Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
PDKT


Sore ini Wardah dan Eza akan ke makam Ayah. Sesuai janji Eza yang akan mengantarkannya. Oh iya! Wardah belum memberi tahu Bunda tentang keberadaannya di Jombang. Ia ingin memberi surprise untuk Bundanya itu.


Ntah dapat dari mana mobil yang dikendarainya saat ini. Tiba-tiba keluar dari gedung rektorat tempat Farhan, mobil ini sudah terparkir dengan rapinya di depan gedung.


"Ini mobil siapa sih Mas?" tanya Wardah kesekian kalinya.


"Mobil orang, tadi minjam," jawab Eza.


Tapi dari tadi Eza bersamanya, tak ada sekalipun Wardah melihat Eza menelepon atau berkomunikasi dengan orang lain. Terserah lah! Yang penting kini ia bisa segera ke rumah Ayah. Temu kangen setelah dua bulan lebih di Jakarta.


Eza menghentikan mobilnya di depan kedai bunga. Wardah mengambil bunga tabur dan sebotol air mineral. Sedangkan Eza mengambil serangkai bunga lily yang teramat cantik. Hadian untuk Ayah Mertuanya nanti. Hahaha.


"Nanti saya ganti uangnya ya Mas," ujar Wardah setelah mereka memasuki mobil.


"Masakin saya makan malam saja sebagai bayarannya," jawab Eza dengan senyum manisnya.


Sesaat Wardah tampak tertegun melihatnya. Makhluk Allah yang satu ini sangatlah disayangkan jika terlewatkan,


"Siap bos!" jawab Wardah dengan hormat.


.


.


.


Disinilah Wardah dan Eza sekarang. Ditengah-tengah jalan raya yang kanan kirinya terdapat rumah-rumah tepat terakhir peristirahatan kita. Wardah tampak gugup hendak bertemu Ayah. Pasalnya biasanya ia sendiri atau terkadang keluarganya. Tapi kali ini ia membawa laki-laki asing yang belum dikenal Ayahnya.


"Tenang, sabar, Allah sudah mengatur jalan hidup kita dengan sebaik-baiknya," ujar Eza mengelus lembut kepala Wardah yang terbalut jilbab


Wardah menatap Eza dan mengangguk. Ia harus ceria. Ayah tak boleh sedih karena dirinya. Wardah mulai berjalan melewati makan-makan. Medan untuk sampai ke makam Ayah lumayan jauh juga.


"Assalamu'alakum Ayahnya Dedek," sapa Wardah setelah sampai di makan sang Ayah tercinta.


"Maaf ya Yah, Dedek baru bisa jenguk sekarang..." ujarnya lagi dengan senyum sumringah mengusap nisan yang terukir.


"Biar saya yang memimpin doa," ujar Eza. Wardah mengangguk dan mengikuti Eza yang mulai membaca tahlil dan surat Yasin. Wardah sempat tertegun kesekian kalinya, ternyata orang kota juga ada yang hafal tahlil dan Yasin. Masyaallah...


Air mata yang awalnya tak ingin ia tunjukkan pada makam sang Ayah, kini dengan mudahnya menerobos keluar bak air bah. Wardah menangis dalam diamnya sembari mengusap nisan laki-laki terhebatnya itu. Sudah bertahun-tahun, tapi ia masih belum rela dengan kepergian sang Ayah. Walaupun ia sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengikhlaskan.


Eza tak tega melihat itu. Direngkuhnya Wardah dalam pelukannya. Dikesampingkannya hukum-hukum islam yang selama ini ia pegang. Ia tak sanggup melihat Wardah menangis. Wardah semakin terisak dalam dada bidang Eza.


"Saya antar kamu pulang ya?" ujar Eza lembut. Wardah mengangguk patuh.


Eza menuntun Wardah untuk kembali ke mobil. Sorot mata Wardah menangkap seorang wanita dan pria yang sangat ia kenal. Bunda dan Kak Yusuf. Iya! Itu mereka. Mereka juga tengah memperhatikan dirinya.


Mereka mendekati Wardah dan Eza. Eza yang belum mengenal Bunda hanya mengira jika itu pengunjung makan yang lain.


"Dedek kangen Ayah," lirih Bunda.


"Iyaa, Bunda tahu itu," ujar Bunda lembut. Mengusap punggung anaknya penuh sayang.


Kak Yusuf memukul lengan Eza spontan. Sok akrab sekali orang itu. Eza membalasnya dengan senyum canggung. Ia baru ngeh kalau itu keluarga Wardah.


"Tidak usah canggung. Farhan sudah menceritakan semuanya pada saya," ujar Kak Yusuf.


"Saya Yusuf. Kakaknya Wardah," ujar Kak Yusuf.


"Saya Eza Bang, salam kenal," jawab Eza gerogi.


.


.


.


Canggung, grogi, dredeg, campur aduk menjadi satu. Kini Eza tengah mengemudikan mobil milik Kak Yusuf untuk pulang ke rumah. Mobilnya? Biarlah itu menjadi urusan Eza sendiri. Kak Yusuf bersikeras memaksa Eza untuk ikut menggunakan mobilnya. Oke! Siapa takut? Eza tentu saja mau. Meski tiga rasa tadi kini bercampur menjadi satu adem panas.


"Bos kamu masih muda," bisik Bunda pada Wardah.


"Ish! Bunda mah gitu, udah mau punya cucu dua masih aja ganjen," ledek Wardah.


"Hee, bukan untuk Bunda laah, untuk gadisnya Bunda," bisik Bunda lagi. Dan yakinlah! Eza dapat mendengarnya. Ia senyum-senyum sendiri mendengarkan tuturan Bunda.


"Gadis? Bukannya Wardah sudah pernah menikah? Atau Bundanya hanya menjaga mood Wardah agar tidak down?" batin Eza yang kini berfikir.


"Nak Eza kembali ke Jakartanya bareng sama Wardah atau mau pulang dulu?" tanya Bunda.


"Insyaallah bareng sekalian tante, Mas Farhan juga mengundang saya di acara 7 bulanan istrinya," jawab Eza.


"Coba kalau Bunda tadi nggak nelpon Anisa! Pasti Bunda nggak akan tahu kalau dedek ke Jombang!" ujar Bunda.


"Dedek tuh mau kasih surprise buat Bunda," rengek Wardah.


"Iyaa, surprise ajalah tiap pulang," ujar Bunda memeluk anaknya.


Sedangkan di jok depan tampak Kak Yusuf mewawancarai Eza. Mulai dari pekerjaan hingga keluarganya.


"Tidak semudah itu kamu bisa dekat dengan adik saya Za," ujar Kak Yusuf mengecilkan volume suaranya. Sontak Eza terkaget. Tadi tampak enjoy saja berbincang, kenapa sekarang jadi semenakutkan ini?


...Bersambung... ...