
Wardah membujuk Gus Hasan agar mau berhenti di pusat oleh-oleh. Cukup sulit ternyata, Wardah sampai meminta bantuan dari mbak-mbak yang duduk di jok belakang.
Disinilah Wardah sekarang. Pusat oleh-oleh perbatasan kota Jombang. Wardah memilih cemilan-cemilan untuk dibawa pulang. Untuk di rumah, juga untuk sahabatnya Anisa. Ia berniat untuk mengunjungi sahabat tersayangnya itu. Mumpung pulang.
Oh iya! Rumah Wardah itu sebenarnya dekat dengan Anisa yaaa, hanya berbeda desa saja. Yaaah, walaupun dekat, mereka baru kenal memang waktu masih di pesantren. Hehehe.
"Jangan banyak-banyak, kamu nanti kesusahan bawanya," Ujar Gus Hasan yang ternyata mengikuti Wardah dari belakang.
"Astaghfirullah! Guus, kok ngagetin sih.... Keluarga saya ndak hanya 1,ada banyak... Jadinya harus adil dong," Jawab Wardah sambil memasukkan jajanan di keranjangnya.
Ia tak perlu bingung bagaimana membawanya, nanti kalau mau naik bus tinggal meminta tolong Gus Hasan. Wkwkwk.
Wardah tak perlu oper bus nantinya. Jadi, ketika sampai di desanya, yang membawa bawaannya pasti Kak Yusuf. Hehehe.
"Biar saya yang bayar," Ujar Gus Hasan yang mengambil alih kernjang belanja Wardah.
"Lh! Lho! Lho! Ndak bisa gitu Gus, saya saja yang bayar," Ujar Wardah yang panik.
"Huuss! Kamu jangan berisik taa. Malu dilihatin orang-orang... Umi yang nyuruh bayarin, kamu nurut saja," Jawab Gus Hasan yang mulai dekat dengan kasir.
Wardah meneng klekep! (Diam sediam-diamnya), ketika sudah menyangkut utusan Umi dan Abah Kyai.
.
.
.
Benar saja ternyata, Gus Hasan tanpa diminta tolong, sudah mengangkatkan barang bawaan Wardah ke bus.
"Lho! Njenengan masih punya adik kecil to Gus? Tak kirain njenengan anak terakhir lho! Neng-nya kuliah di Universitas Islam di kota itu ta?" Tanya kernet bus yang ternyata kenal dengan Gus Hasan.
"Lho! Saya bukan adiknya Gus Hasan Pak," Jawab Wardah dengan cepat.
"Sudah, sana masuk!" Gus Hasan mendorong agar Wardah masuk dan segera duduk di kursi penumpang.
"Titip anak kecil itu ya Pak, jagain sampai tujuan dengan selamat sentosa. Pastikan dia dijemput kakaknya," Ujar Gus Hasan, Wardah tak mendengarnya sebab Gus Hasan mengatakan itu saat supir dan kernet bus masih di luar.
.
.
.
Bentangan sawah di sepanjang jalan terlihat begitu indah dikala senja. Meskipun sudah sering melihat sawah, Wardah masih saja sangat menyukainya. Tak henti-hentinya rasa kagum atas pesona alam di depan matanya itu.
"Neng, njenengan itu calonnya Gus Hasan ta?" Tanya kernet bus yang tiba-tiba duduk di kursi sebelah Wardah yang memang sejak tadi kosong.
"Saya bukan anak Kyai Pak, ndak usah dipanggil Neng," Jawab Wardah.
"Yo ndak papa to, wong orang sunda juga panggilannya Neng," Ujar bapak itu,
"Desa Mekar Sari masih jau ya pak?" Tanya Wardah mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Emm, ndak sih... Lima belas menit lagi. Sepertinya kamu sudah lama sekali tidak pulang, sampai-sampai lupa jalan, hehehe" Jawab bapak itu. Sebenarnya Wardah tahu, untuk mengalihkan pembicaraan saja.
.
.
.
Keluar dari bus, Wardah diantarkan bapak supir untuk menuju ruang tunggu. Sepertinya bapak itu benar-benar memegang amanat, wkwkwk.
Kak Yusuf belum juga kelihatan. Ditelepon tak di angkat, tapi kata Bunda beliau sudah berangkat ke terminal.
"Saya ndak papa sendiri Pak, bapak kalau mau pergi silahkan," Ujar Wardah dengan lembut, takut jika dikira mengusir.
"Saya temani saja Neng, sekalian bapak istirahat," Jawab bapak itu. Mau tak mau Wardah membiarkan bapak itu bersamanya. Terlihat jelas raut wajah yang menunjukkan semburat kelelahan.
... Bersambung.... ...