Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat
Pukulan Telak Untuk Stela


Artha menatap gadis cantik di depannya dengan heran.


Bagaimana bisa? Pikirnya.


Ia pikir akan butuh waktu untuk saling berbalas perasaan. Namun Wana dengan cepat menyambut cintanya.


Dasar Artha, pria itu sudah lama menjalani hari-harinya dengan rasa trauma. Orang yang ia percaya mengkhianatinya berkali-kali. Walaupun perasaannya terhadap Wana begitu kuat, dan respon dari Wana sangat berarti baginya, namun kenapa saat gadis itu menjawabnya begitu cepat malah terasa seakan omong kosong yang didapatkannya?!


"Kenapa?" tanya Artha.


Wana mengangkat alisnya, tak mengerti akan pertanyaan Artha.


"Kenapa apa?" Wana balik bertanya.


"Kenapa kamu mencintaiku?"


"Kenapa tidak? Seperti kamu, aku juga merasa nyaman denganmu. Bisa menjadi diriku sendiri,"


Jawaban yang sederhana. Namun Artha tidak puas.


"Menjadi istriku tidak semudah yang kamu bayangkan, loh," desis Artha.


"Lah, aku juga tahu. Apalagi kamu judes dan Bossy, udah gitu pelit pula. Siap-siap saja sering berdebat denganku. Asalkan kamu nggak tahu-tahu jantungan saja karena faktor usia," Wana mencibir memajukan bibirnya mengejek Artha.


Ah, ya! Artha lupa.


Gadis di depannya ini tidak seperti perempuan lain. Tidak mengincar kekayaannya, tidak mengincar reputasi, tidak berpura-pura dan yang terpenting, tanpa tipu muslihat.


Artha terkekeh pelan.


Bodohnya dia, sempat meragukan Wana. Usia tidak menjadi masalah, perbedaan juga bukan halangan.


Perasaan mereka berdua cocok satu sama lain, lalu apa lagi yang mereka cari?


"Om, setelah ini jangan lagi kau hubungi mantanmu itu! Janji padaku ya! Aku nggak punya mantan jadi nggak ngerti teknisnya. Yang jelas, awas kalau kamu kepergok!" ancam Wana.


Wah! Si bocah lagi cemburu ternyata.


Lucu juga!


"Kenapa tiba-tiba kamu bahas Yuni, sih?!" gerutu Artha.


"Soalnya kemarin dia hampir saja santet aku! Kalau Kevin nggak temukan itu buntelan kafan, mungkin sekarang aku sudah celaka!"


Artha menyipitkan mata, "Kevin?"


Wana mengangguk, "Iya Kevin. Kamu pernah ketemu dia kok waktu di rumah sakit,"


"Ah!" Artha teringat cowok songong yang selalu tersenyum sinis, trouble maker yang membuatnya kebat-kebit dan tak pikir panjang lagi untuk meminta Wana jadi pacarnya!


"Kamu masih berhubungan dengannya?!" tanya Artha penuh kecurigaan.


"Ya, dia temanku," Wana mengangguk. "Kami akrab karena bertemu dalam posisi yang aneh. Jadi ceritanya waktu itu..." dan Wana pun menceritakan tragedi saat mencari Sugar Daddy di club malam saat acara ulang tahun Dewi Tunggullangit.


Selama beberapa saat mendengarkan kebawelan Wana, Artha tertegun.


Didengarkannya lagi sepuluh menit, lalu dia mengusap tengkuknya dengan kikuk.


Dan lima menit kemudian saat cerita mulai mendekati endingnya, Artha menutup mulutnya dengan tangan karena menahan tawa.


"Ih! Jangan ketawa!" seru Wana sambil mengeplak lengan Artha dengan gemas. "Makanya aku malas cerita ke kamu karena udah tahu reaksi kamu seperti itu!" gerutu Wana.


Artha terkikik geli, "Jadi kalian sebenarnya baru bertemu saat itu?"


"Begitulah, keningnya sampai dijahit karena melindungiku. Makanya aku merasa berhutang budi,"


"Hm," dalam hati, Artha berpikir kalau dia salah sasaran, jadi dia mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan singkat ke Chandra untuk menghentikan pengamatannya ke Kevin, "Lalu bagaimana dia menemukan kain kafan itu?"


"Katanya, Yuni adalah kliennya saat itu,"


"Artha mencibir mendengarnya, "Menjijikkan!" dengusnya.


"Yah, itu pekerjaan Kevin, kamu kan tahu sendiri. Lalu katanya saat itu nama kamu disebut Bu Yuni. Aku malas bilang saat adegan apa. Lalu namaku juga disebut. Dan saat Kevin curiga kenapa Bu Yuni bisa mengetahui kita berdua, dia mencari KTP di tas Bu Yuni dan kain itu jatuh beserta fotoku di dalamnya. Ia ambil fotonya dan menyerahkannya padaku kemarin,"


"Yuni sih jenis yang bisa saja bertingkah ekstrim seperti itu, tapi tampaknya Tuhan masih sayang kamu,"


"Masalahnya, kalau dia tahu aku baik-baik saja, apa dia tidak tambah kesal?"


"Benar juga. Aku akan memikirkan cara mengantisipasinya. Mungkin pernikahan kita harus dipercepat,"


"Begitu ya? Aku sih sudah suka sama menu katering yang kemarin. Tapi kalau WOnya belum pas,"


"Kita pakai EO rekanan kantor saja ya mereka bisa atur juga untuk WO. Memang lebih mahal, tapi kualitasnya sudah kami rasakan dan sejauh ini memuaskan," Artha pun menghubungi Chandra.


"Ya pak?" Chandra langsung mengangkat telepon dari Artha di dering pertama. Tapi Artha langsung mengernyit.


Kenapa suara Chandra seakan dekat sekali dengannya?!


Sementara Wana membulatkan matanya karena melihat sesuatu di belakang Artha.


Chandra dan Stela, bergandengan mesra berdua berjalan mengikuti waitress menuju meja mereka.


Di saat yang sama, Stela bertatapan dengan Wana.


"Eh?" desis Wana.


"Heh?! Lu ngapain di sini sih?!" sembur Stela.


"Lah! Suka-suka gue ada dimana juga! Emang gue tawanan?!" seru Wana.


"Gue kalo ketemu lo, bakalan sial melulu!!" balas Stela.


"Itu sih takdir lo! Buktinya bokap lo fine-fine aja, tuh!"


"Ya nggak mungkin lah dia fine-fine aja, buktinya semua kacau balau sejak dia kenal lo!"


"Emang udah waktunya dibenahi ye otak lo tuh! Hidup lo sekalian diberesin kayaknya!" lalu Wana menyadari satu hal, "Loh? Birkin lo kemana? Kok lo pake tas Korea?!"


Raut wajah Stela berubah suram, "Itu bukan urusan lo Eiger Misqueen!"


"Nggak semua yang pake Eiger itu miskin!"


"Saking miskinnya lo rela jadi Baby-nya bokap gue! Paling lo pake susuk biar memikat! Liat aja kalo lo udah kering lo juga bakalan dibuang kayak nyokap gue!" seru Stela.


Wana gemetaran menahan geram. Hampir saja semua fakta mengalir dari mulutnya, kalau dia tidak bertatapan dengan Chandra yang hanya menggelengkan kepalanya, mencegahnya membalas Stela.


Wana pun akhirnya hanya bisa diam dan membuang muka. Tapi genangan air mata mulai membasahi korneanya.


Karena melihat keadaan itu, Artha langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Stela.


"Apa kamu ada buktinya kalau Wana pakai susuk?" geram pria itu.


Artha sedang marah.


"Eh? Pa-pa- papa..." Stela mundur tergagap.


"Juga kalau saya membuang ibu kamu, apa ada buktinya? Saksinya?" Geram Artha lagi.


"Eh, tidak. Yang jelas Papa selalu tidak ada untuk aku," gerutu Stela, tapi dengan nada rendah dan tubuh menciut merasa kecil.


"Lalu, baju yang kamu kenakan, sepatu, make up, rumah yang kamu tinggali, pendidikan kamu selama ini, semua dari ibu kamu?"


"Bu-bu-bukan,"


"Dari siapa?"


"Dari Papa,"


"Masih berani bilang saya tidak ada untuk kamu?" tanya Artha.


"Ah iya benar, uang papa selalu ada. Sampai aku juga merasa sedang menjadi simpanan Om-om," gerutu Stela.


Artha melipat kedua tangannya di dada sambil menyipitkan mata melihat Stela. "Saya lihat kamu memiliki hubungan special dengan Chandra," kata Artha. "Kamu suka Chandra?"


Stela diam dan menggigit bibirnya. Kebungkamannya berarti 'iya' untuk Artha.


Sementara Chandra hanya menghela napas panjang. Ia tak ingin ikut-ikutan tapi semua sudah terlambat. Memang seharusnya otaknya berpikir lebih jernih dan tidak tergoda oleh tubuh Stela.


"Kalau kenyataannya Chandra tidak berpikiran sama dengan kamu bagaimana? Kalau dia memiliki banyak pacar lain yang dijadikan teman tidurnya bagaimana?" tanya Artha.


Chandra hanya mencibir.


"Chandra tidak seperti itu," gumam Stela.


"Dia pria single dan mapan, juga laki-laki normal. Siapa yang tahu kan?"


Raut wajah Stela mulai khawatir. Dia menatap Chandra dengan gundah.


Kepanikannya semakin besar saat Chandra tidak menampik tapi juga tidak meluruskan perkataan Artha. Pria itu hanya menatap Stela tanpa ekspresi.


"Chandra?" gumam Stela meminta bantuan.


Tapi Chandra hanya diam.


"Bagaimana? Mulai galau? Kamu sekarang ada di posisi saya waktu itu. Saat saya mencintainya tapi dia malah tidur dengan banyak pria selain saya. Saya berusaha bertahan, saya pikir dia akan berubah dengan adanya kamu, tapi malah semakin menjadi. Menurut kamu? Apa yang harus saya lakukan? Selalu ada untuk kalian, padahal kalian tak ada untuk saya?" geram Artha.


Chandra lagi-lagi menghela napas. Ini sudah bukan untuk konsumsi publik lagi, harus ada yang menghentikan.


Keduanya sedang emosi, bahkan Wana tidak ingin mencegah Artha.


Jadi harus ada yang menengahi.


"Pak, saya urus dari sini. Maaf mengganggu makan siang Bapak," desis Chandra sambil menahan langkah Artha, dan meraih Stela.


Lalu menarik Stela keluar restoran.


Artha menarik napas panjang dan berkacak pinggang. Lalu menggelengkan kepalanya.


Terus terang saja, dia sedih dengan keadaan itu. Sedih karena ia tidak bisa berdamai dengan Stela, juga sedih karena Wana sudah tersakiti oleh anaknya.


Dan yang paling menyakitkan, kemunculan Stela semakin membuka trauma dalam hatinya.


"Maaf," gumam pria itu ke Wana.


"Tak apa, bukan salah kamu," kata Wana sambil menjatuhkan tubuh mungilnya di kursi. "Mas, minumnya tambah, pakai es banyak. Ngebul otak gue!" serunya ke waitress.


*


*


"Chandra!" seru Stela sambil mengikuti Chandra dengan enggan. "Chandra, lepasin!"


Chandra menepis tangan kurus Stela, "Kamu tahu nggak yang baru saja kamu lakukan? Kamu gali kuburan kamu sendiri!!" seru Chandra menegur Stela saat mereka sudah di lokasi yang sepi pengunjung.


"Aku salah apa?! Itu kenyataannya! Yang diinginkan seorang anak bukan hanya uang tapi juga keberadaan orang tuanya! Selama ini hanya ada Mama, dimana Papa?! Sibuk mengejar Baby?!" seru Stela.


"Dia bukan Papa kandung kamu!!" seru Chandra.


Akhirnya terucap juga.


"Memang dia seperti bukan Papa kandungku," Cibir Stela.


"Maksudku, arti sebenarnya, bukan kiasan," tekan Chandra.


Stela diam.


"Eh?"


"Kamu baca sendiri," Chandra menyerahkan ponselnya yang berisi foto hasil DNA. Keakuratan 98% antara Stela Bahana dengan Leo Supradja.


"Leo... Supradja? Bukannya ini Omnya Risman?" Stela mengernyit sambil membaca laporan itu.


"Pacar Bu Yuni dimana-mana. Aku dan Bira sudah mengkonfirmasi ke rumah sakit yang bersangkutan. Dan hari Senin, laporan duplikat aslinya akan dikirimkan ke kantor kami. Kamu tahu kan, yang akan terjadi kalau Bapak sampai tahu?!"


Tangan Stela gemetaran.


"Ba-ba-bagaimana dengan nasibku?!" Getarnya dengan wajah pucat. "Cha-Chandra? Aku-aku harus bagaimana?!"


"Entahlah," Chandra menghela napas, "Makanya aku kebut semaksimal mungkin pencarian apartemen kamu. Karena pasti Bu Yuni akan frustasi, dan kamu... Kamu harus hidup mandiri mulai sekarang. Tanpa uang Papa kamu,"


"Astaga..." Stela langsung merasa sesak di dadanya.


"Paling tidak, Pak Leo juga konglomerat. Tapi kalau soal tanggung jawab, sepertinya sih dia akan lebih perhitungan dibanding Pak Artha. Bisa jadi malah kabur," gumam Chandra.


Stela tidak menjawab, dia sibuk menarik napas.