Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
Rencana Licik Artha


Malam itu setelah mengantarkan Wana ke Gedung Opal Corp, Artha harus meeting di tempat lain mengenai pembangunan cluster perumahan.


Kali ini, rekanan dan pemborong yang memenangkan tender berasal dari PT. Jade Pembangunan Bersama. Induk perusahaan dari Jade Building and Construction.


Dan di situlah mereka bertemu.


"Ah, Nirmala rupanya!" sahut Artha saat para Direksi memperkenalkan mereka.


"Wah, apa kabar Pak Artha?!" sapa Nirmala dengan wajah sumringah.


"Saya sekalian mau ngobrol sama kamu setelah meeting,"


"Oke pak, kita nanti makan malam di bawah saja ya? Pasti tentang Wana ya?"


"Ya siapa lagi,"


"Haha, semoga kabar baik ya Pak,"


"Kabar baik bagi kami, entahlah bagi kamu,"


"Oh, Pak Artha dan Bu Dierja sudah saling kenal rupanya?" tanya salah seorang Direksi dari kantor Nirmala.


Mereka berdua mengangguk. Dan karena itulah meeting malam itu berjalan dengan lancar.


Sangat jarang ada yang bisa meluluhkan hati Artha untuk deal soal harga karena pria itu begitu efisien mengatur pengeluaran (alias pelit), terutama saat orang-orang yang tidak ia kenal dari pihak klien menjabarkan soal Rencana Anggaran Biaya, sudah pasti akan diirevisi berulang-ulang.


Tapi karena adanya Nirmala yang berhasil meyakinkan Artha, pria itu pun dengan cepat menyerahkan seluruh urusannya kepada pihak klien.


Yang mana, selain semua senang, hati riang, penglihatan menjadi terang bederang dan otak pun istirahat dengan tenang, semua di PT. Jade menjadi respek dengan Nirmala. Bisa jadi dia setelah ini akan dipromosikan untuk kenaikan jabatan.


Namun dari tadi ada sesuatu yang mengganggu Artha.


Di beberapa kesempatan, saat semua pandangan teralihkan, binar mata Nirmala meredup dengan cepat dan pandangannya menjadi kosong.


Ada sesuatu yang membuat wanita itu tidak terlalu fokus pada pekerjaannya kali ini.


Namun dengan cepat, saat presentasi selesai dan tanya jawab dimulai, Nirmala dengan cepat memunculkan kembali senyumnya.


Namun tidak semenarik saat pertama kali Artha bertemu Nirmala. Waktu itu, mungkin karena ada Wana atau karena hal lain, tawa Nirmala lebih lepas dan tulus.


Yang ini terkesan dipaksakan.


Dan sebagai seorang pebisnis yang terbiasa menilai apakah seseorang jujur atau tidak, profesional atau masih awam, si klien menguasai pekerjaannya atau hanya numpang nama, Artha merasa tertarik dengan sikap Nirmala kali ini.


Jadi ia ingin cepat-cepat menyelesaikan meeting. Toh, PT. Jade Pembangunan Bersama juga salah satu dari 12 Naga, mereka sering bermitra dengan Opal Corporation, jadi sudah pasti bisa dipercaya kualitasnya.


"Mari makan malam bersama," Artha menghampiri Nirmala.


Nirmala hanya menyeringai. Beberapa Direktur mendekati Artha untuk menawari makan gratis di restoran dengan chef terkenal, tapi karena Artha penasaran dengan sikap Nirmala, jadi dia hanya bilang,


"Untuk kali ini mohon maaf, saya ingin membicarakan hal pribadi dengan Bu Dierja," kata Artha.


Sontak hal itu malah menimbulkan kecurigaan kalau Nirmala dan Artha terlibat dalam suatu hubungan special.


Namun tampaknya keduanya tidak ambil pusing dalam hal itu. Bisa jadi, kedekatan Nirmala dengan Artha malah membawa suatu berkah tersendiri di kantornya.


"Kamu kenapa?" tanya Artha saat mereka selesai memesan makanan.


"Eh?" Nirmala mengangkat alisnya mencoba berpura-pura bahwa keadaannya baik-baik saja.


"Mata saya tidak bisa dibohongi. Kecuali oleh adik kamu,"


"Ah! Hehe. Yaaaah, banyak kejadian Pak. Tapi itu persoalan pribadi saya. Mohon jangan terganggu,"


"Terus terang saya terganggu. Karena yang ingin saya bicarakan dengan kamu, keputusannya sangat tergantung kepada suasana hati kamu,"


"Kalian berdua sudah dewasa, apa pun keputusan kalian sebenarnya sudah bukan waktunya butuh andil saya lagi,"


"Tidak bisa begitu, kamu satu-satunya keluarga yang dimiliki Wana. Jadi kamu berhak tahu,"


Nirmala melipat bibirnya dan menegakkan duduknya.


Artha benar, ia saat ini sedang sangat labil. Tidak tahu apa yang akan ia lakukan, hanya bisa berusaha bangkit walau tertatih.


"Cerita saja apa pun itu kegalauan kamu, siapa tahu saya bisa bantu," kata Artha.


"Orang sesibuk Bapak masih ada waktu untuk saya?" tanya Nirmala.


"Wana adalah segalanya bagi saya, jadi kamu sebagai orang yang disayanginya, punya tempat tersendiri di diri saya. Jadi jangan sungkan,"


"Ah, begitu ... Mohon maaf sebelumnya kalau mungkin cerita saya sedikit mengganggu. Jadi pagi ini..."


Dan meluncurkan semua kejadian yang dialami Nirmala pagi tadi.


Wanita itu sampai tidak bisa menahan tangisnya di pertengahan cerita. Makanan yang datang pun mereka tidak acuhkan saking seriusnya masalah Nirmala.


Artha pun sampai menggemeretakan giginya tanda kegeramannya. Ia bisa merasakan kesedihan Nirmala, karena Artha pernah berada di posisi itu.


Saat mencintai seseorang, tapi dikhianati. Luka yang terlanjur tergores tidak akan pernah tertutup sempurna. Pasti meninggalkan bekas dan traumatis mendalam.


"Kamu perlu bantuan apa?" tanya Artha akhirnya.


"Gereja kami,"


"Gereja tidak mengurus perceraian,"


"Bukan itu yang saya inginkan. Gereja kami sangat menentang perceraian, dan dalam hal ini saya adalah pihak penggugat. Bahkan karena pekerjaan untuk menghidupi mereka sekeluarga saya harus kerja di hari libur di saat orang-orang beribadah. Dan Jaka adalah jemaat yang taat. Saya butuh persetujuan mereka untuk memperbolehkan hal tersebut dengan bukti-bukti yang ada. Saya tidak ingin difitnah oleh para jemaat lain karena sudah tersebar di sana bahwa saya wanita nakal. Saya butuh pengakuan kalau dalam hal ini saya tidak bersalah,"


"Hanya itu?"


"Yang sulit dan tidak bisa menggunakan uang, hanya itu. Kalau pengadilan negeri bisa diatur dengan cukup dokumen,"


"Ini akan berbelit-belit,"


"Betul,"


"Eh?" Nirmala mengangkat wajahnya. Dia bingung dan kaget. "Maksudnya Pak?"


"Berikan semua yang mereka mau, agar urusan fitnah-memfitnah hilang,"


"Tapi, itu semua saya beli dengan keringat saya sendiri! Jerih payah saya! Apakah itu adil untuk saya?"


"Memangnya kalau kamu mendapatkan semuanya, hidup kamu tenang? Rumah itu dan mobil itu terlalu banyak kenangan pahit di dalamnya. Apakah kamu sanggup menempatinya?!"


"Setidaknya saya bisa menjualnya,"


"Jual itu gampang. Tapi sekarang bukan itu masalahnya. Sekarang adalah, bagaimana caranya agar mulut mereka menutup untuk menjelek-jelekan kamu?"


"Bapak... Punya rencana?"


Artha mencebik, "Tentu! Cara kamu menangani mereka sudah cantik, tinggal kemasannya dipacking lebih eksklusif,"


Senyum licik seketika terbit di bibir Artha. "Saya akan bantu kamu,"


"Bagaimana caranya?" Nirmala tertarik, namun juga waspada. Untuk apa orang seperti Artha tertarik membantunya? Apakah ada maksud lain di baliknya? Namun saat ini yang terpikir Nirmala adalah hidup dan kehormatannya. Karena menurut wanita itu, dampaknya bisa menyebar ke Wana.


Wana adalah adiknya, dia tak ingin julukan 'kakak kamu kan gila harta, wanita nakal, mungkin adiknya juga sama saja umbar keseksian dimana-mana, bla bla,' karena menurut Nirmala, perceraian saja sudah merupakan sebuah skandal.


Walaupun dilakukan dengan dasar bukti yang jelas dan dia merupakan korban, namun siapa yang tahu apa yang sudah disebar oleh mertuanya yang bermulut berbisa itu?!


"Berikan yang mereka mau. Rumah, mobil, dan salah satu sertifikat deposito kamu dengan jumlah yang terbesar. Berapa jumlahnya?"


"Yang terbesar? Sekitar 100juta, itu juga bekas Wana yang kemarin dikembalikan,"


"Receh,"


Nirmala mencibir.


"Uang segitu akan cepat habis dalam beberapa hari. Toh mereka semua pengangguran, dan mereka pasti tidak akan terpikir untuk berinvestasi atau modal kerja. Makanya saya sebut receh," Artha mendengus sinis.


"Lalu bagaimana Pak?"


"Berikan saja ke mereka. Buat hakim terkesan, bilang alasannya karena simpati walaupun sakit hati begitu dalam. Posisikan diri kamu sebagai korban dan terpaksa melakukan gugatan. Undang pendeta dan jemaat untuk datang mengikuti sidang. Buat mereka percaya walau kamu dikhianati, kamu rela memberikan mereka harta kamu. Jadi pandangan mereka terhadap kamu otomatis berubah, dari wanita nakal umbar keseksian, menjadi wanita yang sangat baik hatinya,"


"Lalu? Setelah mereka percaya?"


"Di situ peran saya, saya akan membuat mereka perlahan bangkrut. Dan mengembalikan semuanya pada kamu dalam bentuk yang berbeda,"


"Hah?!"


"Saya akan merekomendasikan kenaikan gaji dan jabatan untuk kamu di Jade. Saya akan berikan klien-klien potensial untuk insentif kamu. Dari penghasilan itu, belilah rumah tinggal lain, perhiasan lain, mobil lain yang lebih bagus. Dalam waktu cepat kamu juga akan memiliki deposito dengan jumlah yang jauh lebih besar,"


Nirmala tertegun mendengar penjelasan Artha.


"Mereka akan sadar kalau mereka rugi telah menelantarkan kamu. Dalam waktu cepat mereka akan mencari-cari kamu lagi. Saat itu saya harap kamu sudah memiliki suami dan kebahagiaan lain,"


Nirmala sampai-sampai menutup mulutnya karena terpukau dengan Artha.


"Astaga, ternyata itu bukan gosip," gumam Nirmala.


"Gosip apa?"


"Bahwa Pak Artha sangat licik,"


"Huh," dengusan bangga namun kesal dari Artha. "Kalau nggak licik kapan kayanya?!"


"Lalu, apa yang saya bisa berikan sebagai balas budi?"


Artha mengetuk-ngetuk meja restoran, "Izinkan saya mempersunting Wana untuk menjadi istri saya,"


Nirmala tertegun.


Lalu menyambar gelas berisi air mineral di depannya dan meneguknya dengan cepat.


Sebenarnya apa yang Artha cari dari Wana? Apakah nirmala harus waspada karena Artha selicik ini? Bagaimana kalau adiknya itu diapa-apakan?


Tapi, melihat gelagat Wana, sepertinya adiknya itu baik-baik saja.


"Saya mengerti kamu ragu dengan niat saya. Apa sih yang saya cari dari Wana? Begitu kan?!" tembak Artha.


Nirmala diam, kena telak.


Artha menyandarkan tubuhnya dengan santai di kursi. "Saya menghukum mantan pacar saya dengan hal yang sama. Saya buat dia ketergantungan ke saya, saya biayai semuanya, saya bahkan berikan tunjangan ke anak yang bahkan saya masih ragu benar-benar anak saya. Tapi saat dia minta kembali, saya tolak mentah-mentah. Saya bebas menggunakannya semau saya, juga melecehkaannya sesuka saya. Saatnya tiba nanti, saya akan membuangnya,"


"Astaga," gumam Nirmala.


"Manusia dari dulu sampai sekarang begitu-begitu saja tingkahnya. Bisa ditebak. Kecuali... Adik kamu,"


Nirmala menaikkan alisnya.


"Adik saya?" tanyanya meminta konfirmasi.


Artha menyeringai.


"Karena itu Pak Artha jatuh cinta padanya? Karena dia sulit ditebak?" tanya Nirmala.


Artha pun mengangkat bahunya.


"Saya... Spechless lagi," Nirmala mengelus tengkuknya yang merinding. Baginya malah Artha yang lebih menakutkan dan sulit ditebak.


"Kamu tahu, dia mencari sugar daddy padahal saya jelas-jelas ada di dekatnya! Kurang 'daddy' apalagi saya?! Sudah begitu, butuh waktu lama sampai dia mau saya traktir! Bahkan dia selalu curiga kalau saya membelikan dia sesuatu. Kalung berlian yang saya berikan ke dia sebagai tanda ikatan, dia berikan ke temannya untuk melunasi hutang, padahal nilai kalung itu tiga kali lipat lebih mahal dari hutangnya ke Gwen! Dia bahkan tidak pernah merayu saya untuk minta sesuatu, sampai gemas rasanya saya!" Artha sewot sendiri.


"Hem," Nirmala hanya bergumam sambil tersenyum canggung.


"Sabar ya Pak, saya restui kok asalkan Pak Artha menjaganya sepenuh hati,"


"Bagaimana mungkin saya meninggalkannya sementara dia sudah mengikat saya sampai ke tulang?!"


"Ehem," Nirmala hanya berdehem geli.