
Agus berhenti mengunyah jagung saat Kasep bilang pernikahannya minggu depan.
"Ha?" dengusnya. Tapi tampangnya masih belum merespon bentuk kekagetan karena ia pikir Kasep bercanda.
"Dia udah hamil ternyata, tespeknya positif, ya gue mau sih tanggung jawab. Dari awal juga gue yang minta," Sahut Kasep.
"Emang gimana sih Sep prosesnya? Kok tiba-tiba aja tanpa lo cerita dia udah bunting?" tanya Kevin sambil mengunyah.
"Inget yang awal kita tawuran?" tanya Kasep.
Agus dan Kevin mengangguk.
"Ada pulis kita cabut nyebar kan ya?"
Agus dan Kevin mengangguk lagi.
"Entah gimana itu para pakpol fokusnya ke gue, ngejarnya gue,"
"Ya iya lah badan lo paling bongsor, lo dianggep ketua genk," gerutu Agus.
"Gue udah sembunyi di dalem toko, masih di cari. Goblok nggak sih?!"
"Siapa dulu nih yang goblok," timpal Kevin.
"Pokoknye, itu kayak gue udah ditandain pake radar. Gue serasa jadi buronan,"
"Buronan, macam jaman koboy. Wanted : Kaharuddin Septian, Rp. 100.000, Dead or Alive! Seru nih!" gumam Agus.
"Murah banget gue,"
"Ya kan lo gunanya apa? Paling benerin antena di atas genteng doang lu bisanya,"
"Emangnya masih jaman antena di atas genteng? Udah pake router kan sekarang, paling fiber optik kalo yang nyangsang diatas," kata Kevin.
"Lu tuh polosnya jumawa ya Kev, sobat misqueen yang kalo mau mandi masih genjot pompa kayak gue tuh masih ada!"
"Yang pompanya harus dipancing dulu guyur air dikit-dikit, hahaha!" seru Kasep.
"Masih ada begituan di Jakarta?"
"Ni anak harus penataran kayaknya," gerutu Agus merasa tersinggung.
"Ntar aja, lanjut cerita gue," desis Kasep.
Semua langsung diam menyimak.
"Jadi, akhirnya gue terpaksa sembunyi di dalam rumah warga. Nah, rumah Farida ini ada di depan gue waktu itu. Dia baru pulang dari ekskul PMR. Gue inget lah yang pake ransel berbi sesekolahan ya cuma dia kan?!"
"Iya dia sering ada di UKS kalo gue tidur di sana," desis Kevin mencoba mengingat-ingat.
"Lo tidur di UKS sama siapa?" tanya Kasep galfok.
Kevin hanya tersenyum simpul penuh arti. "Lanjut Sep," desisnya mencoba mengalihkan perhatian.
Kasep mengernyit menatapnya curiga, tapi sekarang bukan waktunya mengulik sejarah si londo, "Dan gue minta tolong dia buat nyembunyiin gue di dalam rumahnya, sementara lo berdua entah kabur kemana nggak ajak-ajak,"
"Kita di rumah Pak Haji Sueb. Sebelom beraksi gue udah booking titik aman," desis Kevin.
"Bekingan lo si Aminah si ya!" sahut Kasep curiga lagi.
"Asal bentukannya cewek mah, setara Ratu Pantai Antartika juga bisa dia taklukin," desis Agus.
"Antartika?"
"Nama disamarkan, takut kena tulah,"
"Dedemit bukan lahan gue,"
"Lo belum tau aja tampang Nyai secantik apa, kesengsem baru nya-ho lu," gerutu Agus.
"Iya habis begituan dia berubah jadi ular," gumam Kasep. "Nah, di saat gue sembunyi itu, terjadilah hal-hal yang diinginkan. Dari mulai nyediain minum, gue bantuin dia masak karena itu emang tugasnya dia, numpang mandi, nonton tv berdua, bercandaan, dan... Ya begitulah,"
Agus dan Kevin hanya diam sambil menyimak.
Agus memikirkan masa depan yang akan Kasep hadapi, karena Kasep sosoknya tinggi besar style satpam. Sifatnya juga kadang meledak-ledak. Sedangkan Farida tipe pelajar kalem yang mungil dan malu-malu meong. Apakah mereka akan bisa membangun bahtera rumah tangga berdua? Dan kenapa sampai sekarang Agus masih jomblo? Ibaratnya, Sementara kedua temannya ini sudah ke Cappadocia, dia masih nyangkut di Stasiun Senen.
Diam-diam Agus merasa envy. Lalu cemberut sendiri.
Sementara Kevin memikirkan : game yang tadi udah gue save belom sih? Lumayan kan peringkatnya bisa buat pamer ke Pak Frans Darling.
Dia sama sekali tak ada kekuatiran akan Kasep. Karena yang ia kenal, walaupun Kasep itu sering pedes mulutnya, tapi kesetiakawanannya tidak diragukan. Itu bukti kalau Kasep bisa lumayan gentle terhadap Farida.
"Jadi gimana menurut lo berdua?" tanya Kasep akhirnya.
"Jalanin aja Sep," sahut Agus dan Kevin berbarengan.
Ya terus mau apa lagi, coba?!
*
*
"Kev?"
"Hm?"
"Lo serius mau dateng ke pesta Dian?"
"Gue ada urusan sama tu ciwi,"
"Paling dia gertak sambel doang Kev, belom tentu juga dia tau perihal kasus itu,"
"Gue harus pastiin sendiri, Sep,"
"Gimana caranya biar lo nggak bersentuhan sama Dian, tapi info tetep dapet?!"
"Itu masalahnya, gue mentok cuy!"
"Elah..."
Kasep dan Kevin berada di dalam rumah Kevin di hari Sabtu sore, menunggu Agus datang.
Rencananya mereka bertiga akan berbarengan menuju rumah Dian, menghadiri acara ulang tahunnya.
"Sep, gue lagi ngurusin pindahan rumah nih, gue udah lapor Pak RT," kata Kevin.
"Hah?! Tapi rumah ini kan penuh kenangan,"
"Iya, tapi kegedean buat gue tinggal sendirian. Udah gitu jauh dari kantor,"
"Lo mau cari di deket sana ya harganya jauh lebih mahal dari kontrakan lo ini. Lo tau disitu tempatnya eksmud. Kos-kosan ada yang 10juta perbulan, dah kayak nyicil rumah mewah,"
"Paling gue mau cari kosan yang daerah Mampang, Pancoran atau Tebet. Budget gue perbulan 1,5jutaan,"
"Itu sih yang kamar mandi luar, kalo range daerah sana. Coba cari yang di Jakarta Barat, segitu udah kamar mandi dalam loh, pake AC pula,"
Dan obrolan berikutnya seputar rencana untuk hunting kosan murah.
*
*
"Assalamualaikum! Diriku dataaaaang!" seru Agus sudah dengan style yang begitulah.
"Njir, lo mau ikutan CPNS? Baju lo kenapa putih item bawa bunga pula! Itu peci kenapa masih nyangsang di kepala?!"
"Gue habis solat maghrib jamaah. Hehe. Lupa! Ini bunga buat hadiah,"
"Ini bunga apa'an sih? Kecombrang ngapain lo bawa-bawa?!"
"Adanya ini di dapur. Gue cari mawar, yang suka jual bunga di area kuburan dah pada tutup,"
Kevin dan Kasep saling lihat-lihatan, "Bener juga kenapa nggak kepikiran bawa kamboja aja buat ulang tahun Dian?!" desis Kasep.
"Gue nggak sudi ah bawa apa-apa, ntar dia salah paham gue yang susah!" gerutu Kevin.
Dan akhirnya, berangkatlah mereka bertiga ke rumah Dian. Berbekal modal nekat dan rangkaian bunga khas perdapuran yang dipegang Agus.
*
*
"Selamat ulang tahun, Diaaaan," gumam Kasep.
"Ini kadonya, semoga jadi pinter masak!" Agus mengulurkan beberapa tangkai Kecombrang.
"Ini apa sih? Sedap malam?" Dian mengenyit tak yakin.
"Itu bumbu dapur mahal itu,"
"Kenapa gue dikasih bumbu dapur?"
"Karena dobel gunanya. Selain tampilannya indah, bermanfaat juga buat dimakan, sapa tahu malem-malem lo pingin camilan sehat sambil nonton drakor,"
"Kenapa Agus kepikiran yang beginian sih?" bisik Kasep ke Kevin.
"Yang gue tahu, kalo cowok udah kesengsem, tingkahnya jadi merhatiin kesehatan si cewek," bisik Kevin ke Kasep.
"Serius lo bro?!" bisik Kasep kaget.
"Ini masih gue pantau, gelagat Agus Supriyadi mencurigakan," gumam Kevin.
"Yuk Masuk Kak!" Dian dengan agresif menggandeng lengan Kevin.
Agus hanya mencibir, Kasep langsung pasang radar pengintaian ke Agus.
*
*
"Jadi, gimana?" Kevin mendesak Dian. agar segera memberitahukan mengenai informasinya.
"Cium aku dulu, kak,"
"Itu gampang,"
"Aku nggak mau, cium dulu,"
"Dian, gue lagi nunggu informasi dari kepolisian, jadi kalo lo nggak mau kasih tau, gue nggak masalah,"
"Polisi nggak sampai masuk-masuk ke gang buat cari mobil yang mirip dengan yang nabrak Ibu Kak Kevin,"
"Gang? Jadi pelakunya masih orang yang lokasinya dekat dengan rumah gue ya?" tebak Kevin.
"Kak Kevin nggak rugi apa pun kok kalau tidur sama aku, anggap aja aku klien,"
Kevin menaikkan alisnya.
"Klien?" saat itu, Kevin tahu kalau Dian sedang berusaha menjebaknya agar mengakui kalau hubungannya dengan Mami bukan hanya sekedar minta dicarikan pekerjaan. Bisa jadi di dalam kamar ini ada cctv juga.
"Apa sih maksud lo?" Kevin balik bertanya.
"Jangan pura-pura lagi Kak Kev, aku punya bukti kalo salah satu anak buah mama kirim dana ke rekening Kak Kevin,"
"Terus masalahnya dimana?"
"Ya itu kan dana atas pembayaran ..."
"Pekerjaan editing buat laman yutub nyokap lo,"
"Eh?"
"Hm,"
"Maksudnyaaaa..."
"Emang lu pikir gue ngapain, pecun?!" nada suara Kevin berubah emosi dan menjadi kasar.
"Bu-bukannyaaaa..." Dian tergagap.
"Otak lu tuh bener-bener kotor ya! Selama ini lo tuh mikir apa'an sih mengenai gue, hah?!"
"Anuuu..."
"Yan, gini deh, kalo elu nggak mau kasih tau gue info mengenai siapa yang nabrak nyokap gue, gue tinggal laporin polisi kalo lu tahu, tapi lo menyembunyikan info. Dengan sendirinya mereka akan beranggapan kalo lo terlibat. Ngerti?!"
"Bu-bukan begitu maksud akuuu," Dian mundur selangkah dan mulai panik.
"Ya udah, mendingan lo kasih tau gue, terus lo udahin deh semua kekonyolan ini! Gue udah punya pacar. Ngerti gak?!"
"Pacar Kak Kevin... Itu Marisa bukan?"
"Bukan! Dan lo nggak perlu tau," Kevin melipat kedua tangannya di dada sambil menunggu penjelasan Dian.
Dian terdiam lalu mulai terisak.
Lagi-lagi dia kalah telak.
"Bro, udahan bro, dia udah nangis..." Agus mengintip dari balik pintu, cowok itu merasa kasihan dengan Dian yang putus asa.
"Biar aja, lagian nyusahin. Dia pikir dunia milik dirinya kali," gumam Kasep sambil masuk ke dalam kamar Dian dan duduk di kursi belajar cewek itu.
"Iyaaa tapi kan nggak perlu segalak itu," gumam Agus.
"Ini masalah nyokap gue ditabrak sampe meninggal, dan ni cewek masih beranggapan kalo itu lelucon!" sahut Kevin ketus.
"Bu... Uhuk! Bukan gitu kaaaak," isak Dian.
"Udah deh Yan," Agus menghampiri Dian dan menarik lengannya agar cewek itu berdiri. "Mending lo kasih tau deh, daripada masalahnya tambah besar. Kalo main-main sama polisi lu tahu sendiri akibatnya nggak kecil,"
"Di lepi, file Kevin," gumam Dian sambil duduk di tepi ranjang. Agus mengambil tisue dan menghapus air mata Dian dengan lembut (cieee!).
Namanya juga usaha. Ya Gus?!
Kasep membuka laptop Dian yang ada di dekatnya. Dan menyalakannya.
Lalu membuka folder yang dimaksud Dian di bagian desktopnya.
Isinya penuh dengan pose Kevin dalam berbagai sudut.
"Anjay!" seru Kasep.
Ada pose Kevin ganti baju di ruang ganti sebelum penjaskes, ada saat ia tiduran di lorong, bahkan saat pipis di toilet tampak depan.
"Ini sih ada kamera di urinoir kitaaa!!" seru Kasep heboh. "Njir! Dedek lo ngintip cuy!!"
"Buset ... Darimana dia tau kalo gue bakalan pake yang itu?!"
"Kameranya dipasang di semua urinoir, yang disimpen rekaman yang dipake kak Kevin aja," Gumam Dian.
"Njir lo dijadiin bahan fantasi dikala senggang, dijual laku berapa kev?!"
"Gue bisa beli rumah nggak?" tanya Kevin balik.
"Lu kenapa pipisnya goyang-goyang sih?!" tanya Kasep sambil mengernyit
"Gue lagi bikin bentuk pusaran air," gumam Kevin. "Kalo suatu saat ke Swiss, gue bakalan bikin pipis bentuk doremon di atas salju."
Kasep menatap Kevin sambil memicingkan mata, Kevin hanya terkekeh. "Nggak seru, ajak gue ke Swiss kita adu gambar pipis," sahut Kasep.
"Woy! Fokus woy!" seru Agus.
"Ohiya..." gumam keduanya.
"Ngapain sih capek-capek ke Swiss. Diatas aspal GBK aja udah bisa kebentuk gambarnya..." gerutu Agus.
"Bener juga," gumam Kasep dan Kevin berbarengan.
"Jauh-jauh ke GBK cuma buat pipis terus ditangkep sekuriti," kata Kasep.
"Sapa takut," ujar Kevin.
"Besok yuk?"
"Yuk!"