Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Pindahan 1


Setelah beres-beres Aditya dan Hito pamit pulang. Sedangkan Wardah dan Caca tampak duduk berselonjor di sofa depan tv. Menonton film korea yang sudah lama rilis, dan baru mereka berdua tonton. "What's Wrong with Secretary Kim" itulah judulnya.


"Nggak ngantuk lagi lu?" tanya Caca.


"Nggak! Aku dari tadi berpikir keras. Siapa yang mindahin aku ke kamar? Aku di tuntun?" tanya Wardah.


"Ya kali dituntun. Dikira mabok diusir ma satpam," jawab Caca.


"Dah! Tidur yuk! Besok pindahan habis subuh. Hito aku suruh nginep di apart-nya Adit biar bisa bantuin," ajak Caca kemudian beranjak ke kamar.


.


.


.


Wardah sudah membereskan barang-barangnya sebelum tidur malam tadi. Caca sudah bermain dengan bolanya, sedangkan Wardah yang sudah tidur awal tadi, sama sekali tak mengantuk.


Setelah sholat subuh Caca sudah menggedor apartemen Aditya. Jadilah kini Aditya dan Hito sudah berada di apartemen Caca. Yang lebih mengejudkan, Aditya masih mengenakan sarung ketika ke apartemen Caca. Sepertinya ia baru selesai sholat subuh.


Damagenya itu lho! Masyaallah, sudah seperti kang-kang santri saja. Wardah tersepona sendiri melihatnya.


"Ini beneran barang kamu Dah? Beneran kayak mau buka toko ni anak," celetuk Hito. Wardah tersenyum canggung menanggapinya.


Wardah tampak bingung ketika Caca mengajak ke 2 lantai lebih tinggi dari Caca. Bukannya ia akan ditunjukan kos?


"Nah! Ini tempatnya, kemarin dapetnya di lantai ini, nggak papa ya? Yuk kita masuk," ajak Caca.


Wardah tampak ragu, ditariknya Caca menjauh.


"Haiiissh, di sini uang sewanya murah Wardah. Standar harga kos, jadi tenang saja. Gaji kamu bakalan cukup," ujar Caca.


"Ini apartemen temen aku, jadi bisa diakalin harganya. Tenang aja wes," sambungnya lagi.


Mau tak mau Wardah mengiyakan. Memang ini terlalu mewah untuk kisaran harga sewa kos. Meski ragu, Caca tak mungkin juga menjerumuskannya ke hal-hal buruk. Tak apalah, Bunda pasti juga akan senang jika anaknya mendapatkan tempat yang terlampau layak.


Wardah sekarang tengah dibingungkan dengan satu hal. Ia akan menjamu tamunya dengan apa? Ia tak mempunyai cemilan atau bahan masakan sama sekali. Boro-boro cemilan, air minun saja ia hanya membawa satu botol dari apartemen Caca.


Wardah harus putar akal ini. Mondar-mandir ia di dapur mencari akal. Hendak ke supermarket tak mungkin, belum ada jika sepagi ini. Mau ke apartemen Caca pun tak bisa, bahan-bahan di kulkasnya sudah mendekati paceklik.


"Nggak usah bingung, kamu ambil bahan masakan dari apartemen saya aja." celetuk Aditya sontak Wardah melonjak terkaget-kaget.


"Ish! Ngagetin aja sih!" gerutu Wardah.


"Maklum jika apartemen ini kosong untuk bahan makanan, sudah lumayan lama ditinggalkan adik saya." sambung Aditya.


"Jadi, ini punya adiknya bapak?" tanya Wardah.


"Bapak lagi!" jawab Aditya malas. Ia duduk di meja makan menampilkan wajah marahnya.


"Maaf, maaf Mas... Lupa, asraghfirullah," lirih Wardah. Ia tak boleh merusak mood lelaki di depannya, ia butuh bahan masakan sekarang.


"Ayo!" ajaknya. Tanpa pikir panjang Wardah mengikuti langkah Aditya. Caca dan Hito tampak tertidur di sofa dengan bersender satu sama lain. Sepertinya mereka mengantuk, memang nikmat yang tiada tara jika tidur setelah subuh.


Wardah dan Aditya melangkah dari apartemen nomor 378 ke apartemen 379. Ternyata bersebelahan letak apartemen mereka. Memasuki apartemen ini, kesan elegan yang pertama kali muncul. Sangat bersih, seolah tak ada debu di sini.


...Bersambung.... ...