Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
Teaser After Married


Wana cemberut sambil membalik ceplok telornya.


Lalu tetap cemberut saat menuang jus ke dalam gelas.


Dan tetap cemberut saat menyuguhkan nasi goreng di atas meja.


Sambil memijat pinggangnya ia duduk perlahan di kursi makan, lalu mengurungkan niatnya untuk duduk disana.


Dan ia pun membawa piring nasi gorengnya ke sofa, duduk dengan perlahan, mendesah lega, dan makan dengan... Tetap cemberut.


Tidak biasa wanita itu makan demgan wajah muram.


Sambil mengunyah, ia menatap sinis ke arah suaminya. Arthasewu Connor, yang juga sedang makan di meja makan sambil menyeringai padanya.


"Kamu bilang nggak sakit!" gerutu Wana.


"Aku bilang sakit sedikit," sahut Artha.


"Itu sakit banyak!" sahut Wana. Protes.


"Tapi kan awalnya saja, toh akhirnya semalam nggak terasa, baru terasa pas paginya kan?"


"Sama aja!" Gerutu Wana.


"Baru juga satu gaya, belum aku minta gaya lain udah cemberut," Artha terkekeh.


"Hah...?! Awas kamu ya minta gaya aneh-aneh!"


"Hm, referensi yang dikasih temen kamu lumayan bervariasi loh, ada yang jungkir balik segala,"


"Jungkir balik? Referensi siapa itu?!" Wana menghentikan kunyahannya dan melotot.


"Si berondong,"


"Kevin?! Jangan! Jangan! Jangan! Jangan pake punya dia! Aku tanya kak Mala aja!" Wana langsung panik.


Artha terkekeh senang, ia semakin suka melihat Wana panik.


Di dalam ingatan pria itu terbayang tubuh mulus Wana yang seputih pualam. Belum tersentuh siapa pun kecuali dirinya, murni, polos dan menggiurkan.


Tidak butuh waktu lama sampai ia mencicipi setiap jengkalnya dengan lidahnya, sementara Wana hanya bisa pasrah di bawahnya.


Memang di benak Artha sekilas tersirat kata-kata penuh kekuatiran, 'jangan pingsan, jangan pingsan' tapi selanjutnya setelah satu kali jilatan ia akhirnya mulai berpikir 'sudahlah dia mau pingsan juga nggak masalah, lanjutkan!'.


Sampai akhirnya Artha perlahan memasuki tubuhnya dan Wana meringis kesakitan, namun sepertinya gadis itu sepenuhnya percaya padanya.


Jadi Artha tidak berhenti. Ia menikmati setiap gerakannya.


Entahlah Wana.


Namun dilihat dari pipi Wana yang bersemu merah setiap ia melirik Artha, dipastikan dia lumayan senang dengan perlakuan Artha. Dalam jeritan dan des-ahannya tadi malam, ia memeluk Artha dengan erat dan dengan cepat menyesuaikan gerakannya. Bahkan berani mencium Artha lebih dulu.


Walaupun kelihatannya mereka sama-sama menikmati keintiman, nyatanya saat pagi menjelang, gadis... eh, wanita itu malah cemberut dan menatap Artha sinis.


"Nanti malam lagi ya?" pinta Artha.


"Nggak!" jawab Wana tegas.


"Eh, nggak boleh loh nolak permintaan suami, dosa,"


"Itu kan di Islam, pas begini saja bawa-bawa begituan, aturannya agama lain pula. Kasihlah aku waktu buat healing!"


"Iya sana ke mall sama mama, habisin tuh kartu debitku," dengus Artha.


"Nah gitu dooong!" Akhirnya Wana tersenyum sumringah. Di pikirannya :


Akhirnya bisa beli cha*time selusin buat persediaan nanti sore nonton drakor sama mama.


"Tapi main sampe paginya," sambunng Artha.


"Serakah amat sih! Emang berapa isi kartu debit kamu?!"


"5 jutaan,"


"Beuh! Si Stela dikasih semilyar sebulan, aku cuma 5 juta?!"


"5 juta buat makanan kan cukup. Aku tahu kamu pasti cuma mau habisin buat makan doang,"


Wana tak menjawab, karena Artha memang benar.


Tak lama ponsel Artha berbunyi.


Dari Chandra.


Tumben weekend telepon, biasanya aku yang telepon.


"Kenapa kamu?" sapa Artha.


"Pak, minggu depan saya menikah ya,"


"Hem, memang sudah dapat restu dari Yuni?"


"Nggak dapat sih,"


"Iya, katanya saya kurang kaya, anak yatim, dan bukan pengusaha. Tapi kami cuek saja kok tetap jalani semuanya,"


"Sialan si Yuni!" geram Artha. Mendengar Yuni menghina asisten kesayangannya membuatnya naik pitam.


"Yaaah, dia berharap nanti setelah keluar penjara dia memiliki menantu yang bisa membiayainya operasi plastik dan mengencangkan area-area sensitifnya. Juga membeli rumah di kawasan Kebayoran, dan naik jet pribadi ke Paris,"


"Dia ngomong begitu?!"


"Begitulah,"


"Ya sudah kamu pindah rumah saja sana ke Singapore! Kita punya cabang di sana! Apartemen saya hibahin ke kamu dan Stela! Ini terakhir kali kamu ketemu Yuni, biar saja dia luntang-lantung di jalanan sendirian!!"


"Saya kan kerjanya di Jakarta Pak," gumam Chandra.


"Ya kamu jadi Kepala Cabang lah Chandraaaa,"


"Aih! Kok jadi enak yaaa," desis Chandra sambil terkekeh.


Wana menatap Artha dengan heran. "Kamu gampang banget kepancing sih kalau urusan Bu Yuni,"


"Aku masih dendam dia pukulin kamu sampai luka-luka! Akan kubuat dia menderita seumur hidup!"


Wana menyeringai.


Di seberang telepon, Chandra yang mendengar pun tersenyum bahagia.


Ternyata kalau memang rejeki nggak kemana. Akhirnya bisa lepas dari Yuni, jadi Kepala Cabang seperti impiannya dan yang penting, jauh dari si silver angkuh tapi baik hati itu.


"Mas Chandra, Stela ngidam apa?" tanya Wana sambil merebut ponsel Artha.


"Itulah yang saya kuatirkan Mbak, ngidamnya bukan makanan," kata Chandra.


"Tapi?"


"Dia... Yah," Chandra menghela napas, "Dia bilang nggak bisa kalau nggak diomelin Kevin seharian. Dia harus denger suara omelan Kevin,"


"Hah?!"


"Ini aja dia maksa Kevin buat datang ke kantor,"


"Heh?!"


"Masalahnya, Kevinnya lagi sibuk sama Bu Dierja, jadi nggak bisa datang. Jadinya Stela lagi galau banget,"


"Sibuk sama Bu Dierja maksudnya apa?! Bu Dierja itu Kak Mala kan?!"


"Loh? Mbak Wana nggak tahu kalau mereka pernah..." Chandra langsung diam tidak melanjutkan kalimatnya.


"Hah? Pernah apa??" desak Wana.


"Nggak jadi," gumam Chandra pelan.


"Mas Chandra?! Pernah apa nih maksudnya?!" Wana mulai emosi.


"Ngga jadi, jangan libatkan saya. Okeeee saya tutup yaaaa,"


"Mas Chandra?!"


Tut tut tut... Sambungan terputus.


"Maksudnya apaaaa???" Jerit Wana sambil menatap Artha.


Artha hanya menyeringai. "Hayo looo... Hehe,"


"Kamu jangan mesem-mesem! Kutelpon Kevin,"


"Nggak bakalan diangkat," gumam Artha.


"Kok kamu tahu nggak bakalan diangkat?!"


"Sudahlah, sayang. Mereka kan sudah dewasa, sama-sama single pula,"


"Maksudnya apa ituuuu!!" jerit Wana.


"Hehehe," kekeh Artha.


*


*


Kisah Artha dan Wana akan tetap berlanjut di Season 2, namun mereka jadi cameo.


Setelah ini, fokus kisah akan berlanjut ke si Pemikat yang lain yaitu Kevin Cakra. Perjalanan hidupnya cukup epic, tentang pemuda yang mencari cinta sejati namun didapatkan dengan cara yang nyeleneh.


adegan per adegan akan disesuaikan dengan genre pembaca Noveltoon, sehingga Author tidak bisa janji akan menulis hal-hal 21+ yang detail, namun unsur cerita akan tetap komedi.


Terima kasih pembaca yang sudah tetap setia memberi Author hadiah, like dan komennya. Semiga novel Author akan tetap bisa menghibur semua.


Big Love,


Aku yang sukanya makan gaji buta.