
"Pak?"
Artha tetap fokus ke ponsel.
"Pak Artha? Anda mendengarkan kami, tidak?!"
Artha mengangkat wajahnya. "Tidak," sahutnya.
Si pengacara mencibir.
"Kalian harus lihat ini," kata Artha sambil meletakkan ponselnya ke tengah meja, di depan si pengacara.
"Pak, kami tidak punya waktu untuk hal lain, mohon menanggapi kasus ini dengan lebih serius karena..."
"Stela bukan anak saya," potong Artha.
Semua diam.
Lalu menatap layar ponsel Artha.
Dan beberapa detik kemudian, semua menatap Yuni yang pucat.
Sepucat tembok masih di dempul, belum di cat. Pucat tak merata.
*
*
Sambil bersiul-siul riang, Wana masuk ke lift untuk menuju lantai 50 lewat lift karyawan. Ia mendorong troli yang berisi peralatan pel dengan apron terpasang di dadanya.
Beberapa karyawan di dalam lift menatapnya saat ia masuk, lalu berbisik-bisik membicarakannya. Gosip kalau ia memiliki hubungan khusus dengan si owner sudah menyebar.
Wana tak acuh, malah siulannya semakin kencang.
Lift terbuka dan duo OG julid, Para sesepuh cleaning service, penguasa seluruh lantai kecuali ruangan Artha, Ajeng dan Lastri, masuk dari lantai 4.
"Hey cah ayu neng keneeeee," sapa Ajeng sambil mencubit pipi Wana.
"Kok pada belum pulang bu? Udah jam 10 loh," tanya Wana.
"Kita ambil lemburan dulu tadi. Lumayan lah buat dapur ngebul," kata Lastri.
"Aseeek, nanti malam beli sate padang dong?! Yang mewah dikit lah nyenengin suami!" goda Wana.
"Loh lah iyo! Tak beliin martabak yang telornya 3 sekalian!" sahut Lastri.
Mereka bertiga terkekeh.
Bahagia ala masyarakat awam : sederhana.
"Eh, tahu nggak, ada yang heboh di lantai 50!" sahut Bu Ajeng.
"Oh iya! Tadi pada ngomongin di lantai 4. Kamu harus denger yang ini, entah ya kamu tahu apa nggak," kata Bu Lastri.
"Apa? Apa?" tanya Wana.
"Mantannya Pak Artha datang bawa pengacara!"
Wana langsung membeku.
"Katanya dia sampai marah-marah ke Mas Bira! Pas Mas Chandra lagi pergi pula!"
Wana diam mendengarkan.
"Lah situ mending nggak usah ke lantai 50! Nanti malah ribet!" sahut Bu Ajeng ke Wana.
Wana mengernyit. Benar sih, tapi dia malah ingin tahu suasananya bagaimana di atas.
"Aku hadapi saja," gumam Wana.
"Perlu ditemeni tak? Kita kan sudah selesai jamnya, iyo toh jeng?!" tanya Lastri ke Ajeng.
"Oh bener! Yok kita rame-rame aja ke lantai 50!"
"Hemmmm serius mau temenin aku?"
"Tenang aja! Ada apa-apa tak 'hih'!" Bu Ajeng mengacungkan tinjunya ke udara.
"Sekalian angkat pel-an sogok ke mulut si mantan!" seru Lastri.
Wana terkekeh. "Makasih ya buibu," pipinya merona merah.
Walau tidak diberi tahu oleh Wana, tapi karena gosip sudah melebar dan kedua sesepuh menyimpulkan sendiri, herannya kesimpulan mereka benar adanya, memang biang gosip! Jadi perasaan Wana mulai tenang. Ia merasa tidak sendirian di kantor ini.
*
*
"INI EDITAN!! SYUDAH PASTTTTTTI EDITAN!!" jerit Yuni seketika. "Yang asli saya pegang! Pengadilan juga pegang! Dijabarkan saat sidang!"
Dia terlihat frustasi.
Artha hanya diam, tapi menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Di pikirannya, ia berpikir harus menaikkan gaji Chabir secepat mungkin agar mereka bertahan di sisinya.
Mau Chandra nikah sama Stela kek, mau Bira ijab kabul, kek, asal mereka tetap bekerja di bawahnya, akan dia servis dua herder itu habis-habisan! Kalau perlu rumah tinggal bersertifikat hak milik sebagai hibah ke keduanya!
"Fotonya tampak meyakinkan," gumam salah seorang pengacara.
"Baik Pak," Bira juga tersenyum lebar, karena sudah tahu Chandra memposting foto laporan keramat.
"Heh?! Tak usah! Jangan ... Nanti aku diomeli!" Yuni tampak panik dan mundur selangkah.
"Diomeli bagaimana?!"
"Dia bilang aku tak boleh bilang siapa-siapa atau aku akan diikat lag..." Yuni menutup mulutnya karena hampir keceplosan, "Pokoknya tolong jangan panggil dia!"
"Leo akan bicara di depanku,"
"Tapi setelah itu bagaimana nasibku?! Dia pasti akan mengamuk lagi! Kalau sudah mengamuk dia suka berbuat... Pokoknya tolong jangan! Aku akan pergi sekarang juga dan tak akan ganggu kamu lagi!!" Yuni tampak histeris dan langsung keluar ruangan.
Tampaknya dia lebih takut pada Leo dibanding Artha.
"Wah, bagaimana ini urusannya?" gumam si pengacara.
"Ya nyerah saja, di hold. Lagipula Yuni mau bayar kalian pakai apa? Pakai tubuhnya? Udah kendor begitu mana puas?!" kekeh Artha.
Semua melirik Artha. Tampaknya ucapan Artha langsung menghujam ke dada mereka karena kemungkinan mereka sudah menerima 'pembayaran di muka'.
Sialnya,
Saat Yuni menekan tombol lift untuk turun ke bawah, yang terbuka dan ada di dalamnya, tepat dihadapannya adalah Wana.
Wana si OG, dengan troli berisi pel-an dan apron merahnya.
Wana yang masih muda dan segar dengan kecantikan paripurna.
Wana yang rambut coklatnya berkilauan dan bibir merekah menggiurkan.
Wana yang kalau dibandingkan saat Yuni masih seumuran dia pun sepertinya tidak akan seglowing itu.
Dan,
Wana dengan dada membusung yang ukurannya lebih besar dari wanita kebanyakan.
Membuat Yuni langsung naik pintam.
Emosi tingkat tinggi!
"Kamu... Masih hidup?" gumam Yuni kaget.
"Hah?" dengus Wana heran. Siapa ini tante-tante menor? Pikirnya
"Kok masih hidup? Seharusnya kamu sudah mati! Kain-nya masih ada kok di tas saya!" Yuni membuka tasnya dan memeriksa isinya, lalu mengangkat kain putih lusuh yang dijalin berbentuk amplop.
Wana langsung 'ngeh'. Tante menor di depannya ini pasti Yuni Bahana.
"Loh? Loh loh loh?! Fotonya kemana?! Apa jatuh ya?" gumam Yuni. "Loh kemana? Kamu apain?"
Dia membelalak menatap Wana. Sorot matanya tampak tidak waras.
"Kamu kemanakan foto di dalam sini? Kamu kan harusnya nggak selamat! Saya minta kamu mati perlahan dan tersiksa soalnya!"
Wana ternganga.
"Ngomong apa sih dia?" tanya Ajeng sambil mengernyit.
"Jeng, itu di tangannya bukannya santet ya?!" gumam Bu Lastri
"Walaaaah semprul! Iya tuh!" seru Ajeng.
"Gara-gara kamu semua berantakan!! Kamu harus tanggung jawab pakai nyawa kamu!!!" Yuni menjerit histeris dan menjambak rambut Wana, lalu menariknya sampai Wana jatuh tersungkur ke depan.
"Kyaa!!" Wana menjerit kesakitan. Rasanya seperti kulit kepalanya tertarik. Perih dan sakit.
Lalu Yuni menamparnya berkali-kali membabi buta.
"Woaaahhh! Wong sinting!! Tahan Jeng!" Seru Lastri sambil menarik pinggang Yuni agar menjauhi Wana.
"Iki wis aku tahan! Tenagane koyok kala!" (Ini sudah kutahan! Tenaganya seperti raksasa), seru Ajeng kewalahan.
"Mati kamu pelakor!! Mati!!" jerit Yuni.
Sekali lagi Wana dituduh pelakor dan disumpahi mati.
Sedih rasanya.
Karena hal itu pula, Wana tidak bisa membela diri, tubuhnya langsung lemas karena fitnah.
Ia bisa merasakan tendangan Yuni di perutnya, dan pukulan bertubi-tubi di lengannya yang melindungi kepalanya.
Lalu hantaman-hantaman itu tiba-tiba mereda.
Artha menarik Wana dan menggendongnya. Sementara Lastri dan Ajeng menahan tubuh Yuni yang mengamuk. Sedangkan para sekuriti yang mulai berdatangan membentuk barikade di antara Artha dan Yuni
"Panggil polisi!" seru Artha.
"Dalam perjalanan Pak," sahut Bira. Sejak Yuni menjambak Wana, Bira sudah menelpon Polisi.
"Duh," Wana mulai terisak, sekujur tubuhnya penuh luka cakar dan lebam.
"Kita ke rumah sakit ya Sayang, tolong tahan sebentar," Artha menggedong Wana dan langsung menuju lift untuk turun ke arah parkiran mobil.
Mereka masih bisa mendengar Yuni berteriak-teriak histeris bahkan saat pintu lift sudah tertutup.