Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 19


Kevin,


Ia melihat Kevin.


Berlari sambil ikut mendorong sebuah ranjang beroda, dengan panik memasuki ruang IGD.


Nirmala tetap duduk di kursi ruang tunggu walaupun ia sudah melihat Kevin. Ia berharap tidak terlihat.


Baginya, bertemu Kevin akan membuat kedamaian hidupnya terganggu.


Setelah trauma dengan pernikahan, wanita itu hanya berharap hidup sendirian dengan tenang, tanpa permainan hati.


Dan Kevin dianggapnya sosok yang berbahaya. Objek seksual nyata yang berhari-hari mengganggu hidupnya.


Nirmala tahu rasa ini, rasa yang sama saat ia dan Jaka pertama kali bertemu di masa lampau. Masa pendekatan yang setiap hari berbunga-bunga penuh keceriaan, saling berharap, saling mendamba. Sungguh dunia ini serasa milik berdua.


Nirmala belum siap jatuh cinta lagi, karena yang saat ini ia ingat secara dominan, adalah malah rasa sakitnya.


Dan setelah lepas dari Jaka, Kevin datang.


Dengan berbahaya mulai mengambil alih segala pikiran Nirmala.


Saat membuka kulkas, ingat Kevin yang membungkuk dan mengambil soyjoy. Saat duduk di sofa ingat sesi curhatnya dengan Kevin. Saat ia di kamar mandi ingat saat Kevin memeluknya dari belakang di bawah guyuran shower. Yang paling parah, saat ia tidur ... Ranjang itu terasa menyesakkan, bahkan seakan terdengar lenguhan penuh gairah bocah tampan dan nakal itu. Khayalan yang terasa nyata! Sungguh tidak masuk akal!


Nirmala urung untuk menghubungi Bu Dewi, Maminya Kevin. Ia menganggap teringat ke Kevin adalah hanya sebagai pelarian kesendiriannya. Faktor Ia janda, masih muda, masih cantik, digandrungi kaum adam.


Dan dia butuh se-ks.


Tubuhnya dalam kondisi usia matang, penuh gairah.


Menurut Nirmala, wajar kalau ia menginginkan sensasi bercinta seperti yang Kevin berikan padanya, menggebu-gebu dan panas.


Jadi Nirmala berusaha melupakan Kevin dengan bekerja overtime. Setiap menginginkan Kevin ia mengambil lembur, berusaha beraktivitas, berusaha melupakan pemuda tampan.


Dan kini, takdir malah berkata lain.


Kevin di depannya, hanya berbeda 5 meter dari ia duduk saat ini, terpisah oleh jajaran kursi ruang tunggu.


Nirmala memutuskan untuk menghindar.


Ia sedikit membungkuk agar tidak terlihat dan berniat pergi dari situ.


Namun Kevin tiba-tiba keluar dari ruang tunggu dalam kondisi kemeja bebercak darah.


Wajah cowok itu berbeda, penuh kepanikan dan kesedihan. Tampak matanya memerah seakan sedang menahan tangis dan berusaha tegar. Kevin tampak menghubungi seseorang dari ponselnya.


Saat ini Kevin belum sadar kalau Nirmala ada di situ, sedang memperhatikannya.


Nirmala menghentikan langkahnya dan mengamati Kevin. Pemuda itu duduk di depannya persis dalam kondisi membelakangi Nirmala.


"Ya bude, penanganan IGD sekitar 5 juta. Juga obat dan lain-lain harus down payment dulu. Aku hanya punya 5 juta di rekening tapi kalau dipakai semua untuk biaya sehari-hari nggak ada. Ibu sih punya banyak gelang emas, tapi baru bisa kujual besok, sekarang aku butuh sekitar 5 juta lagi karena ini rumah sakit terdekat dari tkp, kalau dipindahkan kuatir waktunya kelamaan," ujar Kevin lewat telepon.


Siapa? Pikir Nirmala.


Kedengarannya seperti kecelakaan.


"Oke Bude, minta tolong kasih tau Pak RT ya," Lalu Kevin tampak menutup telepon, dan menghubungi orang lain lagi.


"Astaga Kasep, lu dimana sih, saat-saat begini malah pada menghilang!" gerutu Kevin.


Lalu cowok itu menutup teleponnya dan menghubungi orang lain.


"Si Agus juga kemana sih?!" gerutunya lagi.


Lalu kalimatnya ada jeda sebentar.


"Penggalangan dana di sekolah hanya bisa dilakukan hari Senin, saya butuhnya sekarang. Oh, dana sebesar itu harus izin suami, toh? Jadi nggak bisa malam ini?"


Lalu Kevin tampak menutup teleponnya dan menghubungi orang lain. Terus begitu berkali-kali sampai seorang perawat yang sepertinya dokter resident mendatanginya.


"Mas? Bagaimana? Kondisinya semakin kritis, sudah bisa diurus administrasinya? Saya kuatir kalau kelamaan tidak akan sempat," kata si resident.


"Apa tidak bisa dilakukan penanganan dulu Mas? Uang sebanyak itu kan tidak bisa dalam waktu semalam!" Kevin mulai kesal.


"Kalau begitu, Ibu Mas terpaksa harus kami rujuk ke rumah sakit yang bekerjasama dengan B*JS sekarang,"


"Ini rumah sakit ketiga yang kami datangi! Lagipula Pemerintah kan sudah memberikan peraturan kalau rujukan dapat diberikan setelah keadaan daruratnya teratasi dan pasien dalam kondisi dapat dipindahkan !"


"Ya seharusnya dari awal ambulans membawanya ke rumah sakit pemerintah, jangan ke swasta! B*JS sudah lama menunggak biaya yang seperti ini dan tidak mereka bayarkan sampai sekarang, setelah itu pasien juga kabur tidak mau membayar tunggakan,"


"Jadi intinya orang miskin nggak boleh hidup ya mas, lebih baik mati saja, begitu? Dan kenapa malah menyalahkan ambulans sih Mas?! Ibu saya hampir mati ini!" jerit Kevin emosi. "Anda itu sedang bermain-main dengan nyawa manusia!!"


Nirmala pun mengelus dadanya.


Kondisi saat ini sedang tidak kondusif dan ia baru melihat raut wajah Kevin yang seperti ini.


Tadi siang Nirmala baru saja mendengar kabar kalau Bu Dewi terlibat dalam kasus dugaan asusila. Sudah pasti kondisinya saat ini begitu genting. Karena Kevin tidak akan bisa menghubungi Bu Dewi untuk meminta bantuan. Begitu pikir Nirmala.


Sudahlah! Memang sudah takdir akan seperti ini! Batin Nirmala sambil menghela napas panjang.


Dan wanita itu pun berdiri, menghampiri Kevin dan sang resident.


"Permisi, maaf saya menyela," kata Nirmala.


Keduanya menoleh ke arah Nirmala.


Tampak mata Kevin membesar saat melihat wanita itu, wanita yang ia cari selama ini, wanita impiannya, berdiri di depannya seakan jatuh dari langit!


Mimpikah ini? Apa aku berkhayal karena saking stressnya? Pikir Kevin takjub.


Dan kenapa Nirmala ada di rumah sakit?!


"Tolong berikan penanganan yang diperlukan secepatnya, saya akan membayar semuanya," kata Nirmala tegas.


"Kami butuh kuintansi pembayarannya," kata dokter resident.


"Kalau saya tunjukan ini, bisa segera bergerak, tidak?" Nirmala mengambil uang gepokan senilai 5 juta rupiah dari tasnya, sisa sumbangan untuk Jaka, dan mengangkatnya ke udara.


Hal itu ia lakukan sekaligus menyindir para karyawan rumah sakit dan memberitahu ke orang-orang sekitar kalau di rumah sakit itu, uang diperlukan untuk mempertahankan nyawa.


Aksinya mengundang perhatian orang-orang, malah beberapa orang berteriak 'huu!" mengejek para karyawan rumah sakit.


"Tunjukan dimana ruang administrasi secepatnya," kata Nirmala.


Seorang suster terburu-buru menghampiri Nirmala dan bermaksud mengantarkannya.


"Tante..." Kevin hendak meraih Nirmala.


Tapi Nirmala mencegahnya.


"Kamu dampingi ibu kamu, sisanya biar aku yang urus. Mana KTP kamu?"


"Tapi," Kevin dengan ragu merogoh celananya dan membuka dompetnya. Lalu menyerahkan KTPnya ke Nirmala. Ia tampak enggan saat melihat Nirmala akan menjauh darinya.


"Cepat masuk ke dalam, tandatangani hal-hal yang diperlukan," kata Nirmala sambil memberikan gepokan uang tunai itu ke Kevin dan ia pun berlalu mengikuti suster ke arah lift untuk menuju ke ruang administrasi.