Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 42


"Hei Brooooo," Kasep menepuk pundak Kevin. "Gimana kerjaan?!" Cowok itu datang dengan peralatan bersih-bersih dan seragam OBnya. Rokok nangkring di sudut bibir dan wajahnya tampak ceria.


"Kerjaan beres, masa depan cerah, gajian lancar, mati masuk surga,"


"Aamiin!" Doa Kasep. "Bagi kisi-kisi tes CPNS dong,"


"Lo sih mau nyemplungin gue ke penjara namanya,"


"Emang bisa lu cari?"


"Bisa, tapi habis itu saiberpulis gerebek akun gue,"


"Matematika yang gue kuatirin loh cuy, apa lu jadi joki gue aje?"


"Ah elah! Tujuan lo temenan ama gue tuh apa sih?! Kupret bener lo!" Kevin mengeplak kepala Kasep dengan gemas.


Kasep cengengesan sambil menyerahkan alat pel ke Kevin. Minta dibantuin ceritanya. Si Kevin polos aja malah ikut ngepel lantai toilet.


"Lo ngapain merenung di wc begini? Cari wangsit?" tanya Kasep.


"Nunggu duit jatoh dari plafon,"


"Tumben lo cari duit, biasanya rezeki nyamperin lo,"


"Cicilan apartemen gue mahal,"


"Dulu lo cari kosan itu kan niatnya nabung, Kev. Kenapa malah ke apartemen sih?! Bukannya lo pernah bilang nggak mau cari apartemen?"


"Yang kemarin mendesak, Sep. Urgent. Tapi ya 6 bulan sih gratis ya tinggal di sana. Nah bulan ini mulai bayar... Pas gue lihat tagihannya, zonk!"


"Pindah aja sana,"


"Mau kemana?"


"Ke unit depan laaaaaaah," Kasep mencubit pipi Kevin.


"Mau gue juga gituuuuuu,"


"Ah ngapain sih nunggu gaji 30 juta?! Gue jadi lo, dah gue dobrak tuh pintu penghalang cinta!"


Brakk!!


Dan pintu toilet pun dibuka dengan kasar.


"Walah ni anaaaaakkkk!!" Bu Susan masuk ke toilet laki-laki, dan langsung menjewer telinga Kevin.


"Aaakkkk sakit buuu!" Keluh Kevin sambil meringis dan terpaksa mengikuti Bu Susan yang menarik telinganya.


Mereka masuk ke ruang meeting yang sebenarnya jaraknya hanya 10 meter dari toilet. "Si Jo dan Raka sampai nyari-nyari kamu ke mall depan! Mereka pikir kamu kabur ke sana! Dasar sableng!" Omel Bu Susan.


"Saya kan cuma ke toilet buuu,"


"Kamu di toilet udah satu jam! Ngapain aja kamu?! Sembelit?! Makan sayur makanya! Jangan makan temen melulu!"


Diomelin di depan peserta meeting, ngomongin masalah sembelit.


Lalu dia pun teringat kalimat Kasep, "Cari wangsit, Bu,"


"Cari pangsit tuh di tukang mie ayam, bukan toilet! Halo? Raka, udah ketemu nih Kevinnya, cepet balik siapin bahan!" Seru Bu Susan sambil mendudukan Kevin di kursi paling ujung.


Daaan, demam panggung Kevin pun kumat lagi.


"Kenapa saya duduk di ujung bu? Kan ada Pak Frans..."


"Saya kali ini cheerleader aja. Kan kamu yang bikin gamenya, jadi kamu lebih tahu sistemnya," Kata Pak Frans Darling sambil menyeringai.


"Duh..." Dan perut Kevin mulai mual, Ia pun beralih ke Sang Presdir. “Bu Susan kenapa duduk di sana?”


“Kevin,” panggil Bu Susan.


“Y-y-ya Bu?”


“Kambing hitam itu biasa ada di setiap meeting,”


Njir! Maksudnya gue jadi tumbal! Sue’ bener ini Lady Bathory! Umpat Kevin dalam hati.


Pak Fandy, Kepala Divisi dari unit Kevin menyediakan kopi di samping cowok itu, bikinan sendiri, ekstra creamer. “Maaf ya Kev,” bisik Pak Fandy, “Tadinya saya mau backup kamu tapi kata Bu Susan dia mau lihat kemampuan kamu untuk promosi jabatan. Karena usia kamu masih muda kami masih ragu untuk...”


“Apa Pak? Naik Jabatan? Jadi Kepala Unit begitu?!” Kevin menoleh sambil terbelalak.


“Sssst! Bukan Kepala Unit lagi, tapi Kepala Seksi, tepat di bawah saya, loh,”


“Serius ni?!”


“Kamu keluarkan saja kemampuan terbaik kamu di presentasi kali ini. Game kamu menarik kok, saya saja mainin prototypenya sampai tamat, seminggu penuh loh! Haha!” kata Pak Fandy sambil menepuk-nepuk bahu Kevin dan kembali duduk di kursi di samping Pak Frans.


Kevin diam sambil mengaitkan jemari di kedua tangannya, berpikir.


Naik jabatan jadi naik gaji. Naik gaji jadi bisa nabung. Bisa nabung jadi bisa cepet beli rumah. Dan bisa jadi hanya beberapa langkah lagi, dia bisa bertemu Nirmala.


Kenapa gue gugup, coba?! Anggap aja ini lagi ngobrol biasa. Kan sebagian besar orang-orang di sini gue kenal baik. Anggap saja keluarga sendiri kali ya? Bedanya, gue salah, gue game over. Nggak bisa direset lagi. Dah itu aja...


Begitu pikirnya.


“Halah si fakboi disini! Gue cari lo udah sampe kaki gue gemeteran!” seru Raka sambil menoyor ubun-ubun Kevin.


“Gue nggak setua itu, gue berjiwa muda,”


“Jiwa muda lo timbul karena bini lo masih kinyis-kinyis kayak gue, tapi sebenernya onderdil di dalam udah mulai karatan,”


“Yang penting On nya masih tahan lama,”


“Ngomongin apa’an sih, gue capek ini, haus pula. Kev, bikinin es teh dong,” keluh Jo, masuk ruang meeting sambil kipas-kipas pake tablet, dengan gaya kemayunya. Kayaknya pas capek dia kelepasan mengeluarkan sifat habitat asli.


“Gue mau presentasi, Pak,”


“Bodo amat, gara-gara lo gue harus keringetan! Jadi mubazir kan Jo Malone gue!” Omel Jo.


“Lo apanya yang capek sih Jo? Dari tadi gue cari Kevin muter-muter, lo nangkring di Pedro, sempet-sempetnya beli sepatu pula,”


“Sssst! Dasar ember!” Jo takut-takut melirik Bu Susan. Beruntung Bu Susan lagi ngobrol serius dengan Pak Darling, jadi nggak kedengeran kalo Jo, Si Kadiv HRD, bolos ke mall belanja-belanji dengan dalih pekerjaan (cari Kevin).


Kevin menyerahkan sebotol es teh kemasan, “Ini aja ya Pak, nanti lo keGRan gue bikinin,”


Jo sambil mencibir menerima botol itu. Padahal maksud dia minta bikinin es teh ke Kevin ya memang itu, biar terasa hawa-hawa keakraban dari racikan Kevin.


“Pagi, menjelang siang semua,” Arthasewu Connor, Pemegang saham utama Opal Corp, juga Komisaris Independent di Yudha Mas dan Amethys Tech masuk ke dalam ruangan, semua orang langsung sigap berdiri.


“Siang Pak,” seru semua. Karena sudah jam 10 lewat dikit, jadi bisa dibilang sudah siang. Molor 1 jam gara-gara Kevin hilang.


“Selamat Siang,” sapa David Yudha yang berjalan di belakang Artha. Pemegang saham Utama dan Presdir PT. Yudha Mas, sekaligus Komisaris Independent Opal Corp dan Shareholder Amethys Tech.


Muter-muter aja semuanya.


Iya, sampai sering Artha malah tanya ke Chandra, Saya ini jabatannya apa aja dan di perusahaan yang mana aja sih? Kok kayak lingkaran setan.


Author juga sebentar lagi lupa. (Tolong ya, nggak usah bikin soal kuis pakai beginian, sudah pasti aku nyontek di halaman ini.)


“Siang Pak!” seru semua, kecuali Bu Susan yang merengut.


Soalnya paginya, biasa, habis berantem lagi gara-gara masalah surat pendek di Sholat Subuh. Pas jadi imam, Pak David membacakan beberapa Ayat dari Surat At-Taubah dan Bu Susan yang jadi makmum merasa disindir. Habis sholat mereka berdebat dan Pak David nggak dibikinin sarapan.


“Siang, Sayang,” sapa Pak David sambil tersenyum lembut. Tapi Bu Susan menganggapnya, lagi-lagi, itu sindiran karena jam meeting yang terlambat dan terkesan tidak profesional.


“Semua juga tahu ini udah siang, nggak usah diingetin,” gerutu Bu Susan.


Semua tegang,


Terutama Kevin yang mengusap lehernya, takut ilang.


“Yang penting semua sehat dan personel lengkap, yaaaa,” sahut Pak David. Tampaknya dia sudah kebal sama ambekan istrinya.


Lucu juga pasangan suami-istri ini.


“Kamu ngapain di sana?” tanya Artha, menatap Kevin sambil memicingkan mata.


“Eh... jadi pajangan Om,” gumam Kevin minder, tangannya naik-turun ala kucing 3 warna yang suka ada di kasir toko elektronik di ITC.


Aura Artha kalau ngumpul dengan sesama pebisnis jadi beda banget. Benar-benar mengintimidasi. Terutama...


David Yudha dengan senyum lembutnya.


Auranya serem banget kayak psikopat habis ngegorok ayam dan masih sempat senyum sambil berlumuran darah.


“Kevin kayaknya programer yang tadi menghilang itu ya?” tebak Pak David.


“Ngga mungkin,” kata Artha.


“Mungkin saja,” kata Kevin.


“Memang kamu bisa bikin game?! Si Tukang main cewek ini?”


“Wah, Susan dapet budak baru, jenius pula,” sindir Pak David sambil melirik Raka.


Raka menurunkan kursinya agar bisa berlindung di balik punggung Jo. “Ehem! Assalamu’alaikum Pak Daviiid...” gumam Raka dengan gigi terkatub.


“Game kamu tentang apa sih? RPG?” tanya Artha ke Kevin sambil mengerutkan kening menatap tablet di depannya.


“Prototypenya dapat rating 9,5 Pak,” kata Pak Darling.


“Kamu sudah tes sendiri, belum?”


“Sudah Pak, saya sampai kecanduan,” kata Pak Fandy.


“Jangan-jangan temanya tentang cara mengejar tante-tante, lagi,” sindir Artha.


“Itu sih udah trademarknya Tante Author. Tips dan Trik mengejar Sugar Daddy ala ngawur,” kata Kevin. "Biasa dia suka asal ngetik kalo lagi sebel jemuran masih basah tapi tau-tau hujan,"


Lalu dari arah jendela raksasa di depan mereka, Ethan Hunt turun pakai parasut dan membidik dahi Kevin dengan infrared.


Dorr!


Kevin terkapar jatuh ke lantai.


Novel ini TAMAT.


(Tante Author ngambek, ceritanya).