Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
First Job


Tips menjadi pacar triliuner :


Tetaplah bersahaja, karena semua orang akan menjadi haters-mu. Mereka hanya berpura-pura baik padahal iri setengah mati di belakang. Dan jangan heran kalau mendapati pacarmu terlibat dengan suatu kasus yang berhubungan dengan hidup-mati seseorang, dan kamu secara tak langsung terlibat.


Karena, kekayaan tidak didapat secara instan. Yang instan sudah pasti penipu.


Trik :



JANGAN (udah capslock nih hurufnya, jadi ‘Dilarang Keras’, lembut-lembut aja), JANGAN MEMPOSTING KEKAYAAN DI MEDSOS. Atau Petugas Pajak akan menghubungimu, padahal semuanya milik pacarmu. Juga tiba-tiba kau akan punya banyak saudara, dengan tujuan meminjam uang, tentunya.


Usahakan jangan kepo terhadap aktivitas pacarmu. Kecuali kamu sudah jadi istrinya. Kamu baru Pacar, kalau tiba-tiba dia terseret kasus mafia, kau mau dilibatkan? Rugi bandar Cuy. Lebih baik tidak tahu, jadi saat diinterogasi ya benar-benar tidak tahu.


Jangan cemburuan. Sudah pasti pacarnya banyak selain kamu. Mungkin kamu memang yang utama baginya. Tapi di bawah induk perusahaan biasanya akan ada anak perusahaan (hm!).


Tidak semua triliuner punya banyak pacar, tapi digoda wanita sudah pasti. Siapin aja Rekanan Dukun yang banyak buat tekel balik.


Kalau dikasih barang, pakai akad jual-beli (kayak kasus baru-baru ini) jadi tidak bisa disita Bareskim kalo ada kasus. Misal : beli tas branded. Kamu bikinin cake terus jual ke dia, pakaikan kuitansi kalau harga cakenya 50 juta. (Cake apa’an 50 juta?!) terus beli deh tasnya. Atau minta pengacaranya bikin surat keterangan kalau dana pembelian rumah untuk kamu bukan dari dana hasil korupsi dan merupakan hibah. Atau kalau berbakat menulis, kamu jual saja skenario film. Hargai 2 miliar gitu.


Ini hanya misal, loh... misal... jangan serius-serius ah! Kan genre komedi.


Tetap tampil cantik, tentunya. Bukan kebanyakan make up. Cantik di sini, artinya, perilaku kamu harus anggun dan elegan. Kalau dihina orang, jangan hina balik. Tanggapi dengan kalem.



Contoh pertanyaan awam :


-Kok bisa sih dapet konglomerat? Pake susuk dari dukun mana Jeng?


Jawab :


-Oh, situ mainannya susuk ya? Kalo sini memang sudah menarik dari lahir, sih. Maaf yah.


Contoh pertanyaan lain :


-Kenal Om dimana? Pas Om nya ke karaoke ya? Pasti servis kamu jago.


Jawab :


-Selain aku bukan pemain tenis, ada yang namanya TAKDIR ILLAHI ya mbak. Jadi mintalah padaNya.


Mau tahu pertanyaan lain?


-Padahal situ nggak begitu cantik, kok bisa dapet sih?! Kamu kasih omnya apa?


Jawab :


-Kalo jadi tua nggak bakalan cantik lagi sih Mbak, kasih cinta dan pengabdian aja, pasti bakalan balik-balik lagi kok. Dia kasih aku sertifikat rumah atas namaku, bukan duit. Jadi rugi kalo ninggalin aku.


Sudahlah, otor juga bukan pacarnya konglomerat. Ini kan novel halu.


Back to the story.


Akhirnya hari Senin pun tiba. Wana kuliah pagi, setelah itu brunch, dan dengan rasa malas tiada tara ke kantor Artha untuk menyerahkan CV.


Wana diminta datang langsung ke HRD di Opal Corp. Itu berarti Artha sudah mengatur segalanya.


Dalam hatinya Wana mengeluh.


Kalau bukan karena Kak Mala yang minta, gak bakal mau gue jadi OG. Lagipula si Om jahat banget, kemarin bilang 'izinkan aku menjagamu', beuh! Malah gue dijadiin OG!


Sialan beneeeer!


Saat menapak lobi dengan style ala anak kuliahan dan tas eiger putih kesayangannya, Wana disambut dengan dua orang pria yang wajahnya seperti bintang laga. Besar, tinggi, sangar dan berkharisma.


"Mbak Nirwana Dierja?" sapa salah satunya.


Wana menghentikan langkahnya dan menjauh sedikit karena waspada.


"Heh? Iya?" Jawab Wana ragu.


"Nama saya Chandra, Dia Birawa. Kami asisten Pak Arthasewu,"


"Kami bertugas untuk mendampingi Mbak Nirwana menghadap Direktur Personalia,"


Wana mengernyit.


Mereka berdua mengarahkan Wana untuk mengikutinya menuju lift khusus pejabat kantor.


Di dalam lift, salah satunya membuka pembicaraan.


"Mohon maaf tapi karena kendala pendidikan, Mbak Wana hanya bisa ditempatkan di Unit Support. Dalam hal ini jabatan Mbak Wana adalah sebagai Office Girl. Tapi memang special karena Mbak Wana akan menjadi Office Girl khusus ruangan Pak Arthasewu. Itu berarti Mbak Wana harus disumpah,"


"Disumpah bagaimana?!" Kok jadinya seperti di pengadilan?


"Disumpah agar tidak menyebarkan informasi mengenai apa saja yang ada di dalam ruangan Pak Artha sewu,"


"Hah? Memang di sana disimpan gunungan emas berlian atau koleksi penari strip-tis dipajang, begitu?!"


Chandra dan Birawa tersenyum penuh arti, namun tak menjawab.


Membuat wana semakin insecure dan curiga.


"Gue beneran masuk kandang singa. Awas kalo Om Artha minta cium lagi, gue lempar sendal!" Gumam wana penuh dendam.


Sayangnya gumaman itu terdengar oleh kedua asisten. Salah satunya bahkan terkekeh pelan.


"Kami saja heran, apalagi Mbaknya," desis Birawa. "Mana ada yang rela pacarnya dijadikan OG. Ya tapi selain kami, tak ada yang tahu status sebenarnya Mbak Wana di kantor ini, kami diminta untuk merahasiakannya. Kami harap Mbak Wana juga jangan bilang-bilang,"


Chandra menimpali, "Setidaknya kita diam sampai cicilan Mbak Wana lunas. Kami sebenarnya sudah bertanya maksud bapak, tapi dia bilang untuk menjadi calon istri seorang konglomerat, Mbak Wana harus merasakan perjuangan dari bawah untuk belajar menjadi sukses,"


"Yang minta gue jadi pacarnya kan dia sendiri, eh, dia sendiri yang kasih gue peraturan! Apa gue putusin aja yah?!"


Chandra dan Birawa saling menatap dengan tegang, "Ya nggak gitu juga Mbak, sepertinya maksud bapak baik,"


"Baik? PELIT iya! Masa tahu pacarnya punya hutang 50juta dia biarin aja gue nyicil?! Duit segitu kan cuma koinan buat dy, bukan receh lagi, udah kayak sejuta dibandingin sama koin 1 perak jaman dulu!!" Wana emosi.


Chandra berdehem berusaha menahan tawa. "Hal itu mohon dibicarakan secara pribadi dengan bapak saja. Menurut saya, yang bisa dilakukan sekarang adalah melihat segalanya dengan pikiran positif dan terbuka Mbak,"


"Menurut kalian berdua, di sini mananya yang positif?!"


"Tidak ada," sahut kedua asisten berbarengan sambil menyeringai.


"Ish!" Wana mencibir.


*


*


"Walah!" Seru Direktur Personalia, Ibu Viola saat melihat sosok Wana.


"Masa yang style begini mau dijadiin OG?! Chandra Birawa kalian serius?!" mata wanita cantik itu membesar dengan peenuh keheranan.


"Dia hanya punya ijasah SMA, Bu," kata Chandra.


"Ya tapi kan kalau ada rekomendasi Pak Artha kan bisa saya jadikan karyawan magang! Atau jadi sekretaris saya saja, saya juga kurang orang," Bu Viola membaca biodata Wana. "Dan dia Asdos Keuangan! Ini sih sudah ahli jatuhnya!"


"Pak Artha tidak mau dia ada dibawah pimpinan orang lain, sedangkan posisi di bawah Bapak sudah penuh terisi," Kata Chandra lagi.


"Dan Office Girl ruangan Bapak adalah satu-satunya lowongan," sambung Birawa.


"Masa ibu tega ngeliat bapak nyapu-nyapu ruangan sendiri?" Kata Chandra.


"Itu kan salahnya sendiri kalau ruangannya banyak 'benda-benda pusaka' yang nggak boleh dilihat orang lain," gerutu Bu Viola.


"Bukan benda pusaka kali, bu. Banyak dokumen sangat rahasia yang suka tercecer saja sebenarnya," ralat Chandra.


"Saya tak percaya, kalian kan dilatih khusus untuk diplomasi," sahut Bu Viola.


Wana menarik napas, lalu menghembuskannya dengan rasa penyesalan.


Menyesal karena pernah bertemu Artha.


Tapi karena, sekali lagi, ini permintaan Nirmala yang kesal padanya. Dan lagi, Wana merasa bersalah sudah bohong dengan Nirmala, kalau hal ini bisa membuat kakaknya memaafkannya, harus dia jalani.


Lagipula, apa sih yang akan dia hadapi? Kan cuma bersih-bersih ruangan si Boss Besar saja kan?!


"Maaf Bu Viola," desis Wana membuka pembicaraan, "Saya akan menjalankan pekerjaan saya dengan sepenuh hati, lagipula karena masih kuliah, saya juga tidak akan bisa bekerja fulltime. Saya pikir posisi OG akan lebih sesuai,"


"Wah wah," Bu Viola mengangguk salut. "Baiklah kalau begitu. Ya kamu benar sih karena posisi karyawan harus full time, kalaupun kuliah harus selepas jam kerja, dan kami terbiasa pulang lembur. Kalau OG memang bisa kerja shift. Apalagi tanggung jawab kamu hanya ruangan bapak saja," Bu Viola tampak membaca map yang dipegangnya yang berisi Surat Keputusan dari si Boss Besar.


"Kalau begitu, selamat datang ya Nirwana. Saya berharap yang terbaik dari kamu," Bu Viola menjabat tangan Wana.