saat di taman tadi memang ada seorang guru yang menghampiri Wardah. Memberi tahu jika Dinda beberapa hari ini sempat murung. Tak seceria biasanya.
Mungkin saja Dinda terfikir oleh Mama-nya setelah beberapa hari yang lalu sempat mendengar curhatan Mama-nya secara tak sengaja.
Sampai di rumah, Wardah meminta tolong kepada Si Mbok untuk membantu anak-anak mengganti pakaian. Sedangkan dirinya akan menelepon Eza. Beberapa saat setelah sambungan telepon tersambung. Ternyata proses persidangan belum selesai dan anak-anak tidak boleh masuk ke dalam.
“Ajak saja nggak papa Ay, nanti di luar aja nungguin. Aku tunggu di depan nanti,” ujar Eza dari seberang parkiran sana.
Jadilah kini Wardah melajukan mobilnya menuju ke tempat pengadilan negeri Jakarta setelah anak-anak selesai mengganti bajunya. Sedari tadi ia tampak memperhatikan Dinda. Ia khawatir bagaimana nanti anak itu di sana? Tapi kini tampaknya baik-baik saja. Dinda dengan enjoy-nya bermain dengan Sakha. Semoga sampai nanti-nanti anak itu juga bahagia selalu.
Setelah beres memarkirkan mobil, tampak dari arah lain Eza melambaikan tangan dan menghampiri Wardah. Ekor mata Wardah menangkap samar-sama sebuah mobil melaju dengan kencangnya bersamaan dengan Eza yang menghampirinya.
“Mas! Mas Ezaa!” teriak Wardah dengan sigapnya berlari menghampiri Eza dan menariknya ke pinggir parkiran.
Ia bahkan tak memikirkan perutnya saat ini. Lumayan keras Eza dan Wardah terpelanting di depan moncong mobil yang terparkir dengan Wardah yang dilindungi Eza agar tak terbentur mobil. Beruntung mobil itu tak menabrak Eza. Bisa-bisa-nya mobil itu dikemudikan dengan kencang, padahal di area parkiran.
“Sayang? Kamu nggak apa-apa? Mana yang sakit?” tanya Eza panik dengan mengecek keadaan istrinya.
“Kita duduk dulu ya,” ujar Eza.
Eza membopong Wardah menuju bangku yang tersedia di taman depan gedung pengadilan. Barulah ia menjemput Sakha dan Dinda yang masih ada di dalam mobil. Tampaknya Eza baik-baik saja sebab jalannya juga normal tak mengeluh kesakitan sama sekali. Hanya Wardah saja yang tampak sedikit meringis mengelus perutnya yang sedikit keram. Tapi tak parah.
“Kita ke dokter ya,” ujar Eza setelah kembali ke tempat Wardah.
“Nggak usah Mas, nanti aja kalau pulang kita mampir ke klinik dokter Ira. Aku cuma butuh duduk bentar aja,” jawab Wardah.
Seperti rencana awal, mereka menunggu di depan ruangan persidangan. Dengan ditemani cemilan-cemilan yang sempat Wardah beli di perjalanan tadi. Anak-anak sibuk bermain dan ngemil, membuat Wardah dan Eza bisa bebas berbincang.
“Ada cctv pasti Mas, di sekitar parkiran... Nggak mungkin kalau nggak ada,” ujar Wardah yang sedari tadi mereka sudah membahas mengenai kejadian barusan.
“Iyaa, secepatnya akan Mas urus. Kamu tenang aja, sambil kita tunggu urusan Kak Winda selesai ya,” jawab Eza.
Dua sejoli itu benar-benar tak habis pikir dengan mobil yang hampir saja membahayakan mereka tadi. Eza tak akan tinggal diam. Sebenarnya ia mengingat nomor mobil itu. Setelah ini ia akan meminta orang kepercayaannya untuk membantunya menyelesaikan hal ini. Jika dibiarkan, ia takut jika targetnya juga keluarganya.
Hampir satu jam menunggu akhirnya persidangan selesai. Satu persatu orang mulai keluar diikuti dengan Kak Winda, Papa, dan Mama. Yang terakhir rombongan keluarga Rio, mantan suami Kak Winda. Karena saat ini mereka sudah resmi bercerai.
Dinda berlari memeluk Mamanya yang baru saja sampai di hadapannya. Seolah paham, ia seperti seorang anak yang tengah menenangkan dan menghibur Mamanya. Di belakang Kak Winda ada Rio yang menatap sendu ke arah Dinda. Dinda yang menyadari jika Papa-nya memandanginya tampak seperti acuh tak acuh. Ia memilih untuk menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Mama-nya yang berbalut dengan hijab.
“Dinda, salam dulu sama Nenek dan Kakek,” ujar Kak Winda pada Dinda.
Dinda menurut, ia berjalan menghampiri orang tua Papa-nya yang berdiri tak jauh dari mereka. Dinda memang tak terlalu dekat dengan Kakek Neneknya. Itu membuatnya tampak sedikit canggung kini dipeluk oleh mereka. Biasanya Rio dan Winda memang jarang bertahan lama tinggal di rumah orang tua Rio. Mungkin hanya saat hari raya atau saat ada acara keluarga saja. Itupun hanya beberapa hari saja di sana. Sering kali Dinda yang mengajak pulang terlebih dahulu. Padahal rumah keluarga Rio hanya di Bandung, yang jaraknya tak begitu jauh.
“Dinda ikut ke rumah Nenek yuk! Besok nenek sama kakek antarkan pulang,” ujar Nenek Dinda.
“Dinda mau nemenin Mama aja Nek, Dinda nggak mau Mama sedih. Papa, maafin Dinda yaa... Tapi untuk saat ini, Dinda memang lagi benci sama Papa, Papa udah buat Mama nangiss!” ujar Dinda.
Dinda kembali ke Mamanya dan menggandengnya untuk pergi. Tak ada penahanan dari orang tua Rio. Karena mereka tahu jika di sini Rio-lah yang salah. Untuk hak asuh anak pun keluarga Rio legowo untuk membiarkannya jatuh ke tangan menantu mereka.
...Bersambung....