
"Kamu fokus kepada Wardah dulu. Biar urusan ini Papa yang handle," ujar Papa pada Eza.
Eza yang sebenarnya hanya ingin berbincang santai dengan Papa, tapi kasus yang ditangani Papa kali ini malah membuatnya tertarik untuk membantu.
"Papa, ternyata di taman Wardah cari-cari," sapa Wardah membawakan nampan berisi susu dan biskuit.
"Cuma Papa yang dibuatkan?" tanya Eza pura-pura cemberut.
"Kita siap-siap untuk berangkat dulu. Punya Mas nanti Adek buatkan waktu sarapan," jawab Wardah.
Eza menarik Wardah ke pangkuannya. Spontanitas ia berteriak kaget atas aksi Eza. Memeluk erat Wardah, menyenderkan kepalanya di punggungnya.
"Maasss, malu ih! Ada Papa," protes Wardah mencoba melepaskan pelukan Eza.
"Papa juga pernah muda Ay," jawab Eza.
Papa hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah bucin anak laki-lakinya. Sang anak benar-benar mengikuti jalurnya. Hahaha.
Tanpa aba-aba Eza membopong Wardah masuk ke mansion. Mengabaikan Papa yang masih ada di taman dengan susu dan cemilannya.
"Kyaa! Aunty di gendong!!" heboh Dinda berteriak-teriak melihat Eza menggendong Wardah.
Sedangkan Inayah yang kepo, berlari dari kamarnya ingin melihat kehebohan itu. Wardah terus memohon kepada Eza untuk menurunkannya. Tapi tetap saja tak dikabulkan.
"Om Eja lagi olah raga angkat beban dek... Hahaha," celetuk Eza.
Sontak Wardah memukul lengan Eza dengan gemas.Malu diperhatikan oleh seluruh anggota keluarga, Wardah memilih menyembunyikan wajahnya di dada Eza. Didudukkan-nya pelan-pelan, Wardah di atas wastafel kamar mandi. Mau tak mau Wardah memeluk erat leher Eza takut jika terjatuh.
"Ngapain sih?" tanya Wardah sewot.
"Ayoo mandi," jawab Eza dengan wajah tak berdosanya.
"Aku tahu sebenarnya Ayang udah selesaikan haidnya?" tanya Eza.
Deg! Wardah terdiam seketika. Gagal sudah rencananya. Wardah hanya tersenyum kecut menimpali suaminya. Ia hendak turun pun dicegah oleh Eza.
"Mass, siap-siap buat berangkat," lirih Wardah.
"Nggak! Sebelum," ujar Eza terpotong.
Sontak Eza mel*mat bib*r Wardah. Wardah yang tanpa persiapan pun gelagapan dibuatnya. Mengingat ini juga ciuman intens pertama sepanjang hidupnya. Ya! Ini adalah kali pertama ia berciuman intens dengan Eza. Eza terus mel*mat bib*r Wardah dengan menahan tengkuknya agar tetap stay.
"Gak bisa napass!" protes Wardah saat Eza melepaskan ci*mannya.
Tak menghiraukan Wardah, Eza kembali melanjutkan aksinya. Kali ini jilbab Wardah sudah terjun di lantai. Usapan di tengkuk Wardah semakin membuatnya merinding. Wardah berusaha keras mengendalikan kepala Eza. Menahannya agar tak nyosor lagi.
"Sabar napa sih?" tanya Wardah gemas.
"Siapa suruh diem-diem. Padahal udah suci," protes Eza.
"Hehe, tahunya kapan emang?" tanya Wardah lagi. Eza memeluk Wardah dengan eratnya. Menenggelamkan wajahnya di pundak Wardah. Sesekali telapak tangannya mengusap rambut Wardah.
"Kemarin zuhur. Ada yang ketinggalan waktu mau berangkat ke masjid. Eh! Kamunya lagi sholat. Kirain emang Ayang baru aja sucian. Tapi waktu pulang dari masjid, kayak mencurigakan gitu. Tadi malam Mas berusaha sekuat tenaga buat nungguin kamu speak up, tapi nggak juga," jawab Eza.
“Maaf… niatnya mau ngasih tahu kalau udah sampai di tempat liburan. Tapi malah gagal,” lirih Wardah.
“Nggak papa, Mas lebih seneng kalua jatahnya Mas dibuat sekarang ajah!” ujar Eza.
Sontak Eza menggendong Wardah ala koala menuju ranjang mereka. Wardah tak dibiarkan protes sama sekali. Ditindihnya Wardah dengan Kembali berkutat dengan bibirnya. Tak hanya itu, Eza bahkan sambal membuka benteng pertahanan Wardah.
“Kita mau berangkat Mas,” sela Wardah.
“Nggak papa, kita bisa batalin. Pesan tiket baru nanti siang,” jawab Eza dengan entengnya.
Pelan-pelan Eza membuka tiap kancing dress yang dikenakan istrinya. Disanalah Wardah terus bernegoisasi dengan Eza. Ia sungguh gugup kali ini.
"Mas... Maluu," lirih Wardah dengan menahan jemari Eza yang semakin menurun membuka kancing bajunya.
"Beraat,"ujar Wardah.
Eza sadar betul jika postur tubuh istrinya mungil. Tapi posisi seperti ini sungguh nyaman. Apalagi dengan menjahili Wardah yang kegelian karena ia hembusi lehernya. Hahaha.
Tok! Tok! Tok!
Ketukan pintu membuyarkan aktivitas mereka. Dengan sekuat tenaga Wardah mendorong Eza dari hadapannya. Sejenak Wardah melihat penampilannya saat ini yang sungguh luar biasa tak karuan. Membenahinya kemudian barulah ia membuka pintu.
"Bunda, ada apa Bun?" tanya Wardah.
"Kenapa rambut kamu Dek? Ya Allah, kok luset banget," jawab Bunda sembari mengelus rambut Wardah.
Wardah hanya meringis menimpali Bundanya. Beliau tak tahu jika barusan ada gempa lokal yang disebabkan oleh menantunya.
"Siap-siap gih! Bentar lagi berangkat ke bandarakan?" sambung Bunda.
"Siap Bun! Wardahnya mau Eza ajak mandi dulu ya," potong Eza yang tiba-tiba muncul dengan merangkul pundak Wardah.
Bunda tersenyum dan meninggalkan dua pasutri itu. Sontak Eza mengunci pintunya dan membopong Wardah ke kamar mandi. Mendudukkannya di closet dan memulai kembali aksinya.
"Eh! Mau apa!" sarkas Wardah.
"Mandilah Ay," jawab Eza dengan mengedipkan matanya genit.
"Ih! Nggak! Mas keluar! Aku mau mandi sendiri! Malu tahuuuu!" protes Wardah dengan mendorong Eza keluar dari kamar mandi.
Puas sekali rasanya mengganggu sang istri. Eza terkekeh setelah Wardah berhasil mendorongnya keluar. Berbeda dengan dirinya yang puas, Wardah merosot menyenderkan punggungnya di pintu. Jantungnya berpacu dengan cepat kali ini.
Ia mencoba mengatur napasnya, setelah tenang barulah ia melanjutkan aktivitas mandinya.
🌾🌾🌾
Selesai membersihkan dirinya, Wardah baru tersadar jika dirinya tak membawa baju ganti. Alhasil, dengan terpaksa ia memakai bathrobe yang ada di kamar mandinya. Ia melongokkan kepalanya di pintu mencari keberadaan Eza. Ternyata orang itu tengah sibuk dengan iPadnya. Sepertinya sedang rapat.
Pelan-pelan ia berjalan menuju walk in closet. Melewati Eza yang ada di atas tempat tidur dengan iPadnya. Wardah masih malu mengingat kejadian tadi. Sedang asik memilah baju, tiba-tiba
Grepp!
Eza sudah ada di belakangnya dengan memeluk erat perut Wardah. Untung saja Wardah belum bugil. Bisa-bisanya ia lupa mengunci pintu.
"Wangi banget Ay..." ujar Eza mengendus rambut dan leher Wardah.
"Geliii Mas," jawab Wardah menjauhkan wajah Eza.
"Mandi! Udah ditunggu sama yang lain!" tegas Wardah.
"Galak bener bini gua. Iya-iya, mandi," celetuk Eza.
Sontak Eza melepaskan pelukannya. Mencium gemas pipi Wardah kemudian berlari keluar ruangan. Wardah tersenyum sendiri melihat tingkah Eza. Random sekali rasanya hari ini. Berhubung Eza sudah pergi, Wardah segera bersiap tak lupa dengan menyiapkan perlengkapan Eza.
🌾🌾🌾
Di meja makan sudah berkumpul semua ternyata. Bahkan mereka sudah makan terlebih dahulu. Sepertinya Eza dan Wardah memang menghabiskan waktu yang cukup lama untuk bersiap. Bukan hanya bersiap, tapi Eza juga sibuk menjahili Wardah.
"Cepet sarapan gih! Ntar ketinggalan pesawat lagi," ujar Mama melirik ke anaknya.
"Udah disuruh pakai jet pribadi gak mau. Ya terserah kamu aja Za," sambung Papa.
"Kalau liburan ke luar aja Pa baru pakai yang itu," jawab Eza sembari memberikan tas dan koper kepada Mang Udin agar disusun di mobil.
Dua bocil dengan Mbak Winda dan suami yang mengantarkan mereka ke bandara. Sepanjang perjalanan dua bocil itu terus bertanya sesuka hati mereka. Untung saja Wardah tergolong wanita yang sabar, jadi ia bisa menemani ocehan dua bocil itu.
"Kata Mama, nanti di sini ada dedeknya... Kalau Dinda ikut nggak jadi ada adeknya. Padahalkan Dinda pengen ikuut," celetuk Dinda dengan menempelkan telinganya di perut Wardah.
...Bersambung ...