
Keseharian Kevin,
Note : Berlaku alur maju skip-skip, sudah berlangsung selama 6 bulan lamanya, sampai kedua insan ini dipertemukan kembali pada pernikahan Wana. (spoiler euy!).
Pagi hari, cowok itu biasa bangun saat adzan Subuh dari masjid setempat berkumandang.
Lalu duduk di ranjangnya beberapa menit, memikirkan mau apa dia hari ini.
Setelah terkumpul rencana dalam benaknya, dia menyambar ponselnya dan scroling tiktok.
Membalas beberapa DM di instagram, membalas banyak whatsap dari teman-temannya.
Eh, ada WA dari Jo. Katanya Shareholding terbesar dari Yudha Mas mau datang ke Amethys Tech untuk persiapan kerjasama platform game online yang mau launching.
Tim Kevin yang membuat presentasi 4 Dimensinya, jadi akan diikutkan untuk meeting sistem siang nanti.
Kevin membalasnya dengan 'Ya Pak, siap.' Lalu menggaruk kepalanya.
Dan dia pun tidur lagi.
Sekitar jam 6 dia terbangun.
Kenapa?
Bukan karena alarm di ponselnya bunyi. Cowok itu tak pernah menyalakan alarm. Notifikasi pesan pun ia silent mode karena dianggapnya mengganggu.
Sekelas Bu Susan saja kalau WA pasti dibalasnya per 3 jam kemudian, itu pun kalau Kevin ingat punya hape. Kadang malah dibalas saat sudah sampai apartemen.
Jadi kalau ada perlu mendesak dengan Kevin, biasanya Bu Susan langsung telepon sekretarisnya yang bernama Raka. Tinggal Raka yang kalangkabut mencari Kevin.
Jadi alarm bangun tidurnya adalah... Suara pintu apartemen Nirmala ditutup.
Wanita itu selalu berangkat kerja pukul 6 tepat.
Entah bagaimana, Kevin selalu terbangun saat itu. Padahal Nirmala tidak menutup pintu terlalu kencang, dibanting pun tidak. Malah terkesan lembut. Hanya bunyi 'cklek' pelan saja.
Lalu Kevin membuka matanya, duduk termenung di ranjangnya sambil menatap layar komputer 21 inch di depan kasurnya, yang menampilkan cctv di beberapa sudut lorong.
Terlihat di sana, Nirmala di kejauhan sedang berdiri menunggu lift turun sambil menunduk mengutak atik ponselnya.
Sayang sekali layar cctv Kevin tak begitu jelas menampilkan wajah wanita itu. Tapi kalau di-rewind, wajah Nirmala terlihat saat keluar dari pintu apartemennya.
Ya, ada cctv dengan chasing bulat di atas pintu apartemen Kevin, dengan 2 kamera. Satu mengarah ke depan ke pintu Nirmala, satu lagi mengarah ke lorong dengan ujungnya adalah lift.
Sampai kapan akan begini?
Ini sudah 6 bulan... Keluh Kevin.
Ia bahkan tak bisa mendekat.
Terkadang Nirmala saat pulang kerja menatap pintu Kevin dengan mengernyit, lalu buru-buru masuk ke dalam unitnya. Mungkin wanita itu waspada gara-gara perkataan Dian.
Tapi semakin hari Kevin semakin tak tahan.
Tadinya ia akan membatasi diri, karena takut Nirmala akan marah kalau melihat dirinya yang belum mapan sudah berani mendekat lagi.
Tapi sekarang, malah semakin menyiksa.
Jadi, Kevin turun dari ranjangnya. Sekali lagi memeriksa ponselnya.
WA dari Mami Dewi Tunggullangit, berujar : ini si Agus temen lo, Kev?! Dian bawa ni anak ke rumah gue ngaku mereka pacaran.
"Ih," decak Kevin sambil terkekeh. Sudah berani si Agus minta restu. Hebat juga.
Lalu ada WA dari Kasep,
Hari Sabtu temenin Farida ke dokter kandungan yak, gue mau tes CPNS.
"Lah, kenapa gue, coeg!" keluh Kevin. Tapi hanya di mulut saja, jarinya mengetik : iya.
Lalu dia membuka piyamanya, menyambar handuk, dan masuk ke kamar mandi menyelesaikan urusan bersih-bersih.
*
*
"Kev! Kev! Kev! Lo bikin presentasinya yang format 4 kan yak? Yang sebelum gue kirim jam 14, yang jam 13.52 kan ya?! Yang disetujui yang 13.52 lih!! Yang mau datang pak David! Kalo salah bikin, tim gue bisa diblacklist bu Susan!" Stela berteriak-teriak di lobi gedung saat Kevin baru datang. Cowok itu bahkan belum mencapai lift di ujung ruangan.
"Duuuh berisik..." keluh Kevin sambil menutup kedua telinganya. "Beliin kopi dong,"
"Gue beliin tapi lo beneran bikin yang jam 13.52 kan?? Mati gue kalo sampe keliru!"
"Ya udah sana ah, mau mati jangan ngajak-ngajak ya! Tapi sebelum itu beliin gue kopi dulu," gerutu Kevin sambil cuek berjalan ke arah lift. "Apa pula maksudnya jam 14 jam 13.52... Gue terima email lo ada kali 10 kali,"
"Ya makanya!" Seru Stela makin panik. "Lo bikin yang mana?! Gue butuh prepare adegan!"
Kevin masuk ke lift dan berdiri menghadap Stela dengan senyum sinisnya.
"Gue bikinin yang email jam 14, salah sendiri nggak bilang dari awal," katanya sambil menjulurkan lidah.
Dan pintu lift pun tertutup, dengan suara Stela berteriak-teriak panik dari luar.
*
*
"Hei, Bro. Tumben lu dateng pagi. Nggak ngampus?" Tommy, rekan sejawat, menyapa Kevin yang datang sambil cengar-cengir.
"Bolos ngampus. Di-WA Pak Jo disuruh dateng pagi ikut meeting," Kevin biasanya datang ke kantor saat malam hari. Enaknya bekerja di perusahaan berbasis teknologi, adalah tidak harus nongol di kantor yang penting kerjaan beres sesuai jadwal.
"Sama Pak Fandy yak? Tuh dia lagi siap-siap,"
"Kenapa nggak Pak Fandy sendiri aja sih, kan dia manajernya. Gue kan cuma staf,"
"Dia kagok kalo nggak ada elo," dan Tommy mencondongkan tubuhnya, "Bu Susan lagi spaneng," bisiknya.
"Kenapa?"
"Karena shareholder yang mau datang kesini itu, suaminya. David Yudha,"
"Ada apa dengan beliau?"
"Bu Susan itu kalau di depan Pak David, inginnya semua serba sempurna biar Pak David nggak ngejek-ngejek,"
"Suami-istri kok gitu?!"
"Justru karena mereka suami-istri jadinya begitu. Bu Susan kayak ingin nunjukin kalau dia masih capable jadi Presdir. Bukan IRT,"
"Ih, gue nggak ikut-ikutan aaaah," keluh Kevin sambil melipir ke kubikelnya.
"Lu ngomong gitu juga bakalan keikut sih, kan elo yang nanti bantuin presentasi bareng anak proyek,"
"Ya udah, matiin lampunya. Ada ralat dikit dari tim kreatif barusan. Gue mau ngerjain yang email jam 13.52,"
"Apa'an tuh?!"
"Bahasanya Stela,"
"Ah! Stela mah ribet orangnya!" Gerutu Tommy.
*
*
"Raka, bilang anak-anak jangan sarapan di kubikel!"
"Ya Bu," gumam Raka sambil menguap. "Hoy lo semua denger, bubaaaarrrr!" seru Raka santai, tapi dia sendiri jalan mengikuti Bu Susan sambil makan Roti Boy.
"Mau Pak?" Ia menawari Jo. Jo mengambil roti di kantong kertas yang diacungkan Raka lalu melahap isinya.
"Tim Marketing sudah mempelajari semua dengan seksama kan?!" tanya Susan kuatir.
"Sedang proses bu," jawab Raka.
"Tim Proyek bagaimana?!"
"Siap sedia, Bu," kata Jo. Siap sedia untuk dibully manajemen, maksudnya.
"Yang paling penting, Tim IT?!" Bu Suaan berbalik dengan wajah kuatir.
"Kevin baru datang," jawab Jo.
Bu Susan menghela napas lega, "fuh! Bagus!" Dan ia melanjutkan perjalanan, "Yang penting si sableng itu udah dateng,"
Jo mencibir.
"Pokoknya saya ingin semua orang standby, jangan ada barang-barang nggak jelas di atas meja dan waspadai tingkah laku absurd dari anak-anak, terutama anak IT dikondisikan ya ketidakwarasannya, jangan sampai ketahuan kalau pada mengidap OCD akut," Bu Susan memasuki satu demi satu ruangan memeriksa tampilan lingkungan supaya terlihat rapi dan eksklusif.
Dan sampailah wanita itu ke ruangan IT,
"Ini kenapa ruangan programers gelap begini sih? Bohlam putus atau kamu nggak bayar listrik?" Omel Bu Susan sambil mencari saklar.
"Eeh Bu! Jangan dinyala..."
Pets!
Semua orang mengeluh sambil memicingkan mata.
"Njir! B4bi guling renyah!" Umpat Kevin sambil berteriak dan memicingkan mata. "Sapa kampret yang ngidupin lampu! Kaga tau ape mata gue bisa sekarat... Eeeh, Bu Susan, hehe tumbeeen ke ruangaaaaannnn," dia langsung menyembunyikan tubuhnya tenggelam di balik kubikel.
Ctek! Jo mematikan kembali lampu ruangan.
"Kalau ruangan programmer harus gelap bu karena mengurangi radiasi dan batas intensitas cahaya," Jo menatap Kevin dengan sinis.
"Jo, saya minta semua KPI anak IT, Kevin... ke ruangan saya," gumam Bu Susan dengan suara rendah.
(KPI sejenis form penilaian masing-masing karyawan. Biasanya diisi oleh atasan, berguna untuk kenaikan gaji atau promosi jabatan. Ini kerjaannya divisi SDM dan Manajemen, hehe).
Lalu wanita itu keluar ruangan dengan langkah menghentak-hentak.
"M4mpu5 gue..." gumam Kevin kuatir.
"Mulut lo kayak tong sampah si," ejek Tommy.
*
*
Bu Susan Tanudisastro, CEO Amethys tech, memutar-mutar ujung pulpen bertahtakan permatanya sambil menatap ke depan dengan wajah serius.
Ke arah Kevin yang duduk di kursi tamu.
Yang juga sedang menatapnya dengan cengengesan.
Dan gaya duduk yang meringkuk.
Jangan dipecaaat, jangan dipecaaat, besok-besok gue zipper dah mulut lemes gueee, Begitu pikir Kevin.
"Kamu terdaftar sebagai Mahasiswa Universitas Indonesia," kata Bu Susan.
"Ya bu,"
"Saya baru saja melihat laporan nilai kamu dari SMA. Kami butuh profil siswa berprestasi untuk profil Amethys University yang akan dibuka per Januari nanti,"
"Ya bu?"
"Universitas binaan Amethys corp, kamu tahu kan?"
"Ya tahu, kan saya yang bikin sistem untuk input administrasinya minggu lalu,"
"Oh, iya benar juga,"
"Jadi bagaimana bu?"
"Bersedia pindah ke Amethys University buat jadi angkatan pertama, tidak? Kami akan tanggung biaya untuk doble degree ke luar negeri juga,"
"Kalau saya tolak tawarannya, saya dipecat gak?"
Bu Susan mengangkat bahunya, "Ya tidak sih, itu nggak manusiawi. Kami juga bangga memiliki karyawan lulusan universitas negeri.Tapi saya pikir kamu cocok untuk iklan,"
Kevin menggaruk kepalanya, bingung.
Jaket kuning legendaris yang saat ini ia kenakan adalah impian setiap mahasiswa. Tapi Amethys University digadang-gadang akan menjadi kampus swasta berbasis teknologi yang bisa menyaingi kampus ternama di Massachusetts. Kevin melihat laporan biayanya, luar biasa mahal.
Uang gedungnya saja setara harga apartemennya.
Tapi memang kampusnya keren sih. Kontraktornya dari Jade Construction, dan Opal Corp, bangunan bernilai triliunan. Sudah pasti sangat mewah dan fasilitas lengkap.
Belum difungsikan saja sudah terbayang kemegahannya.
"Hem, apa yang akan saya dapatkan kalau saya melepaskan kampus negeri legend yang sekarang saya masuki?" tanya Kevin. Sudah sebulan ini dia bekerja di Amethys via online dan remote. Masalahnya kurikulum di UI sangat menyita waktu.
"Cicilan apartemen saya hapus, dan kamu dapat fasilitas makan gratis sampai lulus di kampus. Juga perangkat komputer tercanggih setiap edisi akan jadi milik..."
"Oke Bu Susan! Kevin Cakra siap mengabdi!!" Seru Kevin dengan sikap hormat.
Bu Susan mencibir.
Anak laki-laki seperti Kevin kalau dengar masalah komputer, game, teknologi terbarukan, akan demgan mudah diperbudak.
"Tapi kamu nggak dapat mobil ya, cicil sendiri," kata Bu Susan.
Masalahnya, ada beberapa orang yang juga ditawarinya masuk Amethys University untuk jadi angkatan pertama, mereka lebih memilih dapat Tesla dibandingkan perangkat komputer.
"Saya belum begitu butuh mobil," kata Kevin.
"Suatu saat kamu akan butuh, misalnya untuk bawa jalan-jalan pacar, istri, mertua kamu keluar kota,"
"Iya, kalau saat itu datang, saya hubungi ibu saja untuk pinjam, hehe," Kevin menyeringai.
"Hooo, kamu punya pacar beneran ya ternyata. Saya pikir selama ini kamu adem anyem karena udah jadi bandar 1821,"
"Tadinya saya liveshow bu, bukan sekedar bandar 1821 lagi. Tapi udah tobat setelah kenal yang satu ini," kata Kevin menyeringai.
Bu Susan mengernyit jijik, "Ternyata bener gosipnya kalau kamu mantan penjual toh, saya kan tadi cuma bercanda,"
Kevin diam, "Anu... Saya nggak dipecat kan karena mantan 2140?!"
"40... Target tante-tante dong? Astaga..." Bu Susan menggelengkan kepalanya.
Dalam hatinya wanita itu membatin, Jangan sampai David tahu kalau salah satu karyawanku mantan gigolo. Bisa-bisa sekantor diruqyah.
*
*