Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 44


Saat Wana sedang bingung dengan wedding dressnya, Kevin pun tiba di butik sambil menenteng beberapa minuman. Memang ada beberapa Bobba, tapi ada satu nyelip Salted Caramel Red Velvet Macchiato dari Starbucks (Alasan aja, karena Tante Author lupa jenis minuman di episode yang lalu, akhirnya sambung menyambung menjadi satu. Maklum lah ya udah uzur)


Plis jangan protes, wkwkwkwk!


Lanjut,


Kevin pun masuk ke butik sambil siul-siul.


“Beuh! Butik mevvah, udah buang-buang duitnya si Om aje, dasar Dasima kesempatan dalam kesemprotan,” sahut Kevin terpukau melihat jajaran gaun putih yang berkilau.


Dari Shareloc yang dikirim Wana, letak butik di daerah pluit, dan di temboknya ada foto Lady gaga pakai rancangan gaun si desainer. Ada foto yutuber kondang yang tampangnya ke-arab-araban juga di sana. Sudah pasti harga pergaunnya milyaran. Bisa beli harga diri dan simpenan duit belanja sampe anak cucu gede-gede.


Seorang staff butik datang dengan penasaran. “Anuuu... cari siapa ya Mas? Cari dress? Cari Mas Rio? Atau cari akuh?”


“Ada customer yang namanya Nyai, eh, Nirwana Dierja, nggak? Ini pesenannya datang,”


"Oh," si operator langsung cemberut. Ternyata bukan dirinya yang dicari oleh sitampan menawan. Justru kalo dia yang dicari, malah aneh bukan?!


"Customer di sini lagi banyak Mas, saya nggak inget namanya satu-satu, masnya telpon aja dia kabari kalau sudah sampai," si Operator langsung jutek.


"Oke, eh iya, Mbaknya mau bobba nggak? Saya bawanya kebanyakan nih repot,"


Dan wajah si Operator pun kembali ceria, bagaikan mendapat durian ngegelinding. Setelah ini dia bertekad untuk merawat dirinya dengan lebih baik dan merasa kalau dia istimewa karena dapat bobba dari Kevin.


Sudah pasti bekas gelas plastiknya nggak bakalan dia buang. Dia laminating dan dia pajang di ruang tamu beserta print out foto barengnya bersama Kevin si penyamun.


"Kalo gitu, aku panggilin dulu Bu Nirwananya dulu ya ganteng," si operator pun berubah genit centil gemoy gelay.


Si operator dngan wajah merah malu-malu ngeong sampai di ruangan Wana dan berujar, "Bu Nirwana, ada yang cari,"


"Ah! Akhirnya datang juga pesenanku! Suruh masuk Mbak!" sahut Wana sambil berjalan ke arah koridor menghampiri orang yang dimaksud.


Kevin datang dengan tebar pesona, sambil tersenyum ke para staff yang langsung menggigit bibir mereka sendiri tanda malu-malu tapi mupeng sangat. "Lama-lama lo kebiasaan banget ya, manggil gue cuma buat titip," omel Kevin.


"Kan kantor lo deket sini, Kev. Sekalian ngapa," dengan antusias Wana merebut minuman yang berada di tangan Kevin lalu mereka bersama-sama kembali ke ruangan pengepasan.


"Gue tadi lagi di kampus, seminar. Jauh gila ke sini,"


"Bukannya dah biasa yak? Haha!"


"Tumben lu cantik, kayak inces," Kevin menatap penampilan Wana. "Tapi tetep aja pantat lo tepos, dada lo doang yang menang,"


"Bisa nggak sih sekali-kali muji gue dengan tulus?! Gue jadi beneran nggak pede nih!"


"Lu pikir Om Jutek bakal seneng belahan diumbar kemana-mana gitu?"


Wana memekik kesal, "Adoooh kenapa sih semua orang ngejek gaun gue? Jelek banget ya emang?"


"Lah, ini kan demi kebaikan lo! Gaunnya bagus cuma nggak cocok elo. Harusnya lo pilih yang lebih sederhana. Jadi yang salah tuh elo, bukan wedding dressnya!"


"Arrrgh! Minum Starbak dulu lah yang penting, biar kepala gue dingin! Acara sebulan lagi, mana sempat rombak-rombak?"


"Ya dikasih furing aja dari dada ke leher kaliii, ah susah amat sih gitu aja!" omel Kevin.


"Duh, adek-adek'an gue nih kadang jenius banget ya!"


"Nggak kadang, sering!" ralat Kevin. "Lagian buat apa juga lo minta saran gue yang cowok ini?! Emang nggak ada sensei yang lain?"


"Ada Kak Mala sih, tuh di dalem. Tapi gue lebih pas kalo ada masukan dari pandangan cowok aja,"


"Eh?" Kevin menghentikan langkahnya saat itu juga.


Sudah terlanjur, mereka sudah sampai ke dalam ruangan VIP Butik.


Cowok itu terpaku menatap Nirmala.


Pandangannya takjud saat melihat wanita itu.


Dilain pihak, Nirmala pun tak kalah kagetnya, wanita itu bahkan sampai berdiri.


"Tante... Nirmala?" desisnya Kevin tertegun.


Haduh! Gimana nih!


Si Nyai gendeng ngasih taunya telat pula! Mati dah gue. Gimana kalo Nirmala marah karena gue ngelanggar batas?! Pikir Kevin ketakutan


"Kamu kenapa di sini?" gumam Nirmala. Wajahnya langsung muram.


"Aku..." Kevin tampaknya sangat terkejut, ia terlihat kehabisan kata-kata. Apalagi perubahan wajah Nirmala yang tampak tidak senang melihat dirinya, langsung membuat Kevin down.


Cowok itu reflek melirik ke Wana.


Tampak Wana sedang menatap keduanya dengan heran.


"Pada saling kenalkah?" tanya Wana.


"Hm..." Kevin menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.


Nirmala menarik napas, dan dengan tegang duduk kembali di sofa sambil meneguk winenya sampai habis.


"Kebetulan pernah ketemu," desis Kevin canggung.


"Oh ya? Gila dunia ini sempit. Dimana ketemunya?"


"Di hot..."


"Wana!" Nirmala langsung memotong kalimat Kevin, "Kakak masih ada urusan di kantor. Kakak pamit duluan ya!" desis Nirmala sambil menyambar tasnya dan berdiri.


Kevin hanya berdehem sambil salah tingkah. Melihat tingkah Nirmala yang emosi, dia semakin yakin kalau inilah akhir segalanya.


Tak kuat rasanya menatap Nirmala yang sedang marah, jadi cowok itu menunduk putus asa.


"Heh? Katanya mau temani aku seharian," kata Wana.


"Tiba-tiba ada urusan mendadak," Nirmala berhenti menatao Kevin, lalu menghela napas, "Teman kamu bawa kendaraan?" tanya Nirmala sambil menatap sendu ke arah Kevin.


Kevin mengangkat wajahnya, heran.


"Eh, yah nggak tahu, naik apa lu kesini?" tanya Wana.


Kevin melirik Wana, lalu ke Nirmala yang melotot padanya seakan memberinya kode. "Bawa motor, biasa," jawab cowok itu.


"Bisa tolong antarkan saya?" tanya Nirmala.


"Eh?" dengus Kevin.


"Loh? Beneran mau pergi kak? Yaaaah," gumam Wana.


"Iya, maaf ya kakak agak buru-buru. Pinjam teman kamu untuk antar kakak sebentar ya?"


"Bo-boleh aja sih," dengan ragu Wana memberi izin, seakan gadis itu merasa ada sesuatu yang salah. "Tapi aku kan bawa supir..." Tapi belum sempat ia bertanya lagi, Nirmala sudah menggeret lengan Kevin untuk menuju pintu keluar.


"Laaah," gumam Wana sambil berkacak pinggang saat keduanya sudah pergi. "Mencurigakan," gumam Wana. "Kenapa harus Kevin yang anterin Kak Mala?! Supir dari Om Artha kan bisa dikondisikan buat anter-anter!


*


*


Nirmala menarik lengan Kevin sampai mereka tiba di parkiran tepi jalan raya. Tampak Kevin bukannya marah malah cengengesan.


Sepertinya dia senang.


Ini berarti ada titik cerah, tidak semuram yang diprediksi awal.


Menyadari itu Nirmala melepaskan cengkeramannya dan menatap Kevin tajam. "Jangan mesem-mesem nggak jelas,"


"Senang gimana?"


"Ya senang bisa ketemu lagi, aku pikir yang waktu itu beneran udah terakhir kalinya kita..."


"Ssstt!!" Nirmala menutup mulut Kevin dengan tangannya, "Jangan sembarangan ngomong di tempat umum!" Nirmala celingukan panik takut ada yang dengar.


Tapi Kevin malah jahil memasukkan ibu jari Nirmala ke dalam mulutnya dan mengulumnya.


"Kevin!!" Jerit Nirmala kaget sambil menarik tangannya. Lalu melotot ke Kevin. Ia kaget tapi sekaligus ada suatu getaran yang menyerang area sensitifnya.


Ingatannya langsung melayang ke 'waktu itu', saat mereka pertama bertemu.


"Kok tante makin..." Kevin memiringkan matanya menatap bokong Nirmala, terlihat matanya berkilat.


Kevin memang sering menatap Nirmala lewat CCTV, tapi gambar CCTV kan buram dan hitam putih.


Nirmala saat dilihat dari dekat ternyata sangat cantik! Lebih cantik dari saat pertama Kevin mengintipnya dari sela-sela pintu apartemen.


"Kayaknya proses sidangnya udah selesai ya?" tebaknya.


Nirmala jengah dan agak menjauh. Ia tahu yang dipikirkan Kevin, "Jangan kurang ajar kamu!"


"Waktu itu lebih kurus, kayak orang depresi," gumam Kevin.


Nirmala mendengus karena kesal. Kesal karena Kevin tampaknya sedang menguji kesabarannya. Namun entah bagaimana ia suka dengan candaan mesum Kevin.


"Sudah selesai dari dua bulan yang lalu. Kamu ngapain di sini?"


"Aku nganterin minuman manis nggak jelas buat Nyai Dasima pake gaun kunti," ujar Kevin.


"Kayaknya kamu udah akrab banget sama adik saya, sejak kapan?"


"Saya juga mau nanya, Kok bisa Dewi Venus punya adik goblin?"


Nirmala terkakak sambil memukul lengan Kevin, "Dewi Venus maksudnya saya? Haduh kamu nggak berubah ya, Mulut kamu itu perlu disekolahin! Kalau Wana tahu kamu ngomong begitu, kamu sudah diikat di tronton!"


"Habis dia kan bawel banget, kakaknya kalem begini. Cuma kalo di ranjang teriakannya kenceng sih,"


Nirmala mencubit pipi Kevin, "Diam kamu! Hih!" Wajah Nirmala langsung merah. "Itu terakhir kali saya sewa kamu ya! Itu semua kesalahan karena saya butuh pelampiasan aja!"


"Iyaaa iyaaa..."


"Saya pernah disakiti laki-laki, jadi kamu yang punya banyak pacar jelas bukan tipe saya,"


"Iya deh iyaaa," Kevin tersenyum simpul. "Tapi kita bakalan sering ketemu sih,"


"Sebisa mungkin kamu menghindari saya! Perjanjian kita masih berlaku, Jelas?!"


"Nggak jelas ah! Suka-suka aku dong mau dekat mau jauh," Kevin menjulurkan lidah.


"Dasar Bandel!"


kevin hanya tersenyum.


Senyuman tipis penuh kelegaan. Dari reaksi Nirmala yang malu-malu dan tetap bersikap baik padanya, ia tahu kalau masih ada harapan baginya untuk mendekat.


Dan kali ini, ia tidak mau menurut, sudah cukup berjauhan dari Nirmala, sudah cukup siksaan yang dirasakannya.


Dia tidak ingin sendirian lagi.


"Aku nggak akan ngelepasin tante,"


"Kenapa?!"


"Soalnya..." Kevin menatap Nirmala dari atas ke bawah, "Begitulah," dia urung bicara.


"Kenapa?! Apa salah saya?!"


"Nggak ada yang salah kok. Tapi yaaaah," senyuman mesum lagi-lagi muncul di wajah Kevin.


Nirmala sampai geram melihatnya.


Lalu cowok itu mendekatkan bibirnya ke telinga Nirmala dan membisiki sesuatu. Setelah mendengarnya wajah Nirmala semerah lobster rebus.


Dan Kevin pun mengecup pipi Nirmala ringan.


"Lancang banget sih!" Seru Nirmala sambil mendorong dada Kevin supaya menjauh. Wanita itu memegangi pipinya yang barusan dicium Kevin. "Ini tuh di tempat umum, di pinggir jalan pula! Kalau ada yang lihat bagaimana?!"


Kevin hanya terkekeh melihat tingkah Nirmala yang salah tingkah.


"Pokoknya mulai sekarang, jauhi saya! Ngerti?!" Nirmala berjalan sambil mengomel menjauhi Kevin menuju cafe terdekat sambil menunggu taksi onlinenya.


Kevin hanya cengengesan sambil melipat kedua tangannya di depan dada dan menyandarkan tubuhnya ke motornya. Pemuda itu menatap punggung Nirmala dengan sejuta ide, mengenai rencana masa depannya bersama wanita seksi dan kalem, kakak si Nyai Dasima.


Apa sih yang dibisiki Kevin sampai Nirmala salah tingkah?


Terngiang di benak Nirmala, dan saat suara Kevin bergaung diingatannya, ia merasa sangat malu.


Soalnya, Tante paling memuaskan diantara semuanya, dan sangat cantik saat orgasme.


Dasar si Kevin penjahat!


*


*


"Kamu... Astaga kamu ngikutin saya sampai ke sini?!" Mata Nirmala membulat saat ia mendapati Kevin memasuki lobi apartemennya.


"Ih, sembarangan. Tapi memang iya sih, aku kan belum sempat ngomong, kamu udah melengos aja nunggu taksi online,"


"Mau ngomong apa lagi?!"


"Mau ngomong kalau aku juga tinggal di sini," Kevin mengangkat kartu akses unitnya sambil menyeringai.


"Hah?!"


"Nanti malam, aku main ke unit kamu ya,"


"Buat apa?! Kenapa kamu bisa tinggal di sini?!"


"Takdir, kayaknya,"


"Kamu dari dulu jangan-jangan sudah memata-matai saya?!"


Kevin diam saja sambil tersenyum licik.


"Astaga, kamu beneran gila!"


"Memang kamu nggak kangen sama aku?"


"Yah," Nirmala tidak melanjutkan kalimatnya. Wanita itu hanya membuang muka sambil menekan tombol lift. "Kamu di lantai berapa?"


"Aku ikut aja,"


"Kamu ingat kan perjanjiannya, sebelum kamu mapan..."


"Aku udah nggak peduli hal itu," potong Kevin.


"Kevin," tampak Nirmala semakin tidak sabar dengan tingkah Kevin.


"Ssst, sudah, kita naik dulu, oke?!" Kevin bersandar di dinding lift sambil tersenyum.


Dan pintu lift pun tertutup.