Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
RP 4


Dengan menggandeng Tante Sarah di lengannya, Kevin pun membuka pintu ruang karaoke dan keluar. Tante Sarah tampak bergelayut mesra dan secara intim menempelkan dadanya yang sebenarnya tidak seberapa besar.


Kalau kata Kevin : yah, yang penting ada lah.


Saat itu mereka berpapasan dengan pasangan yang baru datang, dan tampak akan membuka pintu ruangan karaoke di sebelah ruangan mereka.


Kevin bertatapan dengan wanita muda di sebelah laki-laki separuh baya berpakaian ‘nggak banget’ macam Om-Om Mafia Maksa.


Tampaknya usia si wanita masih sangat muda.


Kevin langsung bisa menilai kalau si wanita muda itu ‘sejenis’ dengannya. Dan mungkin saja pemula kalau dilihat dari gayanya yang kalem, canggung dan pakaiannya yang sederhana.


Tapi memang sangat cantik, lebih cantik dari Baby-Baby yang sering dilihat Kevin. Yang ini elegan, berkulit seputih pualam dengan rambut panjangnya diwarnai coklat muda.


Sedikit lagi dipoles, mungkin dia bisa sangat laris.


Mungkin bisa minta bantuan Mami.


Kevin reflek menyunggingkan senyum sinis.


Dan herannya wanita muda itu juga menatap Kevin dengan tajam seakan tidak suka. Dalam hati masing-masing mereka saling mengejek.


Dari sini, pembaca bisa kembali nostalgia ke episode 11, dengan judul “Heboh”.


*


*


Esok harinya di sekolah,


“Ini sih bakalan berbekas,” keluh Kevin sambil menatap keningnya yang masih terbalut kain kasa.


Ia sedang di kamar mandi pria, merokok, bersama beberapa belas siswa lainnya.


Kamar mandi di SMA Sincostangen ini lumayan bersih kayak di mall.


Beberapa anak curiga dana Pembangunan sebagian besar di alokasikan untuk kamar mandi. Karena memang secetar itu. Dan ada gosip kalau di dalam kamar mandi Kepsek, Bu Ida, bahkan ada bathtub sendiri.


Iya, ada. Batin Kevin. (masalahnya udah ngerasain).


Jadi, area kamar mandi cowok kerap dijadikan smoking room dadakan.


Kasep, duduk di lantai kamar mandi dengan rokok tersampir diantara jemarinya, mengamati Kevin yang daritadi terpaku di depan kaca memandang kasa di dahinya.


“Perasaan semaleman gue nungguin lo mabar lo nggak muncul, alesannya nemenin nyokap nonton drakor. Tapi pagi ini lo malah luka-luka. Emang drakor jenis apa yang lo tonton?” desis Kasep dengan nada sarkas dan curiga.


“Lebih ke reality show,” gumam Kevin sambil merengut menatap lukanya.


Ish! Beneran ternoda muka gue. Bisa dijual kagak nih? Apa tunggu sembuh dulu? Mesti konsul ke mami kalo begini caranya. Pikir cowok itu.


“Reality shownya langsung berantem di depan muka lo gitu?” Kasep masih curiga, securiga seorang istri yang feelingnya kuat terhadap kesetiaan suaminya.


“Begitulah, mengenai seorang pria yang usianya sudah sepuh dan jatuh cinta ke cewek yang dua kali lipat lebih muda, terus si cewek ini dibawa kabur sama cowok lain,” gumam Kevin, masih dengan mata menerawang.


“Hah?” Kasep memicingkan mata sambil menaikkan sebelah bibirnya.


“Pingin bolos deh gue,”


“Absensi lo udah limit cuy,”


“Ada nggak sih yang bisa jadi stuntman? Ngantuk banget nih gue,”


*


*


"Ini hanya latihan untuk mengukur seberapa mengerti kalian terhadap pelajaran yang saya berikan, agar saya bisa memperbaiki cara mengajar saya. Jadi nggak usah ... ugh!" Pak Guru merebut kertas yang dari tadi dikekepin Kasep, anak itu sepertinya nggak rela kertasnya diambil, " ... tidak usah terlalu serius dulu. Kita sebentar lagi akan bahas satu-satu soalnya, woi Kasep ini kenapa kertasnya kosong, hah?!"


"Yaaaaa makanya tadi, punya saya nggak usah dikumpulin dulu lah paaaaak," gumam Kasep.


"Ck, alasan saja," Pak Guru berdecak jengkel. "Itu bangunin temen kamu yang di sebelah,"


"Bro, disuruh bangun," bisik Kasep ke Kevin.


"Udah jam istirahat ya?" Kevin mengangkat kepalanya dengan wajah khas orang mabok, beler.


"Kita mau bahas hasil kuis,"


"Ergh!" keluh Kevin.


"Kevin, maju ke depan dan kerjakan nomor 1 dan 2. Ini nilai kamu 8/10 nih, walaupun dari tadi saya lihat kamu tidur terus,"


"Widiiiihhhh," seru semua terpukau. Walaupun tidur, Kevin tetap bisa mengerjakan.


"Yang ngerjain Qorin-nya pak, dia mah nggak inget apa-apa," gerutu Agus di ujung ruangan.


"Qorin apa'an sih?" tanya Kevin polos.


"Maju kesini Kevin Cakra," si Pak Guru mulai tak sabar.


Akhirnya Kevin mengerjakan soal no. 1 dan 2 dengan kondisi setengah limbung. Sampai-sampai tulisannya mleyot ke bawah dengan huruf yang bisa dibilang bagaikan aksara di artefak.


"Kamu itu lagi bikin prasasti ato jawaban Matek sih Kev?!" Gumam Pak Guru.


"Pokoknya hasilnya 0.04% pak," desis Kevin.


"Ini lagi saya usahakan," Kevin menguap lagi.


"Jiah bahasa kamu, usahakan," tapi Pak Guru Matek mengernyit melihat kondisi Kevin.


"Kev?" Bisiknya sambil mencondongkan tubuhnya.


"Ya Pak?"


"Kamu ngobat ya?"


Kevin langsung menoleh padanya tapi masih dengan wajah teler.


"Hah? Sembarangan," desisnya.


"Lah itu tampang kamu, kalo ngobat kan ngantukan,"


"Iya saya ngaku, saya memang ngobat bener juga sih pak, kebanyakan Tadalafil," Kevin menyeringai. Dia tidak peduli apa gurunya itu akan menganggapnya bercanda atau serius.


Bagi pria, pasti tahu obat jenis apa Tadalafil itu.


Yang jelas Kevin tidak bercanda.


"Saya harap kamu tidak serius..." Gumam Pak Guru.


Kevin akhirnya menyelesaikan jawabannya dan izin ke UKS untuk tidur sebentar di sana sampai bel istirahat kedua berdentang.


*


*


"Anuuu Kak Kevin?" Seorang siswi yang gaya berpakaiannya khas anak baru dengan jengah menghampiri Kevin dan teman-temannya saat jam istirahat kedua. Saat itu mereka sedang berada di kantin.


Kevin yang wajahnya sudah mulai segar karena sudah bisa tidur di UKS, menoleh sambil tersenyum dengan Cuppacup di dalam mulutnya.


Maklum, di kantin tidak boleh merokok.


"Ya?" tanyanya. Cewek yang menghampirinya sesaat tertegun melihat senyum Kevin, dan wajahnya langsung merona kemerahan.


Dalam hatinya ia membatin, pantas saja Kak Kevin banyak yang suka. Wajah bule hidung mancung senyum manis begitu mana ada yang bisa menolak.


Merengut aja ganteng, apalagi kalau senyum bisa bikin dengkul lemas.


"Ka-ka-kak Kevin, tadi Kak Dian minta saya menyampaikan ini, surat buat Kak Kevin katanya,"


"Hah?" dengus Agus, "Zaman udah mendekati kiamat begini masih ada yang pake surat-suratan kertas?! Coba buka Kev, jangan-jangan isinya malah kartu debit, hahahaha!"


"Dian tuh siapa sih?" tanya Kevin.


Semua diam, sambil saling lihat-lihatan. Terutama si kurir surat tadi membelalak dengan panik, karena yang namanya Dian itu sedang memperhatikannya di sudut kantin tidak jauh dari sana.


Rencananya setelah Kevin menerima surat darinya, kalau Kevin menoleh ke arahnya, Dian akan pasang tampang paling cantik dan melambaikan tangan.


Tapi Kevin malah tanya 'Dian itu siapa?'


"Be-go! Dian itu yang follower ig nya sejutaan. Yang kemarin endorse skincare punya crazy rich Malang," jelas Agus.


"Itu dia duduk di sudut tuh," kata Kasep sambil menunjuk Dian dengan dagunya.


Kevin membuka amplop dan di dalamnya ada kartu berwarna emas, undangan untuk datang ke pesta sweet seventeen Dian.


Kevin membacanya sekilas, terutama fokus ke waktu dan hari. Lalu memasukkan kembali kartu itu ke dalam amplop dan mengembalikannya ke si kurir.


"Bilang gue udah ada janji," desis Kevin.


Si kurir melongo.


Agus dan Kasep gebrak meja.


Si Dian langsung pasang tampang marah.


"Diwakilin temen-temen gue aja bisa nggak? Lagian gue nggak kenal Dian, ngobrol aja nggak pernah, ngapain juga ngundang-ngundang gue," tanya Kevin akhirnya.


"Wooooo, dasar takabur lo!" Agus mengemplang kepala Kevin pakai kerupuk.


"Yah, Kak ... Tapi sayaaa ... " si Kurir dengan takut melirik ke arah Dian. Jelas, si kurir sebentar lagi akan jadi sasaran kemarahan Ratu Endorse.


"Hem," gumam Kevin malas, ia sepenuhnya mengerti posisi sulit si kurir. Jadi sambil mengacak-acak rambut ikalnya ia pun beranjak dari duduknya.


Cowok itu berjalan ke arah Dian, diiringi tatapan penasaran para hadirin hadirot pengunjung kantin, dan meletakkan amplop surat itu di meja di depan Dian.


"Lo yang namanya Dian?" tanya Kevin.


"Eh, iya Kak, hehe," Dian menyeringai dengan jengah, "Salken Kak Kevin," suaranya lembut mendayu.


Gaya Dian dibuat-buat agar terkesan imut, dengan dua kancing kemeja seragam yang sengaja dibuka agar belahan dadanya mengintip. Tertulis di kelasnya angka 11, menandakan tingkat kelasnya.


Kevin tersenyum manis berusaha tetap sopan, padahal dalam hatinya dia sudah eneg sama tingkah Dian yang dianggapnya sok cantik dan menang putih doang, "Langsung saja ya Mbak Dian, selera gue tante-tante. Kecuali nyokap lo seksi, gue nggak ada minat kenal deket sama lo,"


"Hilih ki*ntil," desis Kasep sambil mendengus kesal.


"Pamali loh nolak rejeki," sahut Agus.


Dian hanya diam menatap surat yang diletakkan Kevin di depannya. Bibirnya gemetar tanda kemarahan yang tertahan. Ditolak di depan banyak orang bukanlah harapannya.