
Istirahat dua jam serasa istirahat hanya sepuluh menit. Itulah yang dirasakan Wardah. Usapan lembut di pipi dan kecupan di bi"irnya sukses mengusik tidurnya. Wajah tampan Eza yang pertama kali menghiasi penglihatan Wardah. Bukannya bangun, Wardah kembali memeluk Eza dan menenggelamkan wajahnya di dadanya.
"Cantik, mandi dulu yuk! Habis sholat kita lanjut lagi," ujar Eza mengelus lembut rambut Wardah.
"Lanjut apanya," lirih Wardah dengan suara khas bangun tidurnya.
"Lanjut tidur boleh, lanjut yang semalem juga boleh," goda Eza.
Pukulan lembut Wardah mendarat dengan mulusnya di lengan Eza. Mungkin karena efek baru bangun tidur dan masih lelah makanya tak ada kekuatan untuk memukul. Wardah mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk bangun.
Betapa malunya ia setelah tahu jika dirinya belum mengenakan pakaian apapun. Pipi Wardah sudah merah merona dibuatnya.
"Ayuk! Udah Mas siapkan air hangatnya," ujar Eza.
Wardah kira Eza juga masih bugil. Ternyata ia sudah mengenakan boxernya. Wardah semakin malu saat ketahuan memikirkan hal itu. Baru beringsut turun, sudah terasa perih diarea i*tim Wardah.
Dengan sigap Eza menggendong Wardah menuju kamar mandi. Eza menceburkan dirinya bersama Wardah ke dalam bathup. Dengan nyamannya Wardah menidurkan kepalanya di dada Eza sembari menghirup aroma sabun pilihan Eza.
Waktu subuh masih satu jam lagi. Sengaja Eza membangunkan satu jam sebelumnya. Agar bisa puas di kamar mandi tentunya. Eza mengusap lembut punggung Wardah dan mulai membasuh secara perlahan rambutnya. Wardah semakin mengeratkan pelukannya tak peduli jika kini ia masih bug*l. Yang ia inginkan saat ini hanyalah tidur. Puas dengan acara berendam, barulah mereka membersihkan tubuh mereka.
Sesuai rencana awal. Setelah melaksanakan sholat subuh dan mengaji sebentar, mereka berdua kembali merebahkan dirinya di tempat tidur. Apalagi saat ini mereka berada di kawasan pegunungan. Udara pagi semakin terasa dingin. Sangat cocok untuk kembali tidur. Eza mengatur alarm untuk rapat lanjutan yang sempat tertunda semalam. Barulah ia kembali membawa Wardah ke dalam pelukannya.
Sebenarnya memang tak boleh tidur setelah subuh, tapi mata mereka benar-benar tak bisa diajak kompromi. Rasa kantuk itu sangat kuat.
Eza terbangun saat alarm yang ia atur berbunyi. Bahagia sekali rasanya bangun tidur dengan wajah sang istri yang pertama ia lihat. Eza tersenyum sendiri saat mengingat kejadian semalam. Ia benar-benar tak menyangka jika ia mendapatkan jackpot yang luar biasa. Dielusnya lembut pipi Wardah, sukses membuat Eza gemas. Rasanya ingin selalu menciumnya.
"Sudah pukul delapan ternyata," celetuk Eza.
Tersadar jika ia dan Wardah belum sarapan. Lantas Eza mengambil gawainya untuk menelpon petugas. Tentu saja untuk memesan makanan. Eza beringsut pelan-pelan untuk bersiap rapat agar Wardah tak terusik. Tak ada kata mandi, karena tadi pagi sudah mandi. Eza memilih hanya mencuci wajahnya.
Eza menata penampilannya sejenak, kemudian kembali ke tempat tidur. Membuka iPad dan memulai rapatnya. Sesekali ia juga mengelus lembut rambut Wardah.
Tak berselang lama Wardah sedikit terusik dengan ujaran Eza dalam rapatnya. Tampak Eza masih fokus memberikan petuah untuk rekan kerjanya.
"Udah bangun,"sapa Eza dengan senyuman manisnya.
Wardah mengangguk dan memeluk pinggang Eza dari samping. Eza menyimak rapat sembari berbincang dengan Wardah. Meskipun Wardah hanya merespon dengan singkat karena memang masih mengantuk. Wardah semakin nyaman dengan elusan Eza di rambut dan punggungnya.
Tak berselang lama datanglah makanan yang dipesan Wardah. Sontak Eza menutupi seluruh tubuh istrinya menggunakan selimut. Karena Wardah memang hanya mengenakan baju pendek dan celana pendek. Mana rela ia mempertontonkan istrinya yang seperti itu kepada orang lain.
"Makan dulu yuk Ay," ajak Eza.
"Rapatnya udah selesai apa?" tanya Wardah keluar dari persembunyiannya.
"Belum, biar mereka yang rapat. Mas dengerin aja," jawab Eza.
"Jangan gitu dong," sanggah Wardah turun dari tempat tidur.
Ia menata makanan pesanan Eza di meja. Mengambil iPad Eza yang ditinggal di atas nakas.
"Mas rapat dulu aja. Aku mau cuci muka," ujar Wardah.
Eza menurut saja sembari menunggu Wardah. Tak lupa ia menutup pintu kaca kamarnya. Awalnya Eza ragu memilih penginapan ini, karena di bagian depannya full kaca. Ternyata jika dari luar, tak terlihat. Hanya saja mereka yang berada di dalam, dapat menikmati pemandangan luar.
"Pak Dirut! Tumben dari tadi offcame?" tanya Hito.
"Lagi dinas sama istri ini. Kalian kalau rapat nggak usah sama saya. Kalau sudah ada hasilnya, baru sampaikan pada saya. Sepertinya seminggu ini nggak bisa diganggu saya," jawab Eza.
"Usahakan tidak ada rapat seminggu yang akan datang. " sambung Papa.
"Baik Pak!" jawab Hito.
Bisa-bisanya Eza lupa jika Papanya ikut dalam rapat ini. Wardah terkikik melihat ekspresi suaminya. Ia kira, sang suami hanya rapat dengan jajaran tertentu yang juga sahabatnya. Ternyata sang Papa juga ikut.
🌾🌾🌾
Seperti scejule yang telah Eza susun sebelumnya, siang ini ia akan berendam di sungai yang ada di depan kamar mereka. Eza sudah siap dengan kaos oblong dan celana pendeknya. Sedangkan Wardah juga akan ikut andil nantinya. Kini ia juga sudah siap dengan kaos Eza yang ia pinjam, beserta celana kedodoran miliknya pula. Awalnya Wardah hanya ingin bermain air di pinggir tanpa berbasah-basahan. Tapi, melihat Eza yang tampak asik, membuatnya ingin basah-basahan pula.
Sengaja Eza memilih waktu di siang hari agar tak terlalu dingin air sungainya. Dibantu oleh sinar matahari untuk menghangatkan tubuhnya.
"Bantuin turun," ujar Wardah.
Dengan hati-hati Eza membimbing Wardah menuju ke tengah sungai. Dengan girangnya Wardah bermain air di samping Eza. Eza yang gemas melihatnya, sontak mengambil gawainya. Membuat story di sosial medianya. Puas dengan mainannya, Wardah kini duduk di pangkuan Eza. Mereka masih setia duduk di tengah-tengah aliran sungai yang dingin itu.
"Cantik," panggil Eza.
"Hmm," jawab Wardah.
"Gak pengen buka endorsan? Kata Bunda, udah banyak yang nanyain ke Ayang," tanya Eza.
"Iya ada, tapi Aku nggak tahu gimana cara endorsnya," jawab Wardah.
"Kalau mau nggak papa Ay... Nanti Mas ajarin deh," ujar Eza.
Wardah mengangguk setuju. Merebahkan dirinya di dada Eza sembari memainkan air seperti ini ternyata sangat menenangkan. Eza memeluk erat Wardah yang ada di pangkuannya. Ia tak akan keluar dari air sebelum waktu zuhur tiba. Berendam di air sembari menikmati makan siang memang sangat cocok. Baru saja pesanan Eza datang. Saatnya menikmatinya.
Benar saja saat azan berkumandang, Eza mengajak Wardah untuk kembali ke kamar mereka. Sudah saatnya untuk tidur siang kali ini. Tentu saja setelah sholat zuhur. Tapi sepertinya tak hanya tidur siang. Tampak saat Wardah baru saja merebahkan dirinya, Eza beraksi. Benar ia ikut merebahkan dirinya, akan tetapi tangannya tak mau diam. Berulang kali Wardah memindahkan jemari Eza yang ada di dadanya, tapi tetap saja kembali.
"Katanya mau tidur siang... Ya udah jangan ganjen tangannya itu!" protes Wardah berbalik ke arah Eza yang sebelumnya membelakangi.
"Mau nen*n duluu," rengek Eza.
Wardah bergidik ngeri campur ngilu mendengar jawaban suaminya. Ia kembali membelakangi Eza, tapi tangan Eza kembali bertindak. Eza benar-benar menempel kepada Wardah. Jelas saja Wardah tak bisa berkutik dalam pelukannya.
Geram dengan perlakuan suaminya, Wardah akhirnya mengalah. Dengan mata berbinar, Eza segera menikmatinya. Memang manusia itu, diberi jantung minta hati lagi. Begitulah Eza. Tak hanya rengekannya yang terwujudkan. Kalian tahu sendirilah apa lagi yang diminta Eza.
Eza melirik ke arah kaca pintu kamarnya. Aman. Syukurlah... Saatnya beraksi lagi. Stop! Jangan ganggu mereka yaaa...
...Bersambung ...
...Jangan lupa untuk komen, like, vote, share, dan hadiah untuk Wardah dan Eza yaaa.... ...
...Maaf kemarin ndak up.... ...