Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 53


Setelah itu mereka mengobrol dengan santai di cafe itu. Satu persatu pengunjung pergi sambil menatap keduanya yang serasa dunia milik berdua.


Dalam hati, Nirmala yakin kalau banyak yang menyimpan dendam kepadanya. Tidak heran kalau ia jadi bahan bulan-bulanan, dan sebenarnya hal ini sudah ia prediksi sebelumnya. Ternyata saat menjalaninya, walaupun sudah prepare tetap saja telinga ini panas mendengar bisik-bisik julid.


“Aku harus kerja lagi,” kata Nirmala saat hari mulai sore.


“Sebentar lagi jam pulang,”


“Iya kita korupsi waktu berapa lama nih?!”


“Duh, kok menohok,” gumam Kevin.


“Nanti malam kan masih bisa ketemu lagi,” Wanita bersuara serak seksi itu menatap Kevin dengan sendu.


Dan terdapat rayuan dalam intonasinya.


Suatu hal yang Kevin harapkan dari wanita pujaannya itu, setelah sekian lama ‘berpuasa’ dari hal-hal tak terpuji.


“Kita pulang bareng aja ya, aku ke kantor kamu terus numpang mobil buat ke apartemen,”kata Kevin.


“Motor kamu dititipin di security kantor aku, dong?”


“Iya, udah kenal juga kok sama Pak Parjo, aku kan suka...” dan Kevin pun terdiam.


“Suka?”


“Nggak jadi,” gumam Kevin.


“Kamu...” Nirmala menatap Kevin curiga.


Kevin menyeringai dengan penuh arti.


“Sejak kapan kamu menguntit aku?”


“Hehe,”


“Kok cuma ‘hehe’ jawaban macam apa itu?!”


“Yaaaah, begitulah,”


“Astaga, kamu selama ini stalking aku?!” Nirmala begitu terkejut, campur sedikit takut.


Kevin berdehem sambil membuang muka.


“Sampai mengikutiku ke kantor segala?!”


Kevin masih diam sambil membuang muka, pura-pura mengamati keadaan sekitar.


“Kevin?!” Nirmala meminta penjelasan.


Kevin mengerucutkan bibirnya lalu menatap Nirmala takut-takut. Dan akhirnya cowok itu pun mengangguk pelan.


“Kalau lagi kangen banget, aku nungguin kamu di kantin karyawan. Nongkrong di warmindo sampai kamu selesai makan. Kamu biasanya makan di seberang pojok kanan. Sama Bu Windy kadang-kadang. Tapi lebih sering sendirian. Terus pas lagi coffe break kamu suka duduk sendirian sama laptop kamu di cafe X di lantai bawah, kadang meeting sama klien juga di situ.”Kevin akhirnya mengakui.


Nirmala sampai ternganga.


“Terus, karena aku suka nongkrong juga di area sekuriti basement, aku juga suka ngeliat kamu di dalam mobil. Tidur di sana, atau kadang... nangis,” kata Kevin.


Nirmala menghela napas dan menunduk sambil mengamati kukunya sendiri yang berada di atas meja.


“Aku pingin banget meluk kamu waktu itu, tapi aku kan lagi dalam masa percobaan menuju 30 juta. Aku takut kamu marah kalau ketemu aku, yang mana kamu bilang memang nggak mau ketemu aku dulu sebelum aku mapan,” sambung Kevin.


“Kamu gila,” gumam Nirmala sambil memijat dahinya.


“Ya memang aku tergila-gila sama kamu,” desis Kevin.


Nirmala menggelengkan kepalanya tanda ia tak habis pikir dengan kelakuan Kevin.


“Sampai akrab sama sekuriti dan driver di kantorku. Itu berarti kamu rutin kesana,” kata Nirmala.


“Begitulah,”


“Mereka nggak tanya kamu ngapain ke sana?”


“Aku jawab, lagi stalking kamu,”


“Terus?”


“Malah disuguhi kopi dan gorengan,”


“Astagaaaa...” Nirmala menelungkupkan kepalanya ke meja.


“Aku parah ya?” gumam Kevin merasa tak enak.


“Iya pake banget,” kata Nirmala dari bawah lipatan lengannya.


“Hehe,”


“Nggak usah cengar-cengir terus!”


Kevin langsung diam.


Nirmala pun menegakkan tubuhnya lalu merapikan rambutnya di blow sempurna, lalu beranjak berdiri. “Ya sudah nanti kita pulang bareng,” wanita itu meraih tasnya.


Lalu menunduk mencondongkan tubuhnya ke arah Kevin dan berbisik, “Lalu, kamu bisa menginap di apartemenku malam ini,”


Mata Kevin langsung berbinar.


Nirmala meraih dagu Kevin dan menariknya lembut agar mendongak ke arahnya. Lalu menunduk dan mencium bibir cowok itu.


Di depan orang-orang.


Yang pastinya langsung pada heboh.


“Mulai sekarang, kamu dapat hukuman kalau panggil aku ‘tante’,” ujar Nirmala sambil melepas bibir Kevin.


“Jadi aku panggil kamu apa? Kanjeng Ratu atau Adinda?” goda Kevin.


“Cintaku,” bisik Nirmala. Lalu wanita itu mengerling ke Kevin dan melangkahkan kaki pergi meninggalkan restoran.


Lalu hening.


Suasananya, maksudnya.


Soalnya Kevin masih buffer.


“Anjiiiiirrrrrr...” gumamnya setelah otaknya loading lagi, ekstra gebrak meja saking senengnya.


Sementara itu, sepeninggal Nirmala kebetulan Pak Shareholder dan Bu Presdir lewat di depan restoran sambil bergandengan tangan, rencananya mau ke arah pintu keluar di depan sana, mau meeting di tempat lain.


“Sayang, sebentar, itu ada Kevin,” kata pak David.


‘Hais! Ngapain lagi sih?! Sudah mau telat loh ini!” Bu Susan menarik tangan Pak David untuk segera menuju ke arah pintu keluar.


“Ada yang mau aku pastikan, penting nggak penting,”


“Penting apa nggak penting? Yang bener dong ah!” gerutu Bu Susan.


“Ssst!” Pak David melambaikan tangan tanda dia meminta istrinya mengikutinya.


“Kenapa kamu jadi suka deket-deket Kevin sih?” masih terdengar omelan Bu Susan tapi wanita itu akhirnya mengikuti suaminya masuk ke dalam restoran.


Dan saat Pak David mendekat, posisi Kevin sedang duduk termenung di meja sambil mesem-mesem ngga jelas, duduk berpangku dagu sambil menatap ke arah luar jendela menatap parkiran kendaraan.


“Kev?”


Kevin diam saja.


Pak David menoyor dahinya. “Kevin?”


Kevin masih menerawang.


Pak David menyejajarkan arah pandangannya, ingin tahu ke mana arah mata Kevin memandang.


Nirmala di depan jendela sedang masuk ke dalam mobilnya. Lalu menyalakan mesin bersiap mau keluar dari parkiran.


Pak David mencibir sambil menggelengkan kepalanya. Jarang-jarang ia melihat ada bocah ingusan jatuh cinta bagai terkesima menatap bidadari kehilangan selendang. Tadinya ia pikir Kevin lagi ngincer mobil di parkiran, milih yang mana yang mau dicolong.


Ternyata malah lagi nyolong hati Tante Nirmala.


Eh, cieeee!


“Kevin, kalau kamu tetap nggak respon, nggak dapet bonus tahunan ya,” kata Pak David. Yang ini sebenarnya hanya bercanda.


Tapi Kevin benar-benar tidak merespon. Ia menatap ke arah Nirmala sampai mobilnya keluar dari parkiran dan menghilang dari pandangan.


Baru pemuda itu kembali ke kenyataan duniawi.


“Loh? Pak David? Kok ada di sini tiba-tiba?!” tanya Kevin.


Pak David hanya menatap Kevin dengan terpukau. Kevin benar-benar makhluk yang harus dilestarikan!


*


*


“Kevin...” panggil Pak David.


“Ya Pak?”


“Suka Pak,”


“Cinta banget sama tempe atau bagaimana?”


“Sebagai orang Indonesia dari lahir ya familiar, tiap hari disuguhi tempe, Pak,”


“Ini maksud saya tempe beneran loh, yang makanan 4 sehat itu,”


“Lah emang maksudnya gimana Pak?”


“David, kenapa kamu muter-muter sih? Aku aja yang nguping bingung sendiri,”gerutu Bu Susan.


“Kamu suka Toge?” tanya Pak David lagi.


“Yaaa.... biasa aja nggak benci sih. Bapak mau bikin tumis toge pake tempe, maksudnya?”


“David, kayaknya kamu kecapekan kerja, deh. Reschedule aja meetingnya gimana?” ujar Bu Susan.


“Kalau jadi korban bini, gimana?” tanya Pak David lagi ke arah Kevin.


“Hah?” dengus Bu Susan.


Tapi Kevin langsung diam, ia baru nalar kalau Pak David sedang menyerangnya dengan semacam kode.


Pak David menatap Kevin sambil memicingkan mata, yang mana matanya memang sudah segaris.


Kevin melirik Pak David takut-takut.


Detik berikutnya, baru saja David akan membuka mulutnya, Kevin langsung berlutut.


Sungkem Mode On.


“Mohon maaf Paaaaak, Gaji saya jadi naik ya Pak jangan ada potongan, modal kawin ituuuuu!” seru Kevin mengiba.


“Saya sengaja pake nama asli biar pada ngalah, tapi malah dibantai di menara, sama orang yang katanya suka banget sama Tempe,”


“Maaaaafff Paaaaakkkk!!” seru Kevin.


“Kamu tahu kan saya masuk ke arena, buat nyari kelemahan dari game itu, dan gara-gara saya di 'slay' di ronde pertama pula, saya makin nggak yakin kalau sayanya yang memang Ez atau komputer saya yang nge-lag,”


(Ez adalah istilah game untuk lawan main yang mudah dikalahkan, Lag adalah istilah koneksi terputus-putus)


“Maaaf Paaaakkkk! Tapi bapak sebenarnya well played sih, saya aja yang terlalu pro. Buktinya kita By One Pak. Liat aja yang lain kan GB,”


(By One istilah untuk bertanding satu lawan satu, GB maksudnya Gaji Buta, jadi dalam satu tim yang main cuma satu orang yang lain cuma ikutan jadi pemenang karena jasa 1 orang itu).


“Ya memang tim saya dan tim kamu masih di bawah menara sih. Kamu yang berhasil ngejar saya ke atas sendirian. Saya sempat nggak pede sama kemampuan saya,”


“Bapak lumayan kok,”


“Kamu ngomong gitu karena saya atasan kamu atau karena saya memang well played?”


“Karena atas..., eh karena well played,”


“Ih! Sakit hati saya,” gumam Pak David.


“Maaaafff Paaaaakkk,” rajuk Kevin lagi.


“Pada ngomongin apa sih?” tanya Bu Susan jadi tak sabar.


“Ternyata yang waktu itu ngalahin aku di game, si Kevin,”


“Oh, yang habis main game muka kamu kayak orang blo’on sampai pagi?” cibir Bu Susan.


“Nggak usah diumbar dong sayaaaang,”


“Jadi, harus aku apain si Kevin? Lancang banget kamu udah bikin suami saya nggak konsentrasi kerja seharian,”


Kevin terpekik tertahan, “Buuuuu saya nyembah deh! Apa itu kata orang keraton? Wait! Eh iya... nyuwun ngapuroooooo!”


Dalam hatinya Kevin menyumpah serapah ke game itu karena sudah bikin Nirmala ngambek dan sekarang perkara Pak David


“Harus kita apain dia?” tanya Bu Susan ke Pak David yang sedang menahan tawanya melihat tingkah Kevin.


“Mutasi aja,” kata Pak David.


Astaga! Beneran sial dah gue kali ini! Pikir Kevin panik.


“...ke unit Game Tester,” sambung Pak David.


Kevin mengangkat wajahnya dengan kaget.


Lagi-lagi, dia nggak jadi sial. Malah dapat ‘Dream Job’.


“Itu si Korban Bini sama Benci Toge kamu rekrut aja parttime jadi asisten,” kata Pak David lagi.


Dan juga, nasib baik Kevin dibagi-bagikan ke bromen-nya. Memang bawa hoki ni bocah semprul satu!


*


*


Setelah sekian lama Nirmala memang menjalani hidup tersembunyi. Ia tidak begitu akrab dengan orang lain dan tidak mempunyai sahabat atau orang dekat. Bahkan Wana, adik kandungnya sendiri, tidak terlalu mengenalnya.


Apalagi, Nirmala begitu trauma dengan kehidupan pernikahannya. Orang yang paling ia percaya, yaitu suaminya sendiri, mengkhianatinya.


Karena itu setelah bercerai, ia pindah alamat, ia mengganti nomor telepon pribadinya, ia mengganti semua pin, ia melunasi semua tagihan kartu kredit dan menutup semua kartunya, ia bahkan mengganti semua password untuk e-banking dan email pribadinya. Pun ia menghapus semua media sosialnya. Yang tidak bisa ia ganti adalah lokasi kantornya dan nomor telepon untuk urusan bisnis. Yang mana hal itu tidak diketahui oleh Jaka, si mantan suami, karena memang Jaka tidak perhatian.


Mungkin selama ini Pria itu memang butuh Nirmala hanya untuk uang, bukan proses untuk mencapainya.


Coba tanyakan ke si Jaka, di mana Nirmala bekerja? Biasanya ia akan jawab : di perusahaan konstruksi milik salah satu dari 12 naga.


Dan dari 12 Naga, yang memiliki perusahaan konstruksi ada 9 orang.


Namun, hal menyedihkan lagi-lagi melanda wanita lembut bermata sendu itu.


Sore itu, setelah Nirmala bertemu Kevin, Nirmala pun kembali ke kantornya. Niatnya untuk membuat laporan mengenai hasil presentasi tadi pagi. Sambil senyum-senyum membayangkan Kevin  yang begitu menawan hatinya, ia pun menapaki tangga menuju ke arah lift. Kakinya melenggang dan senyumnya mengembang di bibir tebalnya yang seksi.


Tapi senyum itu langsung sirna.


Berubah menjadi ketegangan.


Nirmala melihat Jaka ada di lobi gedung, di sebelah operator.


Dan wanita itu pun menghentikan langkah kakinya dan tertegun.


Ia bahkan sampai harus memicingkan mata menajamkan penglihatannya karena ia yakin kalau berhalusinasi.


Rasanya tidak mungkin Nirmala melihat Jaka di gedung kantornya. Kecuali...


Kecuali pria itu menginginkan sesuatu dari Nirmala. Dan biasanya itu urusan materi.


“Hei,” sapa pria itu sambil tersenyum sumringah.


Nirmala tidak menjawab, hanya menghampiri Jaka dengan tatapan tajam.


“Tadinya mau nanya kabar kamu, tapi dilihat dari penampilan kamu sepertinya kabar kamu lumayan baik,” kata Jaka lagi.


Nirmala mengangkat alis.


Dalam hatinya ia mengumpat, bisa-bisanya Jaka mengucapkan kalimat itu setelah menyakiti Nirmala dengan berbagai cara.


Wanita itu tadinya ingin marah, namun matanya menangkap sesuatu yang berbeda.


Jaka tampak kurus. Dan bajunya lusuh.Penampilannya juga kumal. Rambutnya yang biasanya klimis rapi, kini berantakan disisir seadanya.


Wah, pemandangan yang entah bagaimana malah membuat Nirmala senang.


“Iya, aku lumayan baik. Sebentar lagi aku akan menikah,” Nirmala mencoba membuat Jaka down.


Dan wanita itu benar. Jaka terlihat terkejut, dan berikutnya menatapnya tajam.


“Siapa calon suami kamu? Apa aku kenal?” tanya Jaka, namun suaranya terdengar gemetar.


“Tidak,”


“Hem, di bekerja dimana?”


“Di Amethys Tech,”


Jaka sekali lagi tampak menaikkan alisnya.


Jelas saja,


Orang-orang yang direkrut oleh Amethys Tech adalah orang-orang berbakat. Perusahaan berbasis teknologi atau yang bahasa kerennya ‘start-up’ itu, di tahun keduanya langsung melejit dengan nilai valuasi klasifikasi Unicorn (Perusahaan dengan nilai valuasi diatas 14 triliun). Bahkan beberapa pengamat ekonomi meramalkan Amethys Tech akan mampu melejit ke status Decacorn dalam 3 tahun mendatang. Itu sebabnya pemegang saham setara David Yudha menaruh perhatian secara intens di perusahaan ini.


Juga, karena Jaka pengangguran, baru-baru ini ia menemukan kegiatan yang tidak terlalu menghabiskan uang seperti traveling, yaitu... bermain game online. Sudah pasti ia mengenal Amethys Tech yang sering memproduksi software dan program game.


“Wah, calon suami kamu kerja di divisi apa?”


“Developer game,” sahut Nirmala.


Dan hal itu semakin membuat Jaka tertegun.


Nirmala tersenyum tipis dan akhirnya bertanya, “Ada apa datang kesini?”


Jaka tampak menarik napas dengan tegang, “Bisa kita bicara dengan lebih pribadi?”