
"Kenapa pulang duluan? Harusnya kamu tungguin aku kan kita bisa bareng pulangnya,"
Begitu isi WA dari Om Silver.
Wana menjulurkan lidah mengejek pesan singkat itu, lalu melempar ponselnya sembarangan ke atas ranjang.
Mau pulang jam berapa kalo nungguin Om Silver meeting?! Bisa-bisa tengah malam baru sampai kosan!
Wana mengenakan kaos kedodoran dan melingkarkan handuknya di atas kepalanya.
Lalu berpikir kembali mengenai kejadian hari ini.
Untung saja dia punya Kevin and the geng. Kalau tidak, bisa-bisa Wana pingsan di dalam ruangan penuh sampah.
Wana memang melihat ada dua cctv di dalam ruangan, tapi lampu merahnya tak menyala.
Usut punya usut, ternyata cctv di dalam ruang Artha dimatikan oleh Duo Herder sejak 5 tahun lalu saat Artha mulai berulah membuat 'sarang nyamuk' karena sang mantan punya pacar baru.
Mantan pacar yang disebut mereka kemungkinan adalah ibunya Stela.
Ternyata tugas Duo Herder, Si Chandra dan Si Birawa, selain mengurusi kantor juga mengurusi 'nama baik' si Boss.
Wana hanya berharap semoga cctv di lift dan di ruangan depan pintu Artha tidak diusut. Karena gawat juga kalau ketahuan dia sampai menyelundupkan orang asing untuk masuk.
Namun Wana terasa kuatir.
Jadi sekali lagi, dia memanggil ...
"Gue dah di depan kosan," pesan singkat dari Kevin Cakra masuk ke ponselnya.
*
*
"Hai dedeeeek!" Sapa Wana ceria, masih dengan handuk melingkar di atas kepalanya, kaos gombrong dan celana pendek.
Kevin, malam itu penampilannya paripurna.
Kelihatannya baru pulang dari club. Jaket kulit, sepatu kanvas asli, dan beberapa anting menggantung di telinganya.
Cowok itu duduk di atas motor kesayangannya, si Pacar Bermesin, Honda CBR 250 RR hitam.
"Lu kok keren banget? Baru pulang clubbing yak?!"
"Kalo clubbing tuh jam 9 malem baru berangkat lah Non, mana ada clubbing pulang jam 9 malem?!"
Ternyata bukan pulang dari club.
"Ya sapa tau lo pulang jam 9 gara-gara dicariin emak lo,"
"Lu pikir gue anak SD dicariin emaknya pake sapu?"
"Emak lo udah pasrah ya anaknya keluyuran melulu? Nggak pernah nanya lo kemana aja?"
"Ya nanya, makanya gue pulang,"
"Emang lu habis dari mana?"
"Kerja,"
Wana langsung meringis jijik, dan extra mundur jaga jarak. "Belum mandi lu ye?"
"Udah di hotel. Kalo bau aneh bisa-bisa nyokap gue nanya, sih,"
"Gue prihatin sama nyokap lo, semoga lo dapet pencerahan dari Tuhan, Kev,"
"Bacot. Pulang ah!" Kevin mengenakan helmnya.
"Dih ngambek! Ntar duluuuuu," Wana menarik lengan Kevin, mencegahnya pulang.
"Apa lagi sih? Hari ini gue ketemu lo dua kali. Gue tuh kuatir sama hidup gue tau nggak?! Gue akhir-akhir ini merasa lagi dikuntit, terus pacar gue baru sembuh, besok apa lagi kesialan gue?!"
"Lo punya pacar?"
"Nih!" Kevin menepuk-nepuk dashboard motornya.
"Dih, jangan-jangan tu motor lu naekin ke kasur buat lo kelonin kalo malem,"
"Nggak lah, dia terlalu bohay. Beratnya 100kg bisa-bisa gue kegencet ," kekeh Kevin.
Tapi Wana tetap menatap Kevin dengan curigation. "Anyway, gini loh Dek Kevin, Mbak Wana merasa kuatir akan aksi tadi siang, menyelundupkan Geng Jago ke kantor Singa,"
"Hem,"
"Dirimu punya kenalan hacker nggak? Yang bisa ngutak atik cctv lift dan depan pintu buat hilangin jejak, gitu?!"
"Asal ada ip address komputernya sih bisa aja. Lo kan OG, nyelundup ke ruangan sekuriti yang ngurusin cctv kan bisa?"
"Duh! Berat amat sih tugasnya!"
"Atau siapa kek yang berwenang atas CCTV,"
Lalu Wana langsung teringat duo herder.
Wah, ini sih harus ngerayu si Chandra habis-habisan sebagai pengalih perhatian, biar bisa ngutak atik komputernya dan tahu ip address nya.
"Gue tau sih, siapa lagi yang berwenang untuk akses cctv," gumam Wana enggan.
"Ya udah itu aja data yang dibutuhin. Sisanya urusan gue," Kevin menyeringai sambil mengenakan helmnya dan menekan tombol starter di stang kanan.
Wana menatap sosok Kevin yang menjauh sambil melipat kedua lengannya di dada. Ia berpikir bagaimana caranya mendapatkan ip address komputer Chandra atau Bira secepatnya untuk menghapus rekaman penyelundupan Geng Jago ke dalam kantor.
Lalu terpikirkan di benak Wana, hebat juga si Kevin, siang-siang gue suruh bersih-bersih pas malemnya udah kerja aja dia. Ya tapi penghasilan per harinya emang lebih gede dari gaji gue perbulan, sih.
Sekalian nungguin tukang nasgor kali yak! Mumpung udah di luar.
"Wana,"
Seseorang memanggilnya.
Wana mengernyit.
Kok kayak kenal suaranya?!
Dan gadis itu pun menoleh.
Artha dengan Lamborghininya di seberang jalan.
"Om?" tanyanya. Ia pun menyebrang menghampiri Artha.
"Kamu ngapain di pinggir jalan dengan penampilan begini?" tanya Artha.
"Eh?" Otak Wana langsung kerja keras.
Artha pernah cemburu ke Kevin. Jadi sepertinya kurang pantas kalau Wana bilang habis ketemuan sama tu bocah di pinggir jalan. Bisa-bisa jenggot si Om kebakar saking panasnya kepala si Om.
"Hmmmm, nungguin tukang nasi goreng," Wana sendiri tampak tak yakin dengan jawabannya. "Om kok di sini?"
"Kangen,"
"Sama?"
"Mak Lampir,"
"Hah? Di sini adanya Jin tomang, Om. Mak Lampir cari di Gunung Merapi,"
"Kamu, maksudnya,"
Wana langsung merengut, "Epic bener Singa pacaran sama Mak Lampir. Bisa-bisa anaknya bentukannya macam Lampor dong,"
"Kan kamu kalo ketawa dan ngomong bawel kayak dia,"
"Aku masuk ah, sebel," ancam Wana.
"Bentar, Sayang," desis Artha sambil menarik tangan Wana.
Wana tertegun, "Tadi panggil apa, Om?"
"Kamu dengar sendiri,"
"Coba ulangi Om,"
"Nggak ah, nanti kamu terbang,"
"Ya iya asalku kan dari Nirwana,"
"Terbang ke-geeran, maksudnya," gumam Artha.
"Sekali-kali bikin aku senang kenapa sih?! Aku nih udah kerja keras loh hari ini,"
"Iya. Makasih ya. Dan maaf sudah bikin kamu kerja keras,"
Wana menatap Artha dengan heran. Wah! Tumben hari ini si Om kalem, pikirnya. Biasanya judes bin jutek, ini selembut tatapannya.
Wana semakin merasa bersalah karena sudah berbuat curang saat membersihkan ruangannya.
Sengaja dia meminta bantuan Trio Kwek-Kwek kan karena mereka masih bocah, tidak mengerti akan info-info yang ada di dalam kertas kerja, dan mereka orang luar jadi tidak berhubungan dengan rahasia perusahaan. Makanya semua kertas berserakan, Wana yang mengumpulkan. Kevin dan yang lain tugasnya melap dan bersih-bersih.
Juga entah bagaimana, Wana percaya dengan Kevin, bahwa cowok itu bisa menjaga rahasia.
Tapi tetap saja, judulnya menyelundupkan pihak luar.
Jadi, karena merasa bersalah, kali ini Wana memutuskan untuk memberikan si Om Silver sedikit kesempatan.
"Om?"
"Ya?"
"Mau masuk ke dalam?"
Artha menatap Wana sambil menaikkan alisnya.
"Ke dalam kosan kamu?"
Wana mengangguk, "Tapi jangan aneh-aneh ya, yang normal-normal aja,"
"Ya nggak mungkin lah yang normal,"
Wana mencebik, "Ya pokoknya, bantu jaga kehormatanku aja. Kalau nggak yakin ya kutinggal masuk ke dalam, mau pesen online aja nasgornya,"
"Hey, tunggu dong sayang," rayu Artha. "Aku parkir dulu, Oke?! Kamu tunggu sini,"
Wana mengangguk.
Kostan Wana sebenarnya kostan khusus wanita. Tapi kadang beberapa orang bisa membawa lawan jenis menginap asal membayar uang rokok ke sekuritinya.
Pasti besok pagi pada heboh ngeliat ada Banteng parkir di kosan, mana tamu gue pula! (Banteng adalah logo Lamborghini, super car yang dimiliki Artha.)
Biarlah sekali-kali bikin heboh, gue pingin bikin sensasi. Pikir Wana lagi.
Dan benar saja, tips yang diberikan Artha ke sekuriti kostan berlembar-lembar uang merah. Ya terang saja si Om masuk dengan mudah. Kalau perlu dia beli ini kostan.
Namun batin Wana langsung ngedumel, ke sekuriti loyal. Ke pacar sendiri pelit! Apa sih maunya! Sebel!