
Lokasi Kedua
Jarak : sekitar 5km dari kantor Kevin.
Harga : 1.350.000/bulan termasuk listrik, WC Dalam.
Luas : 4 x 4 m2, kondisi kosong melompong, pakai AC tambah biaya 200ribu.
Kasep menghentikan motornya di ujung gang dan menegakkan tubuhnya, lalu mengernyit.
“Napa Sep? Kosannya masih jauh,” tanya Kevin.
“Gini Kev, ini tuh gang masuk ke tempat prostatutitetot terkenal loh,”
“Masa sih?! Kok gue kaga pernah denger,”
“Gue tahu dari komunitas,”
“Wah si Kasep sering diving juga di platform muncrat,” goda Kevin.
“Gue malah kaget lo malah kaga tahu tempat beginian,” sindir Kasep.
“Gue suka nggak ngeh kalo nama jalanan, Sep,”
“Gue yakin banget ini persis sama foto yang ada di forum, karena gue iseng nyari pakai google street waktu itu. Ternyata ada, dan sekarang gue ada di depannya live show. Ngevlog aja sekalian gimana?!" sindir Kasep.
“Masuk saja lah Sep, lingkungannya memang mungkin agah nyeleneh, tapi kan belom tentu kosannya begitu juga,” Kevin mulai capek, padahal baru lokasi kedua.
“Yakin nih Kev?”
“Liat dulu aja lah,”
“Oke lah...”
Dan akhirnya mereka masuk perlahan ke gang muat semobil yang tampak asri itu.
Di dalam gangnya banyak rumah bertingkat model seadanya, bagaikan dipaksa dibangun padahal pondasi belum tentu kuat.
Dan tibalah mereka di bangunan tingkat 4 bergaya minimalis yang tampaknya baru di cat.
“Wih, lumayan keren,” gumam Kevin.
“Ini kosan cewek atau cowok?”
“Keterangan di internet sih campur, Sep,”
“Cari siapa bang?”
Kasep dan Kevin langsung menoleh ke arah suara bening nan renyah yang tiba-tiba sudah ada di sebelah mereka. Tiga orang wanita, cantik-cantik kayak cewek karaoke, rambut blow maksimal dan pakaian ketat.
Kasep sampai mengamati dari atas ke bawah 2x, masing-masing individunya.
“Mau cari kosan, tante,” sahut Kevin. Tampang cowok itu biasa saja, mungkin sudah kebanyakan liat yang lebih seksi.
“Kita tinggal di kosan itu juga,” salah satu wanita menunjuk kosan di depan mereka dengan dagunya, “Mau ketemu si bapak kosannya?”
“Mau tanya-tanya dulu sih,” kata Kevin.
Terlihat mata si tante berkilat sambil menggigit sudut bibirnya saat melihat Kevin, seperti seharian puasa terus ngeliat es teler pakai nangka, di depannya.
Haus...
Kevin langsung merinding. Dirinya mengendus aroma-aroma Suhu.
Terkadang, sesama profesional saling memberi sinyal. Lalu mulai serang feromon. Masalahnya, Kevin belum kasih tanda, ini tante sudah ngeluarin sinyal duluan.
Sudah pasti kalah pengalaman sih gue, Pikir Kevin saat melihat pandangan tante ini bagaikan sayatan-sayatan pisau tumpul bekas motong cabe. Pedes tapi nikmat. Ciri khas wanita yang selalu mendominasi di atas kasur.
“Yuk, aku anterin,” tawar si Tante.
“Bentar Tante,” Kevin turun dari motor, lalu berbisik ke Kasep untuk jangan mematikan mesin. Biar kalo keadaan genting gampang kabur.
Lah, sudah dapet feeling nggak enak saja si Kevin.
“Ini kosan cewek atau cowok?” tanya Kevin.
“Sebenarnya campur, tapi kebanyakan penghuninya perempuan,”
"Oh gitu ya Tante,"
"Panggil Mbak aja, aku baru 28 kok,"
"Hm," gumam Kevin. Usia 28 bagi Kevin tetap saja tante-tante. Tapi yasudahlah, si Mbak belum terlalu tua juga.
"Sambil nunggu bapak kos dateng, mau makan dulu nggak? Di dalem kamarku ada Pizza, tadi pagi ada yang ulang tahun aku dikasih 2 kotak," kata si Mbak Semogh.
Wih, baru dateng udah ditraktir aja. Pikir Kevin. Dia lirik-lirikan sama Kasep.
Laper, Bro! Kasep memberikan sinyal tanpa suara. Yang kira-kira kodenya seperti itu.
Sama, gue juga. Tapi aman nggak nih?! Begitu sinyal dari Kevin ke Kasep.
Bismillah aje sebelum makan, buru IYA-in! Sinyal dari Kasep begitu kentara.
Gue takut dikasih racun terus gue diiket, terus gue dijadiin...
"Oke Kak! Yuk makan!" Seru Kasep bersemangat, memotong kode dari Kevin. Kevin hanya menggerutu sambil bilang,"Hih!"
"Lu mikirnya kelamaan, keburu Indonesia ganti presiden lagi," omel Kasep sambil mematikan mesin motor dan memarkirkannya di parkiran kosan.
Kevin hanya pasrah mengikuti Kasep sambil mencibir. Masalahnya ia juga lapar. Dan bagi cowok yang lagi masa pertumbuhan seperti mereka, urusan perut adalah hal krusial.
**
Oke,Ini bukan kosan biasa.
Suasana di dalamnya benar-benar bagaikan berada di dalam ruang karaoke. Dinding hitam, neon warna-warni, dan kenapa bisa ada lampu disko di atap hal itu benar-benar mengundang buanyyakk pertanyaan.
Juga penghuni di sini kebanyakan perempuan dengan pakaian seksi. Bahkan ada yang seliweran menggunakan pakaian dalamnya saja.
Kevin tidak melihat ada laki-laki di sana.
Dan mereka semua menatap Kevin dengan lekat. Beberapa melambaikan tangan dan memperlihatkan belahan dadanya.
Mochinya kakakkk, masih hangat.
“Yuk, aku kamarnya diujung sanahhh,” dan suara si Mbak jadi lebih mend3s4h daripada saat berada di luar tadi.
“Oke Mbak!” Kasep dengan pede mengikuti si Mbak, seperti tidak ada kekuatiran sama sekali, entah Kasep menyadari keanehan yang terjadi atau tidak. Yang jelas langkahnya ringan dan siul-siul sambil sesekali menunduk menyapa penghuni kosan itu.
“Heh?” gumam Kevin sambil tersenyum penuh cibiran. Rupanya mereka tersesat di Rumah Dara.
Si Mbak di depan Kevin dan Kasep melambaikan tangan ke beberapa teman wanita yang sedang duduk di ruang tamu, memberi tanda supaya mengikutinya. Jadi kini ada beberapa cewek yang ikut masuk ke dalam kamar si Mbak.
Kevin menoleh ke belakang, mengingat arah pintu keluar, lalu ia juga mencari jendela, mencari pintu belakang, dan mencari benda yang bisa digunakan untuk membela diri di dekat sana. Lalu masuk ke dalam kamar si Mbak dan duduk tepat di depan pintu kamar, menjaganya supaya tetap terbuka.
“Sini dong ganteng, masuk. Pizzanya kan di meja,” si Mbak mulai merayu. Beberapa cewek membelai punggung dan bahu Kevin seakan memberi salam ramah.
“Enak Kev!” sahut Kasep sambil mengunyah.
Si Mbak seakan tahu yang dipikirkan Kevin.
“Nggak ada racunnya kok Shay,” lirihnya.
Iya, nggak ada racunnya, tapi Kevin tahu ini bau parfum Aphrosidiac dan sedikit wangi k0kain. Entah ditambahkan di pizza atau digunakan sebagai pengharum ruangan. Tapi tujuan mbak-mbak ini adalah untuk seksualitas. Bukan hanya sekedar makan pizza sambil nungguin si empunya Kosan.
Efek obat penambah gairah memang tidak seperti yang film-film lebay, langsung pingsan setelah menghirup wanginya itu cuma MITOS. Tapi kalau termakan, efeknya paling hanya membuat 'senjata' tegang lebih lama dan kondisi medis yang memburuk di alat kelamin karena forsir otot yang dipaksa.
“Kayaknya saya nggak jadi nyewa di sini, sih Mbak,” kata Kevin sambil menarik Kasep ke arahnya.
“Loh? Kenapaaaa?”
“Hem,” Kevin menatap sekelilingnya, “Sudah terikat kontrak sama Mami lain soalnya, ada ketentuan tidak boleh melakukannya dengan wanita diluar kontrak,” (Ini bohong, nggak ada klausula begitu, dan lagi kontraknya dengan Mami baru saja berakhir.)
Semua diam, hanya terdengar suara kunyahan Kasep.
“Habis kan kasihan si mbak kalo ngiler doang ngeliatin saya tapi nggak bisa pegang,” Kevin menyeringai. Macam di toko kristal, perlakuannya ‘hati-hati barang pecah belah, jangan sentuh’
“Memang siapa Maminya?!” tanya salah satu Mbak.
Kevin berpikir mengenai nama Mami. Siapa ya? Dewi Tanggung jebol? Dewi Tunggu dan Lari? Dewi Tetangga Liar? Dewi Tangga Lengser?!
Gawat kenapa nggak inget?!
“Ih, si ganteng nih alesan ajaaaa,” seseorang memeluknya dari belakang.
Sudah mulai rawan suasananya.
“Kita mainnya pelan-pelan kok,” bisik wanita di belakang Kevin. Lalu si Mbak seksoy mendekat dan membelai dada dan perut Kevin dengan intens.
Terus terang saja, tekniknya hebat. Karena Kevin langsung ‘On’. Si Mbak mengerti benar saraf-saraf mana yang harus disentuh. Kini tangannya sudah dikalungkan di leher Kevin.
Kevin masih bisa mempertahankan akal sehatnya, ia melirik mencari Kasep.
Ish! Tu ****** sudah tepar saja di lantai. Bener kan pizzanya dikasih obat bius! Pikir Kevin mulai kuatir.
Masalahnya, kalau ia kabur sendiri sih gampang. Tapi kalau kabur sambil membawa tubuh Kasep yang dua kali lipat gedenya sih.. entahlah!
Kini Kevin merasakan jemari lentik membelai kejantanannya. Tapi ia masih sadar karena si Mbak yang berada di belakangnya dalam pose memeluk punggungnya, dadanya yang ‘mengkel’ menekan erat dan secara langsung menyentuh bekas cakaran Tante Yuni Bahana yang belum sepenuhnya mengering. Jadi sakit clekit-clekitnya terasa sedap.
“Kev?” sebuah suara mengagetkannya.
Kevin menoleh,
Para Mbak menoleh,
Kasep masih pingsan,
Daaaan... Johanes ada di sana sambil menenteng tas plastik dari Indoaprilmeijuni.
“Lu bener-bener bombshell yak, Minggu begini masih saja gerilya. Adek gue yang kamarnya di ujung, awas lo ganggu-ganggu dia!” gerutu Jo sambil berlalu ke arah kamar ujung.
“Heeee?? Bentar Pak! Tolongin gue ngapa?!” seru Kevin.
“Ogah ah! Gue cemburu!” sahut Pak Jo di kejauhan.
“Paaaaakkk!” Kevin merengek.
*
*
Johanes memasukkan Kasep ke bagian belakang mobilnya dengan mudah. Itu cowok masih sempat-sempatnya ngorok dengan sukses.
“Ngapain lo di sini Kev?” tanya Jo sambil menutup pintu mobilnya.
“Cari-cari kosan Pak,” Kevin memijit-mijit pinggangnya. Si Kasep beneran berat ternyata, untung ngangkutnya berdua sama Jo.
“Kenapa cari kosan? Rumah lo bukannya Jakarta Timur ya? Kan masih bisa bolak-balik pakai motor?”
“Itu rumah kontrakan Pak, Nyokap gue kemarin kan baru meninggal, nah sekarang gue tinggal sendirian. Jadi biar hemat ya gue cari kosan,”
“Turut berduka cita,” gumam Johanes, “Di keluarga gue juga tinggal Bokap yang sekarang tinggal sama bini mudanya, nyokap gue sudah meninggal, gue dan adek-adek gue tinggal kepisah-pisah gara-gara nggak nyaman tinggal sama bokap. Salah satu adek gue tadi ngabarin kalo lagi sakit, jadi gue belanja dikit buat dia,” Jo menunjuk ke arah kosan.
“Hem,” hanya itu tanggapan Kevin. Karena merasa tak enak kalau bertanya lebih lanjut.
Padahal banyak pertanyaan, sih.
“Gue saranin kalau cari kosan di area kampus, lingkungan mahasiswa masih banyak yang murah. Kalau di wilayah kantor pasti dipatok mahal-mahal,”
“Hem,” lagi-lagi hanya itu tanggapan Kevin.
Jo melihatnya sambil menyeringai, kelihatannya pria itu sudah tahu Kevin mau bicara apa. “Iya, pekerjaan adek gue begituan, kita sama-sama anak buahnya Mami,” Johanes mengaku. “Sudah gue jawab, puas ya?!”
“Hehe, Sori Pak, kepo gue ini perlu dilockdown dikit kayaknya,” Kevin mesem-mesem.
“Sebenernya tadi kalo bilang lo anak buah Mami, bisa selamat dari gangguan loh. Ada kode etik di antara pekerja mengenai masalah Mami Papi, kalau sudah ada Tuannya nggak bisa saling ganggu tanpa izin,”
“Masalahnya tadi gue lupa nama lengkap Mami,”
“Hah? Dia itu artis kawakan suka sliweran di tivi dan podcast loh, kerjaannya dia bikin skandal soalnya. Yang begitu lo lupa?”
“Gue ingetnya Dewinya doang, yang Tanggul Jebolnya gue lupa!”
“Lama-lama gue jadi terbiasa sama ke-goblokan elo, Kev,” Jo menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Terus, memangnya kalo gue orang biasa yang kebetulan ganteng, mereka bisa begitu main gr3p3-gr3p3? Kan gue bisa saja laporin ke polisi,”
“Kalo lo sampe kejadian tidur bareng, dalih mereka suka sama suka. Kan lo laki-laki, sudah pasti pihak yang kalah sih,”
“Njir, ganas banget sih!”
“Mereka ganas cuma ke elo doang. Buktinya Kasep nggak dipegang sama sekali,”
“Memang gue suka sial kalo masalah begitu,” Kevin mengernyit menatap Jo. Masih dendam.
Jo hanya terkekeh.