
"Aku akan mentransfer pengeluaranmu malam ini, kau bayar saja sewa tasmu itu. Whatsap aku detailnya," desis Chandra sambil mengantarkan Stela ke pintu keluar ruang tunggu.
"Chandra, apakah ... Wana itu sebenarnya penggoda?" tanya Stela.
"Penggoda? Tidak ada penggoda yang memakai setelan ransel dan sepatu kets seperti dia," kekeh Chandra. "Tapi aku akui dari hari ke hari dia semakin memikat. Mungkin berkat Bapak juga,"
"Memikat? Cewek kayak gitu?!"
"Kebanyakan pria tidak suka wanita yang berlebihan dan apa adanya. Kami tidak mengerti barang branded. Yang kami tahu hanya apakah outfit yang dikenakan sesuai dan pas dengan tubuh kalian atau malah lebay kayak kamu," kata Chandra.
"Kalau discanning, harga semua yang ditubuhku bisa milyaran," gumam Stela.
"Iya. Pertanyaanku, untuk apa itu semua? Menggaet om-om kaya? Atau pamer di medsos? Atau malah menawarkan dirimu ke penculik?"
"Ini estetik,"
"Menurut kamu begitu? Menurutku kamu seperti etalase berjalan. Hehe," Chandra terkekeh lagi. "Aku lebih suka penampilan Mbak Wana. Lebih segar,"
Stela entah bagaimana langsung menahan napasnya dengan penuh emosi.
Aku sedang dibandingkan dengan si Eiger! Apa-apa'an cowok ini? Ini benar-benar sebuah penghinaan!! Pikir Stela marah.
Jadi sebelum Chandra membuka pintu ruang tunggu, Stela buru-buru menghampirinya, menarik dasi pria itu supaya mendekat, dan menciumnya.
Chandra terpaku kaget.
Apa ini? Pikir pria itu. Dia belum merespon yang sedang terjadi.
Ia baru bisa mengerti suasana absurd saat Stela semakin gencar melu-mat bibirnya dan memeluk lehernya supaya semakin erat.
Gadis itu membuka bibirnya dan menyesap lidah Chandra sampai pria itu mende-sah hampir saja menyerah.
Lalu berikutnya, Chandra meraih tangan Stela yang melingkari lehernya lalu mendorong gadis itu menjauh.
"Kamu... " Chandra menghela napas. "Mau mencoba mengambil hatiku? Hal licik apa lagi yang kamu pikirkan sih?!" Gerutu Chandra sambil menghapus bekas lipstik di bibirnya dengan sewot.
"Hah? Kamu bilang kalau aku bukan anak mamaku kamu akan naksir padaku, jadi yaa..."
"Yaa tapi kan realitanya kamu anak Bu Yuni," Chandra merapikan dasinya, "Jangan ulangi lagi," gumamnya sambil meraih lengan Stela dan menariknya untuk keluar dari ruangan.
Stela menepis tangannya.
"Kalau bisa aku juga tak ingin jadi anaknya, tapi aku kan tak bisa memilih mau dilahirkan dimana," gerutu Stela.
"Pokoknya jangan ulangi lagi!"
"Kalau begini bagaimana?" Stela membuka 3 kancing teratas bajunya dan memperlihatkan dadanya yang membusung di balik bra Victoria Secretnya.
Sial! batin Chandra saat melihat penampilan Stela.
"Masih lebih memikat si Wana, atau aku?" tanya Stela.
Ternyata dia cemburu! Pikir Chandra sambil terpaku.
"Jawab, Chandra," desis Stela. Ia sedikit menunduk dan meloloskan kain tipis dari balik gaunnya ke bawah kaki. Lalu melemparkannya ke Chandra.
Chandra menggigit sudut bibirnya, lalu mengunci ruangan itu dan meraih Stela.
*
*
"Kalau konsep indoor tapi dibuat seperti ada hujan turun dari langit dengan lampu kristal, bagaimana?" tanya Artha sambil duduk di salah satu stand dan mengernyit menatap tayangan konsep pesta di laptop.
"Kami ada layout yang seperti itu Pak, bagaimana kalau begini?" Penjaga Stand memperlihatkan tayangan lain.
"Wah! Ini bagus nih, seperti di khayangan," gumam Artha sambil mengelus janggut panjangnya. "Gimana sayang?" tanya Artha sambil menoleh ke samping.
Wana sudah tak ada di sebelahnya.
Kemana lagi sih ni Bocah?! pikir Artha kesal. Pria itu melayangkan pandangan ke sekitar dan akhirnya menangkap sosok Wana sedang di konter snack di ujung sana.
"Astaga..." keluhnya.
Wana sedang memasukkan dua buah takoyaki sekaligus ke mulutnya lalu mengunyahnya dengan semangat.
"Kita tuh kesini untuk pilih konsep pernikahan! Kalau makan sih nanti aja Sayang!" Omel Artha dari kejauhan.
Wana yang merasa diomeli, dari seberang sana langsung berjalan menghampiri Artha sebelum pria itu berteriak lagi dan membuatnya malu. "Hehehehe, mau sayang? Enak loh!" Wana menunjuk Artha dengan tusukan takoyaki isi gurita sambil menyeringai.
"Ada rumput laut di sela gigi kamu," gumam Artha. Wana langsung membersihkan gigi dengan lidahnya. "Yakin kamu nawari aku?!"
"Buat basa-basi sih, tapi berharap kamu nggak mau, aku laper sih," cerocos Wana.
"Kita baru aja dateng loh, belum juga 15 menit,"
"Kuserahkan padamu Om, aku pusing. Dispanduk tulisannya 'mulai 50jutaan' tapi begitu kita konsultasi jatohnya bisa semilyaran juga!"
"EO relasi Opal Grup bisa lebih mahal dari ini loh. Kita kan kesini biar kamu bisa pilih desain, soal harga nggak usah kamu pusingkan,"
"Ya jelas pusing lah, kamu kan pelit. Kalau aku pilih konsep kesukaanku terus kemahalan bisa-bisa diungkit seumur hidup!"
"Lagian kamu tamunya banyak banget sih?! 5000 undangan itu manusia semua?! Atau udah sama khodamnya juga?!"
"Ya nikah memang begini! Memangnya kamu yang temannya cuma Gwen doang?!"
"Mendingan punya 1 teman tapi dia ada di kala suka duka, dibanding teman ribuan tapi kalo bangkrut mereka hilang semua!"
"Hei 5000 orang itu berjasa untukku dalam membesarkan Opal grup,"
"Om, di negara ini naganya itu cuma 12, sama bini-bini mereka jadi 24, Tambah Chandra Birawa yang masih single jadi 26! 5000 orang itu bisa-bisa kamu undang karyawan segedung!"
"Lah ya terserah aku dong kan aku yang bayar,"
"Tuh kan, mending aku makan! Terserah kamu lah konsepnya!" seru Wana kesal sambil memasukkan kembali takoyakinya ke mulut. "Mau nikah indoor, outdoor, di dalem laut, di atas lahar, terserah aja," gerutu Wana.
Sementara orang-orang di sekitar mereka mati-matian menahan tawa akibat menguping pembicaraan dua pasangan yang nyentrik ini.
Perdebatan berikutnya adalah seputar... Katering.
"Harus ada kambing guling," gumam Wana.
"Aku nggak suka kambing guling,"
"Kamu nggak suka kambing karena punya darah tinggi, makanya think positif!"
"Kamu kateringnya kebanyakan desert. Nasinya mana?!"
"Lah kalo nasi sih udah biasa, aku kan juga pingin coba yang belum pernah kurasain,"
"Ya nggak bakalan juga kamu rasain semua, gaun kamu itu ketat! Awas pingsan kekenyangan ya! Kubiarin aja di podium aku nggak mau bopong," Omel Artha.
"Ssst berisik ah! Kuliner bagian aku pokoknya!" Wana mengibaskan tangannya. "Mau cake yang ini, ini, itu juga, sama pudingnya 10 jenis,"
"Puding 10 jenis?!" seru Artha kaget.
"Pudingnya lucu Sayang, bentuknya kelinci ada lembar emas-emasnya,"
"Iya kelinci mirip kamu, disamperin malah lari. Loncat-loncat grasa grusu tapi teparnya cepet bisa hibernasi sebulanan," gerutu Artha.
"Ngomel terus sih?! Aku lagi konsentrasi mikir nih, mau pilih bonus stand Sop Buntut atau Bakso Raksasa!"
"Dua-duanya aja kali!"
"Oke, Mbak, dua-duanya!"
"Ribet dasar," gerutu Artha.
"Nah, sekarang minumnya,"
"Ya ampun belum selesai..." Keluh Artha. Mereka sudah dua jam di stand katering.
"Ada jenis minuman pake yakult kayak di restoran steak nggak?" tanya Wana ke petugas katering.
*
*
Chandra kembali ke mejanya sekitar satu jam kemudian dalam keadaan letih. Lalu pria itu menjatuhkan dirinya di kursi kerjanya sambil menjalin dasinya kembali.
Gila, capek banget ternyata. Udah nahan berapa lama sih gue, kok tadi forsir banget! Gerutu Chandra dalam hati.
Bira menghampiri kubikelnya, berdiri di depannya, dan menatapnya lekat-lekat.
Setengah sinis, namun ada binar menggoda.
"Nekat lo!" tegurnya.
Chandra yang masih berusaha menguasai napasnya hanya meliriknya sekilas.
"Tolong hapus rekaman di ruang tunggu, bro," gumam Chandra.
"Udah gue matiin kamera CCTVnya sejak Stela cium lo. Untung gue cepet tanggap," sahut Bira.
"Tengkyu," gumam Chandra.
"Tapi... ada yang harus lo liat di rekaman CCTV," Bira menghampiri komputer Chandra dan menekan mousenya. "Ternyata Mbak Wana tidak sendirian membersihkan ruangan Bapak,"
"Eh?" desis Chandra. Pria itu langsung fokus ke tiga orang yang dibawa masuk oleh Wana ke dalam ruangan kerja Artha. "Gue kayak kenal nih cowok," gumam Chandra sambil menunjuk layar komputernya.
"Iya, dia Kevin Cakra,"
"Dia yang kemarin diminta Bapak buat dikerjain bukan sih? Terduga pacar Mbak Wana?" sahut Chandra.
Bira mengangguk.
"Hem... seru nih," Chandra menyeringai.
"Ya kan?" Bira ikutan mesem-mesem.