Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
Sekali-kali Adegan Tegang


Sementara itu di lantai yang berbeda,


"Sore Om Leo," Risman menghampiri Leo yang sedang menyusuri koridor hendak menuju ke arah ruangan kantornya.


Leo adalah wakil Direktur Utama, namun memiliki space yang terpisah dari ruangan Artha karena mereka mengurusi hal berbeda. Intinya,untuk bertemu dengan Artha langsung, bahkan seorang wakil direktur tidak bisa mendadak dan harus menyesuaikan jadwal kerja.


Sementara kalau Artha butuh Leo, dia tinggal ke lantai bawah saja menemui langsung dan mengomel panjang lebar mengenai kinerja.


"Hey, Risman! Apa kabar kamu? Gimana kuliah?"


"Lancar Om, sesuai dengan nilai transkrip yang pernah saya capture,"


"Wah, bagus. Kalau begitu terus, Om jadi enak merekomendasikan kamu jadi karyawan di Amethys. Biar lepas dari Stela,"


"Ibu saya masih punya hutang ke Bu Yuni, jadi sepertinya saya belum bisa lepas dari Stela, Om,"


"Padahal saya sudah menawari ibu kamu untuk melunasinya loh,"


"Seperti yang ibu saya bilang, Om Leo sudah sangat banyak membantu. Rumah, mobil, biaya sehari-hari, semuanya tanggungan Om Leo padahal kami kan hanya keluarga ipar. Jadi biarlah untuk biaya kuliah saya akan tanggung sendiri. Toh, saya hanya mengikuti Stela kemana-mana, tidak terlalu merepotkan sih Om sebenarnya," desis Risman.


"Wah, jangan bilang begitu, kita ini tetap keluarga walaupun Papa kamu sudah meninggal," Leo menepuk-nepuk bahu Risman dengan bangga. "Jadi, ada perlu apa kamu kesini? Om bisa bantu apa?"


"Eh, agak privat sih om. Anuuu... Om tahu mengenai pacar Pak Artha?"


Leo tampak mengangkat alisnya. "Pacar? Pak Artha punya pacar? Laki-laki atau perempuan?!"


Risman mencibir. Jelas terlihat kalau Leo tidak tahu menahu mengenai Wana.


"Om tahu cewek ini nggak?" Risman menunjukan foto Wana dari ponselnya dan memperlihatkannya ke Leo.


"Tahu, dia keponakan Pak Artha kan? Berarti sepupu Stela dong?" kata Leo.


"Hah? Keponakan?!"


"Iya, dia bilang begitu. Cantik banget nih cewek, tapi Pak Artha posesif banget sama dia,"


"Om Leo kenal dimana?"


"Dia datang waktu Grand Launching Hotel Opal, namanya kalau nggak salah Wana ya,"


Risman menatap Leo dengan menyelidik. "Dia pacar Pak Artha, Om. Mereka sendiri mengakuinya di depan kami saat di kampus,"


"Eh? Maksudnya?" Leo tampak kaget.


Risman mengangguk "Iya, betul. Pak Artha tadi siang datang bawa brosur Wedding Organizer dan memanggil Wana dengan sebutan 'sayang'. Bu Yuni lagi histeris sekarang. Makanya saya tanya ke Om, tapi tampaknya Om malah tahu dari saya,"


Risman berhenti bicara saat menyadari perubahan raut wajah Leo. Biasanya ramah dan bersahabat, kini jadi suram dan sinis.


"Oh, begitu," Leo mengembalikan ponsel Risman, "Yah, itu urusan mereka. Terus terang saya tak tahu apa-apa. Coba tanya Chabir, biasanya mereka tahu hal-hal pribadinya Pak Artha,"


"Stela sedang menemui Mas Chandra,"


"Satu lagi, sepertinya Wana itu Babynya Pak Artha ya,"


"Hah? Baby? Sugar Baby maksudnya?"


Leo mengangguk, "Setahu saya, keponakan Pak Artha semua di Kanada. Dan tidak ada yang berwajah seperti Wana, semuanya bule. Dan sikap Pak Artha yang posesif semakin membuat saya yakin kalau tadinya Wana itu Baby. Namun mungkin Pak Artha jatuh cinta dan dia jadikan calon istri,"


Nada sinis yang tak biasa, seakan cemburu, menghiasi wajah Leo. Lalu pria itu pun masuk ke dalam ruangannya tanpa banyak bicara lagi.


Membuat Risman berpikir mengenai banyak hal.


Cowok itu sebenarnya tak ingin mengurusi runah tangga orang lain. Apa gunanya bagi dia? Tak ada.


Dia melakukan hal ini hanya karena Bu Yuni, mama Stela, menyuruhnya.


Lalu ia pun berpikir, apakah mengenai kemungkinan status Baby-nya Wana ia beberkan saja ke Stela? Apakah itu berpengaruh dalam banyak hal?


Orang seperti Pak Artha yang tidak acuh dan dingin apakah bisa terpengaruh oleh stigma negatif publik? Memangnya kenapa kalau Wana adalah Sugar Baby? Toh dia bukan pelakor, Bu Yuni dan Pak Artha pun tidak pernah menikah.


Jadi, Risman memutuskan akan menyembunyikan hal ini. Daripada kekacauan yang lebih besar terjadi dan suasana jadi semakin runyam.


*


*


Menjelang malam, Wana kembali ke kantor untuk absen keluar. Sementara Artha katanya mau meeting lagi di kantor lain.


Di dalam benak gadis itu terbayang wajah kakaknya, Nirmala, yang mungkin akan kaget mendengar kalau ia dan Artha akan menikah.


Saat keluar dari lantai 4, selesai absen, ia berpapasan dengan Leo di koridor lift.


Leo menatapnya seakan melihat harta karun.


Sedangkan Wana ... Memicingkan mata karena tak ingat siapa Leo. Sepertinya pernah lihat tapi dimana ya, begitu pikir gadis itu.


"Eh? Saya kerja di sini," jawab Wana apa adanya.


"Posisi kamu apa?"


"Office Girl, Pak. Khusus ruangan BigBoss,"


"Ruangan Big Boss tidak ada yang boleh masuk kecuali Chabir,"


"Iya sekarang tambah saya Pak,"


Leo tersenyum licik. Selicik rubah bertemu tikus lagi mabok. "Kok bisa keponakan Pak Artha kerja sebagai OG?"


Senyum Wana langsung sirna.


Lalu berbagai cinematic record mengenai masa lalu berkeliaran di otaknya. Membentuk suatu rangkaian ingatan yang tadinya tersembunyi.


Wana hanya mengaku sebagai keponakan Artha ke satu orang. Saat ia bergerilya di Hotel Opal, mencari Sugar Daddy. Dan berakhir dengan hampir pingsan karena belum makan dan sesak napas.


Wana pun menarik napas dengan gugup.


"Om Leo?" nama itu langsung muncul di ingatannya.


"Wah wah, akhirnya kamu ingat saya. Apa semua sudah tahu kalau kamu calon istri Pak Artha?" tahya Leo licik.


Wana diam saja. Dia bingung cara menjawabnya. Chandra bilang dia harus merahasiakan statusnya, tapi di lain pihak Artha malah tidak bilang apa-apa dan terkesan cuek dengan urusan status.


"Hem, kemungkinan belum Om. Lagipula saya hanya sementara bekerja di sini sampai hutang saya lunas,"


Artha sengaja tidak memberitahu Wana kalau pria itu sudah melunasi hutang Gwen, agar Wana bisa belajar cara mencari uang sendiri, sesuai dengan permintaan Nirmala.


"Bagaimana wedding organizernya? Sudah ketemu yang pas?"


Dengan polos Wana menyeringai, "Baru setengah persiapannya Om, susah juga cari yang klop dengan Om Artha,"


"Kita sebenarnya punya rekanan untuk EO, dia juga bisa mengurusi WO. Agak mahal memang tapi kinerjanya selama ini memuaskan,"


"Iya Om Artha juga pernah bilang. Tapi dia minta saya memilih sendiri konsepnya, makanya tadi kita ke pameran,"


"Mau coba lihat-lihat presentasi dari WO kita? Ada di ruangan saya kalau kamu mau,"


"Hooo, boleh Om!"


Dan si kelinci pun terjebak rayuan rubah ekor 666. Dengan naif dia mengikuti Leo ke ruangan pria itu.


Apakah yang akan terjadiiiii?


Skip dulu.


Kita beralih ke tempat lain.


*


*


Kevin Cakra duduk di pinggir ranjang hotel sambil mengatur napasnya.


Kliennya kali ini menghujaninya dengan cakaran dimana-mana. Sudah begitu sepanjang permainan mengomel mengenai pacarnya yang selingkuh dengan cewek yang sangat muda seumuran anaknya.


Mana sampai teriak-teriak histeris saat mencapai puncak, mengenai kutukan mati ke keduanya.


Kevin mempercepat permainannya dengan gerakan yang dikenal bikin pingsan keenakan, menyerang g-sp*t dengan intensif. Walaupun akibatnya dia jadi keliyengan, tapi itu masih lebih baik daripada mendengarkan si tante mengutuk orang terus-terusan.


Kenapa Kevin memutuskan begitu? Karena nama Wana tersebut di mulut si tante.


Juga nama Artha, yang diketahui Kevin adalah pacar 'Daddy' si Wana.


"Nyai Dasima lagi main api," gumamnya. Ia kuatir. Katanya si Tante mau nyewa pembunuh bayaran untuk Wana.


"Ini tante namanya siapa ya? Lupa," gumam Kevin sambil berjalan ke tas branded si Tante, mencari KTP.


Yuni Bahana.


Lalu Kevin juga menemukan dua lembar kertas fotokopian yang kusut dan terlipat-lipat. Isinya mengenai laporan DNA. Yang satu bercap Asli yang satu tidak ada capnya.


Di sana tertulis nama Stela Bahana, dan Arthasewu Connor.


Kevin tidak tahu guna kertas itu, tapi instingnya mengatakan kalau ia harus memfoto kedua lembarannya. Jadi ia lakukan itu.


Lalu ada sebuah kain putih yang dijalin seperti amplop. Saat dibuka isinya. tanah merah yang masih basah, paku berkarat, dan foto Wana.


"Buset, ini santet!" Hampir saja Kevin menjatuhkan kain itu. Lalu diam-diam Kevin mengambil foto Wana, dan mengembalikan bungkusan itu ke tempatnya di selipan tas Tante Yuni.


"Oke, kayaknya gue harus ketemu Wana," desis Kevin sambil berpakaian. Kali ini dia tidak mandi karena buru-buru.