Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Mbak Winda


Beberapa hari di Surabaya membuat Wardah melupakan sejenak permasalahan yang tengah dihadapi kakak iparnya. Sampai di rumah pun sepertinya Kak Winda sudah istirahat. Hingga saat subuh menyapa, barulah Wardah bertemu Kak Winda saat hendak menuju ke mushola keluarga. Wardah hanya menyapa biasa, tak berani memulai perbincangan berat. Berbeda halnya dengan Wardah, Eza yang merupakan adik kandung Kak Winda tentu kini semakin protektif terhadap kakaknya itu. Bahkan saat di Sidoarjo ia terus menguak semua permasalahan yang mengganggu kakaknya melalui orang-orang kepercayaannya. Eza memang tahu seluruh permasalahan Kak Winda. Jauh sebelum Wardah mengetahui tempo lalu.


Eza pernah saat itu, sempat memergoki Kakak iparnya tengah minum kopi bersama seorang wanita. Awalnya ia pikir wanita itu adalah klien di perusahaan Papa. Tapi beberapa waktu setelahnya ia kembali melihat kakak iparnya itu tengah berpegangan tangan tangan dengan wanita yang sama di sebuah pusat perbelanjaan saat dirinya hendak membelikan titipan Wardah. Dari sanalah ia mulai menyelidiki kakak iparnya.


“Seru ya tugasnya kemarin, Kakak kemarin lihat IGS kamu kayaknya Sakha juga happy banget ketemu anaknya temen kamu itu,” ujar Kak Winda.


“Iyaa Kak, alhamdulillah nggak ngerasa beban sama sekali dinas keluar kali ini, Sakha juga nggak rewel,” jawab Wardah.


“Serumah pada heboh waktu tahu kalau kamu ikut tampil di acara inti, awalnya Cuma pengen lihat kamu liputan, eh! Dapet kejutan kamu ikut tampil Dek,” ujar Kak Winda lagi.


Wardah menceritakan semua yang terjadi beberapa hari di Jawa Timur selepas sholat Subuh. Mereka berdua memang sengaja untuk duduk-duduk sembari melihat sunset yang hampir muncul. Berhubung Sakha juga belum bangun, dan menyiapkan diri untuk beberapa pekerjaan yang akan menanti sebentar lagi. Begitupun Kak Winda yang juga exited menceritakan Dinda dan Inayah selama tak ada Wardah di rumah. Bukan hanya keadaan rumah, tapi juga keluh kesah pekerjaan Kak Winda yang ternyata sedang sibuk-sibuknya di kantor.


“Kakak sudah berbicara dengan Mas Rio Dek,” lirih Kak Winda mulai membahas.


“Selama perbincangan kami pribadi, Mas Rio seolah tak merasa ada something di antara kami. Tapi kakak masih merasa ada sesuatu di antara kami. Walaupun akhir-akhir ini Mas Rio juga sangat perhatian dengan kakak,” sambungnya.


“Kakak nggak boleh memikirkan hal ini terlalu berat. Kasihan dengan badan kakak nantinya. Mungkin Mas Rio memang lagi banyak kerjaan aja kak. Kakak hanya perlu terus menjalani kewajiban kakak sebagai istri,” jawab Wardah mengelus lembut punggung tangan Kak Winda.


Setelah puas berbincang berdua, dua wanita itu kembali ke rumah untuk melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Setelah membantu menyiapkan sarapan, Wardah kembali ke kamar. Ia harus menyiapkan perlengkapan Eza ke kantor. Tentu saja dengan dirinya pula. Selain itu Wardah dari tadi begitu memikirkan permasalahan Kak Wardah. Ia tak bisa jika hanya diam seperti ini. Ia harus menyampaikan kepada suaminya (Wardah belum tahu jika suaminya ternyata sudah mengetahui perihal ini).


Siap mengurus Sakha, Wardah memberikan anaknya pada Faiz agar mengajak anak itu ke bawah. Mengingat Wardah harus berbicara penting dengan suaminya. Saat Wardah sudah siap dengan make up dan penampilannya, kini giliran ia membantu Eza bersiap. Merapikan jas yang ia kenakan hingga dasi yang menghiasi kerah bajunya. Sebenarnya Eza jarang mengenakan jas, berhubung hari ini ada meeting evaluasi acara kemarin, jadinya ia harus mengenakannya.


"Mas, aku mau ngomong sesuatu sama Mas Eza," lirih Wardah sembari menyisir rambut Eza.


"Ini soal Kak Winda," jawab Wardah menghentikan sisirannya.


Eza menggenggam jemari Wardah, membimbingnya berjalan di hadapannya dan duduk dipangkuannya.


Wardah sempat heran kenapa ekspresi suaminya biasa saja? Maksud ia, kenapa tak ada rasa penasaran atau kaget atau apa saja.


"Mas sudah tahu mengenai ulah Mas Rio, Mas juga sudah mulai mengawasinya sejak beberapa minggu yang lalu," jawab Eza dengan jujur.


"Kenapa Mas nggak bilang? Kasihan Kak Winda memikirkan masalah ini sendiri," protes Wardah.


"Mas belum siap melihat kondisi Kak Winda saat tahu apa yang akan Mas bicarakan," jawab Eza.


"Apa separah itu Mas?" tanya Wardah lagi.


"Kita bicarakan di kantor ya, Mas takut kalau sampai ada yang mendengar," ujar Eza.


Wardah mengangguk mengerti, Benar juga, tak mungkin suaminya akan diam saja. Ia juga pasti sudah mempertimbangkan berbagai hal saat memilih untuk menangani masalah ini diam-diam sendiri.


...Bersambung ...