Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 28


"P-pa-pak Jo," sapa Kevin sambil berdiri, mundur selangkah dan bersiap mau lari menghindar. "Koook disini sih Paaaaak," Kevin berbicara dengan bibir terkatup. Dia langsung keringat dingin.


Dan karena gugup, dia jadi kebelet pipis.


"Biasa memang gue kesini, tapi nggak pernah liat elu,"


"Iya, sial banget gue," gumam Kevin.


"Temen lo?" desis Jo melihat ke arah Kasep.


"Errr, iya. Kenalin Sep, Ini Pak Jo, Kepala Divisi HRD di Amethys Tech,"


Mendengar jabatan yang disandang Jo, Kasep langsung bersemangat. Siapa tahu ini langkah awalnya mendapat pekerjaan. "Saya Kaharuddin Septian Pak! Teman akrab Kevin," dia menjabat tangan Jo dengan ceria.


"Berdua baru selesai olahraga?" tanya Jo.


"Iya," gumam Kevin.


"Kita baru mulai Pak!" potong Kasep.


"Ih!" desis Kevin sambil merengut dan bersembunyi di belakang Kasep.


"Rencananya mau olahraga apa?"


"Jalan-jalan doang," gumam Kevin


"Sebenarnya sih mau kompetisi Pak," potong Kasep lagi.


"Seep..." Desis Kevin mulai panik sambil menyenggol-nyenggol Kasep.


"Siapa tau dia bisa gantiin Agus buat ngerekam lomba kita!" desis Kasep bersemangat, mencoba akrab dengan Jo.


"Nggak usah diaaaaa," Kevin berbicara dengan bibir terkatub, mencoba memperingatkan Kasep.


"Lomba apa?" tanya Jo penasaran.


"Jadi gini Pak,"


"Seeeppp..." Kevin menggemeretakan giginya.


*


*


"Hoo ada-ada aja deh kalian," desis Jo saat tahu lomba macam apa yang akan diadakan.


"Gimana pak? Bisa bantu pegangin kamera hape? Mumpung belum banyak orang,"


"Ini sih jadinya gue bakalan bikin huruf SOS," gumam Kevin.


"Mulai aja yuk!" sahut Jo sudah siap dengan ponselnya.


"Okeee!" seru Kasep.


"Ishhh," gumam Kevin.


"Tenang aja, gue lagi kalem kok. Udah dikasih soalnya," sahut Jo.


Kevin mengernyit memandang Jo.


Jo mengerling padanya.


Kevin langsung bergidik.


*


*


"Lo tuh gambar apa sih sebenernya?!" ejek Kasep saat melihat trotoar.


"Gue ga bisa bidik dengan sempurna, nggak bakalan gue keluarin semuaanya!" sahut Kevin.


"Kalo nggak dikeluarin semua, gimana cara ngarahinnya?!"


"Pokoknya nggak sudi!" seru Kevin.


"Tuh lihat, hello kitty gue 70persen sempurna!"


"Iya, hello kitty kamu cantik," kata Jo, tapi pandangannya ke pistolnya Kasep. "Sawo matang kayaknya manis," Jo membasahi bibirnya.


Kevin menghela napas, lalu membentuk huruf "HELP!" extra tanda seru.


"Sebenarnya punya kamu bisa gambar lebih baik, Kev, kan lebih... Panjang," kata Jo.


Kevin diam saja.


"Darimana Pak Jo tahu ukuran lo?" tanya Kasep.


Lagi-lagi Kevin diam.


Dan akhirnya sudah dapat diketahui siapa pemenangnya.


Punya Kevin hanya berbentuk kubangan air dengan tulisan Help


Dan punya Kasep, hellokitty bentuk sempurna extra pita di telinganya.


"Pemenangnya Kasep!" seru Jo.


"Horeeee!!! 1 : 0 buat gue! Tinggal nunggu Agus dateng dan nanya dia masih perjaka apa kaga!”"


Kevin diam.


“Emang hadiah pemenangnya apa?” tanya Jo penasaran.


“Yang kalah diner sama homo,” jawab Kasep.


Kevin menarik napas panjang, berharap Agus bisa menjaga kehormatannya dan perlomabaan skor seri, jadi nggak ada yang bakalan diner-dineran.


"Oh, jadi itu hukumannya, diner sama homo?" mata Jo tampak berkilat sambil menatap Kevin.


Kevin hanya meliriknya sekilas, sambil menegak Aquanya sebotol lagi untuk menenangkan hatinya


"Mau di resto mana Kev?" tanya Jo, optimis Kevin akan kalah telak 2 : 0.


"Ohok ohok!!" Kevin langsung tersedak.


"Gue sih yang mana pun jadi, temen lo manis juga soalnya," gumam Jo sambil berbisik ke arah Kevin.


"Lu orangnya 'mauan' ternyata. Naekin level dong jangan murah gitu," Kevin menatap Jo sambil berkacak pinggang dan berbicara dengan suara rendah.


"Kalo 3some aja gimana?" bisik Jo.


"Mau gue tendang lagi nggak? Kali ini tepat di bola lo," bisik Kevin dengan nada mengancam.


"Hehe, okeee," Jo mengangkat tangannya, tanda menyerah.


"Kenapa pada bisik-bisik bro?" Kasep memiringkan kepalanya.


Tak berapa lama, Agus pun datang.


"Assalamu'alaikum!" serunya sambil melambaikan tangan. Cowok itu tampak ceria.


"Ini dia targetnya!" seru Kevin sambil berlari menghampiri Agus, lalu menariknya dan menggiringnya mendekat. Sampai-sampai Agus kaget karena Kevin sangat bersemangat menyambut dirinya.


"Lo masih..."


"Anu... Pada laper nggak?" Dian muncul dengan membawa tas kresek, isinya sterofoam berisi bubur.


Hal itu menghentikan kalimat Kevin, membuat cowok itu langsung pucat seketika, sementara Kasep ternganga shock dan memegangi kedua pipinya.


"Ke-kenapa- kenapa lo di-disiniiii?" gumam Kevin menunjuk Dian bagaikan melihat setan.


"Eh, hehe," Agus membebaskan diri dari cengkeraman Kevin lalu menghampiri Dian dan membantunya menenteng tas kresek.


Dian menatap Agus malu-malu.


Pemandangan terburuk bagi Kevin.


Pemandangan romantis bagi Kasep.


Pemandangan 'entahlah' bagi Jo. Yang jelas dia nggak dapet bubur tapi bisa mengendus adanya 'kemenangan' di pihak Kasep.


"Tadi sebenarnya mau langsung ke sini, tapi di jalan kita laper jadi ngantri bubur dulu. Lagian pada ngedadak sih ngajakinnya," kata Agus.


"Bukan itu yang gue tanya Gus!!" jerit Kevin frustasi.


"Eh? Loh?" Agus kebingungan.


"Jadian nih ceritanya?" tanya Kasep langsung.


Dian menunduk, wajahnya merah.


Kasep terbahak sambil bertepuk tangan "Double Shot !!!" seru Kasep senang.


Kevin?


Muntah di rumput.


*


*


"Gue dijadiin bahan taruhan?! Tegaaaa," gumam Agus setelah mendengar penjelasan Kasep.


"Itu idenya dia, dia sendiri yang kalah! Hoki lo hampir habis Kev!" seru Kasep senang.


Kevin menegak habis aquanya.


"Terus itu siapa?" pandangan Agus ke arah Jo, yang sedang mengobrol dengan Dian.


"Itu Kadiv HRD di Amethys Tech, temennya Kevin," kata Kasep.


"Waah, akses langsung kita masuk Amethys dong! Kenalan lo bonafit semua Kev! Untung gue temenan sama lo!" sahut Agus.


"Gue yang sial melulu temenan sama lo pada!" gerutu Kevin.


Jo akhirnya menghampiri mereka,


"Saya pulang duluan ya," pamitnya.


"Pak, saya besok titip CV ke Kevin ya Pak, jadi OB atau sekuriti juga ga masalah Pak!" Kasep berdiri sambil menjabat tangan Jo.


"Oke, nanti saya pendekatan ke atasan. Asalkan Kevin nggak kabur aja waktu diner sama saya. Kalo dia kabur, saya batalin,"


"Diner sama Pak Jo?" tanya Kasep bingung.


"Dia kalah taruhan kan?" tanya Jo.


"Iya sih, tapi kenapa harus sama Pak Jo, katanya dinernya sama homo,"


Kevin diam dan hanya menegak habis botol aqua ke... 6. Iya ya, Author nggak ngitung. Banyak minum air putih dia, untuk ketenangan batin.


Jo tersenyum simpul.


Kevin mengguyur sisa air aqua ke kepalanya yang hampir menguap.


Mandi sekalian dah.


Kasep dan Agus menatap bergantian antara Kevin dan Jo. Kini keduanya makin bingung.


"Oke, gue udah kirim lokasi tempat dinernya ya Kev, jangan kuatir kali ini gue traktir. Tempatnya romantis kok. Nanti malam kan? Dandan yang manis ya! Bye semuaaaa," dan Jo kembali joging ke arah pintu keluar GBK.


Kevin sesak napas.


Kasep dan Agus terpekik kaget, karena baru sadar kalau dari tadi...


"Gue pamerin pistol gue ke diaaaa!!!" Jerit Kasep frustasi.


Kevin menunduk hampir nangis.


"Pantesan lo nggak mau keluarin joni lo semuanya! Pantesan lo keliatannya ketakutan waktu dia dateng!! Sumprit lo Kev! Babiiiiii!!" seru Kasep sambil mengguncang-guncang kerah kaos Kevin.


"Tetep aja gue yang kena," gumam Kevin pasrah.


"Lo emang pantesnya kena!! ***** gue kepampang jelas lagi ngegambar hello kitty! Bangs-aaattt!!!" jerit Kasep.


"Bodo ah..." gumam Kevin lagi.


"Lo berdua karma sama gue," sahut Agus sambil mendengus kesal.


"Ini semua salahnya," Kevin nunjuk Dian.


"Hah? Kok salah aku?" Dian protes.


"Kalo dia nggak kasih ide mengenai urinoir, semua ini nggak bakalan terjadi! Lo juga Gus, kenapa lo nggak jaga kehormatan lo,sih?!" seru Kevin.


"Lah bagus dong! Ntar gue yang kencan sama si Jo! Biar aja Agus nggak perjaka lagi yang penting gue selamet!!" seru Kasep.


"Ya gue kan disodorin sama Kevin, enak di kita, Sep," sahut Agus.


"Pokoknya lo jangan kabur, biar gue diterima kerja!" seru Kasep ke Kevin. "Hukuman karena joni gue keliatan!"


"Makan tuh kecombrang," desis Agus.


"Tapi gue kaget sih, ternyata Pak Jo belok," desis Kasep.


"Padahal ganteng banget yak, macho pula. Gayanya malah lenjean si Kevin," kata Agus.


"Ck!" decak Kevin kesal. "Gue pulang duluan ya, mau beli semprotan merica sama stuntgun di ITC Mangga Dua," gumam Kevin sambil berjalan lunglai ke arah pintu keluar.


Dan jadilah Pembaca,


Malam itu, hari-hari penderitaan Kevin dimulai.


Dengan menghela napas, menaiki lift ke lantai 56 di Gedung Menara BCA, Kevin bermaksud menuju restoran mewah terkenal yang harga menunya bisa buat bayar token listrik sebulan.


Restoran yang jenis pemandangannya bisa bikin suasana hati romantis dan melamar si belahan jiwa.


Gagal sudah niat Kevin membawa Nirmala kesini kelak kalau mereka bertemu, Jo sudah mencemari pikirannya duluan.


Mana mereka harus mendokumentasikan 'kencan' mereka kali ini.


Di tas Kevin sudah ada semprotan merica level 15, bikin mata setengah buta selama beberapa hari. Sayang sekali Stuntgun dilarang masuk ke dalam gedung, jadi ia tinggalkan di lobi. Tapi dia sudah berpesan ke sekuriti agar membantunya kalau sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi.


Dari kejauhan Jo melambaikan tangan padanya. Kevin tidak membalasnya dan hanya berjalan lesu ke arah Jo.


"Hei, sayang," sapa Jo sambil menyeringai.


"Diem lo," gumam Kevin frustasi.


"Lo pikirin deh, kita tuh jodoh banget loh, mending lo nyerah aja,"


"Gue laporin Bu Susan,"


"Ih, dasar bocah, maennya lapor-laporan," ejek Jo.


"Gue laper," gumam Kevin.


"Iyaaa, gue dah pesenin. Sensi banget sih," Jo hanya cekikikan.


Sejenak mereka hanya berdiam diri sambil menikmati makan malam.


Sampai saatnya Jo bertanya,


"Si Dian anaknya Mami ya," desis Jo.


"Iya,"


"Kasihan loh dia, broken home,"


"Ya Mami kan memang ibu tirinya,"


Jo menghentikan kunyahannya, "Masalahnya lebih besar dari itu. Sampai Dian tega ngelaporin Mami ke polisi, itu berarti mereka punya konflik internal,"


"Hem, gue nggak berniat ikut-ikutan sih, gue mau berhenti dari dunia itu," kata Kevin.


"Yah, gue harap lo berlaku baik sama Dian. Gue sering denger Mami ngomong kasar ke tu anak, udah kayak budak aja dianggapnya."


"Trus?" Kevin tampak tertarik.


"Mami itu pelakor, dan dia bikin ibunya Dian frustasi. Lalu sakit dan meninggal. Akhirnya Papanya Dian nikahi Mami. Dian kayaknya berusaha mendukung Papanya dengan mendekat ke Mami, tapi Mami kayak muak karena tampangnya Dian mirip banget sama ibu kandungnya," kata Jo.


"Wanita memang racun dunia,"


"Iya, penuh tipu muslihat. Karena itu gue lebih nyaman belok," Jo menyeringai.


"Lo nggak serius suka sama gue kan?" Gumam Kevin.


"Gue punya 'istri' kok," desis Jo.


Kevin langsung mual.


"Tapi siapa sih yang bisa nolak elo," sambung Jo.


Kevin menegak winenya sekali tenggak.