Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 48


Sabtu pagi cerah berawan,


Stasiun sepi karena sebagian besar pekerja liburan,


Feeder busway lega karena pejuang rupiah masih leyeh ngopi di ruang tamu


Tukang sayur bersahut-sahutan menarik pembeli


Tukang bubur kebanjiran pelanggan


Tukang kredit panci mulai mendata siapa yang nunggak


Tukang bangunan minta libur pulang kampung


Tukang gibah mulai muncul di depan warung sambil jemur baju jemur kasur.


Cahaya mentari masuk lewat sela-sela gorden jendela,


Menerpa kelopak mata cogan kita tercinta.


Kevin Cakra mengerjabkan mata dengan malas sambil mengeluh, "Ya Tuhan, plis 5 menit lagi," gumamnya.


"Apanya yang 5 menit, sayang?"


"Bangunnya,"


"Kamu udah bilang itu sejak jam 8. Ini udah jam 9... Setiap 5 menit sekali kamu bilang itu,"


"Ya Tuhan, plis sejam lagi," gumam Kevin.


"Ini kan hari libur, kamu mau tidur seharian juga aku nggak masalah,"


"Hmmmmm," dan Kevin pun terlelap kembali.


Wait,


Matanya terbuka sempurna,


Tubuhnya tiba-tiba bangun terduduk.


Dan ia menatap ke depan.


Bidadari duduk di kursi dengan anggun, duduk kalem menyeruput kopi pagi, sambil baca medsos dari hape.


Rambutnya di blow sempurna, pipinya kemerahan dan matanya sendu.


"Ya Tuhan, aku kan cuma bilang 5 menit lagi, nggak usah marah dan langsung masukin aku ke surga, dong," gumam Kevin.


"Kamu kalau mengigau menarik juga ya, puitis,"


"Heh?"


"Sini sarapan, aku baru bikin cake,"


Kevin pun menyadari,


Kalau ia memang di surga. Surga Dunia.


Ini kali ketiga, di pagi hari ia melihat


Nirmala,


Calon istri super hot-nya.


"Njir," gumamnya sambil menyeringai.


"Dasar bocah, pagi-pagi bukannya bersyukur bisa bangun lagi, malah ngomong jorok," kata Nirmala sambil menyeruput kopinya.


"Njay..." kekeh Kevin.


"Hape kamu daritadi berdering tuh,"


"Eh?"


Dan Kevin pun menatap ke samping, ke arah ponselnya yang ia charge di atas nakas.


Ah, gara-gara ini dia terbangun setiap 5 menit sekali.


Ada miskol...30 kali.


Dari nomor tak dikenal.


"Buset," gumamnya sambil mengernyit. "Siapa sih nih, perasaan gue nggak punya utang pf online,"


Nirmala menyeruput kopinya sambil melirik Kevin dengan penasaran.


Belum sampai menekan tombol kunci, ponselnya berdering lagi.


Ia pun mengangkatnya.


"Disini cowok ganteng sejagat,"(ini salam pengganti halo)


"Kak Keviiiinnnn! Ih! Aku udah nungguin sejam di lobi ini! Aku kan janjian sama dokter jam 9!" terdengar teriakan perempuan dari seberang sana.


"Hah? Siapa nih?"


"Farida, kakaaaaak!"


Mata Kevin terbelalak. "Anjrit! Aku lupaaaaa! Bentar siap-siap dulu!"


"Siap-siapnya berapa lama kakak?! Aku udah ditelpon rumah sakit akhirnya aku mundurin nomor antrian niiih!" tanya Farida.


"5 menit!"


Dan Kevin pun menutup teleponnya, bangkit berdiri, mencari pakaiannya, dan terburu-buru ngibrit menuju unitnya sendiri.


Nirmala melihat tingkah pacarnya sambil terpaku, "Mau kemana Kev?"


"Ke RS. Bunda, jalan dulu Tante Sayang," Kevin mengecup pipi Nirmala, lalu menutup pintu.


"RS. Bunda bukannya rumah sakit ibu dan anak ya?" gumam Nirmala sambil memicingkan matanya. "Untuk apa dia terburu-buru ke sana?"


Sekitar 5 menit kemudian, Nirmala turun ke Lobi apartemen membuntuti Kevin.


Dan ia pun menatap kekasihnya itu dengan cemas.


Kevin menemui seorang perempuan dengan perut membesar. Tampaknya sedang hamil.


Tampak perempuan itu meraih tangan Kevin dan menempelkannya di dahinya seperti seorang istri menyambut suaminya pulang. Lalu Kevin memeluk bahu perempuan itu dan mereka berjalan bersama ke arah parkiran motor.


Ingatan Nirmala langsung melayang ke masa lalunya, saat Ghea, si pelakor yang sedang hamil, sudah ada di rumahnya.


"Tidak, jangan terulang lagi," gumam Nirmala cemas dan panik.


Wanita itu pun lari ke atas ke arah unitnya untuk mengambil kunci mobil. Ia berencana pergi juga ke RS. Bunda untuk membuntuti Kevin dan mencari tahu mengenai perempuan hamil itu.


Baiklah,


Sebuah hubungan percintaan tidak seru kalau lurus-lurus aja.


Jalan tol saja bisa macet.


Apalagi hidup Kevin.


Jadi, Maaf ya Kevin, Tante Author gatel pingin nulis konflik. Semoga kamu sabar dan nggak minta resign.


**


Farida,


Seperti yang kita tahu adalah istri Kasep.


Dan kalau kita kembali ke episode... Berapa ya, aku lupa episode berapa, pokoknya episode yang lalu, Kevin dimintai tolong oleh Kasep untuk mengantarkan Farida ke dokter kandungan karena Kasep ada jadwal ujian CPNS.


Saat ini Farida duduk di kursi tunggu di depan ruang dokter sambil merengut.


"Dih, cemberut melulu, aku kan udah minta maaf," Kevin menoyor pipi Farida.


"Hem, kan jadi nomor antrian ke 15 Kak Kev, aku nih belum masak makan siang buat emak loh,"


"Emaknye Kasep mah dilepas di kebon modal sambel juga bisa idup,"


"Itu kan kredibilitas aku sebagai menantu,"


"Beuh! Dah ngomongin kredible aja, habis brojol juga boro-boro bisa masak. Ke WC aja kamu ga bakalan sempat,"


"Kok Kak Kev tau gitu-gituan, sih?!"


"Iya, hehe," pipi Kevin langsung merah dengan senyum tersapu-sapu, "Udah cari info persiapan seandainya Mala hamil,"


"Idiiiih calon suami siaga ciyeeeeee," Farida mencubit pipi Kevin, "Kepagian Kak Keviiin. Nikah dulu lah, jangan kayak aku," kata Farida sambil menyeringai.


"Nggak usah ingat masa lalu kelam dong, kamu kan lagi hamil,"


"Ya aku beruntung Bang Kahar mau nikahin aku, sampe nantangin bapak segala, hehe. Tiap ingat itu rasanya aku jadi semangat terus,"


Kevin terkekeh.


Farida jenis cewek manis yang kalau bicara bisa bikin lawannya ikutan senyum-senyum saking ramahnya.


"Nanti habis melahirkan mau lanjut sekolah?"


"Hem, kayaknya jadi IRT dulu aja deh. Lebih baik cari kerjaan freelance dari rumah karena kan sambil ngurusin baby,"


Kevin mengangguk sambil mengelus kepala Farida dengan sayang.


Lambat laun, mereka bagaikan kakak beradik.


Namun...


Tidak demikian anggapan orang-orang di sekitar mereka, yang sibuk curi-curi pandang ke arah Kevin dan Farida yang mereka pikir adalah pasangan muda.


Sementara para istri yang lagi nungguin antrian, bolak-balik melirik ke arah Kevin dan paksu mereka masing-masing sambil membatin : harusnya gue bisa usaha lebih baik lagi buat cari laki, yang tampangnya biasa aje kayak onoh aja bisa dapet laki glowing! Dukunnya dimana, coba?!


Dan juga... Nirmala.


Dari kejauhan dia memperhatikan Kevin dan Farida dengan seksama.


Hatinya galau,


Matanya berkaca-kaca,


Tangannya dingin karena gugup.


Aku tidak bisa diam saja seperti aku yang dulu.


Dulu mereka menginjak-injak aku karena aku memaklumi semua.


Kini tidak lagi!


Kamu bilang sudah tobat, tidak lagi berhubungan dengan wanita selain aku,


Kini ada buktinya! Malah sudah hamil pula! Tunggu saja kalau kamu sudah sampai di rumah, Kevin Cakra!


Dan Nirmala dengan geram pergi dari sana setelah mengabadikan pemandangan di depannya.


"Ini berapa jam lagi sih kita dimari?!" keluh Kevin, perutnya keroncongan belum sempat sarapan.


"Ya aku tadinya antrian kedua, Kakak sih bangunnya siang! Pasti malemnya begadang. Hayooo habis ngapain," Farida menyenggol-nyenggol lengan Kevin sambil menyeringai.


 "Mau tau aja kamu!" gumam Kevin sambil menjulurkan lidah.


Farida tahu dari Kasep kalau kemarin Kevin sudah bertemu Nirmala. Saking senangnya Kevin, ia sampai menelpon Kasep sambil terisak bahagia. Saat itu Nirmala belum melamar Kevin. Ini adegan jeda 10 menit yang Nirmala bengong di depan pintu unit karena tahu kalau Kevin selama ini tinggal tepat didepannya.


"Ini aku bawain nasi bakar, Kak Kevin pasti belum sarapan," Farida merogoh isi tasnya dan menyerahkan bungkusan daun pisang.


"Woooo kok kamu pengertian banget sih?!" mata Kevin langsung berbinar. Tanpa pikir panjang ia unboxing nasi bakar.


"Aku sih nggak ngerti, Kak. Ini Bang Kahar yang minta bawain. Aku bahkan sempat nolak karena berat bawa-bawa bekal,"


"Barang sebungkus aja berat," gumam Kevin dengan mulut penuh.


"Aku bawa tiga bungkus. Kata Bang Kahar, Kak Kevin pasti bakalan nambah habis buang-buang energi malemnya,"


"Njir, si Kasep level ngertiinnya udah kayak bini gue!"


"Ssst! Jangan ngomong kasar nanti janinku denger!" gerutu Farida.


"Ceile, sensi bawaannya!"




"Dengan Ibu Faridaaaa?" Terdengar suster memanggil.


Akhirnya menjelang siang, nama Farida di sebut. Kevin sudah sampai ketiduran tiga kali.


Bu Dokter yang menyambut mereka bernama Dokter Anas.


Kembaran Tante Tasya saat adegan Kevin dikerjai Jo.


Dokter Anas menatap Kevin sambil tertegun.


Kevin menatap Dokter Anas sambil berpikir.


Rasanya kok pernah ya  melihat tante dokter di suatu tempat?! Tapi dimana ya?


Dokter Anas langsung berdiri dan menghampiri Farida, sambil sesekali melirik Kevin yang masih juga berpikir sambil memicingkan mata menatap Dokter Anas.


“Bu Farida, apa kabar?” sapa Dokter Anas. Farida memang dari pertama melakukan pengecekan USG memilih jasa Dokter Anas.


“Baik, Dok,” Farida tidur di tempat tidur rumah sakit yang terkenal keras.


“Kali ini ada keluhan, Bu Farida?”


“Sudah membaik, Dok,”


Sambil berbicara dengan Farida, Dokter Anas dan Kevin berulang kali saling melirik. Dokter Anas yang kuatir ketahuan, dan Kevin yang masih bego aja nggak inget tampang klien-kliennya dulu.


Farida berbaring, dan kevin duduk di kursi tamu.


“Kak Kevin, temenin, aku takut,” sahut Farida.


“Takut apa sih? Aku nunggu di sini,”


“Takut ada apa-apa,”


“Ada apa’an emaaang,”


"Bapak boleh kok menemani ibu USG, masuk saja Pak,” kata Suster ke Kevin.


“Saya bukan...”


“Kaaaak,” panggil Farida sambil cemberut.


“Kamu ada phobia apa, sih?!” dengan malas-malasan Kevin menghampiri Farida dan berdiri di sebelah cewek itu.


Farida langsung meraih dan menggenggam tangan Kevin erat sekali. Telapak cewek itu dingin.


Farida memang tidak terlalu suka rumah sakit dengan peralatan medis dan mesin-mesinnya. Ini masih mending karena rumah sakit khusus Ibu dan Anak, jadi aromanya lebih wangi, tidak seperti di rumah sakit pada umumnya yang bau alkhohol, obat-obatan dan wipol.


Sesaat, setelah suster mengoleskan cairan gel bening ke perut Farida yang membesar, Dokter Anas menempelkan alat USG.


“Detak jantungnya ada, Plasenta diatas, posisi kepala dibawah. Bagus ya bu kondisinya, hanya banyak minum air putih ya Bu, ketubannya pas-pasan nih,”


“Wah, gawat dong Dok?!”


“Selain itu janinnya sehat, kok. Hem... bapak ada yang mau ditanyakan mengenai kandungan istri?” Dokter Anas.


Kevin menatap layar di mesin USG dengan terkesima. Ia bisa melihat sesuatu bergerak-gerak di sana. Tepatnya di dalam perut Farida.


Ia menatap Farida dengan senyum di bibirnya seakan bangga terhadap cewek itu.


“Laki-laki atau perempuan, dok?” tanya Kevin.


“Hem... kelihatannya laki-laki tapi dia balik badan tuh, jadi tidak terlalu terlihat sekarang. USG bulan lalu sih laki-laki jenis kelaminnya, tapi masih bisa berubah bulan depan. Ini kan USG 2D soalnya, jadi tak terlalu jelas,”


"Hehe,” terdengar Farida terkekeh.


“Laki-laki atau perempuan yang penting orientasinya jelas,” gumam Kevin.


Dan Kevin tiba-tiba teringat akan Jo. Karena sedang membicarakan mengenai orientasi. Lalu ia melirik Dokter Anas, dan langsung terbayang adegan demi adegan yang pernah mereka lakukan.


Kevin mencebik dan menunduk. Ia bahkan berdehem untuk menghilangkan salah tingkahnya.


“Pokoknya sehat ya,” gumam Kevin selanjutnya.


“Kalau boleh tahu, sudah berapa lama kalian menikah?” Dokter Anas kepo.


“Saya menikah sudah sekitar 6 bulan dok,” kata Farida.


Semua diam, karena usia kandungan Farida sudah masuk sekitar 8 bulan.


Dokter Anas melirik Kevin lagi. Kevin hanya tersenyum.


“Saya resepkan vitamin, ya. Sehat-sehat ya buuu,” tutup Dokter Anas kemudian.


Farida membersihkan perutnya dengan tisu sementara Kevin mengikuti Dokter Anas keluar dari ruang periksa untuk mengambil foto USG dan resep.


Saat memberikan kertas dan suster sedang sibuk dengan Farida di seberang ruangan, Dokter Anas memberikan dokumen ke Kevin dan mencuri cium bibir cowok itu sekilas.


“Selamat yah Say, hehe,” bisik Dokter Anas.


“Sssst!” balas Kevin sambil memicingkan mata dan menggeleng pelan.


Ia mau mengumpat, tapi Farida sudah keburu mendekat, memang kurang ajar si Tante Dokter, tapi nggak bisa marah juga.


Yang ada bete seharian.




Betenya Kevin berlanjut saat sudah sampai di rumah.


Baru juga menekan bel unit apartemen Nirmala, wanita itu membuka pintu dan langsung menampar Kevin di koridor.


Plak!!


“Dasar buaya!” seru Nirmala. “Nggak usah kesini lagi!” teriak wanita itu lantang.


Brakk!!


Dan membanting pintu dengan kencang.


Kevin hanya bisa ternganga kaget di depan pintu yang tertutup sambil memegangi pipinya yang terasa panas.


Ada apa lagi sih ini?! Sekalem Nirmala bisa marah histeris juga?!


Pasti serius ini masalahnya!


Pikir Kevin shock.


Kevin mengetuk pintu unit Nirmala, “Saaaaay? Kenapa sih kamuuuu?”


“Pergi sana! Emang akunya yang bego udah percaya sama bocah tukang selingkuh!” terdengar teriakan Nirmala dari dalam unit.


Kevin terbelalak mendengarnya “Haaaaahh??”