Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
Stela Si Angkuh Yang Mulai Jinak


(Warning, episode ini mengandung iklan)


Tululululut!


(Bunyi nada sambung telepon)


Tululululut!


"Hello?" suara seorang wanita dari seberang telepon sana.


"Loh? Loh loh loh?? Ini bukannya nomer telepon Bang Virus ya?!" Sembur Bu Yuni Bahana sambil memicingkan mata.


"Ow, benar sih. Tapiiii... ehm! Virusnya lagi di kamar mandi tuh,"


"Kamu siapanya?!"


"Ibu ada pesan untuk Virus? Saya asistennya nanti saya sampaikan," wanita dengan logat kebule-bule namun Bahasa Indonesianya lumayan lancar itu tampaknya berusaha mengalihkan perhatian Yuni mengenai statusnya. Lagipula, buat apa juga Yuni diberitahu.


"Iya saya ada pesan buat dia, nama kamu siapa? Nomer KTP kamu berapa? NPWP berapa?! Biar kalo nggak disampein saya bisa cari kamu!"


"Ibuuuu, kami sedang di daerah Nevada ya, di sini kami tidak punya KTP dan NPWP. Adanya nomor jaminan sosial, Bu Cantiiik," Sepertinya wanita di seberang berusaha bersabar semaksimal mungkin.


"Ya nomer apa kek yang bisa saya lacak! Saya butuh Bang Virus buat stalking! Pelakor yang sudah merebut bapaknya anak saya! Kalau perlu tembak di tempat tuh awewe!" seru Yuni.


(Ish! Nekat telepon pembunuh bayaran.)


"Ini maksudnya Bang Virus disuruh jadi stalker atau assasin, sih?! Kok muter-muter penjelasannya?!" Wanita di seberang telepon terdengar malas menanggapi Yuni.


"Pembunuh bayaran! Bukan telor asin!!"


"Siapa yang bilang telor asin?! Lagipula, memangnya situ berani bayar berapa?"


"10 juta,"


"Euro atau Rupiah?"


"Ya Rupiah lah! Transport dan makan bayar sendiri ya!"


"Hah?! Nyawa orang cuma dihargai 10 juta? Ibu gila ya?!"


"Heh!! Enak aja kamu bilang saya gila! Kurang aja kamu ya!! Siapa sih kamu hah?!"


"Heh denger ya bu! Kita itu udah pensiun jadi pembunuh bayaran! Lagian murah amat kerjaan penuh resiko begitu harganya cuma 10 juta! Dipikir kita nembak ayam?!" Si cewek di seberang malah balik marah.


Lalu dari belakang terdengar suara pria, "Vie, time's running out! A Photoshoot in five," (Vie, waktunya mepet, photoshoot lima menit lagi.)


"Ok, just a minute, i just handle a psycopath," desis si wanita. (Bentar, gue lagi nanganin sikopet).


"Awas nelpon lagi, saya laporin polisi! Saya block langsung!!" Sembur Vie.


Tuut... Tuut... Tuuut!!


"Eh, Kurang ajiiiarr! Kok teleponku ditutup! Siapa nih cewek?! Arrrgh!!" Umpat Yuni sambil mencak-mencak.


Dan gagallah rencananya untuk melakukan hal-hal berbahaya ke Wana.


(Iklan : Kalau pembaca lagi senggang, silahkan baca Chat Story 'Reinkarnasi Menjadi Wanita Kuat' karya Wenny Wulandari. Ceritanya mengenai assasin bernama Virus yang meninggoi lalu arwahnya masuk ke tubuh artis wanita bernama Vie.)


*


*


Di lain tempat,


Chandra sedang sibuk memicingkan matanya di depan layar komputer saat seorang operator menemuinya.


"Sore Pak Chandra," sapa si operator tampak enggan.


"Hmm... " Chandra hanya bergumam dengan wajah tetap serius menatap layar komputernya.


Hih! Jutek buanget dah tampang si ganteng! Keluh si Operator dalam hati. "Ada yang cari Pak Artha, namanya Stela,"


"Stela sapa?" gumam Chandra masih serius kerja.


"Stela Bahana namanya, katanya dia... " Si operator tampak membuka lembaran notes kecil contekannya, "Eeeh, nah ini dia catatanku... Ehem-ehem! Katanya dia anak semata wayang Pak Artha dari pasangannya yang bernama Yuni Bahana, pewaris tunggal yang sah kerjaaan bisnis ini, Putri kesayangan yang paling dimanja ibunya dengan keanggunan paripurna, darah daging Pak Artha dengan DNA Crazy Rich senantiasa mengalir di nadinya," lalu si operator berhenti membaca.


"Tulisan selanjutnya nggak kelihatan Pak Chandra, jelek banget soalnya. Kayak dokter nulis paracetamol ke apoteker cuma bentuknya P terus garis lurus gitu," kata si mbak-mbak operator.


"Soal dia anak kandung masih diperdebatkan," gumam Chandra sambil tetap serius.


"Yah, bukan urusan saya sih. Masalahnya dia bikin heboh di operator bawah. Kan saya nggak enak sama pengunjung. Padahal kami sudah bilang kalau Pak Artha lagi pergi. Dia tak percaya," kata si Operator.


"Haaaaa...h" Chandra menghela napas malas. "Padahal saya lagi bikin laporan budgeting nih, ganggu aja deh," gumamnya kesal sambil beranjak dari duduknya.


"Lu mau kemana?" Bira baru datang dari dalam lift dan hendak duduk di kursinya saat berpapasan dengan Chandra si koridor.


"Stela di bawah," desis Chandra.


"Cewek yang kenal dimana lagi? Pacar lo banyak banget, mana gue inget Stela yang mana,"


"Pacar, heh..." Chandra hanya mendengus sambil tersenyum sinis.


"Oh bukan?"


"Ini Stela yang 'itu'," sahut Chandra.


Bira langsung mengerti. Stela si trouble maker, anak Bossnya. "Hem, selamat menghadapi cobaan hidup," Bira mundur dan melambaikan tangan dengan rasa syukur karena bukan dia yang harus menemui Stela.


Chandra hanya berdecak. Bira benar, lebih baik Chandra saja yang menghadapi Stela. Karena Bira sudah pasti akan mati kutu kalau menanggapi sifat angkuh Stela.


Jadi Chandra berusaha untuk menemui 'si pengganggu' sendirian saja.


Ada apa sih sore-sore begini sampai datang ke kantor ?! Gerutu Chandra dalam hati. Ini bukan pertama kalinya Stela datang. Biasanya karena disuruh ibunya. Sekedar memberi hampers ke Artha, tapi ujung-ujungnya minta duit buat ini-itu. Biasanya yang menemui Stela malah bukan Artha, tapi Chandra atau Birawa.


Kalau tak salah, kalau ada keperluan Artha lebih baik menemui Stela di luar kantor. Pria itu biasa datang ke kampus Stela untuk sidak memeriksa kegiatan anaknya.


Chandra sendiri malah belum pernah bertemu Yuni, ibu Stela.


Kalau melihat dari suramnya wajah Big Boss setelah bertemu Anaknya sendiri, sepertinya Chandra lebih baik tidak pernah bertemu Yuni. Anaknya saja sudah begitu, apalagi ketemu emaknya?!


"Papa?" tanya Stela langsung, saat Chandra tiba di ruang tunggu VIP


"Pergi," jawab Chandra pendek sambil duduk di depan Stela.


"Bohong," gumam Stela.


Chandra menunjuk ponsel Stela dengan dagunya, ia tidak acuh, "Telpon aja sendiri,"


"Ck! Kalau aku sudah jadi Boss kamu bakalan kupecat!" ancam Stela.


"Nggak bakal," gumam Chandra.


"Apa?!"


"Kamu nggak bakal jadi Boss. Kalau pun iya, tinggal hitung waktu aja sampai bangkrut," Chandra terkekeh sinis.


Stela menarik napas panjang, lalu mendengus kesal. Entah bagaimana, ia percaya Chandra. Ia ke kantor papanya hanya untuk formalitas.


"Mau apa?" tanya Chandra, tetap bersikap dingin.


"Mau minta duit," gumam Stela pelan.


Stela mengangguk, "Mama pakai untuk arisan ini-itu. Ujung-ujungnya dia pake. Juga mau konfirmasi mengenai Wana,"


"Itu kan yang penting? Tentang Wana,"


Stela mengangguk. "Kamu tahu?"


Chandra mengangguk sambil menyulut rokoknya.


"Sejak kapan?" tanya Stela.


"Pastinya aku nggak tahu. Tapi, sebulan ini Bapak memang sibuk mengurusi Mbak Wana,"


"Kenapa harus dia?!"


Chandra mendengus, "Siapapun orangnya yang akan jadi pasangan Bapak, kalian berdua akan tetap panik,"


Stela diam.


Chandra pun diam sambil menghembuskan asap rokoknya. Sampai dia bosan lalu memanggil salah satu operator untuk minta dibikinkan kopi.


"Darimana Papa kenal Wana?" tanya Stela lagi.


"Aku disumpah nggak bilang," gumam Chandra. "Mau minum apa?" tanyanya lagi.


"Aku nggak haus,"


"Teh aja ya,"


"Aku bilang nggak haus," gumam Stela. Tapi Chandra tetap memesankan dibuatkan teh manis hangat untuk Stela.


Lalu pria itu mencondongkan tubuhnya ke Stela, "Bapak bilang, kalau kamu tidak mendapatkan ipk 3 koma di semester ini, kamu akan tinggal bersamanya dan belajar bagaimana cara mengelola sebuah perusahaan,"


"Iya dia sudah bilang,"


"Kamu tahu apa artinya itu?"


"Penjara,"


"Peluang," ralat Chandra.


"Bagaimana bisa semacam itu adalah sebuah peluang? Aku nggak suka belajar bisnis! Aku masuk ekonomi juga karena disuruh Papa,"


"Aku ngerti jiwa kamu lebih ke desain. Dari bisnis, kalau lulus kamu bisa lanjut belajar desain. Tapi tidak sekarang, Stela,"


"Kenapa sih Papa begitu jahat padaku? Kenapa dia tidak membebaskan aku melakukan yang kusuka?"


"Dia tidak ingin kamu jadi seperti Mama kamu,"


"Atau, karena aku bukan anak kandungnya?!"


"Kita tidak tahu hal itu," Chandra menyeringai, tapi tampaknya dari kilatan matanya, Chandra sudah tahu. "Yang aku tahu, kalau kamu benar-benar bukan anak kandungnya, semua tunjangan kamu akan langsung dihentikan,"


Stela menegakkan duduknya, tegang. Itu berarti ibunya akan histeris. Dan saat itu terjadi, yang ada hanyalah mimpi buruk.


"Seharusnya kamu bersyukur, Stela. Bapak memberi kamu peluang untuk mandiri," Chandra mematikan rokoknya. "Seharusnya kamu gunakan kesempatan itu. Agar kalau saatnya tiba, Pak Artha menikah, kalian berdua bisa mempertahankan gaya hidup hedon kalian,"


"Benarkah itu yang dia pikirkan? Atau itu cuma bisa-bisanya kamu saja?" ujar Stela sinis.


"Negatif thinking terus bawaannya. Mana bisa sukses," gumam Chandra semakin malas.


Setitik air mata jatuh ke pipi Stela,


"Apa sih sebenarnya salahku? Ha? Aku tidak seharusnya dilibatkan dalam urusan rumah tangga nggak jelas seperti ini,"


Baru kali ini Chandra melihat Stela menangis. Biasanya gadis itu menanggapinya dengan sombong dan angkuh.


Mungkin, Stela sudah putus asa. Atau bahkan shock saat mendapati Artha yang dingin malah berpacaran dengan temannya sendiri. Begitu pemikiran Chandra.


"Aku ... Aku bingung! Terus terang saja, aku juga tahu suatu saat hari ini akan datang. Tapi nyatanya aku belum siap!" Isak Stela sambil menopang dahinya dengan kedua tangannya ke meja.


Benar kan? Dia butuh teh manis. pikir Chandra.


Chandra sudah mengenal tabiat Stela. Dari awal mereka memang tak pernah akur. Tapi ia bukan Bira yang saat menghadapi Stela malah iya-iya saja karena bingung. Chandra memilih untuk tidak mengalah dan mengerjakan tugasnya sesuai yang diinstruksikan Artha. Yang jelas, ia tidak akan menjilat siapa pun. Semua disampaikan apa adanya.


Tapi, baru kali ini ia melihat Stela dalam kondisi terpuruk dan insecure seperti ini.


Pria itu menghela napas panjang. "Berapa yang kamu minta?" katanya pelan. Dana untuk Stela dititipkan Artha padanya. Karena Artha sendiri malas bertemu Stela.


Chandra ditunjuk sebagai pengatur keuangan atas nama Stela.


"Nggak usah, tas ini akan kukembalikan saja," gumam Stela.


"Hooo, baguslah. Mulailah hidup hemat,"


"Sepertinya aku butuh uang untuk menyewa sebuah apartemen, aku ingin tinggal terpisah dari Mama,"


Chandra mengangkat alisnya, "Sekarang? Kenapa?"


"Aku melihat brosur Pameran Wedding, Papa membawanya tadi dan memberikannya ke Wana. Kurasa konflik akan dimulai sebentar lagi. Aku tak ingin ada di sana saat semua terjadi,"


"Kamu sudah bosan jadi boneka,"


Stela mengangkat bahunya, "Yang jelas, aku bosan dengan gaya hidup mama. Hari ini saja dia ada janji sama berondong di hotel. Tapi masih saja ngotot mau mendekati Papa,"


Chandra memicingkan mata dan mencibir. Saat ini dia prihatin dengan keadaan Stela.


"Memiliki Mama yang sibuk dengan berondong dan perhiasan, memiliki Papa yang sibuk dengan baby-nya dan bersikap dingin. Mau jadi apa aku di masa depan," gumam Stela sambil tersenyum masam dan menyesap teh hangatnya.


Ia sudah lebih tenang sekarang. Wangi uap teh menghiasi pikirannya dengan hal indah.


"Suatu saat kalau kamu akan menikah, tolong cari pasangan yang mengerti kamu apa adanya. Jangan berpatokan dengan harta, karena semua itu bisa dicari. Kamu hanya perlu memperbaiki gaya hidup,"


"Yang mengerti aku apa adanya," gumam Stela mengulangi kalimat Chandra.


"Mungkin dua teman kecil kamu itu," tambah Chandra.


"Risman dan Feri menurut padaku hanya karena diiming-imingi gaji perbulan oleh mama. Aku juga tak yakin mereka ikhlas mendampingiku," gumam Stela.


"Mereka bukan pacar kamu?"


"Mereka hanya teman sejak kecil,"


"Kalau keuangan kalian morat-marit, kamu nggak punya teman, dong?"


"Lebih baik begitu," gumam Stela. Sebal rasanya karena Chandra selalu benar.


Chandra menopang dagunya sambil tersenyum ke Stela.


"Seandainya kamu bukan anak Bu Yuni, mungkin aku sudah naksir. Malas saja membayangkan punya mertua yang sifatnya toxic,"


"Hem, kamu satu-satunya yang mengerti aku apa adanya, ya? Kalau begitu, mengerti kan kenapa aku harus tinggal terpisah dari mama?!"


"Tinggal terpisah juga tidak menjamin sifat kamu akan berubah jadi lebih kalem,"


"Lagi-lagi kamu menyalahkanku, kerja kamu begitu terus. Kalau tidak menyindirku, menganggapku bego, ujung-ujungnya mengejekku habis-habisan,"


Chandra terkekeh sambil melipat kedua lengan di depan dadanya. "Aku hanya suka melihat Ratu Sejagat seperti kamu tidak berdaya karena lidah tajamku,"


Stela berdecak kesal.