
Wardah yang awalnya panas terbakar api, dingin seketika mendengar tuturan kata "tercinta" dari suaminya. Wardah mengulurkan tangannya menyambut uluran tangan Arumi. Jangan lupakan senyum manis Wardah.
Eza dan Wardah kini tengah berdiri menikmati pemandangan sekitar universitas di depan jendela kaca. Mengingatkan lingkungan perkuliahan bagi masing-masing mereka.
"Gimana ya Mas, kalau seumpama kita kenalnya waktu di bangku kuliah?" tanya Wardah spontan.
"Nggak ada kesempatan untuk Cak Ibil nikahin kamu Ay... Mas langsung maju melamar kamu lewat Abah," jawab Eza merangkul pundak Wardah.
Wardah tersenyum mendengar tuturan Eza. Disenderkannya kepala Wardah di lengan Eza. Beruntung di ruangan itu hanya ada mereka berdua dan juga Arumi saja. Tak berselang lama datanglah salah seorang panitia briefing sebelum acara di mulai.
"Mas Eza, mari kita briefing dulu... Mas Lana sudah datang. Maaf, tapi aku boleh manggil dengan sebutan Mas kan?" tanya Arumi menghampiri Eza dan Wardah.
"Biar lebih akrab gituu," sambungnya.
"Silakan," jawab Eza.
"Sayang, kesana yuk!" ajak Eza pada Wardah.
"Mas ke sana aja dulu, adek masih pengen di sini," jawab Wardah dengan lembut. Tentu saja menahan kejengkelan di hatinya.
"Ya udah, Mas tinggal sebentar ya, love you," ujar Eza mengecup pelipis Wardah.
Wardah tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari suaminya. Tapi Wardah juga sadar dengan tatapan menjengkelkan dari Arumi. Ini tak bisa di biarkan, Tatapan pengawas milik Wardah siap beraksi. Dilihatnya Mak Gandrong itu tengah mencoba berbincang dengan Eza.
Wardah semakin panas dingin saat melihat Eza merespon Arumi. Apalagi dengan senyuman yang kini ikut mengembang.
"Ngapain sih harus duduk bareng gitu? kan bisa duduk beda sofa!" gerutu Wardah sembari melotot ke arah Eza.
Wardah mendekati mereka yang tengah briefing. Jangan tinggalkan wajah bete-nya. Eza yang melihat itu baru sadar. Tempat tidurnya untuk nanti malam tak akan aman jika dibiarkan. Eza meminta kepada Arumi untuk memberikan space tempat duduk kepada Wardah. Sekilas Arumi memandang wajah Wardah, kemudian berpindah duduk.
Barulah Wardah duduk di samping suaminya itu. Meski bosan mendengar tuturan Mas Lana, Wardah tetap saja ikut mendengarkan. Dari pada suaminya nanti digoda oleh Mak Gandrong itu.
Setelah sekian lama, akhirnya selesai juga briefing mereka. Mereka bertiga diminta untuk menuju ke ruang seminar segera. Tak pernah sekalipun Eza melepaskan genggaman tangannya kepada Wardah saat mereka bersama.
"Biar lebih akrab gituu," sambung Wardah lagi.
"Sekarang aja manggilnya Mas, awas aja kalau sampai manggil Sayang," sambungnya lagi.
Eza memutar bola matanya jengah. Mulai lagi sisi cemburu istrinya. Pasti ini akan diungkit-ungkit terus nantinya.
"Apa sih Ay.... Jangan gitu laahh, Sayangnya aku cuma kamu Sayang," jawab Eza merangkul pundak Wardah dan mencium pelipis Wardah.
Wardah masih saja dengan wajah bete-nya. Sesekali juga masih mengejek Eza. Dan Eza selalu membungkam mulut resenya itu dengan kecupan singkat. Beruntung saat berjalan tak ada orang. Hanya mereka berdua dan Arumi yang berjalan sedikit lebih jauh dari mereka.
Arumi yang melihat pemandangan manis itu ikut terbakar emosi pula. Ia berjalan sendiri, sedangkan di depannya dua orang tengah bermesraan.
Di dalam lift, Eza masih saja menggenggam jemari Tangan Wardah. Sesekali ia mencium punggung tangan itu Sedangkan Wardah menyenderkan kepalanya pada lengan Eza. Tanpa ada perbincangan antara mereka.
"Kalian berdua sweet banget, jadi iri," celetuk Arumi membuka perbincangan.
"Mbak Arumi tidak mengunjungi seminar bersama pasangannya?" tanya Eza.
"Haha, saya single Mas," jawab Arumi.
Eza manggut-manggut mengerti. Keluar dari lift, mereka disambut oleh beberapa panitia yang menunjukkan tempat duduk tamu undangan. Ada beberapa mahasiswa dan para petinggi Fakultas.
"Kak Wardah!" panggil salah satu mahasiswi yang tiba-tiba sudah berdiri di samping Eza.
By the way posisi berjalan mereka Wardah ada di tengah-tengah Eza dan Arumi.. Wardah celingukan mencari sumber suara yang memanggilnya. Ternyata mahasiswi yang ia temui di masjid raya kemarin sore.
Wardah tersenyum menanggapi mahasiswi itu. Spontan tangannya melambai menyapa mahasiswi itu. Ntah mengapa, ia begitu senang bertemu mahasiswi itu lagi. Ia pikir, tak perlu mengobrol dengan Arumi, cukup dengan Mahasiswi itu saja.
...Bersambung ...