Tentang Sebuah Rasa

Tentang Sebuah Rasa
Lupa Waktu


"Kok nggak dikunci sih pintunya? Kan malu," protes Wardah saat karyawan itu sudah keluar.


"Biasanya juga nggak dikunci kok Ay... Tapi aman-aman aja. Saking asiknya jadi nggak denger ketukan pintunya," jawab Eza.


Wardah langsung berdiri dan merapikan pakaiannya. Tak lupa ia merapikan meja sofa. Tak mungkin ia biarkan berantakan. Setelah selesai barulah Wardah keluar dari ruangan Eza untuk menjemput tamu suaminya.


Tampak seorang perempuan cantik dengan stelan kemeja dengan celana selutut. Jelas sekali jika perempuan itu adalah wanita karier. Tapi Wardah sempat tertegun sejenak, seolah ia tak asing melihat wajah perempuan itu.


"Wardah? Hey! Kamu lupa sama aku?" ujar perempuan itu menggenggam tangan Wardah.


Wardah tampak berpikir sesaat. Tapi tak juga menemukan jawaban sama sekali. Siapa wanita cantik ini? Apa dia teman pesantrennya? Tapi tak mungkin. Masak iya lepas jilbab? Atau teman kuliahnya? Tapi di kampusnya juga mewajibkan berjilbab. Kecuali mereka yang memang non muslim.


"Heeyyy, ini aku Gita! Aku di kelas Bahasa, kamu di kelas IPS," sambungnya lagi memperkenalkan diri.


Wardah kembali berpikir keras mencoba mengingat-ingat satu persatu temannya. Kelas Bahasa? Itu berarti dia memang teman pesantrennya. Gita, Gita, Gita....


"Ha? Yang bener? Kamu Gita yang bertugas di ruang jurnalis santri bareng aku?" tanya Wardah memastikan.


Iya! Ia ingat! Gita adalah temannya siaran zaman di pesantren. Ia tak memakai jilbab makanya Wardah sempat tak ingat. Tapi wajahnya memang sepertinya banyak berubah juga sih. Sampai ia tak mengenali temannya sendiri.


"Iyaa Lhoo! Wajah kamu bener-bener baby-face, makanya aku langsung kenal kamu," ujar Gita.


"Haha, Aamiin MasyaAllah... Yuk kita masuk dulu," ajak Wardah mengajak Gita masuk ke ruangan Eza.


Gita menyapa Eza terlebih dahulu, tak lupa memperkenalkan diri juga. Ternyata Gita ini adalah seorang model yang direkomendasikan teman Eza untuk menjadi presenter di salah satu program terbaru stasiun tv-nya. Ia memang model tapi kali ini ia direkomendasikan menjadi presenter oleh manajer-nya. Gita yang lulusan Bahasa dan Sastra tentu saja memiliki skill terhadap hal itu. Ia juga berkuliah di jurusan Komunikasi yang membuatnya semakin yakin akan kemampuannya.


"Maaf Pak, Wardah ini dulu teman saya sekolah," sambung Gita pada Eza.


"Iyaa Git, aku udah hampir empat tahun ini di Jakarta. Dan insyaAllah bakalan terus menetap di sini bareng suami," jawab Wardah.


"Kamu udah nikah? Serius? Sama siapa? Kapan? Kok aku nggak tahu?" beruntun pertanyaan dilontarkan Gita saking kagetnya.


Ia sampai berulang kali meminta maaf pada Eza karena berbincang dengan Wardah. Eza yang melihat istrinya masih temu kangen dengan temannya tentu saja tak keberatan. Wardah melihat ke arah Eza dengan tatapan penuh kasih sayang.


"Mas Eza suami aku," jawab Wardah.


Jelas sekali bahwa Gita sepenuhnya kaget. Laki-laki tampan nan gagah di hadapannya adalah suami Wardah? Gita yang notabenenya wanita super sibuk dan sering ke luar negeri untuk projects modelingnya membuat dirinya tak tahu kabar Indonesia sedikit lebih banyak. Gita sudah lama mengenal sosok Eza, tapi ia pernah mengetahui jika laki-laki itu ternyata sudah menikah. Bahkan dengan temannya sendiri.


Eza tersenyum mendengar tuturan Wardah. Wardah jawab semua pertanyaan yang dilontarkan Gita. Sampai satu jam setengah habis dengan temu akrab ini. Eza sampai meninggalkan dua wanita itu menuju kamar pribadinya untuk bergabung dengan Sakha. Karena ia yakin istrinya membutuhkan waktu lama untuk berbincang dengan temannya.


"Sekarang giliran aku yang tanya, maaf ya sebelumnya, kenapa kok kamu memilih menjadi model yang harus melepas hijab? Setahu aku kamu dulu bener-bener taat akan aturan pesantren," tanya Wardah dengan hati-hati.


"Huuuft, aku lebih nyaman dengan diri aku yang sekarang Wardah.... Tolong jangan paksa aku buat berhijab yaa," jawab Gita.


"Iyaa, aku paham kok, kamu sudah tahu mana yang baik dan mana yang nggak. Semua tergantung pada diri kamu sendiri, aku menghargai keputusan kamu. Tapi kalau kamu ingin berhijab kembali, aku sangat mensupport," ujar Wardah dengan senyuman manisnya.


"Ya Allah, kita ngobrol lama banget, bentar ya Git, aku panggilin Mas Eza dulu! Kalian Kan harus bahas kontrak kerja," sambung Wardah setelah melihat jam tangannya.


...Bersambung ...