
Rapat evaluasi berjalan dengan lancer. Meski membutuhkan waktu sedikit lebih lama karena memang banyak aspek-aspek yang perlu dibahas. Wardah tak ikut rapat, sebagai gantinya Eza-lah yang ada di sana. Wardah harus menyelesaikan editing naskah berita untuk siang ini. Pekerjaannya tak telalu banyak memang, semenjak ada Sakha, Eza memang mengurangi pekerjaan untuk istrinya. Awalnya ia ingin Wardah berhenti bekerja dan tetap di rumah, tapi sebagai wanita karir, Wardah tentu saja tak menyetujuinya. Sebagai gantinya, ia rela pekerjaannya dikurangi. Sehingga ia bisa dengan santai jikalau harus sembari menjaga Sakha.
Seperti saat ini, Wardah yang sibuk dengan panjangnya teks di layar komputernya, Sakha tengah anteng mencoret-coret buku yang sengaja ia bawa dari rumah. Sesekali anak itu akan menghampiri Buna-nya dan mengoceh meminta tanggapan mengenai gambar abstraknya. Sering kali juga rekan kerja yang lain mengajak Sakha bermain, Sehingga ia tak bosan jika ikut Buna dan Ayahnya ke kantor. Justru ia sangat senang.
“Sakha sayang, kita ke ruangan Ayah yuk!” ajak Wardah yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya.
Sebentar lagi jam makan siang, pasti Eza juga sebentar lagi akan keluar dari ruang rapat. Sakha berjalan mendahului Buna-nya menuju ruangan Ayahnya. Tak lupa salam perpisahan yang menggemaskan kepada rekan-rekan Buna-nya. Wardah singgah terlebih dahulu untuk mengonfirmasi hasil suntingan naskah, voice over, dan rundown acara berita kepada Penanggung Jawab Redaksi. Barulah ia menyusul Sakha ke ruangan Eza.
Sakha sudah celingak-celinguk mencari keberadaan Buna-nya yang tadi berjalan di belakangnya. Hendak masuk terlebih dahulu pun ia belum cukup kuat untuk membuka pintu kaca ruangan Ayahnya. Wardah terkikik sendiri melihat ekspresi menggemaskan anaknya itu dan segera menghampirinya.
“Maaf Nak, tadi Buna singgah sebentar di ruangan Om Eko,” ujar Wardah.
Ibu dan anak itu saling bekerja sama mendorong pintu kaca yang terhubung ke ruangan Eza. Ajakan siapa lagi kalau bukan Sakha. Tak kuat mendorong sendiri, jadilah ia mengajak Sang Buna. Melihat ruangan Eza, Wardah speeclesh sejenak. Tak ada kesan rapi sama sekali. Padahal pagi tadi masih baik-baik saja. Apa baru saja ada gempa lokal? Sedang mencari apa tadi suaminya, sampai berantakan begini ruang kerjanya. Sakha bermain di ruang istirahat, sedangkan Wardah memilih untuk membereskan ruangan Eza yang berantakan.
Wardah mengupas apel untuk Sakha terlebih dahulu, barulah ia melanjutkan aktivitasnya kembali. Wardah mengambil beberapa bahan masakan yang tersedia di kulkas dan mulai memasak untuk makan siang mereka. Wardah memang tak membawa makanan dari rumah, mengingat jika di dalam kulkas kantor masih tersedia beberapa bahan masakan. Memang tak pernah kosong kulkas ini, karena setiap hari pasti diupgrade oleh OB kantor.
Tengah asik memasak, ia sampai tak menyadari jika Eza sudah kembali. Baterai-nya seolah langsung terisi full saat melihat kehadiran Sang istri. Ditetakkannya beberapa map di atas meja, dan ia langsung menghampiri Wardah.
Grep!!!
“Sebentar lagi makanannya matang kok Mas, itu Sakha ada di kamar,” ujar Wardah.
“He’em, masih pengen gini,” jawab Eza yang masih setia memeluk Wardah.
“Ayah!!!” teriak Sakha.
Sukses mengagetkan Ayah Buna-nya. eza melepaskan pelukannya dan menghampiri jagoannya yang berdiri tak jauh darinya dengan sebuah potongan apel di tangannya.
“Hallo jagoan Ayah! Sebentar lagi kita makan ya!” sapa Eza yang langsung menggendong Sakha.
Eza menceritakan semua mengenai Mas Rio dari awal mulai kecurigaannya hingga perkembangan pengamatannya sampai sekarang. Wardah menyimaknya dengan seksama sembari menyuapi makanan pada Sakha. Mendengar cerita Eza, Wardah jadi yakin jika kecurigaan Kak Winda selama ini benar. Lalu bagaimana kedepannya? Wardah terlalu takut untuk andil dalam masalah ini. Tapi ia juga tak bis ajika membiarkan suaminya sendiri membantu Kak Winda.
“Kita atur liburan dulu aja ya, kita ajak semuanya termasuk Kak Winda dan juga Mas Rio. Jangan takut Ay, Kak Winda wanita yang kuat,” ujar Eza.
Sepertinya Eza sudah menyiapkan rencananya matang-matang untuk membantu kakaknya. Wardah hanya perlu percaya dan mendukung apapun yang dilakukan suaminya itu. Toh rencananya pasti untuk kebaikan Kak Winda dan orang disekitarnya juga. Mari kita tunggu kabar baiknya.
...Bersambung ...