Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
Napas Sebentar


Wana terisak saat dokter di IGD membalut luka cakaran di lengannya, juga menorehkan sejenis salep di luka lebam di kening dan pinggulnya.


"Visum semuanya," geram Artha.


"Sudah Pak," jawab Bu Dokter. "Namun untuk pengobatan lebih lanjut, kita tunggu hasil rontgent dulu ya Pak. Dilihat secara kasat mata tampaknya Mbak-nya masih cukup kuat. Memang pegal dan perih, nanti kami beri resep untuk menenangkan,"


Sementara Wana hanya mendengarkan sambil sesenggukan.


Bukan masalah perihnya, tapi masalah sakit hatinya.


Kenapa sih banyak yang menuduhku pelakor?! Memangnya tampangku meyakinkan untuk jadi pelakor ya?!


Begitu pikirnya.


"Perih ya Sayang? Sabar sebentar ya, aku minta maaf nggak langsung nolong," Artha menghapus air mata yang turun membasahi pipi Wana.


Diperlakukan selembut itu, tangis Wana malah makin kencang.


"Duh, sakit banget ya?" Artha memeluk Wana dan mengecup dahinya. Sementara Bu Dokter membantu Wana mengenakan pakaiannya kembali dengan hati-hati.


"Bukan gituuuuuu huueeee!!" seru Wana.


"Hasil rontgent bisa dipercepat Dok?" tanya Artha.


"Ini sudah kami percepat Pak, tunggu sekitar 10 menit lagi ya,"


"Yang mana yang sakit?" bisik Artha ke Wana.


"Di dalam sini," Wana menunjuk dadanya sambil terisak.


"Sial! Dada kamu kena tendang juga?! Aku akan pastikan Yuni mendapat hukuman maksimal!"


"Bukan itu... Aku sakit hati," gumam Wana sambil memeluk bantal, "Lagi-lagi aku dituduh pelakor! Naseeeebbb!!"


Artha menghela napas.


Ia langsung merasa tak enak.


"Maaf ya, semua gara-gara aku,"


"Aaku sebeeeel! Aow! Pelan-pelan dok!" keluh Wana.


"Iya Mbak, habis ini kan cakaran, itu cat kukunya sampe tertinggal saking kuatnya nyakar," sahut Bu Dokter.


"Hueeee periiihhh!" seru Wana sesenggukan. "Saya nggak bakal sampe diamputasi kaaan??"


"Ya jangan mikir kejauhan dulu kali Mbak," gumam Bu Dokter.


"Itu si Yuni kukunya steril nggak?! Ada yang nyelip nggak?!" tanya Wana kuatir.


"Saya lakukan prosedur pengecekan darah di lab ya," heran si Bu Dokter super duper sabar menghadapi Wana.


"Om, kamu balas mukul si tante menor?" tanya Wana.


"Maaf sayang aku nggak lakukan itu, jadi aku langsung gendong kamu. Lumayan sulit cari celah karena Yuni begitu membabi-buta, makanya agak lama actionnya. Memukul wanita tak ada dalam kamusku kecuali wanita jadi-jadian," desis Artha.


"Bagus Om, aku juga nggak balas mukul. Biar prosesnya lebih maksimal!"


"Ha?"


"Proses penyidikan, tadinya aku mau balas pukul, tapi selama dia tak pakai senjata tajam aku tahan saja dulu. Karena aku percaya kamu pasti akan datang,"


"Nanti kutanyakan ke penyidik, apakah itu bisa dipakai untuk memberatkan Yuni di pengadilan atau tidak. Yang jelas saksinya banyak kalau dia melakukan penyerangan dan penganiayaan," gumam Artha.


"Adudududuh!! Sakitt..." keluh Wana saat Bu Dokter menorehkan antiseptik di luka jahitannya.


"Dok, ini ada titipan untuk pasien Nirwana Dierja," seorang suster masuk ke dalam bilik dan membawakan segelas bobba ukuran large. Ada tulisan di gelas plastiknya.


Tangisan lo kedengaran sampe keluar, dasar manja!


By : Kevin si Karismatik


"Bedul!" umpat Wana.


Namun senyumnya langsung terpatri saat sedotan pertama. "Enaaaaak!" gumamnya.


"Wah ini sih nggak perlu resep obat, pakai bobba sudah cerah lagi mukanya," Bu Dokter menyeringai.


Artha mengernyit melihat tulisan di gelas plastik.


Kevin? Lagi-lagi dia. Mau apa bocah itu di sini?!


"Aku ke depan sebentar," kata Artha sambil beranjak.


"Jangan lama-lama," gumam Wana sambil dengan sukacita menyeruput bobbanya.


Dan Artha pun keluar dari bilik menuju deretan kursi tunggu yang berada di luar IGD.


Di sana ternyata sudah ada Chandra dan Kevin yang sedang berbincang. Mereka berdua menoleh ke arah Artha.


"Kamu ngapain di sini?" tanya Artha tembak langsung ke arah Kevin.


Kevin mengangkat ponselnya, memperlihatkan history panggilan dari Wana, lima kali miskol. "Emergency call, Om," desis Kevin.


"Saya juga malas ke sini, lagi seminar di kampus malah dapat panggilan disuruh beliin bobba," gerutu Kevin. "Nggak taunya Nyai Dasima berbuat kehebohan lagi,"


"Saya pikir sebaiknya Mas Kevin di sini Pak, karena jasanya terhadap Bapak lumayan besar," kata Chandra.


Saat mendengar kabar penyerangan Wana dari Bira, dia langsung meluncur ke rumah sakit. Karena kebetulan jarak antara rumah sakit tempat pengecekan DNA dengan rumah sakit tempat Wana dibawa, berbeda lokasi.


"Jasa? Maksudnya?!"


Chandra mengangguk sambil melirik Kevin, "Dia yang menemukan laporan DNA di tas Bu Yuni, lalu mendokumentasikannya dan membawanya kepada kami. Dari situ saya baru bisa mengkonfirmasi kebenarannya barusan,"


Artha mengangkat alisnya. Lalu kembali menatap Kevin. Raut wajahnya antara tak percaya dan heran kenapa Kevin melakukan hal itu.


Karena di pemahaman Artha selama ini, tak ada manusia yang tidak mengharapkan balas budi. Sampai Kevin rela berbuat seperti itu, apa yang sudah Wana tawarkan ke cowok di depannya ini? Begitu pikir Artha.


"Hal remeh kok, saya lakukan karena si tante berniat mencelakakan Wana. Nggak ada hubungannya sama si Om," kata Kevin, dia jengah karena Artha menatapnya dengan sinis.


Dari awal memang pertemuan mereka sudah tak berkesan, Pikir Kevin.


"Oke, saya pulang duluan. Bobbanya udah diterima kan?" dengus Kevin sambil beranjak.


Aura sekitar yang seketika tampak mencekam membuatnya langsung tidak betah berlama-lama di sana. Ia berjalan ke arah pintu keluar.


"Hey, tunggu dulu, bocah," panggil Artha.


Kevin menghela napas dan menghentikan langkahnya, "Kenapa Om? Mau nitip Bobba juga?!"


"Sini kamu, saya mau bicara," kata Artha.


*


*


"Chandra!" Stela terburu-buru setengah berlari menghampiri Chandra yang masih duduk santai di depan IGD, "Katanya ada yang mati?!" seru Stela heboh.


"Iya, yang mati adalah perasaan Pak Artha. Mati rasa,"


"Aku nggak bercanda!"


Chandra sambil tersenyum geli menghela napas, "Untungnya nggak ada yang mati, semua masih diberi kesempatan tobat sama Yang Maha Kuasa,"


"Aku dengar dari Risman, Mama bilang ke Wana mati! mati! Gitu,"


"Iya itu yang mama kamu bilang, dan pukulan bertubi-tubi dari mama kamu. Ini rekaman CCTVnya di lokasi kejadian. Wana bahkan sama sekali tidak membalas pukulannya,"


Stela menerima ponsel Chandra dan mengernyit ngeri saat menonton adegan penyerangan barusan.


"Astaga, Mamaaaa!" Matanya berkaca-kaca. "Kok bisa beginiiii?!"


"Mama kamu kan memang tabiatnya begitu, meledak-ledak. Kamu pun sering merasakannya kan?"


"Darimana kamu tahu?"


"Lebam di wajah masih bisa ditutupi makeup. Lebam di tubuh tidak," kata Chandra.


Stela hanya menatap Chandra dengan sendu, lalu kembali menunduk untuk menonton rekaman.


Selama ini kelakuan Stela yang arogan memang hanya pelampiasan rasa frustasinya. Dia tak bermaksud menyakiti siapa pun tapi semua kata-kata menyakitkan yang keluar dari mulutnya terjadi secara otomatis.


Stela sudah mencoba menutupi luka hasil kekerasan yang dilajukan Mamanya, namun tampaknya mata Chandra cukup jeli. Padahal selama ini mereka melakukannya tanpa benar-benar melepas pakaian, memang tak ada gunanya menyembunyikan sesuatu dari si herder.


"Dan tolong hentikan air mata buaya kamu, kamu tidak benar-benar bersimpati ke Mama kamu, kok," kata Chandra.


Stela mendengus, "Yah kan paling tidak ada formalitasnya," cibir Stela sambil menghapus air matanya. "Yang begini bisa dipenjara agak lama tidak? Kulihat Wana sama sekali tak membalas,"


"Bisa tahunan kayaknya, kalau korban menuntut,"


"Pasti papa akan memprosesnya seberat mungkin kan?!"


"Kalau melihat dari kebiasaannya selama ini sih, sudah pasti. Hehehehe,"


"Ada kejadian begini kok kamu kayaknya seneng banget?"


"Hem... Pak Artha minta pernikahannya dipercepat dan memakai WO dari kantor," Chandra menyeringai lebar.


"Yah aku juga sudah tahu hal itu, sudah bukan urusanku," desis Stela.


"Tapi jadi urusanku..."


"Bukannya sudah biasa?"


"Bukan masalah sibuknya. Tapi.. Masalahnya aku menang taruhan sama Bira," Chandra menghela napas panjang membayangkan kegalauan Birawa yang fotonya dengan daster di kantor seharian akan terpampang di buletin online kantornya. "Moment itu akan dikenang sepanjang masa, sampai anak cucunya nanti lahir, hehehehehehe!!" dia tertawa licik.


"Ha? Moment apa?"


"Aku bertaruh dengan Bira, kalau Mbak Wana akan resign dalam waktu 3 bulan karena tak tahan dengan kelakuan Bapak. Ini malah mau menikah,"


"Bukannya kalau menikah dengan sesama orang kantor dia harus resign ya?"


"Ya itu masalahnya, hehehehe!" sahut Chandra terkekeh geli.