
“Gimanaaaaaaaaaa??” Wana berputar memamerkan penampilannya.
Gaun putih megar dengan brokat mahal, dan tatanan rambut bersanggul tinggi.
Kevin menatapnya malas sambil duduk santai di sofa. “Boring sumpah, selera lo persis nenek-nenek !”
Wana menghentikan putarannya dan melempar bantal di dekatnya. “Ya kasih masukan dong ah! Jangan mecla-mencle begitu!”
“Bahasa lo juga makin aneh, ketularan tuwirnya Om judes. Sadar woi, dia itu generasi baby booming! Kita nih Gen Z!”
“Sue! Siniin Bobbanya,” Wana melambaikan tangan ke arah bobba di samping Kevin.
“Lu dari kemarin bobba melulu, ati-ati e3k lo keras. Ntar bukannya malam pertama malah sembelit,”
“Mulut lo sekali-kali nggak judes ngapa sih Demes?”
“Demes?”
“Dede gemes,”
“Gue sebentar lagi mau jadi kakak ipar lo,”
“Eit! Sapa bilang gue ngerestuin?!”
“Tinggal kawin lari. Gue culik kakak lo,”
“Lo lupa laki gue konglomerat? Dia bisa nyari lo kemana aja!”
“Lo lupa laki lo pelit? Mana mau dia buang duit buat nyariin gue?” Kevin menjulurkan lidahnya.
“Ish! Gue lupa...”
“Yang penting, gue nggak setuju rambut lo begitu! Sini gue rombak!” Kevin menarik Wana dan mendudukkan gadis itu di sofa yang menghadap ke kaca besar, lalu pemuda itu duduk di belakangnya, di atas kursi yang lebih tinggi.
“Emang lo bisa?!” Wana merengut tak yakin
“Sambil liat tutorial di yutub,”
“Heh! Lo jangan sembarangan, ini moment gue sekali buat seumur hidup!”
“Bisaaaa udah lah pede aje! Lo tuh bagusan digerai bukan disanggul! Model jalinan ristik!”
“Njir apa’an lagi tuh!”
“Konsepnya bunded menawan lah pokoknya! Kayak hidup gue,”
“Hidup lo bunded aja, nggak usah pake menawan,”
“Hush! Bawel...” Dan Kevin mulai melepaskan jalinan rambut Wana.
Wana dengan tenang duduk sambil menatap dirinya di kaca besar. Kini di ruangan itu hanya ada mereka berdua. Suatu hal yang aneh karena biasanya di dalam ruangan pengantin wanita lazimnya didampingi oleh kerabatnya yang juga wanita. Kalau Wana malah ditemani Kevin.
Ada Gwen dan Nirmala, tapi mereka baru saja keluar dari ruangan untuk mengurus bridesmaid yang lain.
Wana menatap Kevin dari pantulan kaca di depannya. Kevin, herannya, dengan telaten menjalin rambut Wana dengan bobby pin terjepit di sudut bibir pemuda itu.
“Kev...”
“Hm,”
“Lo sadar nggak sih kalo kita tuh kebalik sama pasangan kita?”
“Hm,”
“Maksud gue, lebih cocok lo yang nikah sama gue dan Om Artha yang nikah sama Kak Mala, gitu,”
“Hm,”
“Bukannya gue mau bahas umur ya, tapi kayaknya lucu aja jadi kebalik-balik gini,”
“Cuy,” panggil Kevin.
“Ya?”
“Bocahnya si Mamat makan brokoli,” gumam Kevin.
“Cakep!”
“Bodo Amat Emang Gue Peduli,”
“Kampret,”
“Lu tuh mau nikah Non, nggak usah mikirin macem-macem. Lagian gue cintanya ke Nirmala bukan ke Juminten jualan roti,”
“Sinetron dari jaman lo belom lahir, hehe,”
“Tapi Tante Author udah lahir,”
Lalu Kevin tersenyum ke Wana dengan penuh kebanggaan. Ia memasangkan mahkota di puncak kepala Wana lalu mengagumi hasil karyanya.
“Sini,” Pemuda itu berdiri sambil menggenggam jemari Wana. Terasa dingin, tanda kalau Wana sangat gugup.
Mereka berdiri berhadapan.
Saat itu Nirmala datang mengabarkan kalau semua set sudah siap. Tapi wanita itu tidak berkata apa-apa dan hanya memandang kedua manusia yang sedang berdiri berhadapan di depannya, menduga-duga apa yang sedang terjadi.
“Nyai, eh, Wana...” kata Kevin.
“Iya?”
“Lo cantik kok, nggak usah kuatir,” kata Kevin sambil tersenyum penuh rasa sayang. “Sebenarnya selama ini lo selalu cantik, tapi gue nggak bilang takutnya lo ke-GR-an,”
“Bedul, Nggak usah ngerayu gue buat ngasih restu,” gerutu Wana.
“Nggaaaaaak, gue serius sekarang,”
“Kenapa lo jadi serius?”
“Hem...” Kevin tampak menatap Wana sambil berpikir. Lalu pemuda itu menempelkan tangannya di pipi Wana.
Rasa hangat langsung mengalir di kulit Wana, membuat jantungnya yang tadinya berdetak cepat karena rasa gugup, perlahan mulai tenang.
“Dalam hal ini, gue dengan lancang akan mewakili orang tua lo menyampaikan hal ini,” kata Kevin kemudian.
Wana terkesiap, di tampak gugup dan memandang Kevin dengan nanar.
Kevin mengusap kedua bahu Wana, “Setelah mengarungi banyak hal, gue tahu kalau kebahagiaan orang tua adalah melihat senyum anaknya, Dan kebanggaan orang tua adalah melihat anaknya hidup di jalan yang dipilih sendiri dengan rasa percaya diri untuk kebaikannya sendiri,”
Kevin membetulkan jalinan rambut yang agak terlepas dari kaitan ke belakang telinga Wana, “Jadi, karena lo udah berani menikah, dan lo melalui hal ini dengan senyum, gue bisa bilang kalau gue bangga sama lo. Gue yakin bapak, ibu, dan kakak lo juga begitu,”
Wana sampai tak dapat berkata-kata.
Kevin pun hanya diam menunggu reaksi Wana.
Hanya Nirmala yang terdengar menangis terisak penuh haru di depan pintu.
“Lo siapa?!” tanya Wana kemudian. Masalahnya kata-kata yang diucapkannya dewasa sekali.
“Gue yang bakal jadi lakinya kakak lo,” kata Kevin. Nirmala sampai menahan tawanya.
“Emang Bang Ke lo,” ujar Wana.
“Iya kampret banget kan,”
“Ya bener,”
“Ya udah gue keluar deh, udah sesinya Nirmala,”
“Aku mau ngomong apa, semuanya barusan kamu wakilin,” Nirmala menatap Kevin dengan senyum dikulum.
Kevin terkekeh sambil menghampiri Nirmala dan mengecup bibir wanita itu sekilas. “Aku dapat jatah satu kamar di atas hasil malakin Om Judes,” bisik Kevin.
“Heh! Nakal...” Nirmala mencubit pinggang Kevin.
Kevin meringis sambil terkekeh dan berlalu dari sana.
*
*
1 tahun kemudian,
“Anjrit gue telaaaaaat!!” seru Kevin sambil melempar selimutnya dan secepat kilat berlari ke arah kamar mandi.
Nirmala dengan tenang duduk di meja makan sambil ngemil buah dan membaca media sosial. Ia hanya diam sambil melihat tingkah laku suaminya di pagi hari.
“Kenapa kamu nggak bangunin akoooohhh!” seru Kevin dari kamar mandi diiringi dengan suara heboh jebar-jebur gayung. (Kamar mandi mereka pakai bathtub sebenarnya, tapi Kevin nggak biasa mandi pakai shower, jadi bathtub dialihfungsikan menjadi bak mandi, lengkap dengan gayung pink yang menjadi ciri khas Bangsa Indonesia yang taat memegang tradisi).
Nirmala hanya berdecak sambil menscroll ponselnya, mencari resep masakan. Ia memang bertanya-tanya kenapa Kevin terburu-buru. Lagipula menurutnya Kevin harus bisa bertanggung jawab terhadap hidupnya sendiri. Kalau ia memang ada kepentingan di pagi hari, ia bisa menstel alarm dan bukannya minta dibangunkan orang lain.
Tapi Nirmala agak malas memberi tahu Kevin, karena ia pasti tak didengarkan kalau Kevin dalam keadaan terburu-buru seperti itu.
“Bu Malaaaaaaaa, beli sayur nggaaaaaakkk?” terdengar suara Mbak Tari, tukang sayur komplek.
“Iya mbaaaak, beliiii!” seru Nirmala dari dalam.
Dengan langkah ringan Nirmala berjalan ke luar dan membuka pintu gerbangnya.
Lalu tersenyum melihat suasana pagi itu.
Ya, mereka ada di rumah lama Kevin. Daerah Jakarta Timur itu, dengan tetangga yang sama dan Pak RT yang sama. Nirmala menjual apartemennya dan Kevin menambah kekurangannya dengan meminjam softloan dari kantor, lalu membeli rumah kenangan itu dari pemiliknya, dan merenovasinya sedikit.
Memang, banyak kejadian tidak mengenakan di sana, termasuk preman yang kerap berkeliaran dan masih dendam dengan Kevin. Tapi mengetahui kalau Kevin dekat dengan AKP Suraji dan beberapa orang dari 12 Naga, preman-preman itu dalam waktu lama mungkin tidak akan mengganggu keluarganya lagi.
Namun, rumah ini menyimpan banyak hal.
Juga entah kenapa, tidak ada yang menanyakan bagaimana bisa Nirmala yang awalnya mengaku sebagai saudara jauh Bu Bella, kali ini datang lagi dalam sosok ‘Istri Kevin’ lengkap dengan Akta Pernikahan.
Mungkin para tetangga sudah memaklumi tingkah Kevin yang memang penuh kejutan.
Mbak Tari sudah dikerubungi dengan ibu-ibu yang belanja sayur.
“Minyak goreng harganya kan sudah turun MbakTar, ini kenapa masih mahal?!”
“Lah ini kan sisa stok minggu lalu yang saya beli waktu suplier masih mahal, Bu!”
“Ya samain aja lah harganya dooong!”
“Bame Baput Bombay Daun Bawang ada?!”
“Sepaket 15ribu ya bu,”
“Ealah, dapetnya cuma seperempat!”
“Lah emang segitu dari sananya!”
Nirmala menghampiri ibu-ibu sambil menenteng keranjang sayurnya.
“Jadi dong, Bude. Saya udah nambah konter buat sesi jus segala, loh,” kata Nirmala.
“Wah asik ini! Warteg Bu Bella dibuka lagi!” sahut yang lain.
“Lah namanya tetap Warteg Bu Bella?”
“Iya Jeng, untuk mengenang beliau! Mbak Mala ini masakannya juga endul surendul!”
Dalam hati, semua orang membatin, memang si Kevin keberuntungannya belum habis. Ibunya tiada, diganti sama Nirmala yang kemampuan memasaknya nggak kalah hebat. Sayang sekali mereka tidak sempat saling bertemu.
Mungkin juga itu doa Bu Bella, bahwa sepeninggalnya Kevin dapat selalu merasakan masakan seenak ‘masakan ibu’.
“Nirmalaaaaa kaos kakiku dimanaaaaaaa?” terdengar teriakan Kevin dari dalam rumah.
“Lemari putih di bawah,”
“Lemari putih kita banyak jumlahnya, lemari yang manaaa?”
“Yang kita beli di Ikea, pintu kecil samping foto ibu,”
“Kebanyakan perabot kita beli di Ikea! Foto ibu juga dimana-mana Nirmala! Sebutin lokasinya aja lah!”
“Lemari putih yang lokasinya di titik 6 derajat Lintang Utara sampai 11 derajat Lintang Selatan,”
“Itu lokasi Indonesia!”
“Ya memang kaos kaki kamu adanya di Indonesia,”
“Udah! Udah ketemu! Di lemari samping foto Ibu,”
“Ya tadi aku juga bilang di samping foto ibu,” gerutu Nirmala.
Para ‘Bude tertawa mendengar pertengkaran kecil mereka.
“Mbak Mala, kalau dulu Bu Bella langsung nyamperin Kevin dan masuk ke dalam rumah buat nyariin kaos kakinya,”
”Yah, udah segede itu masa masih harus dicariin kaos kakinya,” gumam Nirmala.
“Ih kalo anakku ribet begitu udah kubentak,” kata Bude baju biru.
“Masalahnya ini suami rasa anak, hahahahaha!!” semua tertawa berbarengan termasuk Nirmala.
“Sayang, aku berangkaaattt!” seru Kevin sambil naik ke motornya dan merapatkan Jaketnya.
“Molen Mini jangan lupa,” sahut Nirmala.
“Molen mini udah habis jam 5an! Mana sempat aku beliin? Aku pulangnya malem!” gerutu Kevin.
“Itu bukan mau-ku,” kata Nirmala sambil menatap Kevin dengan pandangan ‘nggak mau tau, beliin atau kamu nggak boleh pulang sekalian’.
“Bilang ke dia, Papa jadi Bang Toyib dulu. Request somay aja,”
“Katanya dia mau molen mini,”
“Itu maunya Dedek Janin apa maunya kamu, haaa? Bikin sendiri juga bisa!”
“Aku pingin molen mini yang gerobaknya abang-abang, kalau aku yang bikin terlalu enak,”
“Njir! Tobat gue... iya nanti aku pulang dulu siangan, terus balik lagi ke kantor,”
“Kevin, kamu mau kemana?’ tanya Nirmala.
“Ya ke kantor laaaah!”
“Ke kantor pakai celana pendek?” Nirmala mengernyit.
“Hah?” Kevin menatap ke bawah. “Anjay!” dan langsung turun dari motornya lalu masuk kembali ke rumah.
Nirmala kembali memilih-milih sayur.
Tak berapa lama Kevin keluar lagi, kali ini dengan dandanan lebih cetar ganteng menggelegar. Tampan maksimal!
“Aku berangkat ya, udah telat!” pamit Kevin.
“Berangkat kemana?”
“Ke kantor lah Nirmala! Dari tadi nanya melulu!” Kevin mengenakan helmnya.
“Ke kantor hari Minggu begini ada acara apa?” tanya Nirmala.
Kevin beku.
“Heh? Ini hari minggu?”
Semua hadirin hadirot mengangguk sambil menatapnya dengan sebal.
“Kenapa nggak ngomong dari tadeeeeeee!” seru kevin sambil menatap semua dengan tak percaya. “Tau gitu kan aku lanjut tidur,”
“Ya kamunya udah grasa-grusu duluan,” gerutu Nirmala.
“Sabar ya Naaak,” Bude baju biru mengelus-elus perut Nirmala yang membentuk baby bump.
“Jangan tidur lagi. Beli molen mini dulu!” dengus Nirmala.
*
*
Kevin duduk di teras depan sambil mengamati sekitarnya. Orang-orang berlalu lalang, tetangga motong keramik, yang lain nyetel lagu Backstreeet Boys kenceng-kenceng, bunyi tukang Sari Roti di kejauhan, dan musik dari odong-odong yang suaranya dekat tapi wujudnya jauh.
Rumah mereka wujudnya memang jauh berbeda dengan yang lama, tapi suasana di depan Kevin ini, tidak terbeli.
Sesekali tetangga menyapa Kevin, dan Kevin seperti biasa menimpalinya.
“Kevin, kamu ronda nanti malam kan ya!” tanya Pak RT yang datang naik sepeda sambil bawa-bawa Map.
“Iya Pak,”
“Kamu jaga sama Pdt Giovanni dan Ustad Rizky yak. Jangan lupa patroli ke daerah rumah kosong yang di gang buntu, katanya banyak yang bikin konten di sana,”
“Yang bikin konten itu, manusia apa astral pak?”
“Yang mana pun, bubarin aja,”
“Kalo ada saya, malah pada datang minta foto bareng, Pak,”
“Ya bikin meet and greet aja sekalian, feenya alihin ke kas RT yak! Buat acara 17an,”
“Halah,”
Dan Pak RT pun berlalu ke rumah warga yang lain.
Kevin pun kembali merenung.
“Mikirin apa, sayang?” tanya Nirmala, datang sambil membawa kopi dan molen mini yang baru saja dibeli Kevin untuk snack pagi itu.
“Banyak hal,”
“Boleh kutebak?”
“Boleh,”
“Mikirin ibu kamu, mikirin janin di perutku, mikirin masa depan kita, salah satu dari itu atau sekaligus,”
Kevin diam sambil menatap Nirmala tanpa ekspresi. Menandakan kalau tebakan Nirmala salah semua.
Nirmala mencibir, “Jadi kamu mikirin apaaaaa?”
“Yang jelas nggak serumit itu,”
“Seperti?”
“Aku pingin ganti knalpot racing,”
“Nggak boleh,” kata Nirmala cepat.
“Tuh kan!” gerutu Kevin. Tahu begitu ia tidak bilang apa yang ada di otaknya saat itu.
Lalu mereka duduk berdampingan sambil menikmati suasana pagi. Tampak Pak RT mengayuh sepedanya dengan kencang karena dikejar anjingnya Pak Jali. Padahal anjingnya kecil. Tampak si majikan kalang kabut mengejar Pak RT dan mencegah anjingnya berlari lebih jauh.
“Sekarang mikir apa? Mau beli anjing juga?”
“Pak RT mukanya tampang kriminal. Masa sampe dikejar Kimmy. Si Kimmy kalo ketemu aku malah goyang-goyang ekor tuh,” kata Kevin sambil cengengesan.
“Isi kepala kamu nggak ada yang penting ya?”
“Yang penting itu, macam apa? Memangnya kamu? Kamu pasti lagi mikir mau beli apa di acara bayinya Wana minggu depan kan? Atau beliin mainan apa buat anaknya Farida, dan aku harus isiin topup belanja online kamu berapa. Paling banter mikirin mau bikin pie susu atau bolu kukus buat cemilan sore,”
“Loh? Kok kamu tau?”
“Aku kan ngertiin kamu, kamunya yang nggak ngertiin aku,” kali ini Kevin yang menye-menye.
“Ya sudah, gimana caranya biar aku ngertiin kamu?”
“Aku pingin ganti knalpot racing,”
“Nggak boleh,”
“Ish! Keukeuh bener!”
-TAMAT-
Dear Pembaca,
Kali ini benar-benar tamat dan bukan prank.
Kisah Para Pemikat yang terobsesi berhenti sampai di sini, dengan banyak kejadian dan pengalaman berharga mengiringi pembuatan novel ini. Tapi aku sebagai Author sangat terharu kalian Para Rider selalu ada di saat-saat terburukku dan terbaikku.
Novel ini sebagai pengingat akan masa-masa kehamilan yang sulit dan kelahiran yang luar biasa. Iya, selama itu pembuatannya. Tapi selalu ada jiwaku yang terkandung di setiap kata-katanya.
Terimakasih untuk semuanya, nantikan novel baru Tante Author, Madam Angspoer ini, yang akan update InsyaAllah minggu depan, berjudul 'Catatan Rahwana : Skandal'.
Kalau berkenan, siapkan segalon kopi dan kursi pijat (weee, ngarepnya tanpa malu!) untuk nampol novel berikutnya.
Nirwana Dierja, Arthasewu Connor, Kevin Cakra dan Nirmala Dierja, undur diri.
Big Hug and a lot of Love.
Septira Wihartanti.