Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
Ibunya Artha


Wanita tinggi, manis, berkulit sawo matang, pakaian up to date, namun jelas terlihat kalau ia berusia lanjut dengan rambut panjang keperakannya menatap Wana dengan alis terangkat.


Wanita itu menatap dari atas, ke bawah, ke atas, berkali-kali.


"How?" gumam Wanita itu. (Bagaimana)


"How... What?" gumam Artha bingung.


"How can be you got an angel while you're a brat?" (Bagaimana kau bisa mendapatkan bidadari padahal kamunya semprul)


"Hih," dengus Artha sambil tersenyum penuh cibiran.


"Look at her! She's so young and naive! What kind of Hipnotize you gave to her! You rascal!!" (Liat tuh, dia masih kicik dan polos bet! Lu pake hipnotis model apa?! Dasar anak kampret!) Wanita itu memukul bahu Artha dengan gemas dan kuatir.


"Mom!"


"You!" Seru si wanita sambil menghampiri Wana. "Wake up, before its too late!" (Cepatlah sadar sebelum terlambat!)


"Mom..." gumam Artha.


"Saya sebagai ibunya saja nggak yakin dia suka wanita, selain itu dia pelit banget. Kamu masih muda, apa pun yang kamu harapkan ada di sifat Artha itu hanya bagian dari cuci otak," kata wanita itu dengan bahasa Indonesia yang lancar.


"Are you really my mother?!" gumam Artha sambil mencibir ke ibunya. (Beneran nyokap kandung gue nggak sih nih?!)


Wana menyeringai, "Iya bu, saya sudah tahu sifat Om Artha yang itu. Saya juga sudah pastikan dia bukan gay kok," Wana mengerling ke Artha.


Artha langsung melengos, tak ingin ketahuan kalau ia kemarin sepenuhnya menyerah dengan perlakuan Wana.


Darimana gadis itu belajar cara 'menyenangkannya'? Dan dilakukannya dengan sempurna pula, sampai Artha hanya bertahan beberapa menit saja.


Tampaknya wanita itu malah tak yakin dengan kalimat yang dilontarkan Wana. "Pastikan yang mana? Yang pelit? Dia menolak kasih tips ke barbershop karena merasa biaya potong rambut sudah begitu mahal! Padahal orang Kanada terkenal dengan tips yang besar dan sifat ramahnya! Kamu juga sudah tahu kalau apa pun pasti diprotes dulu sama dia? Dia juga kasar kalau liat cewek pakai baju terlalu terbuka, makanya kami malas bawa dia ke pantai. Bisa-bisa dia hina satu semenanjung!" ujar Ibunya.


"Iya, itu alasan dia memanjangkan rambutnya, karena salon mahal," kata Wana sambil tertawa. Sekarang dia yakin kalau yang dibicarakan wanita manis ini memang benar Artha. Ternyata sifat itu memang sudah ada sejak muda. Tadinya Wana pikir karena traumanya terhadap Yuni.


"Astaga! Kamu benar-benar sudah dicuci otak! Coba pikirkan lagi dengan lebih matang kamu benar-benar mau menikahi anakku?!" seru si wanita itu kaget.


Wana mengangkat bahunya, tanda kalau dia bersedia.


"I tell you the truth, honey, plis don't be mad," (jujur aja ya say, jangan marah) wanita itu mengelus lengan Wana dengan perhatian ala seorang ibu yang peduli ke anak perempuannya, "Kalau kamu mau memperbaiki kehidupan ekonomi kamu, kamu tidak akan mendapatkan itu dari Artha, dia anti sugar baby, dia juga tidak akan mengeluarkan dompetnya untuk hal-hal remeh, kamu malah akan dijadikan pembantu gratisannya,"


Wana memang sudah diberi tahu kalau ibu Artha selalu jujur apa adanya, kadang malah agak menyakitkan dan langsung menghujam jantung.


"Saya dulu gold digger, ini benaran saya tidak malu mengakui, saya bertemu Papanya Artha saat saya merantau dari Kampung di Wates ke Jakarta, jualan warteg di kantin belakang Kedutaan Canada. Tahun berapa itu ya? Dua tahun sebelum Artha lahir pokoknya. Papanya Artha expatriat, kerja di kedutaan, suka makan di warteg saya, akhirnya saya rayu-rayu supaya memperistri saya, saya belum jatuh cinta cuma ingin menaikkan taraf hidup saya," Ibunya Artha mengangkat bahu.


"Yang suka sama saya sebenarnya banyak, orang kedutaan, anggota ABRI, orang pemerintahan, tapi menurut saya bule lebih kaya. Saat dibawa ke Canada ya saya manut aja walopun nggak cinta banget. Saya baru jatuh cinta malah justru pas Artha lahir, betapa suami saya begitu perhatiannya sama saya. Tuh lihat hasilnya, ganteng kan?!" Ibunya Artha menunjuk Artha dari atas ke bawah.


"Iya, Bu. Saya aja sampai klepek-klepek... Sama judesnya," tambah Wana.


Ibunya Artha terkakak. "Iya dia memang judes, di sana kerjanya kalo tidak ngajak berantem orang ya bikin nangis cewek random yang jalan-jalan pake rok mini dia hina. Kayak : your leg is so fat, how can you feel comfort with those miniskirt?! You make my eyes hurt (kaki lo tuh gemuk cuy, kok lu pede pake rok mini, bikin mata gue sakit aje). Makanya saya heran dia bisa jatuh cinta sama... Siapa tuh namanya? Diana? Yuana? Siapa Le namanya?!"


"Yuni," gumam Artha malas-malasan.


"Ah iya Yuni! Gold Digger profesional. Sekali lihat saja saya tahu! Mungkin servisnya bagus kali,"


"Hey hey heyyy it's enough Mom!" tegur Artha (hey hey hey, dah cukup kali Nyak!) Tapi Ibunya Artha malah melambaikan tangan menyuruh Artha diam.


"Buka-bukaan aja, kamu cari masih muda begini pasti lebih puas kan?!" Ejek ibunya ke Artha.


"I hate my mom," gumam Artha.


"Tapi, Bu... Saya masih virgin,"


Ibunya Artha terdiam.


"Oh my holy bible... She's still virgin!" Pekiknya kaget. (Demi kitab suci sun go kong dia masih perewi!)


"Oh you such a lucky bastard! You hurt her you die! With my own hand! Listen to me! You'll die!!" seru Ibunya Artha sambil menunjuk-nunjuk Artha. (Lu beneran bajing-an! Lo sakitin dia, lu meninggoi, gue yang gibas sendiri!)


"Come here honey pie, now you're my daughter. Even you're not married him, you're my daughter!" Dan Ibunya Artha memeluk Wana dengan erat. (Sini madu di atas pie -bingung translatenya- sekarang dirimu adalah anakku, walopun lu kaga merit sama dia, lu tetep gue akuin anak gue sendiri!)


"Eh, saya juga nggak kenal ibu saya karena meninggal seminggu setelah melahirkan saya," gumam Wana sambil menyambut pelukan ibunya Artha.


"Oooh Goooshhh!! She's an angel! An angeeel!" (angel iki, angel! Eh, salah translate)


Jadi begitulah pertemuan Wana dengan ibunya Artha. Sementara bapaknya Artha dan 2 saudara Artha masih dalam perjalanan ke Jakarta.


Yang penting ibunya restu dulu lah yaaa.


*


*


Sekali


Dua kali


Lalu menelungkupkan wajahnya ke atas meja.


"Mbak Stela Bahana petir menggelegar," suara Kevin dari arah belakangnya. Langsung membuatnya berdecak kesal. Kenapa suara yang dianggap seksi seantero gedung, baginya malah ingin melempar lembing ke arah tenggorokan cowok itu?!


"Hm?" gumam Stela tanpa mengangkat kepalanya. "Bisa dibantu Pak Kevin Cakram motor butut ?!"


"Ini konsep yang Mbaknya bikin udah ditanya belum hasil kuesionernya? Kok data bisa nggak valid ya terhadap perkiraan kepuasan pelanggan?!"


"Kerja lu kan bikin doang, masalah itu tinggal tim kreatif yang mikiriiiiinnnn,"


"Tapi kita nggak suka kerja dua kali, emangnya cuma ngurusin divisi situ doang?!"


"Ya itu kan emang kerjaan lu maliiiih. Lu pikir disini bolak balik bikin konsep kaga pusing ape?!"


"Situ bikin konsep cuma modal ngotak. Tapi di kita, sekali bikin sistem harus keluar duit ratusan juga buat rancangannya. Lu mau duit segitu mubazir? Bisa digantung kita sama bu Susan!"


Stela mengangkat kepalanya, "Serius lu Kev?!"


"Makanya sekali-kali lu ambil kuliah teknik dong cuy! Siapa pun bisa kalo mikir pake dengkul!" Kevin melempar bantex ke depan Stela dengan kesal.


Buset dah kasar bener jadi cowok. Pikir Stela.


Tapi Kevin memang terkesan bermulut pedas sih kalau di kantor. Yang bisa menandingi ke huh-hah-an'nya hanya Bu Susan si Presdir.


Dan Stela satu-satunya yang tahan terhadap tingkah Kevin karena sudah terbiasa dengan Yuni, mamanya yang sekarang sudah mendekam di penjara.


"Elah, kasih tau gue aja ngapa kaga usah banting-banting property kantor!" gerutu Stela sambil membuka bantexnya. Lalu dia teringat sesuatu.


"Sini cuy, gue mau minta pendapat lo,"


"Apa lagi? Gue sibuk!"


"Sini, lu kan mulutnya rapet, yang lain pasti ember!" bisik Stela.


"Kalo menguntungkan buat gue, ya gue viralin,"


"Inget gue pegang kartu AS lo!" Stela mengingatkan tentang pekerjaan Kevin yang dulu sebelum tobat.


(Mengenai kisah ketobatan Kevin akan dijelaskan di season 2 nanti, termasuk pertemuannya dengan Nirmala)


"Di remi, selain Kartu AS masih ada Joker. Dan kartu AS ada 4 biji. Lo pegang AS apa? Wajik? Hati?" kata Kevin mencibir.


"Menurut lo," Stela tak peduli keluhan Kevin, "Kalo cowok tahu ceweknya hamil tapi mereka belum nikah, apa yang akan terjadi?"


Kevin diam.


Lalu melipat kedua tangannya dan bersandar dengan malas. "Jaman sekarang itu ada yang namanya KB alami, ada juga yang nama pengaman ya Mbak Yu, ada juga pil KB, ada juga IUD, kalo nggak mau beresiko bisa banyak pilihaaaaan,"


"Bukan gitu, gue seneng gue hamil. Tapi gue nggak tahu reaksi Chandra, gue takut Kev!"


"Jadi gini yaaaa, kalo gue yang jadi pacar lo, pasti misuh-misuh. Karena gue bukan Mas Chandra. Udah dicerewetin lu, gue harus punya anak dari lo pulak! Tapi beda lagi kasusnya kalo Nirmala yang hamil anak gue! Itu mah gue seneng banget kali! Emang itu tujuan gue!"


"Nirmala tuh sapa?"


"Pacar... Eh, belum jadi pacar deng, tunggu gaji gue 30 juta katanya," gumam Kevin sambil mengernyit.


"Mam-pus lo sukurin PHP dikerjain cewek," sahur Stela.


"Kompor meleduk dasar! Intinya, nggak ada jalan lain kecuali kasih tahu Mas Chandra. Mana gue tau reaksinya?! Gue bukan dia. Dia milih lo aje gue amazing termejing-mejing. Ada gitu yang suka sama cewek nyebelin macam lo. Lo siap-siap juga jadi single parent. Di sini ada tunjangan buat anak kok, asal laporan DNAnya asli, hwehehehehe," Kevin mengejek Stela mengenai kasus lama.


"Dah lah pergi lo sana! Gue mau nyebar poling!"


"Yawda, ntar malem datanya kasih gue,"


"Heh! Nyebar polingnya aja belum gue lakuin, masa lo udah minta data entar malem sih!!"


"Kalo lo nggak kasih nanti malem, gue skip sama divisi lain," kata Kevin sambil menghilang ke balik pintu.


"Woy Anjirrr!!" seru Stela langsung panik mengetik.